Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Keluarga sakinah


__ADS_3

Pagi hari nya, Tiara mencoba menelpon Arie, setelah beberapa kali mencoba akhir nya tersambung.


"Assalamualaikum Bun," sapa Arie lembut.


"Waalaikum sallam Yah," jawab Tiara.


"Yah Arjuna masuk rumah sakit Yah," ujar Tiara.


"Kok bisa Bun, Arjuna sakit apa?"


Terdengar suara tangisan Arjuna ,


"Nih Yah anak mu nangis," ucap Tiara sambil memperlihat kan video call nya bersama Arie.


Arjuna terlihat antusias ketika Arie bicara padanya, tampak nya Arjuna seperti mengerti dengan yang Arie bicarakan, iya pun berhenti menangis.


"Udah dulu ya Bun, Ayah mandi dulu ya," selesai mandi, Ayah langsung pulang Bun,


"Iya Yah, hati-hati Yah," ucap Tiara dan Arie pun memutus sambungan telpon nya.


Arjuna kembali menangis, saat wajah Arie tak terlihat lagi di layar handpone nya Tiara.


"Arjuna kok saat melihat Arie, iya sedikit tenang, Apa karena Arjuna rindu pada Arie, hingga iya menjadi demam," pikir Tiara.


Riki datang membawa sarapan untuk mereka, iya heran ketika Arjuna menangis dan memukul-mukul handphone Tiara.


"Arjuna kenapa Tiara?" tanya Riki.


"Tadi Ayah nya nelpon, iya berhenti menangis, eh saat Arie menutup telpon nya Arjuna kembali menangis." ujar Tiara.


"Kayak nya Arjuna kangen sama Arie, selama ini Arie yang selalu membawa nya jalan pada pagi dan sore hari." ujar Tiara pada Riki, dan terlihat sedikit kecemburuan di wajah Riki.


Bahkan buah hati nya saja lebih menyayangi Arie, dari pada diri nya.


Setelah tak berapa lama Oma datang menjenguk Arjuna .


"Assalammualaikym wr wb"


Wa'alakum salam," Oma.


" Eh cucu Oma sudah sembuh belum ?" tanya Oma


"Masih, hanya ngak terlalu rewel lagi," jawab Tiara,

__ADS_1


"Oma kita bawa Arjuna keluar yuk Oma, siapa tahu iya mau makan bubur nya."


Tiara merasa senang dengan kedatangan Oma, setidak nya iya tak berduan saja dengan Riki, akan tak enak jadi nya, jika Arie melihat mereka hanya berdua menjaga Arjuna meski pun mereka tak berbuat apa-apa.


Setelah di paksa beberapa kali, Arjuna tetap tak mau makan.


Hari sudah menunjukan pukul dua siang, Arjuna kembali menangis saat bangun tidur, dan mereka pun membawanya keluar dari ruangan untuk mencari angin segar.


"Tiara kamu sudah telpon suami kamu?" tanya Mama.


"Udah Ma, Mungkin sebentar lagi sampai. "


Tak berapa lama, Tiara pun melihat kedatangan Arie, "Arjuna, Ayah sudah sampai sayang," ujar Tiara dengan senang.


Arie langsung menghampiri mereka,


"Baru sampai Rie, jam berapa kamu berangkat dari sana?" tanya Riki.


"Jam tujuh pagi Mas," waktu dapat kabar dari Tiara, aku langsung pulang.


Arjuna yang sedari tadi menangis, langsung berhenti menangis saat di gendong oleh Arie, Arjuna seperti mendekap dan melepas kan kerinduan nya pada Arie.


"Sayang anak Ayah, kangen ya sama Ayah," Arie pun mencium nya.


"Kamu lihat sendiri Riki, Arjuna itu seperti kamu, kalau sedang sakit ngak mau lepas dari gendongan, selain itu, kenapa Arjuna lebih mau digendong sama Arie, ketimbang kamu, anak kamu saja neg lihat kamu," ujar Mama kembali memarahi Riki, karna masih kesal terhadap nya


Riki heran kenapa akhir-akhir ini mama sering memarahi nya.


