Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Pesan terakhir


__ADS_3

Kabar gembira datang dari Aziz, Aziz mendapatkan bea siswa ke universitas Al Azhar, Mesir.


Arie pun sudah bersiap mengantarnya.


"Bun, barang Ayah sudah siap?" tanya Arie.


"Sudah Yah, berapa lama berangkatnya ?"


"Mungkin semingga Bun, jaga anak kita ya Bun, selama Ayah ngak di rumah," ujar nya


"Iya yah," jawab Tiara singkat.


"Bunda, doa kan Aziz, bisa menjadi penghafal Qur'an dan hadis, Aziz ingin menghadiah kan mahkota dari cahaya, untuk kedua orang tua Aziz di surga, jika Aziz menghapal 30 jus Al-Quran."


"Tentu saja Nak, cita-citamu mulia sekali, ibu mu di surga sana pasti bahagia, karna memiliki anak sepertimu," tutur Tiara terharu.


"Iya bun, Allah maha baik, tak hanya dua mahkota, Aziz akan pinta satu lagi kepada Allah, untuk bunda Tiara, yang telah merawat Aziz dari kecil," ucap Aziz tulus.


Tiara langsung memeluk Aziz," Terima kasih Nak, meski bunda tahu, bunda ngak pantas mendapat kan nya, "tutur Tiara haru.


Aziz pun memeluk dan mencium Tiara, "Terima kasih bunda, atas kasih sayang yang tak pernah padam, dari Aziz masih kecil, hingga saat Aziz dewasa," ucap Aziz menangis, Arie pun juga ikut menangis.


"Arjuna, Mas titip Bunda dan Sakina ya," iya pun memeluk Arjuna .


"Iya Mas,"


"Dek, Mas Aziz Pamit ya, jika Mas Aziz kembali, kamu pasti sudah besar," iya pun memeluk Sakina.


"Iya Mas," jawab Sakina.


Dan setelah itu Aziz pergi di antar Arie.


***


Tiara sudah siap mengantar anak nya kesekolah, biasanya, Arie yang mengantar dan Iya yang menjemput, tapi karna Arie berada di Mesir, iya lah mengantar anak mereka, Tiara keluar dari halaman rumahnya, tanpa sadar ada sepasang mata yang mengintai keluarga nya.


Di sekolah, Arjuna tak menemukan Raka, iya pun menelpon Papa nya dan menanyakan ketidak hadiran Raka.


Ternyata Raka, menjalani pengobatan dan tranfusi darah, karna trombositnya berada di bawah normal.

__ADS_1


Arjuna pun memutus kan untuk menjenguk Raka, yang berada di rumah sakit setelah pulang sekolah.


Sang Bunda sudah menunggu nya, Arjuna dan Sakina masuk kedalam mobil.


"Bun, kita jenguk Raka ya, Bun," ajak Arjuna.


"Raka kenapa Nak?" tanya Tiara.


"Raka down Bun, dan harus menjalani transpusi darah," jawab Arjuna .


"Tapi hanya sebentar ya, Nak, bunda ngak enak, karna di sana ada Papa kamu," papar Tiara.


"Bunda antar Arjuna saja, biar Arjuna dan Papa menemani nya, kasihan Raka, kita kan sudah berjanji untuk menemani nya Bun," ujar Arjuna.


Tiara pun menjadi serba salah


"Iya nanti Bunda pulang dengan Sakina saja."


"Ngak Bun, Sakina juga mau menemani kak Raka," sahut Sakina,


"Kalau semua nya menemani Raka, bunda sama siapa? mana Ayah lagi pergi," keluh Tiara.


Tapi Tiara tak menggubris ucapan Sakina, karna iya memang tak mengerti, dalam hati Tiara, ada kebimbangan tentang Sakina, di umur hampir lima belas tahun, Sakina belum juga menstruasi, iya ingin memeriksa kan Sakina, tapi iya sendiri takut menerima kenyataan, jika terjadi sesuatu pada Sakina.


Mereka pun sampai di rumah sakit, Arjuna dan Sakina langsung menghampiri Raka.


"Bagaimana keadaan Raka, Pa?" tanya Arjuna.


"Raka memang seperti ini setiap dua bulan atau tiga bulan sekali," jawab Riki.


