
Sebagai Ibu dari ketiga anak, Tiara sudah sibuk sejak pagi, meski mempunyai beberapa assisten rumah tangga, Tiara tak ingin orang lain yang mengurus ketiga anak dan suami nya.
Sakina dan Arjuna sudah siap kesekolah, Mereka menghabis kan sarapan nya.
Sementara Tiara, berada di kamar sedang merapi kan baju Arie.
"Anak-anak sudah berangkat Bun?" tanya Arie.
"Belum Yah," jawab Tiara.
"Oyah Bun, hari ini Ayah akan pulang terlambat karna Ayah harus terjun langsung ke lokasi proyek."
"Kayak nya akhir-akhir ini ,Ayah sering pulang terlambat deh, jangan-jangan Ayah punya simpanan lagi," ucap dengan nada cemburu.
"Astafirullahal Azim Bun, ngak boleh, nuduh suami tanpa bukti bun," nasehat nya.
"Bukan gitu Yah, sekertaris Ayah kan cantik-cantik dan muda-muda, Ya wajarlah Bunda cemburu," tutur Tiara.
Arie hanya tersenyum, seraya menyanyi menyindir Tiara
"Belah dada ini, lihat lah diriku , agar aku bisa, yakin kan mu...
Hidup dan matiku, hanya untuk cinta ku, hati tak kan bisa dusta,
Aku sayang sampai mati, segenap raga ini, rasa ku membahana getarkan jiwa," nyanyian Arie( lirik by Republik)
"Eh.... malah nyanyi, Yah" ujar Tiara.
"Habis ayah ngak tahu lagi Bun, cara menggunkapkan nya, Ayah yang ngak mampu untuk mengungkapkan nya, atau kamu nya ngak ngerti-ngeri Bun," papar Arie pula.
"Bukan ngak ngerti, hanya belum yakin," tambah Tiara.
"15 tahun berumah tangga, kamu masih belum yakin Bun? apa harus nunggu seribu tahun lagi Bun," ujar Arie sambil menggelengkan kepala.
"Sekarang udah yakin Yah," ujarnya sambil memeluk Arie.
"Sekarang kita keluar Yah, anak-anak pasti sudah nungguin kita."
Mereka pun keluar, dan duduk di meja makan bersama kedua anak nya.
Arie duduk di salah satu kursi di meja makan, Sakina langsung menghampiri, dan duduk berpangku pada Ayah nya.
"Pasti ada mau nya nih," ujar Arie sambil mencium pipi Sakina.
"Yah, Sakina mau Ayah beliin Hp keluaran terbaru Yah, seperti Kak Juna," pinta Sakina dengan manja sambil menggulung-gulung dasi Arie.
"Untuk apa sih, Handpone Sakina kan masih bagus," Arie.
"Yah Ayah, masa cuma Kak juna yang dapet Handphone keluaran terbaru, Sakina enggak?"ujarnya cemberut.
"Kak Juna itu, dapat peringkat pertama di sekolah nya, jadi wajar dong, Ayah beri hadiah," papar Arie.
__ADS_1
Sakina yang semakin ngambek itu pun turun dari pangkuan Ayah nya, dan pindah di sebelah Arjuna.
Sakina masih saja ngambek, tapi Arie tak peduli.
Arjuna yang melihat wajah cemberut Sakina, iya pun mengambil handphone milik nya dan menyodorkan nya pada Sakina.
"Ini dek, buat kamu aja Handpone nya," Arjuna.
"Arjuna, Ayah tahu kamu sayang sama adek kamu, tapi sayang bukan berarti menuruti semua kemauanya nya, nanti iya semakin manja."
"Sakina harus belajar mandiri, ngak selalu dimanja, karna ngak selama nya iya berada bersama kita, suatu saat Sakina akan pergi dan mengikuti suami nya, iya juga akan jadi seorang ibu, jika iya sudah menikah kelak," ujar Arie pada mereka.
"Ngak mau Yah, kalau Sakina nikah, ngak mau sama yang lain, Mau sama Ayah, kak juna atau Mas Aziz", tutur nya polos.
Mereka kaget dengan penuturan Sakina, "Apa Sakina belum mengerti tentang pernikahan," batin Arie.
Setelah selesai sarapan Sakina dan Arjuna pergi kesekolah.
"Bun, kamu dengar sendirikan penuturan Sakina barusan?" tanya Arie.
"Apa Sakina memang belum mengerti Bun, tentang pernikahan, siapa-siapa saja yang ngak boleh di nikahi, masa' iya mau nikah sama Ayah dan kakak nya, itu kan aneh."
"Ngak tahu Yah, Sakina kan memang polos, iya mengenal laki-laki hanya dari rumah ini, Ayah, Arjuna dan Aziz," tutur Tiara.
"Tapi bisa jadi bahaya Bun, jika seperti itu, Bukan tak mungkin Sakina akan terbiasa dengan hal itu, dan bisa jadi iya jatuh cinta pada kakak nya sendiri,"
"Hah, apa ada seperti itu Yah, Sakina seperti itu, mungkin karna iya memang polos Yah, dan Sakina, sampai saat ini belum menstruasi Yah, jadi wajar dong sifat nya masih kekanak kanakan."
