Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Masih ada rasa


__ADS_3

Arie sudah siap dengan berpakaian rapi, dengan kemeja dan berdasi, hari ini iya sudah janji pada Riki untuk bertemu dengan nya di kantor.


Tanpa harus interview dan tanpa menyerahkan CV nya, Arie langsung di terima kerja langsung jadi Asisten Direktur.


Tiara yang baru keluar dari kamar mandi terkesima melihat penampilan Arie.


"Yah, mau kemana?" tanya Tiara.


"Sudah di terima kerja ya Yah, kok ngak bilang Bunda sih Yah?" Tiara.


"Ayah lupa cerita sama kamu, habis nya kamu ngambek terus," jawab Arie.


"Kerja dimana Yah?"


"Sama Mas Riki, Dia sedikit memaksa ku, jadi aku ngak enak nolak nya."


Tiara menarik nafas." Senenarnya aku ngak mau lagi berhubungan dengan mereka Yah, tapi sudah terkanjur ya sudalah."


Mana bisa ngak berhubungan sama mereka, Arjuna itu anak nya, kita juga ngak mungkin misahin mereka dari Arjuna.


"Iya juga sih, Yah"


****


Di rumah Riki, Syntia sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya, tentu saja iya ingin mengambil hati sang suami," Aku yakin suatu saat nanti Mas Riki sendiri yang bertekuk lutut pada ku," batin Syntia.


Riki turun dari kamar nya, dan langsung menuju dapur, untuk sarapan dan di lihat nya sudah ada Syntia yang membuat kan nya kopi, setelah menghabis kan kopi Riki langsung berangkat kerja, sementara Syntia berharap ada kecupan hangat dari sang suami, iya pun mendekati Riki, tapi bukan nya kecupan hangat yang di dapat nya malah kabar buruk.


"Riki," Panggil Mama.


Riki yang ingin beranjak dan ingin pergi tertahan oleh Mama.


"Riki nanti sore, serly dan ibunya akan datang kemari dan Mama ada bisnis sama Ibu nya, sedangkan kamu, kamu bawa si serly kencan, ya," bujuk Mama.


"Kencan Ma, Riki saja belum kenal," tukas nya


"Sudalah Riki, Mama yakin pilihan Mama pasti yang terbaik, jika perlu secepat nya kalian nikah, biar Mama dapat cucu lagi," ujar Mama.


Riki hanya menggeleng kan kepala melihat obsesi mama nya.Iya pun langsung pergi.


Sesampai nya di kantor ternyata Arie sudah sampai duluan.


"Hai Mas," sapa Arie.


"Kayak nya aku yang akan memberi mu SP nih," canda Arie.


Riki hanya tertawa kecil,


"Ayo Rie, langsung keruangan ku saja," ajak Riki.


Setelah mereka sampai Riki mempersilah kan Arie duduk, iya pun membuka laptop nya dan memasukan password nya yang ternyata nama Tiara, wallpaper nya iuga foto Tiara dan Arjuna .

__ADS_1


"Aduh aku harus ganti, password dan wallpaper nya nih, ngak enak di lihat Arie," batin Riki.


Nih Rie, kamu pelajari dulu proyek yang ini Rie, punya ibu Margaret, iya mau membangun villa nya di puncak, untuk sementara kamu tanggani proyek yang kecil dulu ya, Rie.


"Iya Mas,"


Sore hari nya Riki kembali di telpon mama.


"Riki jangan lupa hari ini kamu ada kencam dengan serly, jadi kamu pulang sekarang," suara Mama di telpon.


"Rie, aku harus pulang, kamu pelajari dulu ya, al aku ada kencan malam ini," ujar Riki santai.


"Kencan?" bukan nya kamu sudah punya istri Mas, tanya Arie spontan.


"Iya Rie, tapi kayak nya sayang, kalau laki-laki sekeren aku cuma punya satu istri," canda Riki, iya pun menepuk bahu Arie.


"Oya, Rie, jika sudah selesai ruangan ini kamu kunci,


"Iya Mas" jawab Arie.


Tak lama setelah kepergian Riki, Alena pun datang.


Alena menatap aneh kearah Arie, "Seperti nya cowok ini ngak asing," batin nya.


Arie yang melihat kedatangan Alena langsung menanyakan maksud nya, tapi belum Arie bicara, Alena dulu yang menanyakan tentang diri nya.


"Mana Riki?" tanya Alena tak bersahabat.


Dan Alena tak menjawab, iya pun langsung pergi, tapi ketika hendak pergi, iya kembali melihat wajah Arie dan mengingat nya," Aku ingat sekarang, siapa pria itu,?" Alena pun tersenyum licik seperti merencana kan sesuatu.


***


Tiara berniat untuk pergi belanja, untuk membeli susu Aziz dan keperluan nya, karna tak ada orang di rumah nya, iya pun mengajak Arjuna dan Aziz ikut serta belanja.


