Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Memendam rasa


__ADS_3

Sudah hampir setengah jam Hana menatap kearah Arie, Mata nya hanya berkedip, sesekali karna lelah, namun rasa nya tidak bosan melihat senyum dan gerak- gerik Arie.


Arie sungguh bersahaja meski tanpa banyak bicara, iya hanya menjawab apa yang di tanya kan pada nya, suara nya yang halus dan lembut, mampu menggetar kan nada-nada indah di hati Hana.


Hana tersenyum tipis di balik cadar nya, setelah sekian lama, Arie pun tanpa sengaja melihat kearah nya, dan betapa malu nya Hana ketika iya tertangkap mata oleh Arie bahwa iya sedang menatap Arie dalam, Arie hanya tersenyum tipis kearah nya, Hana bagai terlempar kedunia maya, kedunia cinta, angan angan nya semakin melayang terbang tinggi, senyuman Arie bagai panah cinta dari dewi asmara dan langsung tepat di jantung hati nya.


Hana yang malu, sedikit menundukan pandangan nya, berkali kali iya menggigit lembut bibir nya, namun mata nya seolah tak ingin jauh dari sosok Arie.


Ini kah cinta pandangan pertama? tanya nya dalam hati.


Sungguh indah, sunguh indah, anugrah dari yang kuasa, rasa ini nampu menggetar kan syaraf halus-halus sekujur tubuh nya, jantung nya berirama indah bak senandung balada cinta.


Tak henti-henti nya Hana memandang kearah Arie, hingga iya tak sadar Abah memanggil nya.


"Hana, Hana,!" Seru Abah. Dan Hana pun kaget dan sedikit malu ketika pandang mereka semua tertuju pada nya, tentu saja, karna sudah berkali kali Pak Nanang memanggil nya, tapi iya tak menyahut apalagi menoleh kearah nya, padahal jarak iya dan Abah nya hanya beberapa jengkal.


"Ada apa Bah," ucap Hana sedikit gugup.


"Bikin minum, masa' tamu di biarin saja dari tadi," ucap Abah.


Hana pun langsung beranjak," Aduh semoga saja, mereka tak melihat ku tadi, jika tidak, aku pasti malu," Batin Hana.


Tiga cangkir kopi terhidangkan di atas meja dan Hana sendiri yang membawakan nya, jantung nya bergetar saat tubuh nya semakin dekat dengan Arie.


Arie tak memandang kearah nya, tentu saja iya tahu, gadis seperti Hana tak kan suka jika terlalu di lirik.


"Rie, kamu merokok?" Tanya Pak Nanang yg seperti nya mengetes Arie.


"Ngak," Pak jawab nya singkat.


"Rie, kalau boleh tahu, apa rencana kamu selanjut nya,?" tanya pak Nanang.


"Maksud nya Pak ?" Arie tak mengerti.

__ADS_1


"Maksud saya, apa kamu punya rencana menikah dalam waktu dekat ini?" papar pak Nanan.


"Belum ada Pak, selain belum ada calon nya, Arie ingin fokus membesar kan anak Arie terlebih dahulu, lagi pula Arie belum punya pekerjaan tetap," jawab Arie.


Jawaban Arie seperti menambah nilai plus pada diri nya.Iya semakin bersahaja dalam kesederhanaan dan kejujuran nya.


Dan Hana semakin kagum pada Arie, dan iya semakin dimabuk kepayang, entah apa yang membuat Arie begitu istimewa di mata nya, meski baru kali ini iya melihat nya.


Setelah puas ngobrol mereka pun pamit undur diri.


Dalam perjalanan pulang Pak Herman pun kembali diskusi bersama Arie tentang putri Pak Nanang.


"Rie, Bapak lihat kamu tak tertarik yau pada putri Pak Nanang, Apa kurang cantik Rie?"


