
Arie masih menunggu kabar tentang Tiara, jantung nya berdetak dengan gelisah, seiring kegundahan yang melanda hati nya.
detik-detik berlalu, namun semua terasa berat bagi kedua nya, Arie tak bisa tenang, iya mondar-mandir terus di depan kamar operasi.
Setelah menanti selama beberapa waktu, terdengar suara tangisan bayi.
Bayi tersebut menangis secara lantang, seolah memanggil Bundanya yang kini kembali koma, karna terlalu banyak kehilangan darah, selain itu, tulang belakangnya mengalami cedera, karna saat terpeleset, iya berusaha menahan tubuhnya dengan pososi duduk, dan harus menjalani operasi kembali setelah dua minggu.
Tiara seolah tak lepas dari penderitaan dan kesakitan, tubuhnya yang kini lemah, kembali harus berada di ruangan ICU.
Dua orang suster membawa Tiara, yang sedang berbaring menuju ruang ICU.
Tempat tersebut sepertinya menjadi langganan bagi Tiara.
Saat akan keluar dari ruangan operasi, mereka sudah di hadang Arie.
"Bagaimana keadaan istri saya suster?" tanya Arie.
"Istri bapak mengalami, pendarahan dan mengalami cedera pada tulang belakang nya, "
Arie shoc mendengarnya, iya tak mampu bergerak lagi, Arie terpaku kemudian tumbang disamping Riki.
"Rie, sabar Rie," ucap Riki yang menopang tubuh Arie, Arie masih sadar, namun iya kehilangan keseimbangan nya.
Arie duduk di atas kursi tunggu yang berada di depan ruangan operasi, kakinya tak mampu untuk melangkah lagi.
"Harus berapa lama lagi iya menderita, mengapa bukan aku saja," ucap Arie putus asa.
"Sabar Rie, kau harus tenang, kita berdoa saja semoga cobaan ini segera berlalu," ucap Riki menenangkan Arie," sementara iya sendiri juga tak bisa tenang.
Arie pun bangkit dengan sempoyongan, iya pun masuk kedalam ruang ICU.
Disana Tiara masih dalam keadaan yang tak sadar, selang oksigen menempel erat di hidung nya, dan denyut jantung nya melemah, Arie semakin panik, iya pun memanggil suster dengan sedikit menagis.
"Suster istri saya suster," ucap Arie ketika EKG menunjukan garis lurus, bertanda jantung Tiara berhenti berdetak.
"Tiara!!!!!!" seru Arie, tangis nya memecah kesunyian di ruang ICU, sontak penjaga dan perawat berdatangan menghampirinya.
"Tiara jangan pergi Tiara," tangis Arie pilu.
"Jangan tinggalkan aku Tiara, aku tak sanggup hidup tanpa mu," ujar nya semakin menjadi.
__ADS_1
Arie menangis sejadi-jadi nya, iya tak bisa mengendalikan emosinya, iya terus saja berteriak memanggil Tiara.
Para perawat kemudian menggunakan alat kejut jantung untuk Tiara, wajah Tiara tak lagi menunjukan kecantikan nya, wajah tersebut pucat dan layu.
Tim medis berusaha dengan segala daya nya, dari menggunakan alat kejut jantung, hingga memberi transfusi darah kembali, sementara Arie, sudah tak bisa berkata apa-apa lagi, iya hanya terpaku, jiwa seperti melayang entah kemana.
Cinta adalah persahabatan, seperti Arie dan Tiara.
Cinta adalah obsesi dan ambisi, seperti yang terjadi pada Syntia dan Alena.
Cinta adalah ketulusan dan ke iklasan....
Cinta sejati hanya datang sekali, Seperti cinta Riki pada Tiara, atau seperti Arie yang juga mencintai Tiara, dengan sepenuh hati mereka.
Tiara hanya diam, iya belum menentukan pilihan, siapa cinta sejatinya, yang akan iya bawa hingga di kehidupan yang abadi.
Tiara kini berdiri di antara dua dunia, dan dua cinta, yang masih mengharap kehadiran nya.