Sesampai nya di supermarket, iya malah kerepotan karna Arjuna tak mau lepas dari gendongan nya.


Baru menggambil beberapa barang saja Arjuna sudah menangis, sementara iya harus tetap memimpin tangan Aziz.


Saat sedang repot-repot nya, Tiara di sapa seorang pria tampan yang kini masih bertahta di hati nya.


"Tiara,"Sapa Riki.


Tiara kaget, kenapa harus bertemu dengan Riki di sini, begitu pun Riki, iya sudah mencoba menghindari bertemu Tiara, tapi malah bertemu di sini, awal nya Riki ingin menghindar, tapi di lihat nya Tiara begitu kerepon membawa anak-anak nya.


"Mas Riki," sebut Tiara pelan.


Riki langsung meraih Arjuna dari gendongan nya," Kau berbelanja saja, biar aku yang menggendong Arjuna."


"Terima kasih Mas, maaf harus merepot kan mu," ucap Tiara.


Riki hanya tersenyum.

__ADS_1


Mereka terlihat sangat canggung, karna mereka memang masih saling mencintai, walau Tiara sudah menutupi perasaan nya dengan berbagai cara, dan menerima Arie sebagai suami nya dan meski Arie bersikaf sangat baik pada nya, ternyata cinta nya pada Riki tak luntur begitu saja.


Riki mendapat telpon dari Mama.


"Hallo Riki, kamu dimana, tante Indri dan anak nya sudah menunggu kamu di rumah," Mama langsung marah, tanpa basa-basi lagi.


Riki hanya diam, dan menutup telpon nya.Iya tahu kalau iya sudah ada janji dengan Mama, tapi entah mengapa iya masih ingin menghabis kan waktu nya bersama Tiara.


Selesai berbelanja, Riki mengajak Tiara nongkrong di cafe di samping supermarket tersebut.


"Tiara, kita munum sebentar yuk," ajak Riki.


"Ngak bisa Mas, aku harus pulang," tolak Tiara.


"Ayolah Tiara sebentar saja," Riki sambil menarik tanggan Tiara.


Tiara pun mengikuti dan mereka duduk di cafe, Riki menggendong Arjuna, dan Tiara memangku Aziz.


Terlihat Riki menumpah kan kerinduan nya pada Arjuna iya pun mencium dan memeluk Arjuna samapai puas.


"Bagaimana kabar Raka, Mas" tanya Tiara memulai pembicaraan.


"Baik, meski beberapa bulan sekali harus transpusi darah, Raka sangat sensitive, iya mudah sekali terserang demam, dengan tiba-tiba, aku sangat mengkhawatir kan keadaanya Tiara, jika aku dan Syntia bertengkar, Raka pasti demam, itulah yang membuat aku binggung, sebenarnya aku ingin berpisah dengan Syntia, tapi setiap aku ingin meninggalkan Syntia atau bertengkar hebat dengan nya, Raka pasti down, aku heran anak sekecil itu, apa tahu perasaan orang tuanya," tutur Riki.


"Mungkin Raka tak ingin kau jauh dari nya, atau mungkin juga Raka tak ingin kau menyakiti Syntia,Mas."


"Karna sebenarnya, seorang anak punya ikatan batin pada kedua orang tuanya,"


"Arjuna juga begitu, jika aku bersedih atau uring-uringan Arjuna juga jadi rewel,"


"Mas kenapa kau tak belajar mencintai Syntia?"


"Apa harus belajar Tiara, jika tak ada cinta yang tersisa lagi di hati ku, semua tlah ku curah kan pada mu," tutur Riki.


Tiara hanya diam, hal yang sama pun terjadi pada nya, meski tlah belajar mencintai Arie, nyata nya, perasaan nya pada Riki tak luntur sedikit pun.


"Biarlah waktu yang menjawab, bukan kan segala sesuatu butuh proses, dan seiring berjalan nya waktu, iya yakin, iya bisa mencintai dan menerima Arie, seperti iya mencintai dan menerima Riki dulu," batin Tiara.


Riki kembali mendapat telpon dari Mama nya, dan mama sudah marah besar pada nya.


"Tiara kita pulang sekarang ya, Mama sudah menunggu ku di rumah," ujar Riki.


"Iya Mas, aku juga harus pulang, Arie pasti khawatir karna aku membawa mereka."


Riki mengantar Tiara dan Arjuna sampai di mobil, setelah mengenakan seat belt pada Aziz, Riki pun mengenakan gendongan Arjuna pada Tiara.


Dan saat Riki mencium Arjuna yang terakhir kali nya, Arjuna malah menghindar hingga ciuman mendarat di pipi Tiara.


Mereka sama-sama merasa canggung,


"Maaf Tiara," ucap Riki.

__ADS_1


"Tak apa Mas, lagi pula tak sengajakan," Tiara pun berlalu dari nya.


__ADS_2