
Evelyn pulang dalam keadaan kecewa, ia masih belum bisa menemukan surat kontrak antara Arjuna dan Dedy nya.
Sesampai nya di rumah, ia langsung di sambut oleh Raka.
"Bagaimana sayang? apa kau sudah menemukanya?" tanya Raka.
Evelyn menggeleng kan kepalanya," Belum," jawabnya dengan kecewa.
"Jika belum mendapat kan kontrak itu, Kak Juna tak bisa melakukan lamaran pada Khairunissa," papar Raka.
"Aku tahu, tapi aku sudah berusaha," ujarnya, wajah Evelyn terlihat lesu.
"Sayang kau kenapa?" tanya Raka kembali, melihat Evelyn yang terlihat lesu.
"Aku menemukan sebuah surat," ia pun menunjukan surat Alena untuk Dedynya kepada Raka.
Raka melihat surat itu, tapi tentu saja ia tak mengerti, karna surat itu berbahasa Prancis.
"Aku tak mengerti sayang," ujar raka.
"Aku curiga, aku bukanlah anak dari Dedy dan mommy ku, tapi seorang wanita bernama Alena," papar Evelyn.
Raka tersenyum," Sudah lah sayang, jika orang tua mu sekarang bukan orang tua kandung mu, mereka tetap menyanyangi mu, kan? lalu apa masalahnya?," papar Raka.
Evelyn diam sejenak, "Bagaimana pun aku harus tahu, siapa wanita yang bermama Alena, " tuturnya.
"Alena," guman Raka.
"Sepertinya aku pernah mendengar namanya, tapi di mana ya," Raka coba mengingat.
Setelah beberapa lama mengingatnya, tapi Raka tetap tak ingat," Biar nanti ku coba tanya Kak Juna, karna nama itu, terasa tak asing, bahkan sering sekali di sebut olehnya, meski aku tak tahu, apa itu orang yang sama dengan yang kau maksud." papar Raka.
Leo mencoba menghubungi Arjuna, tapi sepertinya handphone nya tertinggal di dalam mobil, bahkan kuncinya masih ada di mobil.
"Kemana Arjuna?" tanya Leo.
Setelah menyusuri tempat tersebut, ia menemukan dompet Arjuna.
Leo semakin binggung, ia berusaha mencari keberadaan Arjuna, dengan memasuki ruangan demi ruangan yang kosong di tempat karauke tersebut.
"Ini mustahil, jika Arjuna masuk, aku pasti melihatnya, Lalu kemana menghilang nya Arjuna," guman Leo.
"Bagaimana Leo, katamu Bos mu sebentar lagi tiba, setelah satu jam, belum juga datang, mentang-mentang bos, suka ngaret," gerutu Riska, sepupu Leo.
"Bukan begitu Ris, Arjuna itu orang yang on time, ia orang yang disiplin, mobilnya ada di luar, tapi orangnya tak ada, aku hanya menemukan dompetnya, bahkan kunci mobilnya pun masih melekat."
"Jangan-jangan Arjuna di culik," tebak Leo.
"Mungkin saja, orang sukses itu kan banyak musuhnya dari pada temanya," sahut Riska.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Leo.
__ADS_1
"Ya lapor polisi lah," jawab Riska.
"Lapor polisi, jika belum 2 X24 jam, kau tak bisa melapor kehilangan seseorang, terkecuali ada bukti," papar leo.
"Kita lihat saja CCTV gedung ini, mereka pasti punya, kita jadi kan bukti untuk tindakan selanjutnya," saran Riska.
"Benar ,ayo kita hubungi petugas nya, minta mereka menunjukam rekaman CCTV nya." Leo pun menghubungi petugas terkait, mereka pun melihat rekaman CCTV dari sekarang hingga satu jam yang lalu saat Leo tiba.
Dan benar, di rekaman tersebut menunjukan bahwa Arjuna di bekap dua orang, ketika ia hendak keluar dari mobil.
"Gila, Arjuna ternyata di culik," ujar Leo tak percaya.
"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Riska.
"Kenapa kita tak lapor polisi saja," tambahnya.
"Jangan, kita tak boleh gegabah, kita tak tahu, motif nya, aku hubungi Raka saja."
"Leo pun menghubungi Raka dan Rangga, memberitahu, tentang Arjuna."
"Hallo Rangga," sapa Leo.
"Ia Leo, ada apa kau telpon malam-malam begini?" tanya Rangga.
"Rangga, Arjuna diculik oleh dua orang di tempat kita biasa karauke, kau kemari, kita berkumpul di tempat ini, untuk melihat rekaman CCTV nya, Raka juga sudah meluncur di tempat ini," ucap Leo panik.
"Di culikkok bisa, baiklah aku dan Sakina akan segera di sana." Rangga menutup telponya.
"Ada apa Mas, siapa yang di culik?" tanya Sakina panik.
"Apa kakak ku di culik," Sakina langsung menangis.
"Sudahlah kita pergi sekarang, Raka dan Leo sudah di TKP, ayo," ajak Rangga, ia pun memeluk istrinya agar tetap sabar, dan sepanjang perjalanan Sakina terus saja menangis.
