
Tiara menjalani rutinitas pagi nya, seperti biasa, iya membuat kan kopi untuk suami nya, pikiran nya melayang pada percintaan yang di lakukan nya bersama Riki semalam.
Tiara tak lagi merasakan hangat nya pelukan Riki, gerakan yang hanya mengguncang kan tubuh nya tapi, tidak hati nya, tak terasa nikmat sedikit pun hanya rasa sakit yang terasa di bagian tubuh nya.
Riki menghampirinya, dan membuyarkan lamunan Tiara, Riki yang melihat Tiara yang berbeda, Iya pun mencium bibir Tiara, namun tak mendapatkan sambutan dari Tiara namun Riki mencoba untuk mengerti keadaan nya.
Riki menyerup sedikit kopi nya," Ehm kenapa kopi ku tak terasa manis pagi ini, ucap nya menyindir sikaf dingin Tiara."
"Tentu saja Mas, karna gula nya sudah tercampur racun empedu, dan ku rasa tak hanya hari ini kopi mu tak terasa manis, tapi mungkin untuk hari-hari selanjut nya." Ucap Tiara datar.
"Apa kah belum bisa memaafkan ku Tiara?" tanya Riki.
Tiara hanya diam pandangan mata nya jauh kedepan, Entah mengapa perasaan nya tak lagi sama, iya terus saja teringat pengkhianatan Riki kepadanya.
"Aku sudah memaafkan mu, dengan menerima mu kembali Mas, tapi aku tak bisa menahan rasa kecewa ku terhadap mu, aku tak tahu sampai kapan aku bertahan, ucapnTiara datar."
Riki sedikit kaget mendengar kata-kata Tiara," Jangan bicara seperti itu Tiara, aku tahu kau butuh waktu, dan aku akan selalu sabar menunggu nya." Iya pun mencium kening Tiara dan berlalu dari nya.
"Oya Mas, nanti siang aku akan belanja. "ucap Tiara.
" Pergi bersama saja Tiara, sudah lama kita tak menghabis kan waktu berdua,"pinta Riki."
"Maaf Mas, aku butuh waktu untuk sendiri" ujar Tiara.
"Kalau begitu, baiklah kau hati-hati saja." Riki pun mencium pipi Tiara.
Tiara merasa jenuh, iya pun memutus kan untuk mengunjungi sebuah Mall, selain untuk membeli hantaran untuk Syntia, Tiara juga ingin mencuci mata dan pikiran nya, sejenak menghilangkan penat nya.
Tiara sudah sampai di halaman parkir di sebuah Mall terbesar di kota itu.
Saat ingin memasuki lobi iya melihat sebuah tenda promosi, dan betapa senang nya ternyata tenda tersebut milik perusahan Nebula kosmetik tempat nya bekerja dahulu.
Tiara penasaran dan mendekat apa masih ada teman-teman SPG nya dulu.
Tiara pun mengenakan kaca mata hitam dengan mini dress berwarna biru tua sangat kontras dengan warna kulit nya yang putih bersih.
Semakin mendekat Tiara semakin deg-degan, ternyata teman-teman SPG nya masih berkumpul di sana.
Iya pun menghampiri mereka dengan pura-pura belanja produk nya, iya sengaja memakai kaca mata hitam agar tak di kenali.
Hampir semua mata memandang kearah Tiara, karna wanita kelas berat sepertinya mau mampir di stan mereka.
__ADS_1
Tiara mendekati Tania, setelah berada di hadapan Tania iya pun membuka kaca mata nya.
"Tiara" Sapa Tania.
Para SPG yang lain pun menoleh kearah mereka, dan langsung saja, mereka memeluk Tiara satu persatu secara gantian.
"Tiara kamu kemana aja, sejak ngak kerja lagi, nomor kamu juga ngak aktif?" tanya Belinda.
"Ngak kemana-mana kok, aku ganti nomor jadi nomor kalian ngak ke save." jawab Tiara.
"Aku mau dong ikut kalian promosi, boleh ngak?" tanya Tiara.
