
Jantung Syntia dag dig dug, menunggu hasil tes preg," Dua,dua ,ayo dua garis" ucap nya pada diri sendiri.
"Yeey positif!!!" teriak nya.
"Tunggu saja Mas, aku akan datang merebut kamu dari Tiara, karna kini aku mengandung satu-satu nya keturunan kamu," ucap nya yakin.
Riki masih terus membuntuti Tiara yang ngambek, Tiara memberes kan pakaian nya dan memasukan nya ke dalam tas.
"Sayang, kamu mau kemana?"
"Aku mau pulang kerumah ibu ku."
"Aku tunggu surat cerai kamu, Mas," ucap Tiara sambil menghapus air mata nya.
"Tiara jangan pergi, aku mohon, aku sudah membatal kan nya," ucap Riki.
Tapi Tiara diam iya pun pergi keluar dari kamar dan bertemu dengan Mama.
"Tiara kamu mau kemana Nak," tanya Mama heran.
"Tiara mau pulang kerumah orang tua Tiara, Ma, ucap Tiara sedih.
"Tapi kenapa Sayang? apa kamu ngak suka tinggal sama Mama."
"Mas Riki tuh sudah jatuhin talaq pada Tiara, dan barusan Tiara dengar Mas Riki sudah mendaftar di pengadilan perceraian kami, Ma."
"Jadi ngak ada guna nya, Tiara disini," ucap nya lirih.
Mama langsung menatap Riki tajam.
"Kalau memang begitu, kamu tetap tinggal sama Mama, biar dia saja yang keluar," tutur Mama yang tak mengetahui kejadian sesungguh nya.
Riki heran mendengar omongan Mama.
"Ma, harus nya Mama bujuk Tiara untuk memaafin Riki, bukan malah memperkeruh suasana." ucap Riki pada Mama.
"Riki kamu memang keterlaluan, Mama tahu sendiri sifat kamu seperti apa, sekali lagi kamu menyakiti Tiara, Mama akan usir kamu dari rumah ini, dan Mama akan coret kamu jadi ahli waris Mama, dan akan Mama gantikan dengan Tiara dan anak nya." Mama mengancam Riki.
Riki melongo, "Salah aku apa Ya, kok Mama segitu marah nya," ucap Riki tak mengerti.
__ADS_1
"Ya, sudahlah kalau meladeni mereka berdua bisa bikin aku terlambat kerja saja." tutur nya sendiri.
Dalam perjalanan, Riki berfikir, "Kalau tinggal sama Mama, aku pasti selalu di pojokan, karna Mama pasti membela Tiara, kalau tinggal di rumah sendiri, Syntia pasti datang dan membeberkan semua pada Tiara, serba salah," ucap nya pada diri sendiri.
Riki datang dan langsung menuju ruangan nya, kini iya mengunci sendiri ruangan nya, karna jika tidak di kunci Alena bisa masuk sembarangan.
Pintu pun di buka, Riki mengeluarkan laptop nya.
Baru mengetik pasword di laptop nya sudah ada Syntia yang datang menemui nya.
Riki bangkit dan berdiri.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Riki tak bersahabat.
"Mau kasih kamu hadiah Mas," jawab Syntia.
"To the poin aja, aku ngak punya waktu meladeni kamu, "ujar Riki tampa melihat Syntia.
Syntia menepak meja," Aku hamil Mas," ujar nya.
Riki kaget tapi iya berlaga cuek," Trus apa hubungan nya dengan aku, "ucap nya tanpa melihat kearah Syntia.
Riki yang panas langsung beranjak dari duduk nya.
"Apa mau kamu Syntia?" tanya nya sambil menghempas kan tangan nya keatas meja.
"Aku mau kamu nikahin aku," jawab nya tegas.
"Itu ngak mungkin," bentak nya.
