
Riki pulang kerumah nya dengan langkah gontai, saat itu Syntia, sudah menanti nya.
"Mas, kamu sudah makan?" tanya Syntia peduli.
"Ngak lapar," jawab Riki singkat.
Riki pun langsung berbaring di salah satu sisi tempat tidur, pikiran nya entah kemana, iya seperti kehilangan gairah hidup nya.
Riki menitikan air mata di antara kesunyian malam, iya mencoba untuk tidur dan melupakan semua, tapi tak juga bisa terlelap.
Syntia datang menghampiri Riki dan memeluk nya, "Mas, sudah satu bulan kau tak menyentuh ku Mas, " Syntia pun meraba tubuh Riki, berharap dapat balasan dari nya, tapi Riki malah menepis tangan Syntia.
"Aku lagi ingin sendiri," ucap Riki datar.
"Tapi Mas, sampai kapan harus seperti ini, meski hanya sebulan sekali, kau pun tak mau menyentuh ku, apa aku hanya pajangan bagi mu," ucap Syntia lirih.
Riki bangkit dengan emosi, "Aku tak kan bisa menyentuh mu Syntia, karna aku membencimu, karna kau, aku kehilangan Tiara, bagaimana bisa aku melakukan hubungan itu, jika melihat mu saja aku sudah muak," ucap Riki dengan emosi.
Syntia langsung menangis," Mas, tapi aku istri mu, aku tak minta kau melakukan nya setiap hari, meski sebulan sekali pun, apa aku harus mengemis pada mu dulu," tangis Syntia.
"Itu terserah pada mu, jika kau ingin pergi,kau boleh pergi, tapi tinggal kan Raka di sini, bagiku kehadiran mu hanya karna Raka di sini, dan jangan pernah berharab lebih," tegas Riki.
Sikaf Riki kembali dingin, dan Syntia hanya bisa pasrah dan menangisi nasib nya.
**
Tiara sudah berdandan yang cantik sambil celingat celingut menunggu kedatangan Arie, maklum saja ini malam pertama di pernikahan ke dua, iya tak ingin mengulang malam kelabu nya, saat di pernikahan pertama nya.
"Duh lama baget sih Arie, keduluan ngantuk, malam pertama harus sukses," ucap pada diri sendiri dan iya sendiri tersenyum dengan kelakuan nya."
Setelah menunggu sepuluh menit Arie pun tiba, dan Tiara langsung memasang pose seksi saat Arie melintasi kamar, bukan nya menghampiri Tiara, Arie malah menuju kamar mandi.
"Rie, kamu dari mana sih lama banget," tanya Tiara.
"Bantu Pak Herman beres-beres," jawab singkat.
"Tiara tolong ambil kan handuk, aku mau mandi dulu, ngak enak berkeringat" Arie.
__ADS_1
"Alah nanti juga berkeringat lagi Rie," ucap Tiara dengan senyum menggoda Arie.
Arie hanya mengelengkan kepala sambil tersenyum kearah Tiara, dan tak ada yang tahu makna dari senyum Arie.
"Jangan lama-lama Rie, udah gatel" canda Tiara sambil menyodor kan handuk ke Arie.
Arie tertawa kecil dan menggelengkan kepala lagi melihat kelakuan Tiara.
"ups Tiara, gensi dong, jujur amat ngomong nya, tapi ngak apa-apa deh, namanya juga janda, emang udah gatel," ucap nya pada diri sendiri dan iya pun tertawa sendiri.
Tiara berbaring sambil menunggu Arie keluar dari kamar mandi, lima belas menit Arie pun keluar dan hanya memakai handuk, iya pun duduk di tepi tempat tidur dan melihat kearah Tiara.
"Rie, sampai kapan kamu mau perhatikan aku Rie?" tanya Tiara tersenyum.
"Trus kita mau ngapain?" canda Arie.
"Pakai nanya lagi" batin Tiara. sementara Arie hanya tersenyum melihat tingkah Tiara yang mengemas kan.
Arie masih senyum-senyum melihat kearah Tiara, sementara Tiara menjadi salah tingkah.
"Rie, kamu melamun ya?" tanya nya lagi, karna seperti mereka sama-sama tegang.
"Aku ngak tahu, harus mulai dari mana," ucap Arie memancing reaksi Tiara.