"Tanya aja sama Managernya tu yang di sana," mereka sengaja mengarah hari telunjuk nya kearah Ryan, yan kebetulan sedang membagi kotak makan siang mereka.
Melihat Ryan,Tiara jadi gugup.
Ryan tak melihat Tiara, iya kemudian nenghampiri stan para SPG.
Ryan senakin dekat dan jantung Tiara semakin berdetak kencang, ketika kini Ryan berada tepat di belakang nya.
"Kalian makan siang dulu," ucap Ryan sambil memberi 4 kotak makan siang.
"Pak karyawan yang ini ngak kebagian jatah makan siang nya kah?" Tania melirik kearah Tiara yang menunduk dan membelakangi nya.
"Kasi dong Pak," tambah Belinda menggoda, karna mereka tahu Tiara adalah mantan Ryan.
Ryan pun menyodor kan sebuah kotak makan siang kearah Tiara, dan betapa kaget nya iya, saat Tiara menoleh kearahnya dan melemparkan senyum simpul nya.
"Tiara" sapa Ryan.
Mereka pun berjabat tangan," Suit...suit," siul Belinda.
Dan kedua nya mulai grogi.
Tiara duduk bersama teman-teman nya para SPG.
Ryan kemudian membawa segelas jus alpukat kesukaan Tiara.
" Jadi Tiara aja Pak yang di beliin," sahut Tania.
"Udah kok kalian udah pesanin semua, jawab Ryan yang kemudian duduk di samping Tiara."
__ADS_1
"Wow sering-sering aja Tiara kamu kesini, biar kita sering di traktir Pak Ryan," sahut Tania.
Sementara mereka berdua jadi salah tinggah.
Mereka saling bercanda satu-sama lain dan terlihat Ryan tak beranjak dari sisi Tiara, meski di goda dengan ke empat SPG nya dan sejenak Tiara melupakan masalah nya.
Waktu telah pun sore dan kegiatan pun sudah harus di akhiri.
"Tiara besok ke sini Ya," ajak Tania.
"Aku sih mau aja, tapi boleh ngak ya, aku ikut bantu promosi nya?" tanya Tiara dengan mata melirik Ryan.
"Kenapa engak? tapi aku ngak tau harus berapa menggaji kamu," canda Ryan.
"Engak kok, aku senang di sini bertemu mereka ngobro dan...,"Kata-kata Tiara terhenti dan langsung di sambar Tania.
"Dan bertemu Pak Ryan, "sahut Tania.
Tiara jadi tersipu malu, "Apaan sih kamu Tania," ucap Tiara malu.
Ryan hanya tersenyum, sebenar nya iya juga senang jika Tiara ada di sana, meski Ryan jadi tak disegani bawahan nya.
Tiara pulang kerumah dan langsung di sambut Mama.
"Tiara kamu dari mana?" tanya Mama
"Tiara habis jalan-jalan,Ma dan bertemu teman jadi Tiara ngobrol sampai lupa waktu, "jawab nya.
"Iya kamu istirahat, nanti kita makan bersama."
Riki menjadi heran "Bukankah Tiara tak punya teman di sini dan hanya Syntia dan Arie, lalu Siapa teman yang di maksud Tiara," pikir Riki.
Riki pun membuntuti Tiara hingga ke kamar.
"Tiara kenapa kamu pulang sesore ini, aku jadi khawatir?"tanya Riki.
"Aku bosan di rumah, pikiran aku suntuk Mas, jadi kamu jangan kebanyakan ngatur," cetus Tiara.
Riki kaget dengan perubahan Tiara, Tiara kini menjadi dingin dan kasar tak seperti biasanya.
Bahkan saat tidur Tiara selalu membelakangi Riki dan hanya sibuk dengan hand phone nya.
__ADS_1
Riki merasa ada jarak antara mereka, "Mungkin Tiara butuh waktu" batin Riki.
Iya coba memeluk dan mencium Tiara tapi Tiara selalu menepis kan tangan nya, Tiara seperti tak ingin di sentuh oleh nya.