
Mereka tiba di pantai ketika langit senja sudah merona merah, hamparan pasir putih dan deburan ombak yang memecah di bibir pantai serta semilir angin yang sepoi -sepoi cukup menambah romantis nya suasana.
Hari ini, karna sudah terlalu sore mereka hanya bermain air di tepi pantai sambil menikmati suasana romantis di pantai kuta bali.
Semakin sore pantai tersebut semakin ramai,dan mereka seolah tak peduli akan hal itu, bagi nya dunia serasa milik mereka berdua saja.
Riki menggunakan celana pendek dan baju khas pantai, begitu pun Tiara, iya hanya mengenakan celana pendek dengan di tutupi kain khas bali, dan tanktop putih.
Mereka hanya bermain air di tepi pantai sambil mengukir nama mereka berdua di pasir putih nan halus.
Langit senja semakin merona dan tak lama lagi matahari akan pulang ke peraduan, mereka menunggu dan menghitung setiap detik-detik tengelam nya sang surya.
Riki memeluk Tiara dari belangkang nya mereka sudah siap untuk menyaksi kan sunset yang indah.
"Lihat lah Sayang," Riki menunjuk langit yang hampir gelap dan perlahan matahati pun hilang meninggal kan singgasana nya.
Riki pun mencium mesra bibir Tiara, tepat ketika matahari terbenam, ciuman itu entah berapa ribu kali mereka ulang, namun masih terasa hangat bagi kedua nya, mereka pun beradu diantara semilir angin dan hempasan gelombang pasang, Entah berapa lama saat itu terjadi namun hingga sang surya tlah tiada dan langit yang merah kini berganti dengan hitam, pertanda hari sebentar lagi malam.
Riki terus ******* bibir Tiara iya pun menggenggam tangan istri nya sebagai ikrar bahwa cinta mereka tak terharang oleh pergantian waktu.
Tangan Tiara menggenggam erat rambut Riki sesekali iya menggeram karna merasa kan nikmat nya keromantisan mereka.
Eksperesi Cinta yang mereka rasa kan begitu indah dan tanpa batas karna mereka kini menjadi halal satu sama lain.
Setelah puas saling ******* mereka pun kembali berpelukan, cinta yang sulit untuk di ungkap kan dengan kata, hanya Ekspresi yang dapat mengungkap rasa sepasang sejoli yang sedang memadu kasih.
Mereka berjalan dengan saling memeluk dan menggenggam tangan, seakan tak ada apapun yang dapat memisah kan antara mereka.
Riki memeluk dan mengangkat tubuh Tiara kemudian memutar nya, hinga saat mereka kehilangan keseimbangan mereka pun jatuh saling menimpa, di atas pasir putih, kedua nya tertawa lepas karna tubuh mereka basah oleh hempasan gelombang pasang.
Mereka pun melanjutkannya keromantisan nya dengan berdansa diantara remang-remang sinar rembulan, semilir angin dan pecahan gelombang yang seolah menjadi musik pengiring bagi mereka.
Setelah puas di pantai mereka pulang ke hotel, Riki menggendong Tiara di belakang nya, sesekali Tiara mendaratkan kecupan hangat di pipi Riki.
Itu lah hal yang paling romantis yang pernah mereka lakukan.
"Yang, kenapa kita ngak ketemu dan jatuh cinta nya dari dulu saja ya?" tanya Riki.
"Kalau dari dulu ya, ngak seru, semua ini terasa indah karna kita baru saling mengenal tapi sudah saling memilik, kalau kita pacaran dari dulu, suasana nya pasti ngak romantis lagi, udah basi," jawab Tiara.
"Lagian bukan nya kamu, yang selalu menghindari aku," ucap Tiara.
"Iya yang ku pikir karna kamu terlalu cantik, aku pasti ngak bisa menahan perasaan ku, maka nya aku menghindar takut nya jatuh cinta sama kamu, ternyata benar kan, sekali coba langsung suka, ketagihan lagi." papar Riki.
Tiara pun tersenyum sambil mencubit perut Riki.
Riki menurun kan Tiara dari gendongan nya.
"Kok diturunin Mas, aku mau nya kamu gendong aku sampai ke kamar"
__ADS_1
"Ngak ah pinggang aku udah sakit, nanti kalau kelamaan gendong, nanti ngak bisa enjoy di kamar."
"Mau nya," cetus Tiara, iya pun kembali merangkul suami nya.
**
Arie melaksanakan sholat Isya di masjid dekat rumah nya, Iya pun bertemu Pak Herman, karna Pak Herman yang menjadi imam dalam sholat berjamaah tersebut.
"Rie, nanti mampir di rumah Bapak ya," ajak Pak Herman kepada Arie.
