
Dengan semangat Tiara memberes kan barang-barang yang akan di bawa nya.
"Semua sudah beres, Yang?" tanya Riki.
"Sudah Mas, " jawab nya sambil membawa dua buah koper.
"Banyak banget yang kamu bawa, barang nya sampai dua koper, "
"Kan kita lama di sana nya Mas," cetus Tiara iya langsung keluar dari kamar nya.
"Kata siapa kita lama di sana Yang, cuma tiga hari aja" ucap Riki tersenyum kearah Tiara.
"Apa Mas, cuma tiga hari, bukan nya kamu bilang terserah aku mau berapa lama." Tiara menggerutu.
"Aku bilang kan bulan madu nya terserah kamu mau berapa lama, tapi di bali nya kita cuma tiga hari, sisa nya ya kita lanjut di rumah aja," ucap Riki sambil tersenyum, karna iya berhasil menjebak Tiara dengan kata-kata nya.
Tiara cemberut, iya pun membawa koper nya kembali masuk ke kamar. Tiara mengeluar kan barang-barang nya yang ngak terlalu penting, dan memasukan beberapa potong pakaian.
Melihat istri nya yang cemberut Riki langsung menghampiri nya dan memeluk nya dari belakang, "Ngak usah cemberut gitu dong sayang," bujuk nya.
"Kamu pelit banget Mas, cuma tiga hari, bulan madu itu kan sekali seumur hidup," ucap Tiara kecewa
" maaf aku cuma punya waktu tiga hari, itu juga aku paksaain, kalau ngak harus nunggu tahun depan."
"Kan aku kerja juga untuk kamu, untuk kita," bujuk nya lagi.
"Ya udah Mas, kamu bikin aku bad mood aja." Tiara membawa koper nya keluar dari kamar kembali.
Syntia juga keluar dari kamar dan membawa tas nya.
"Syn, mau kemana?" tanya Riki yang menghampiri Syntia.
"Mau pulang, ngapain juga aku disini sendirian," jawab nya ketus.
Riki tersenyum pada Syntia," Sorry Ya Syn kali ini aku ngak bisa bawa kamu, mungkin lain kali jika kamu sudah punya pasangan kita bisa liburan bersama," ucap Riki sedikit meledek Syntia.
Syntia hanya tersenyum getir dan melihat kearah Riki, "Ngak apa Mas, aku memang terbiasa di tinggalin kok, di kasih harapan trus di gantung kan," ucap Syntia lirih, sebenar nya iya merasa sedih akan nasib nya.
__ADS_1
"Ngak usah gitu lah Syn, aku jadi ngak enak."
"Santai aja Mas,"
"Tapi terima kasih ya Syn, kamu udah bantu aku jaga Tiara, kalau kamu butuh sesuatu kamu bilang aja, aku pasti bantuin kok." Riki pun menatap mata Syntia.
Syntia tak sanggup menahan laju detak jantung nya, aliran darah semakin kuat mengalir, bagai tersengat arus listrik tegangan tinggi tubuh nya terpaku tak bisa bergerak, saat ke dua bola mata nya menatap kearah mata Riki yang jernih.
"Kau tak hanya menjadi sahabat bagi Tiara, Syn, tapi kau juga sahabat bagi ku," ucap Riki iya pun langsung memeluk erat Syntia.
Lagi -lagi iya tak sanggup menahan gelora nya, hasrat nya kini semakin menjadi, iya kini menegaskan pada diri nya sendiri, kali ini apa yang dirasakan nya adalah cinta, dan tak satu manusia di dunia ini sanggup menolak nya, tak terkecuali diri nya meski iya sadar cinta berada di tempat yang salah.
Syntia tak dapat memendung perasaan nya saat pelukan Riki mendarat hangat di tubuh nya, getaran itu terus saja bergelora hampir saja jantung nya terhenti, karna tak sanggup untuk memompa lebih cepat lagi.