"Hah, Apa ada seperti itu Yah?" tanya Tiara tak percaya.
"Bun, untuk apa Ayah bohong, bahkan kasus nya banyak, kamu lihat sendiri di internet."
"Iya Yah, nanti Bunda jelas kan pada mereka,"
"Iya bun sebaiknya begitu, sebelum terlambat, dan Sakina ngak boleh tidur sekamar dengan kakak-kakak nya lagi."
"Tapi Sakina ngak mau tidur sendiri, dia kan penakut, "ujar Tiara.
"Harus bisa, biar Ayah yang bicara sama Sakina."
***
Bel sudah berbunyi, dan hari ini adalah hari pertama setelah liburan kenaikan kelas.
Arjuna dan Sakina, satu gedung sekolahan hanya tinggkatan mereka berbeda.
Sakina duduk di bangku kelas 3 Smp sedangkan Arjuna kelas 2 Sma.
Arjuna masuk kedalam kelas nya, dan begitipun teman-teman yang lain, semua berbondong-bondong masuk ke kelas, karna pelajaran sebentar lagi di mulai.
Wali kelas masuk kedalam kelas, maklum setelah kenaikan kelas, masa pengelanan kembali di mulai lagi, karna kini mereka naik kejenjang yang lebih tinggi, dan stuktur organisasi sekolah juga akan berubah.
__ADS_1
"Selamat pagi, anak-anaku ku semua," sapa ramah seorang guru.
"Selamat pagi Bu," serempak mereka menyahut.
"Sebelum masuk pelajaran, hari ini kita perkenalan dulu, dan kebetulah hari ini kalian punya teman baru," ujar sang guru.
Masuk lah seorang murid laki-laki berkaca mata, cowok tersebut terlihat sangat cupu, meski, sepertinya iya berasal dari keluarga kaya, karna dari barang yang iya kenakan semua bermerek, mereka pun mentertawakan murid yang baru pindah itu,
"Haa ha Udah culun, belagu lagi," ujar Andy mengejek anak baru tersebut.
"Andy jaga mulut kamu, sekarang iya akan menjadi teman kalian, harus nya kalian membantu nya, karna iya baru pindah ke sini," guru.
"Sekarang kamu perkenal kan diri kamu," ujar ibu guru, kepada murid baru.
"Perkenalkan nama saya Raka Radja Prawira," sebut Raka.
Arjuna tersentak kaget mendengar nama murid baru tersebut, sama dengan nama nya, tak hanya Arjuna teman-teman nya pun kaget.
"Hey Arjuna, ternyata dia adik mu Ya?" tanya si Andy yang bermaksud meledek Arjuna.
"Ngak aku ngak kenal siapa dia," jawab Arjuna kesal.
"Kamu malu ya Arjuna, mengakui itu adik kamu,nama kalian saja sama,: tambah Andy.
"Sudah Andy, mungkin saja hanya kebetulan nama mereka sama," bentak ibu guru kepada Andy, dan suasana ribut dengan sorak-sorakan sejenak hening kembali.
"Raka kamu duduk di samping Arjuna, karna cuma di sana tempat yang kosong." guru
Raka pun duduk di samping Arjuna.
Sebenarnya ada kegelisahan di hati Arjuna, iya inggin tahu dari mana Raka mendapatkan nama itu, sedangkan kata Bunda nya, Radja prawira adalah nama kakek Arjuna, jika begitu, apa Raka adalah sepupunya, tapi bukan kah Ayah nya anak tunggal, batin Arjuna berkecambuk ingin mendapat penjelasan sang bunda.
Pulang sekolah, Arjuna, langsung menemui Bundanya..
"Bun, Kenapa ya Bun, nama Arjuna beda banget sama Sakina dan Mas Aziz," pancing Arjuna .
"Emang kenapa sayang?" tanya Tiara tak mengerti.
"Bun nama Mas Aziz itu, Aziz Arie putra, Dan Sakina, Sakina Ariea putri, dan kedua-duanya pakai nama Ayah, tapi kenapa Arjuna beda sendiri bu,"
"Arjuna Radja Prawira, ngak ada nama Ayah sama sekali di sana, apa Arjuna ini anak angkat Bun?"tanya Arjuna sedih.
"Arjuna itu anak Ayah sama Bunda lah, dan Radja Prawira itu nama kakek kamu," dengan sabar Tiara menjelaskan.
Tapi Arjuna semakin curiga,
"Bun tadi di kelas, ada murid baru namanya, Raka Radja Prawira, mirip sekali kan Bun dengan nama Arjuna ."
Tiara kaget dengan nama itu," Raka? apa Mas Riki sudah kembali, dan iya akan merebut Arjuna dari ku," batin Tiara.
Arjuna yang binggung pun meninggalkan Bunda nya, yang terlihat melamun, iya akan mencari tahu, siapa sebenarnya Raka, dan apa hubungan nya dengan diri nya.
__ADS_1