Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Kecemburuan Syntia


__ADS_3

Hari semakin larut Arie memutus kan untuk segera pulang, iya pun berpamitan.


"Mas, aku permisi dulu" ucap Arie.


"Iya Rie, terima kasih karna kau telah menjaga Tiara."


"Sama-sama Mas," ucap Arie.


Arie keluar dari rumah mereka, tapi kemudian iya melihat ada seseorang yang sepertinya mengintai, tak mau berprasangka buruk, iya pun langsung pulang.


Ternyata Arie di ikuti oleh seseoramg dan membuntuti hingga di rumah. Arie keluar dari mobil Syntia dan mencoba mengejar, tapi orang tersebut langsung lari.


Ada apa sebenar nya ini, pikir Arie.


Kenapa akhir-akhir ini begitu banyak masalah terjadi, jika memang orang tersebut ingin mengganggu Tiara, lalu kenapa ada seseorang yang mengintai dan membuntuti nya, ada hubungan apa sebenar nya antara dirinya dan Tiara. iya pun semakin mengkhawatir kan keadaan Tiara.


Riki duduk termangu di atas kursi, iya kembali memikir kan kata-kata Arie.


Iya mulai mencurigai Alena tapi iya tak punya bukti untuk melapor kan nya kepolisi.


Melihat Riki yang duduk termenung sendiri, Syntia pun menghampiri, iya membawakan secangkir kopi untuk nya.


"Mas, minum dulu." Syntia menawar kan secangkir kopi.


"Terima kasih Syn," ucap nya.


Syntia merasa senang karna baru kali ini iya bisa berduaan dengan Riki.


"Mas, kenapa sih seperti nya kamu gelisah sekali?"


"Aku mencemas kan Tiara Syn, karna kesalahan ku, kini Tiara berada dalam bahaya," tutur nya lanjut.


"Apa kamu mencurigai seseorang Mas?"


"Aku tahu siapa orang nya, tapi aku belum yakin dan belum bisa mengambil tindakan apa-apa."


"Mas, jika boleh tahu, apa yang sebenar nya terjadi ?"


"Sejak menikah dengan Tiara aku menjalin hubungam dengan seseorang yang bernama Alena, awal nya aku hanya iseng dengan nya, aku menjalin cinta dengan nya dengan maksud menghindari hubungan dengan Tiara."


"Aku tak menyangka, ternyata Alena mempunyai sifat kompulsif dan obsesi yang berlebihan, sulit sekali memutus kan hubungan dengan nya."


"Iya terus mengganggu ku, dan tak ingin melepas kan ku begitu saja, bagi ku Alena hanya pelarian saja waktu itu, tapi kini aku seolah tak bisa lari dari nya."


"Kemarin iya mengancam ku akan menyakiti Tiara, kata nya jika iya tak bisa memiliki ku, maka Tiara juga tak akan memiliki ku, aku takut iya berbuat nekat dan membahayakan Tiara."


"Ini semua salah ku Syn, Aku lah yang telah membahayakan istri ku sendiri," tutur Riki menyesal.

__ADS_1


Tiara keluar dari kamar iya menghampiri Riki.


"Sayang kamu sudah bangun?" tanya Riki.


"Aku bahkan telah mendengar cerita mu tadi Mas," ucap Tiara.


Riki terkejut iya tak ingin Tiara menjadi cemas.


Riki memeluk Tiara," Maaf sayang, aku telah melibat kan mu dalam masalah ini, dan kini kau berada dalam ancaman Alena," tutur Riki.


"Tak kan terjadi apa pun pada ku Mas, selama ada kamu di samping ku, ucap Tiara.


"Tapi aku tak kan selalu ada di samping mu, sayang."


"Mas, setiap hubungan pasti ada ujian untuk menguji nya, dan dengan ada nya ujian seperti ini, aku merasa semakin mencintai mu, aku semakin takut kehilangan mu, Mas."


"Aku juga takut kehilangan mu Tiara," jawab Riki.


"Sebesar apa pun badai yang menerpa rumah tangga kita, asal kita bersama, kita pasti bisa melalui nya," tutur Tiara masih dalam pelukan Riki.


