
Jangan pernah terpuruk dengan sebuah kesalahan yang pernah kau lakukan, bangkit dan yakin lah, akan selalu ada kesempatan ke 2 untuk memperbaikinya.
Persiapan pernikahan telah rampung, Arjuna, Raka, Evelyn, Sakina, semua berkumpul di meja makan, termasuk Oma, mereka berkumpul untuk makan malam bersama, karna setelah hari esok, salah satu keluarga mereka, harus pergi dari rumah itu, Sakina, akan tinggal bersama suaminya setelah menikah, dengan demikian, mereka akan jarang bersama lagi.
Makan malam pun selesai, mereka menuju balkon rumah, tempat favorite mereka, di sana, mereka bisa melihat pemandangan langit yang penuh bintang, dan di dari atas mereka bisa melihat, kolam renang yang semakin indah saat malam hari karna mendapat pantulan dari cahaya sang rembulan.
Ke empatnya duduk bersila, mereka berniat untuk menghabis kan malam ini, karna esok hari, Sakina akan melepas status lajangnya.
"Dek, kenapa kalian ngak tinggal di rumah ini saja sih, rumah ini kan besar,?" tanya Arjuna.
"Bukannya Sakina ngak mau Kak, tapi Mas Rangga tidak bisa meninggal kan Ibunya sendiri di rumah itu, lagian seorang istri, pasti akan mengikuti kemana pun suaminya pergi," papar Sakina.
"Kakak pasti akan merasa kesepian, tinggal dirumah ini sendirian, sementara Raka, sebentar lagi, ia dan Evelyn juga akan pindah, di rumah yang Papa bangun, karna rumah itu amah dari Papa."
"Saat Kak Juna memeriksa rumah itu, Kak Juna melihat sebuah prasasti yang terukir nama Papa dan Bunda Dek, di prasasti itu, Papa menuliskan keinginanya, ternyata Papa punya hajat yang besar saat membangun rumah itu, ia ingin agar seluruh anak cucunya, bisa berkumpul bersama di rumah itu, dan Papa ingin menikmati masa tuanya bersama istri dan anak cucunya."
"Namun sayangnya, Sebelum pindah ke rumah itu, Papa dan Bunda harus berpisah, Rumah itu sempat terbengkalai selama lima belas tahun, tapi cinta Papa sangat bersar terhadap bunda Dek, untuk membuktikan cintanya pada bunda, Papa sampai membuat prasasti berbentuk hati, yang terukir nama Tiara, meski pun saat itu, Bunda telah menikah dengan Ayah, setiap harinya Papa menulis surat cintanya kepada Bunda, yang ia simpan di dalam kotak besi, Papa menuliskan surat cinta itu setiap hari, semuanya tetantang kerinduanya pada sang mantan istri."
"Kak Juna tak mengira, ternyata ada cinta yang pernah berakhir di dunia ini, bahkan di akhir hidupnya, Papa rela mati demi melindungi bunda, sungguh cinta yang sulit di ukur kadarnya, cinta sejati memamg hanya datang satu kali, dan Papa membuktikan nya, ia berharap jika tak di dunia ini, Papa ingin kembali di persatukan di akhirat". tutur Arjuna haru.
Mendengar semua itu, Sakina pun haru, ia ikut meneteskan air matanya.
"Sejak saat itu Kakak sadar, cinta itu tak harus memiliki, Kak Juna belajar dari Papa yang merelakan Bunda yang sangat ia cintai, untuk menikah dengan orang lain, demi kebahagiaan bunda, surat cinta Papa menyadarkan Kak Juna, bahwa Kak Juna harus melepaskan kamu, demi kebahagian kamu dek, meski dengan hati yang sangat berat, seperti cinta Papa yang terlarang, begitulah cinta Kak Juna, saat ini Kakak hanya ingin melihat kamu bahagia, hidup bersama orang yang kamu cintai dan mencintai kamu, semoga pernikahan kalian langgeng hingga maut yang memisahkan," tutur Arjuna haru , sambil menyentuh pipi Sakina.
"Amin" Sakina.
"Terima kasih Kak, Sakina percaya Kak, suatu saat Kak Juna akan mendapat kan jodoh yang terbaik, Tuhan pasti akan membalas semua kebaikan dan pengorbanan Kakak, semua pasti akan indah pada waktunya, Dan Tuhan tak kan pernah menyia-nyiakan amal baik sesorang," ujar Sakina dengan sedih, ia pun kembali memeluk Arjuna.