Air mata Syntia pun jatuh menetes mengenang nasib nya yang malang, kenapa harus pada Riki, cinta itu tumbuh, bukan kah Riki hanya menganggap nya sahabat, dan yang terpenting Riki adalah suami dari Tiara, sahabat nya sendiri.
"Ehem... udah peluk-pelukan nya," sindir Tiara sedikit cemburu, entah kenapa iya merasa tak enak hati melihat mereka, apa kah ini isyarat hati dari seorang istri, atau ini biasa terjadi ketika seorang istri melihat suami nya memeluk wanita lain di hadapan nya.
Tiara tahu Syntia adalah sahabat nya, iya rela berbagi apa saja dengan nya, tetapi tidak untuk cinta nya, iya tak rela berbagi hati pada siapa pun.
"Syn, kamu mau kita antar atau kamu pakai mobil Tiara saja?" tanya Riki.
"Kalau gitu kamu bawa mobil Tiara aja Syn, dari pada nganggur di sini," ucap Riki lagi.
"Iya deh,"
"Hati-hati ya Syn, mobil ku masih perawan loh," canda Tiara.
"Ngak apa lah yang, yang bawa juga perawan, perawan tua," ledek Riki.
Syntia hanya diam, iya tak merespon sedikit pun candaan mereka. Syntia pun pergi menggunakan mobil Tiara.
"Syntia kenapa ya, ngak biasa nya dia diam, biasa nya kan dia yang paling banyak omong?" tanya Riki.
"Jatuh cinta kali Mas, kata nya kali ini cinta nya bertepuk sebelah tangan lagi, aku juga baru kali ini melihat Syntia ngak semangat seperti itu," papar Tiara.
Mereka masuk mobil dan langsung menuju bandara.
__ADS_1
Syntia sampai di rumah Arie dan kebetulan Arie mau pergi, tapi karna melihat kedatangan Syntia iya pun menunda nya.
Syntia tampak sedih kala itu, tak biasa nya begitu lesu, Arie pun menghampiri nya.
"Syntia!", panggil Arie.
Syntia berhenti tapi iya hanya menunduk dan tak menoleh sedikit pun kearah Arie.
"Kamu kenapa Syn?" tanya Arie.
"Ngak apa-apa," jawab nya lemas.
Syn, seumur hidup aku baru kali ini kamu seperti, ini biasa kamu paling ceria dan seolah tak pernah ada beban di hidup mu, kenapa Syn?" tanya Arie.
Syntia diam, Arie pun mengangkat dagu nya, dan terlihat titik air mata di sudut mata sipit Syntia.
Syntia langsung memeluk Arie, tapi di tepis Arie," Jangan di sini Syn, aku baru saja jadi duda, apa kata orang kalau liat kamu peluk aku di depan rumah kayak gini," bisik Arie.
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Arie mengarah kan Syntia untuk duduk.
Arie pun memeluk Syntia, "Sekarang kamu bisa cerita kan apa saja pada ku Syn, bukan kah tak pernah ada rahasia antara kita."
Syntia menetes kan air mata nya, Arie pun membelai lembut rambut Syntia.
"Aku jatuh cinta Rie," ucap Syntia lirih,
"Rasa nya baru kali ini aku merasakan hal seperti ini, aku begitu nenginginkan nya Rie," tutur Syntia terbata-bata sambil menahan rasa sakit nya.
"Jatuh cinta sama siapa Syn? biasa nya orang hatuh cinta itu bahagia bukan nya sedih," ucap Arie.
"Aku sedih Rie, karna aku ngak mungkin memiliki nya"
"Tapi kenapa Syn? Kamu jatuh cinta nya sama siapa?" tanya Arie penasaran.
Syntia diam sejenak iya masih ragu untuk mengatakan nya, tapi jika bukan pada Arie lalu dengan siapa lagi iya bisa mengutarakan nya.
Syntia menelan ludah yang masih di tengorokan nya, sambil mengatur nafas nya." Sama Mas Riki, Rie."
__ADS_1
Arie kaget dan langsung melepaskan pelukan nya.