"Bukan itu Pak, seperti yang tadi Arie jelaskan, Arie belum siap, karna Aziz masih membutuh kan kasih sayang penuh dari Arie, dan jika Arie menikah pasti waktu dan kasih sayang Arie terbagi, selain itu, Arie memang belum punya penghasilan tetap, bagai mana Arie bisa memenuhui kebutuhah keluarga Arie," jawab Arie lugas.


"Rie, Bapak memiliki banyak bidang usaha, dan kamu bisa pilih yang mana saja, yang kamu mau untuk kemudian kamu lanjut kan, akan Bapak serah kan pada kamu, asal kamu mau saja."


"Kamu benar Rie, bapak bangga sama kamu, Rie, Jika saja bapak masih memiliki anak perempuan, akan Bapak jodoh kan kembali pada kamu Rie."Pak Herman pun menepuk pundak Arie.


"Terima kasih Pak," ucap Arie.


"Semoga kelak Aziz akan tumbuh menjadi pria hebat seperti mu Rie," ujar Pak Herman.


"Tidak Pak, Aziz harus lebih baik dari Arie, setidak nya iya menjadi ustadz seperti kakek nya," tambah Arie.


Dan mereka pun tertawa bersama.


Setelah sampai di rumah, Arie langsung di sambut Syntia yang begitu antusias menunggi cerita nya.


"Rie, Kamu pergi kok lama sekali? gimana Rie, cantik ngak? cantikan mana sama Aisyah dan Tiara?" tanya Syntia bertubi-tubi.


"Apa-apan kamu Syn, suka banget membanding kan orang," tukas Arie kesal.

__ADS_1


"Ya, aku kan cuma nanyau cantikan mana? gitu aja marah." sahut nta


"Cantikan kamu Syn, "jawab Arie asal.


"Yang bener Rie?" tanya Syntia ge-er, karna iya tahu Arie kurang suka bercanda.


"Iya bener cantikan kamu, tapi kalau di lihat dari mercusuar," jawab Arie sedikit tertawa.


Syntia pun memukul lengan Arie.


"Kamu Rie, padahal aku dah geer duluan."


"Kamu mau kemana Syn?" tanya Arie melihat Syntia yang membawa tas nya.


"Kerumah Tiara, nanti sore mereka sudah pulang," jawab nya spontan.


"Syn, kalau boleh aku kasi saran, mendingan kamu ngak usah tinggal di sana lagi, ngak usah gangguin mereka,"


"Mas Riki, kok nelpon aku, kata nya aku di suruh tinggal di sana menemani istri nya," cetus Syntia, memberi alasan.


"Yakin, kamu di sana untuk menemani Tiara, bukan ingin lebih dekat dengan Mas Riki?"tanya Arie curiga.


"Rie pikiran kamu jahat banget tentang aku, kamu pikir aku tega menyakiti sahabat ku sendiri."


"Syntia, aku yakin kamu ngak tega menyakit kan Tiara seandai nya kamu tidak mencintai Riki, tapi, kamu bisa lebih berbahaya jika kamu tak bisa mengendali kan rasa cinta kamu pada nya."


"Syn, seseorang akan melakukan apa saja untuk mendapat kan orang yang di cintai nya, karna kebanyakan cinta di selimuti nafsu, banyak orang yang saling membunuh karna cinta, karna cemburu buta, dan aku tak ingin terjadi pada kamu dan Tiara, hingga kalian saling menyakiti."


"Syn, kamu itu sahabat ku, begitu pun Tiara, aku sangat menyayangi kalian berdua, aku tak ingin kalian terlibat cinta segi tiga."


"Syn, jika kamu ngak sangup untuk menahan perasaan kamu terhadap Mas Riki, sebaik nya kamu menjauh dari mereka, kita ini sahabat nya, dan persahabatan itu lebih tulus dari pada cinta."


"Rie, aku memang mencintai Mas Riki tapi bukan berarti aku akan merebut nya dari Tiara, lagi pula aku tak sebanding dengan Tiara, dan Mas Riki begitu mencintai nya, aku hanya ingin membantu mereka sebagai sahabat,"ujar Syntia.

__ADS_1


__ADS_2