"Kamu benar sayang, semakin tinggi pohon, maka semakin kencang angin yang menerpa nya."


"Riki meraih tangan Tiara dan mencium nya," dan Tiara pun membalas nya.


"Hello ada orang di sini!" seru Syntia menyindir mereka.


"Eh lupa Syn, ada kamu," ucap Tiara sengaja meledek Syntia.


"Terusin aja, aku juga mau tidur kok," tambah Syntia lagi. Iya pun masuk ke kamar nya.


Riki kembali mencium Tiara, Iya pun menganggkat tubuh Tiara dan membawa nya ke kamar.


**


Syntia bangun pagi hari, iya mencoba membuat secangkir kopi untuk Riki, Riki pun keluar dengan menggunakan pakaian yang telah rapi.


"Tiara mana Mas?" tanya Syntia.


"Masih tidur," jawab nya.


"Mas, aku buatin kamu kopi untuk kamu. Syntia menyodorkan secangkir kopi."


"Terima kasih ya," ucap nya sambil menyerup kopi tersebut.


"Syn, nanti kalau Tiara bangun kamu suruh dia sarapan ya,biar ngak masuk angin, nanti aku pesan bubur ayam untuk kalian."


"Iya Mas, "Jawab Syntia.

__ADS_1


"Aku pergi dulu, aku titip Tiara ya."


Syntia hanya menjawab dengan senyuman.


Syntia semakin mengagumi sikaf Riki yang terlihat acu, tapi iya begitu peduli terhadap Tiara, dan itu semakin melambungkan sebuah khayalan dan keinginan nya untuk memiliki Riki.


Iya berharap bisa mengganti kan posisi Tiara dengan nya, suatu saat nanti.


Tiara bangun dan langsung menghampiri Syntia.


"Mas Riki udah berangkat ya Syn? " tanya nya.


"Iya, Tiara, kok tumben kamu bangun siang sih?" tanya Syntia.


"Tadi subuh sudah bangun Syn, aku mandi, sholat subuh, dan tidur lagi, ngak tahu akhir-akhir ini kayak nya aku mudah ngantuk ngak tahu kenapa, kurang darah kayak nya. "


"Kamu ke sini sama siapa Syn ?"


"Diantar Arie."


"Tiara, aku kasihan banget lihat Arie," ujar Syntia.


"Kasihan kenapa? Ya kalau kamu kasihan kamu kawin aja Syn, sama Arie."


"Aku ngak cinta sama Arie," jawab Syntia.


"Cinta itu bisa hadir setelah menikah Syn, dulu aku sama Mas Riki ngak cinta, tapi seiring berjalannya waktu, kami bisa saling mencintai kok, malahan aku mencintai nya lebih dari siapa pun di dunia ini," tutur Tiara.


"Tapi, Arie hanya mencintai kamu Tiara, dan seperti nya hanya kamu yang bisa membuat nya bahagia."


"Trus aku harus bagaimana Syn ? apa aku harus meninggal kan suami ku ?"


Syntia hanya diam, Iya tak tahu harus berkata apa untuk membujuk Tiara.Rasa nya terlalu egois, jika meminta Tiara meninggal kan suami nya, hanya untuk membahagia kan Arie.


"Bubur siapa nih Syn?" tanya Tiara lagi.


"Mas Riki, memesan nya untuk mu, dia meminta ku untuk menyuruh mu sarapan, biar ngak masuk angin," papar Syntia ketus.


"Ah suami ku sayang, aku telpon dia dulu ah."


Tiara pun menghabis kan sarapan nya sambil melakukan panggilan terhadap suami nya.


"Halo sayang," sapa Tiara di telpon nya, dan Tiara langsung beranjak dari meja makan menuju kamar nya.


Syntia semakin tidak nyaman, iya merasa seolah-olah Tiara sengaja pamer kemestraan di depan nya.


Syntia ingin pergi dari sana, tapi iya juga tak ingin jauh dari Riki, perlahan tapi pasti, Syntia kini mengakui rasa ketertarikan nya pada Riki, bahkan kini iya merasa cemburu saat mereka bermestraan di hadapan nya.

__ADS_1


__ADS_2