" Apa kamu ngak pikir bagaimana, jika Tiara tahu, Syntia,"
" Apa kamu ngak kasihan sama sahabat kamu sendiri? "
"Tiara,Tiara,Tiara, Apa ngak ada alasan lain lagi, kamu, Arie, semua hanya memikir kan kebahagian Tiara, apa kalian ngak pernah memikir kan ku sedikit saja," Syntia mulai menunjuk kan sifat nya yang sesungguh nya.
"Aku kasi kamu waktu berfikir Mas, kamu nikahin aku, atau akan ku kembalikan Tiara ke pelukan Arie, itu mudah bagi ku Mas, karna aku paling tahu kelemahan Tiara," ancam nya lagi.
"Kamu memang ular Syntia, kamu sengaja datang pada ku, saat aku merasa kecewa pada Tiara, aku ngak tahu, kenapa aku bisa terjerumus bersama kamu," ucap Riki.
__ADS_1
"Ya aku tahu lah, aku bahkan tahu cerita ranjang kamu sama Tiara," ucap nya.
"Aku dan Tiara mengganggap kamu sahabat, dan dengan lapang dada kami membawa kamu kerumah kami yang tenang dan damai, sekarang kamu yang menjadi pengacau hubungan aku dengan Tiara, dan lebih memalukan lagi, kamu gunakan cara licik, atau jangan-jangan kamu yang menjebak Tiara dan Arie."
Mendengar kata-kata Riki, Syntia berpaling dan langsung pergi, ketika dia keluar dia menabrak Alena.
"Hati-hati dong," bentak Alena pada Syntia.
Riki yang melihat Alena datang, langsung menepak jidad nya.
"Aduh satu lagi datang, kayak nya waktu aku sepagi ini habis untuk meladeni perempuan-perempuan menyebal kan seperti mereka." Riki mengerutu.
"Sayang itu pacar baru kamu ya?" tanya Alena meledek, tapi Riki diam saja tak menggubris, iya kembali dengan laptop nya.
"Heran ya, akhir-akhir ini selera kamu terjun bebas," ucap nya meledek Syntia.
"Bisa ngak sih kamu ngak muncul di hidup aku, selama nya," ucap Riki kesal.
"Bisa banget, asal kamu puasin aku dulu," bisik Alena menggoda.
"Akan ku sewa 10 gigolo untuk puasin kamu," ujar Riki kesal.
"Mau sepuluh atau seratus, aku ngak akan puas, jika bukan kamu sendiri yang melakukan nya," jawab Alena.
Riki menarik nafas panjang iya tak menyangka jika akan seperti ini akhir nya, harus iya tak pernah lari dari Tiara harus nya iya menjadi laki-laki yang setia pada istri nya.
Mereka berdua merupakan cinta sesaat nya, namun mereka bisa mengacau kan hidup Riki selama nya.
**
Hari sudah sore Riki menutup laptop nya. Iya pun melemaskan otot-otot nya yang tegang.
"Sore gini rasanya ingin kangen-kagenan sama istri, apa lagi otot pada tegang dari atas sampai bawah, karna meladeni empat orang wanita sekaligus, di rumah Mama dan Tiara, di kantor Syntia dan Alena, tapi berhubung Tiara lagi ngambek, jadi males pulang," ujar nya pada diri nya sendiri.
"Servis belum tentu dapat, di omeli Mama udah pasti, lagian Mama bukan nya meredakan masalah aku sama Tiara, tapi dia malah mengompori, aku di buat kayak anak tiri aja kalau ada Tiara di rumah," gerutu Riki pada dirinya sendiri.
Kemudian Riki teringat kembali tentang kata-kata Syntia. Bagaimana jika Syntia benar-benar hamil dan memberitahu nya pada Tiara, keadaan pasti semakin kacau,
Tiara pasti marah, Aku sendiri ngak bisa membayang kan apa yang akan terjadi selanjut nya.
__ADS_1
Aku harus bagaimana, fikir Riki sebentar, dan iya pun kini tahu harus datang pada siapa, Riki pun melajukan mobil nya menuju ke suatu tempat.