***Tiara mencoba melangkah kedunia yang baru, yang terlihat damai, tak ada rasa sakit di sana, Tak ada lagi pengkhianatan dan dendam, dan yang terpenting, tak ada lagi pilihan.Karna pilihan adalah sesuatu yang berat baginya, dimana iya harus memilih dan melukai seseorang diantara mereka.
Waktu ku untuk pergi.....
Terima kasih Mas Riki, bersama mu ,kutemukan arti cinta yang kucari, meski di ujung jalan, aku harus memilih di salah satu persimpangan.
Waktu ku untuk pergi......
Saat ini aku ingin pergi dan membawa cinta, salah satu di antara mereka, tapi aku belum menentukan pilihan.
Kisah ku belum usai, cerita cinta ku belum selesai, dan aku masih harus memilih***.....
Segala daya di usahakan paramedis untuk memgembalikan Tiara, namun sia-sia Tiara sudah tiada.
Arie dan Riki bersimpuh, kedua lelaki kuat itu, kini tak mampu lagi menahan beban tubuh nya, mereka berlutut sambil menangis putus asa.
Mereka melepas seluruh alat dan selang pada tubuh Tiara, kini tinggalah raga yang tanpa nyawa, berbaring antara dua pria yang menggenggam erat kedua tangan nya.
Riki dan Arie masing-masing berada pada sisi yang berbeda, tapi mereka melakukan hal yang hampir serupa.
Kedua nya menangis, dan mencium tangan Tiara, sangat berat melepaskan kepergian dari orang yang kita cintai untuk selama nya.
Putus asa menghampiri mereka, meski berat, mereka harus pasrah dan iklas, karna tak kan ada yang mampu melawan kehendak sang pencipta.
__ADS_1
Untuk kedua kali nya, Arie kehilangan istrinya, dan sesuatu yang paling di takut kan terjadi kembali.
***Tinggal selangkah lagi, iya masuk kedunia yang baru, Tiara pun memejamkan matanya, kini iya pergi seorang diri, tanpa Arie tanpa Riki.
Saat hendak melangkah, Tiara merasa ada dua tangan yang menarik tubuh nya***.
Saat membuka mata , iya melihat kedua nya menangis di sisinya.
"Tiara," sambut keduanya bahagia, saat melihat Tiara yang tiba-tiba membuka matanya.
Arie langsung memeluk dan mencium Tiara, iya begitu bahagia, dapat kembali bersama Tiara.
Riki juga bahagia, tapi iya bukan lah siapa-siapa, setelah yakin Tiara baik-baik saja, iya pun keluar.
Riki masuk kedalam ruang perawatan bayi baru lahir, iya ingin melihat putri yang di lahir kan Tiara.
Karna begitu banyak bayi, iya bertanya pada salah satu suster penjaga.
"Suster, dimana bayi nyonya Mutiara?" tanya Riki pada seorang suster.
"Apa Bapak, Ayah nya?" tanya suster balik.
"Iya" jawab nya asal.
Suster pun menunjukan dimana bayi Tiara, dan menyerah kan bayi tersebut pada Riki.
Riki begitu senang saat menggendong bayi Tiara, iya pun mencium nya berkali-kali.
Riki ingat, bayi yang baru lahir harus di azankan atau iqomah untuk bayi perempuan.
Riki membisikan iqomah di dekat telinga bayi Tiara, dengan pelan dan syahdu iya pun melantunkan nya, tak terasa menetes air matanya.
Iya dan Tiara pernah mendambakan seorang putri dalam rumah tangga mereka, dan memberinya nama Sakina.
"Sakina, itu adalah nama mu," ujar nya di hadapan bayi tersebut, dan seolah senang dengan pemberian nama itu, bayi itu pun tersenyum kearah Riki, Riki begitu senang dengan sapaan ramah sang bayi.
Riki tertawa dan tersenyum sendiri, iya merasa senang, sudah lama iya dan keluarga nya mengingikan anak perempuan, bahkan Riki sejak dulu, selalu meminta adik perempuan kepada kedua orang tuanya.
Sementara Arie, iya masih mendekap Tiara yang kini berbaring lemah, Tiara pun telah di pasang infus kembali.
"Jangan pergi Tiara, tetap lah disisi ku hingga akhir waktu, kita kan melangkah bersama," tutur Arie haru, di tepi telinga Tiara.
__ADS_1