"Iya selesai sholat, saya mampir," ujar nya.
Setelah sholat Arie pun menunggu Pak Herman di luar Masjid, tak lama kemudian Pak Herman pun keluar dan menghampiri Arie.
Mereka pun berjalan beriringan, Arie terlihat sangat hormat pada mertua nya itu, iya berjalan dengan menunduk sepanjang perjalanan mereka.
Mereka pun sampai di rumah Pak Herman.
Setelah mengucap salam, mereka pun masuk dan Arie duduk di ruang tamu.
Pak Herman duduk di samping Arie," Rie sebenar nya ada yang Bapak ingin tanya kan,"
"Apa itu Pak,?" tukas Arie.
"Rie, apa kamu sudah punya calon istri Rie,?" tanya Pak Herman.
"Rasa nya terlalu cepat Bapak menanyakan hal itu pada Arie, Pak," tukas Arie.
"Rie, kita itu boleh saja bersedih karna kehilangan seseorang yang kita cintai, tapi kita ngak boleh terlalu larut dalam kesedihan itu, tidak baik Nak, apalagi kamu masih muda," tutur Pak Herman.
"Maksud Bapak?" tanya Arie curiga.
"Begini Rie, Bapak itu sering cerita tentang kamu dan Aisyah pada teman Bapak, Pak Nanang Rie, iya juga ustad di kampung nya, setelah mendengar cerita dari Bapak, Pak Nanang jadi tertarik dengan kamu, dan iya ingin memperkenal kan kamu dengan putri nya, Rie."
"Kami tidak memaksakan atau menjodoh kalian, semua tergantung kembali pada kamu Rie, kami hanya memberi jalan dengan jalan ta'arupan Rie, mereka itu orang yang taat beragama Rie."
Arie menghela nafas panjang. iya terlihat begitu tegang.
"Rie, besok kamu ikut Bapak ya, kita kerumah Pak Nanang," ajak Pak Herman.
"Iya Pak "
Arie pun pulang dengan wajah sendu, iya tak enak jika harus menolak ajakan Pak Herman, tapi rasa nya iya juga belum ingin menikah lagi.
Pulang kerumah Arie di sambut Syntia.
"Kamu baru pulang Mas, aku buatin kopi ya," Syntia memparodi kan Tiara.
"Kamu kenapa Syn, demam ya?" tanya Arie tak mengerti.
__ADS_1
Syntia menggandeng tangan Arie menuju kursi di ruang tamu, sementara Arie heran melihat gelagat nya.
"Mas, aku buatin kopi ya," masih dengan ala Tiara.
Arie hanya menggeleng kan kepala nya "kesambet kali tu orang," iya pun tersenyum melihat tingkah Syntia yang memparodi kan Tiara.
"Ini Mas, kopi nya,"Syntia menyodor kan dua gelas kopi.
Arie menyerup kopi tersebut beberapa teguk, dan Syntia juga meminum nya,
"Eh kurang manis Yang," ucap Syntia lagi,kali ini iya memparodi kan Riki.
"Kopi ini ngak manis, yang manis itu senyum kamu," tambah Syntia lagi dan Arie ikut tersenyum melihat tingkah Syntia.
"Kamu kenapa Syn," tanya Arie.
"Aku parodiin Tiara sama Mas Riki, Rie."
"Trus ngapain kamu parodiin mereka,?"
"Ngak, kangen aja Rie, mereka tuh paling bisa bikin aku jelus," jawab Syntia.
"Kamu nya aja kali baperan, mereka kan suami istri, biasa aja."
"Makanya cepat kawin jadi ngak jelous," ucap Arie iya pun masuk ke kamar nya.
"Kamu mau kemana Rie, ?"
"Ya mau tidur,"jawab Arie.
"Jangan tidur dulu Rie, temani aku ngobrol dulu," cegah Syntia.
Tapi Arie tak peduli, iya pun masuk kamar nya, tapi Syntia membuntuti nya sampai ke kamar.
"Kamu ngapain Syn, aku mau tidur, aku harus bangun pagi besok karna ada janji dengan Pak Herman."
"Janji apa Rie?" tanya nya lagi.
"Besok Pak Herman mau memperkenal kan aku dengan seorang gadis anak teman nya."
"Kamu mau di jodoh kan lagi Rie,? tanya Syntia.
"Kayak nya."
"Jangan mau Rie, kalau kamu kawin lagi aku kan ngak ada teman."
"Maka nya kamu juga kawin Syntia, biar ngak buntutin aku terus," ujar Arie, iya pun menarik bantal dan tidur.
Syntia pun main game di tempat tidur Arie, hingga kelelahan iya pun terlelap.
__ADS_1