Karna sudah ada Arie, Riki memutus kan untuk pulang, iya merasa tak enak jika harus berada di antara mereka, Riki juga yakin Arie bisa menjaga Arjuna dan Tiara.


"Yah, Arjuna kayak nya demam gara-gara jauh dari Ayah kali Yah," ujar Tiara.


"Iya, Arjuna nya saja bisa kangen sama Ayah, tapi kenapa Bunda nya ngak ya?"ujar Arie.


"Kangen juga Yah, masak mau peluk-peluk Ayah di sini, ini kan rumah sakit Yah," ujar Tiara.


"Ya Ngak apa-apa lah Bun, kan pasangan resmi," ujar Arie.


Tiara pun memeluk Arie yang sedang menggendong Arjuna, Arie pun mencium kening Tiara.


Riki melihat kemestraan mereka.


"Mereka terlihat bahagia, apalagi dengan sapaan baru mereka, ayah- bunda, sedangkan diri nya sendiri kini masih berada dalam lumpur dosa, tanpa ada keinginan untuk mensuci kan diri," batin Riki.

__ADS_1


Iya kemudian mengetuk pintu bermaksud berpamitan pada kedua nya.


"Rie, aku sama Mama pulang dulu ya, jika terjadi sesuatu, hubungi saja aku Rie," ucap Riki pada Arie.


"Iya, Mas, kalau ada apa-apa pasti aku kabarin."


Keesokan hari nya Arjuna sudah di perboleh kan pulang, karna suhu tubuhnya tak lagi panas.


Seorang suster melepas kan infus yang terpasang di tangan munggil nya.


"Arjuna mau pulang ya," suster tersebut bicara pada Arjuna.


"Iya suster, Arjuna sudah sembuh, sudah ada obat nya," jawab Tiara.


"Emang nya, apa obat paten Arjuna?" tanya suster ramah.


"Ayah nya sus, ternyata Arjuna cuma kangen sama Ayah nya,"


"Ayah nya, loh bukan nya kemaren dari Arjuna pertama masuk, sudah di temani Ayah nya?" tanya suster heran.


"Oh itu papa nya Juna," jawab Tiara tersenyum.


"Wah beruntung dong Arjuna , punya Ayah dan juga punya Papa dua-duanya ganteng lagi," ujar susternya, yang sebetul nya masih banyak pertanyaan di benak nya.


Mereka pun pulang kerumah.


Setelah beberapa hari kesembuhan Arjuna, Arie bermaksud untuk kembali menyelesaikan proyek nya, iya harus kembali meninggalkan mereka.


Arie sudah siap akan berangkat lagi.


"Bun Ayah berangkat dulu ya, ngak lama kok, mungkin dua hari sudah selesai." ucap Arie kepada Tiara yang sedang menggancingkan kemeja Arie.


"Maaf ya Yah, gara-gara Arjuna sakit, kamu harus bolak-balik dan kerjaan mu menjadi terganggu," ucap Tiara.


"Ngak apa-apa kok Bun, bagi Ayah kalian itu lebih penting dari apapun, harus nya kita belajar dari kepolosan Arjuna. "


"Arjuna mengajarkan kita arti sebuah keluarga, bagi Arjuna Ayah bukan hanya orang tua sambungnya, tapi juga orang yang selalu iya cari keberadaan nya, lihat lah Bun, sesuatu yang kita lakukan dengan tulus, rasanya akan sampai ke hati, Meski ayah bukan lah orang tua kandung nya, tapi ternyata Arjuna dan Ayah punya ikatan batin secara langsung, Ayah juga tak tenang berada di sana, meninggal kalian semua."


"Iya yah, wajar saja jika Arjuna punya ikatan batin dengan Ayah, sejak pertama Bunda ngidam, selalu Ayah yang menjaga dan merawat bunda."


Arie pun mencium kening Tiara," Ayah harus berangkat sekarang, doa kan Ayah Bun, semoga Ayah selamat saat sampai disana, kembali dengan selamat pula," tutur Arie.


"Tentu Yah, Bunda selalu mendoakan keselamatan dan kebaikan untuk Ayah dan keluarga kita," ucap Tiara.

__ADS_1


__ADS_2