"Ayo Dek Kakak antar kamu tidur, untuk yang terakhir kalinya, Kakak bisa membelai rambut mu, sebelum tidur, karna besok, sudah ada Rangga yang akan menggantikannya." mereka pun tertawa.
Mereka berjalan menuju kamar Sakina, Sakina berbaring di atas kasur, dan Arjuna membelai rambutnya.
__ADS_1
"Kak Mas Rangga itu, orang yang baik ya?" tanya Sakina.
"Kok kamu tanya Kakak, Dek?" bukanya kalian sudah lama pacaran, bahkan sebelum bertemu dengan Kakak."
Sakina tersenyum, "Sebenarnya, Sakina dan Rangga baru dua bulan ini resmi pacaran Kak," ujarnya dengan jujur.
"Hah, baru dua bulan, jadi waktu pertama kita bertemu, kamu dan Rangga belum pacaran?" tanya Arjuna tak yakin.
"Belum Kak, saat itu, Mas Rangga meminta Sakina untuk berpura-pura jadi pacarnya, karna ia selalu di bully sama temanya Leo." ungkap Sakina.
"Jadi kau kenal Rangga dari mana?"
"Sakina bekerja sebagai baby sister anaknya Mas Rangga, Kak."
"Apa?" Arjuna kaget.
"Aku dan Raka, mencarimu kemana-mana, tapi kau malah bekerja sebagai baby sister di rumah Rangga, kurang ajar si Rangga, adikku di jadikan baby sister," ungkap Arjuna dengan geram.
"Waktu Sakina jadi baby sister di rumah Rangga, apa dia bersikaf baik padamu Dek?"
"Sangat baik, Rangga orang yang sabar dan penyayang, saat itu, tak pernah sedikit pun terlintas di benak Sakina untuk menikah denganya, begitu pun dengan Rangga, ia begitu mencintai mendiang istrinya, Mas Rangga selalu bicara pada foto istrinya, dan diakhir curhatnya, biasanya Rangga meneteskan air matanya, seraya mencium foto istrinya, saat itu Sakina tahu, Rangga adalah pria yang baik dan setia," papar Sakina.
"Kakak rasa juga begitu," ungkap Arjuna .
Terdengar suara ketukan pintu kamar Sakina.
Arjuna pun membukakan pintu, dan ternyata Bi inah, Maaf Mas Juna, ada tamu, ujarnya.
"Siapa?"tanya Arjuna.
"Katanya saudara Mas Juna dan Mbak Sakina," Jawab Bi Inah
__ADS_1
"Mas Aziz," tebak Arjuna.
Mereka pun turun dan semua menyambut kedatangan Kakak tertua mereka, meski pun umurnya tak berbeda jauh.
"Mas Aziz, kenapa ngak nelpon dulu sih? katanya besok pagi baru berangkat." tanya Arjuna.
"Maunya sih, besok subuh, tapi berhubung Mas Aziz ada perlu sama Kamu Arjuna dan Sakina juga," papar Aziz.
"Perlu apa Mas," tanya Arjuna.
"Mas Aziz juga mau melamar seorang gadis Arjuna, karna kita ngak punya orang tua, Mas Aziz mau membawa kalian semua dalam lamaran nanti," papar Aziz.
"Wah kayak nya lagi musim kawin nih," ujar Raka, ia pun tersenyum.
"Tentu saja Raka, menikah itu penyempurna ibadah," jawab Aziz,
"Kalau gitu, carikan satu untuk Kak Juna ya Mas? biar Kak Juna bisa move on"
Raka kembali meledek Arjuna.
Arjuna hanya tersenyum mendengar celotehan Raka.
"Beres, setelah pernikahan Sakina, Mas Aziz carikan jodoh kan buat kamu Arjuna," canda Aziz.
"Emangnya aku ngak laku apa?" kata Arjuna sedikit terpancing.
"Kak Juna bukan ngak laku, apes saja, sudah dua kali direbut orang Mas," canda Raka.
Arjuna hanya tersenyum pasrah mendengar sindiran Raka.
"Tenang Arjuna, Mas Aziz sudah ada calon kok untuk kamu, minggu depan kita ta'arufan," kata Aziz sambil menepuk pundak Arjuna.
__ADS_1
"Asikkk," sambut Raka bahagia.