"Ngomong dong Rie, sini biar aku yang mulai." Tiara bangkit dan langsung mencium bibir Arie, dan mereka pun saling berbalas, setelah sedikit panas, Tiara menarik handuk yang Arie kenakan, dan menarik tubuh Arie keatas tubuh nya.
Dengan perlahan Arie mulai membuka satu-persatu kain yang menutup tubuh Tiara.
Dan untuk pertama kali nya, tubuh mereka bersatu, Tiara hampir memekik mengungkap kan ekspresinya, tapi Arie membungkam mulut nya dengan ******* bibir nya.
"Diam Tiara, di sini banyak orang, nanti kedengeran," bisik Arie di telinga nya.
Tubuh mereka sudah basah oleh keringat tapi permainan seperti nya belum selesai, mereka masih asyik menikmati gerakan tubuh mereka, meski nafas kini semakin terengah-engah, akhir nya Arie pun tumbang dalam pelukan Tiara.
Nafas mereka masih saja memburu, Arie membelai rambut Tiara dan kembali mencium nya, "Akhir nya aku bisa memiliki mu sayang," ucap Arie di telinga Tiara, mata Arie pun berkaca-kaca karna bahagia bercampur haru.
Sudah lama iya memimpikan saat ini bersama Tiara, meski sempat putus asa, tapi Arie selalu yakin bahwa Tiara suatu saat akan menjadi milik nya.
__ADS_1
Tiara mengusap lembut tetesan keringat di wajah Arie, iya pun meraih tangan Arie dan mencium nya.
"Rie sekarang kau adalah imam bagi ku, panutan ku, aku bersedia tunduk dan patuh pada mu Rie, dan jika ada yang tak kau suka dari ku, kau bisa katakan apa saja, agar aku bisa memperbaiki nya, jika aku salah, aku mohon nasehat dari mu, bimbing lah aku Rie, karna tanggung jawab mu pada ku tak sebatas di dunia ini saja, tapi sampai diakhirat, ini bentuk pengabdian ku sebagai istri mu sekarang Rie," ucap Tiara haru, iya sampai menetes kan air mata nya.
"Iya sayang, aku juga sama, aku mau kau menerima segala kekurangan ku, dan aku juga manusia biasa, ingat kan lah aku jika aku berada di jalan yang salah, kita bangun rumah tangga yang sakinah, mawardah, warohma, saling menyayangi di kala dekat dan saling menjaga di kala jauh, mulai sekarang kau dan anak mu adalah tanggung jawab ku," ucap Arie.
"Rie, karna kau, suami ku sekarang rasa nya aneh, jika aku masih saja memanggil dengan nama mu, aku panggil kau apa ya Rie,?" tanya Tiara sambil berfikir.
"Kalau aku sih akan memanggil mu bunda, biar Aziz juga terbiasa memanggil mu bunda."
"Iya, ya Rie, aku panggil kau Ayah saja, biar Arjuna juga terbiasa memanggil mu Ayah."
"Kalau gitu pangilan kita sekarang Ayah bunda ya Rie, Meski terasa aneh di lidah ku, Rie," ucap nya sambil tersenyum.
"Iya Sayang, sekarang waktu nya tidur,karna besok aku juga harus kerja." Arie.
"Masak tidur Rie, ngak nyoba sekali lagi kah," canda Tiara.
Arie tersenyum mendengar ucapan Tiara.
"Kamu tahu ngak sayang, apa beda nya menikahi janda dengan perawan?" tanya Arie bercanda.
"Ngak tau," jawab Tiara asal.
"Kalau anak perawan banyak malu nya, " Arie
"Kalau janda?" tanya Tiara.
"Banyak mau nya," jawab Arie dengan tertawa kecil.
"Ah kamu jahat Rie," Tiara pura-pura ngambek.
Arie kembali pun kembali mencium Tiara dan membelai nya hingga Tiara tertidur.
Arie melihat perhiasan mahal yang di pakai Tiara.
Mungkin aku ngak akan mampu memberi kamu perhiasan semahal dan sebagus ini, tapi semoga hanya dengan kesederhanaan, aku tetap bisa memberi mu kebahagian," ucap Arie sambil mencium kening Tiara.
__ADS_1