Sesampainya di tempat yang mereka tuju, Raka dan Evelyn pun sudah sampai, mereka langsung menuju ruangan pengawas CCTV.
Petugas memutar kembali bukti rekaman CCTV,
"Lihat lah rekaman itu, apa kalian mengenali kedua orang itu?" tanya Leo.
Satu pun dari mereka tak ada yang mengenali, atau pun pernah melihat ke dua penculik itu.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Rangga.
"Bagaimana kalau kita lapor polisi," saran Leo.
"Tapi kita tak tahu, apa yang di ingin kan penculik itu, apa mereka menginginkan tebusan, atau apa, jika kita gegabah aku takut, terjadi sesuatu yang buruk pada Kakakku," ujar Raka.
"Tapi kita juga ngak bisa menunggu Kak, kita tak tahu bagaimana nasib Kak Juna, bagaimana jika orang yang menculiknya, adalah orang yang dendam pada keluarga kita, atau saingan bisnis Kak Juna," papar Sakina menangis.
"Sakina benar, kematian orang tua kami, di duga juga karna dendam seorang wanita bernama Alena, ia Alena, aku baru ingat nama itu," Raka langsung mematap mata Evelyn.
__ADS_1
Begitu pun Evelyn, ia pun langsung menatap mata Raka, saat Raka mematap tajam matanya.
"Sayang, kau tak terlibat kan dalam kasus ini?" tanya Raka kepada Evelyn, ia menatap Evelyn penuh curiga.
"Apa maksud mu Raka? tega sekali kau menuduhku," sontak Evelyn menangis.
"Kak Raka! kenapa kau menuduh Kak Evelyn sekejam itu? dia itu istrimu." Sakina langsung membentak Raka, inilah pertama kalinya Sakina mengeluarkan nada kasarnya.
Sementara Evelyn hanya menangis, mendengar tuduhan tergadapnya.
"Tapi aku tak menuduh, Evelyn sendiri yang bilang pada ku, bahwa ibu kandungnya bernama Alena."
"Dan semua rencana pernikahan ku denganya, jangan-jangan kau juga yang menjebak kakakku, agar dia mau menandatangi perjanjian kontrak antara Arjuna dan Ayah mu, iya kan Evelyn," tanya Raka membentak.
"Kak Raka! Aku tak terima atas tuduhan mu pada Kak Evelyn." Sakina membela Evelyn.
"Sudalah sekarang bukan waktunya bertengkar, kau juga Raka, kau tak bisa menyimpulkan sesuatu, berdasarkan dari kecurigaan mu saja, nama Alena itu banyak, bukan satu orang saja, mungkin saja semua ini tak ada hubunganya dengan Evelyn dan ibunya," papa Rangga.
Sementara Evelyn terus menangis, ia pun memeluk Sakina.
"Kak Evelyn, sabarya, Kak Raka sedang panik, ia tak bisa berfikir jernih, dia tak pernah kehilangan Kak Juna sebelumnya," tutur Sakina.
Evelyn hanya diam, ia tak menyangka Raka bisa berfikir jahat tentangnya.
"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Leo.
"Kita berkumpul di rumah saja, kita tunggu sebentar, jika penculiknya belum menelpon kita langsung ambil tindakan," Rangga memberi solusi.
"Ia kita pulang ke rumah saja, siapa tahu, kita mendapat petunjuk di rumah," Rangga.
"Sakina aku pulang bersama kalian ya," pinta Evelyn, tak sedikit pun ia menoleh ke arah Raka.
"Ia Kak, ayo Kak Evelyn ikut kami saja," Sakina pun merangkul Evelyn.
Evelyn masih terlihat syok dengan tuduhan Raka terhadapnya, ia tak menyangka Raka bisa sekasar itu, padahal tak sedikit pun Evelyn berniat mencelakai keluarganya.
Sementara Alena sudah siap menunggu mangsanya, Alena sudah menyiapkan beberapa senjata untuk menghabisi Arjuna,
Kali ini ia ingin melakukanya sendiri, dengan tanganya.
Alena pun tertawa bahagia di depan cermin, sepertinya kali ini ia akan menang lagi.
***
Terima kasih telah membaca karya author, please
๐นLike
๐นkomentar
๐นVote,
__ADS_1
Ketika takdir menyatukan aku dan mereka kini ada audio book nya lho, siapa tahu ada yang ingin mendengar novel, lewat Audiobook.
Mampir juga di novel author yg lain dengan judul MENCINTAI MU DALAM GELAP, Kecelakaan membuat Amira kehilangan penglihatanya, begitu pun Dion, ia mengalami patah kaki dalam kecelakaan, mereka pun bertemu di panti rehabilitasi, rasa putus asa keduanya, ternyata membuat mereka saling membutukan, mereka pun saling jatuh cinta, namun perbedaan usia, adat dan budaya menghalangi cinta mereka, lebih seru pastinya, ( sory ya reader tersayang promosi nya banyak banget, btw i love you all)๐๐๐๐๐