Arjuna menghampiri Raka, di lihatnya kulit Raka yang mengering, iya pun menjadi sedih, saat itu Raka tengah tertidur dan terbangun saat Sakina, membelai rambut nya.


"Sakina," sapa Raka, iya pun tersenyum melihat kehadiran mereka, melihat mereka bertiga, Riki bermaksud untuk keluar.


Di luar ruangan, iya malah bertemu Tiara yang sedang duduk di bangku tunggu.


"Hai Tiara," sapa Riki.


"Hai Mas, gimana Raka," tanya nya.

__ADS_1


"Seperti biasa, ini adalah rutinitas nya, sebulan atau dua bulan sekali," jawab Riki.


"Syukur lah kalau Raka baik-baik saja," ucap Tiara.


"Aku harus pulang, nanti sore aku jemput mereka," Tiara coba menghindar.


"Tunggu Tiara, seperti nya kau menghindari ku," cegah Riki.


Tiara hanya diam, "Kita ngak ada urusan lagi Mas," paparnya.


"Kau kenapa Tiara? apa kau membenciku? atau kau mengganggap, aku hanyalah orang yang akan mengacau kan hidupmu, Apa aku harus pergi saja dari dunia ini, agar kau merasa tenang," Riki sedikit emosi.


"Bukan begitu Mas, setiap bertemu dengan ku, kau selalu lepas kendali, kau memeluk ku, mencium ku, padahal kau sendiri tahu, siapa aku," papar Tiara.


"Itu karna aku mencintaimu, Tiara."


"Dan kau tak pernah melihat kesungguhan ku, kau hanya melihat kesalahan demi kesalahan dariku,


Kau hanya melihat besar nya cinta Arie, tanpa melihat besarnya cinta ku, Tiara,"


" Kau hanya melihat ketulusan Arie, tanpa melihat ketulusan ku yang tertutupi kekhilapan ku."


"Harus nya, kau tahu, Arie akan tetap menjadi orang baik, dengan atau tanpa mu, tapi aku baru saja mencoba untuk menjadi manusia suci, yang menghindari perzinahan, karna kesetiaan ku pada mu, tapi kau malah lari, harus nya kau tak pernah meninggalkan ku, harus nya kau selalu menungu ku. Sampai saat ini, ku pertahaan hati ku untukmu, hingga di akhir waktu ku, kan ku bukti kan besar nya cinta untukmu, Aku tak pernah mencintai wanita lain setelah mu, sampai detik ini." ujar nya.


"Apa kau menyalah kan ku atas semua yang terjadi pada mu?" tanya Tiara, Matanya tajam menatap Riki.


"Kau takut mengecewakan Arie, tapi kau sendiri mengecewakan ku, Tiara," tambah nya


"Aku tak menyalah kan mu, hanya saja, aku mencoba untuk menggungkapkan perasaan ku, untuk yang terakhir kali," tambahnya


" Aku hanyalah bujangan yang tersesat, mencari cinta yang hilang entah kemana, tanpa tahu arah kehidupan ku, tapi biarlah Tiara, kau juga tak kan perduli, dan rasa nya sudah terlalu lambat untuk menyesali, karna jika suatu saat aku pergi, Kaulah alasan ku, mengapa aku tetap sendiri, aku tak berharap apa pun pada mu Tiara, aku hanya kau ingin kau tahu, betapa besarnya cinta ku padamu, biar lah ku lewati kesendirian ini, di sisa akhir kehidupan ku," kata-kata Riki begitu dalam, iya seperti orang yang akan pergi jauh.


Tiara masih saja diam, merenungi kata-kata Riki yang dalam, seperti ada makna tersembunyi di balik itu semua.


"Aku masih saja mengingat saat indah dalam hidup ku, bersamamu, yang tak pernah terhapus oleh waktu, tak peduli seberapa besar jarak yang membentang, mungkin ini terakhir bagi ku untuk menyatakan nya padamu." kata -kata Riki semakin lirih


"Aku selalu berdoa di setiap malam ku, agar suatu saat kita di pertemukan di keabadian." kata-kata terakhir darinya, iya pun berlalu dari Tiara.


Tanpa sadar Tiara meneteskan airmata nya, iya coba meresapi kata-kata Riki yang seolah ucapan perpisahan untuk nya.

__ADS_1


__ADS_2