
Tiara memasak makan siang bersama ibu Arie di dapur, sambil memasak mereka pun mengobrol.
Mereka memang sudah dekat sejak Tiara masih kecil, dan Tiara hampir saja menjadi menantu di rumah itu.
Terdengar tawa dan canda Tiara di dapur, dan itu yang membuat Aisyah menjadi sedikit iri atas keadaan nya.
Aisyah tak bisa berdiri terlalu lama untuk membantu ibu di dapur, iya juga tak bisa duduk terlalu lama, karna sering merasa pusing dan mual.
Sepanjang hari, iya hanya berada di kamar dan terkadang ibu Arie yang datang sesekali melihat keadaan nya.
Aisyah merasa sedih akan keadaan nya, iya ingin seperti mereka yang bebas bergerak kemana saja.
Ketika Tiara sedang memasak, terdengar suara orang yang mengucap salam. Dan ternyata, Arie yang datang untuk makan siang.
Seperti sudah janjian Arie yang tak pernah pulang untuk makan siang, tiba-tiba pulang.
"Bu, biasa nya Arie selalu pulang ya, saat makan siang ?" tanya Tiara yang tak enak hati.
"Ngak, biasa nya ngak pernah, tumben aja hari ini, pulang."
"Tiara jadi ngak enak sama Aisyah, Bu."
"Ngak usah di pikirin," jawab ibu.
Arie yang melihat Tiara di dapur kemudian menghampirinya.
"Eh, ada tamu " ujar Arie menyapa Tiara secara tak langsung.
Tiara hanya tersenyum karna iya juga ngak tahu harus ngomong apa, iya juga tak menyangka akan bertemu Arie di sini.
"Masak apa Bu ?"tanya Arie pada ibu nya.
"Tiara, katanya pikin makan siang di sini, jadi Ibu masak kesukaan nya, opor ayam," jawab ibu, sambil memasak.
Arie dan Tiara terlihat gerogi, dan itu sangat terlihat ketika mereka enggan saling menyapa.
Arie kemudian masuk ke kamar nya, untuk menemui Aisyah. Arie melihat ada yang berbeda dari Aisyah.
Kali ini Aisyah lebih cantik dan segar karna menggunakan make up, dan Arie pun bisa menebak siapa yang membuat Aisyah seperti itu.
Arie mendekati Aisyah, yang sedikit kaget akan kedatangan nya.
"Mas, kamu sudah pulang ?" tanya Aisyah.
__ADS_1
"Ngak, aku pulang cuma mau makan siang, ngak tau nya ada Tiara di sini," jawab Arie jujur.
Entah kenapa diri nya ingin pulang untuk makan siang di rumah hari ini, ternyata iya malah bertemu Tiara di sini dan itu tak di sangka sama sekali.
Aisyah juga merasa masih ada ikatan batin antara Tiara dan Arie, mereka bertemu padahal sebelum nya mereka tak pernah berhubungan apalagi janjian.
"Kamu cantik sekali hari ini Aisyah," puji Arie pada Aisyah.
Dengan tersipu Aisyah pun berkata, "Mbak Tiara, Mas yang mendadani Aisyah, iya juga memberi Aisyah baju."
Kemudian Aisyah nenunjukan baju yang Tiara berikan untuk nya.
"Mas, Aisyah boleh kan pakai baju ini, untuk tidur?"
"Tentu saja, baju itu kan memang untuk tidur " jawab Arie sambil tertawa karna melihat ke polosan Aisyah.
"Tapi Mas Arie janji ya, ngak menertawa kan Aisyah," ungkap Aisyah.
"Iya,Mas Arie janji." ucap Arie sambil tersenyum.
"Kamu tahu ngak Aisyah, kenapa Tiara memberi kan ini untuk kamu?" tanya Arie.
"Kenapa ?"
Aisyah pun terharu mendengar penuturan Arie dan memeluk nya.
"Aisyah juga sayang sama Mas Arie dan Mbak Tiara, Andai saja Mbak Tiara belum punya suami, Aisyah bahkan rela membagi cinta Mas Arie untuk Mbak Tiara," tutur Aisyah dengan air mata nya.
"Dalam hidup ini masing-masing kita sudah di beri jodoh Aisyah, dan ngak bisa di rubah meski seperti apa pun kita ingin merubah nya, kita hanya tinggal menjalani, biar kan saja Tuhan yang mengatur semua."
"Mas Arie bahagia Aisyah, hidup bersama mu, meski sebelum nya tak pernah terlintas di benak Mas Arie, akan menikahi kamu," ucap Arie seraya membelai rambut Aisyah.
Ketika sedang ngobrol tiba-tiba terdengar suara hand phone yang berbunyi.
"Hp Mbak Tiara bunyi Mas," ujar Aisyah.
"Biar aku yang beri kan pada nya."
Arie pun mendekati Hand phone Tiara dan melihat ada panggilan masuk, iya mengambil Hand Phone tersebut dan berniat memberi kan nya pada Tiara.
Arie tersenyum ketika iya memegang Hand Phone Tiara, ternyata Tiara masih menggunakan Hand Phone yang di beri kan Arie pada nya.
"Tiara HP mu bunyi, ada panggilan, " ucap Arie pada Tiara seraya memberi HP kepada nya.
__ADS_1
Tiara langsung menggangkat nya dan ternyata panggilan tersebut dari suami nya.
Arie pun membantu ibu nya untuk menghidang kan makan di atas meja makan.
Tanpa sengaja iya mendengar percakapan mesra antara Tiara dan suami nya, Masih ada rasa cemburu di hati Arie terhadap Tiara.
Namun lagi-lagi rasa cemburu itu iya tepis kan dan bersikap seolah biasa saja. Setelah menata hidangan di meja Arie membawa sepiring nasi untuk Aisyah.
"Rie, mau di bawa kemana?" tanya Tiara.
"Untuk Aisyah , dia ngak bisa terlalu lama duduk, jadi biasa nya Aisyah makan di kamar, maklum lagi ngidam," papar Arie.
"Biar aku saja yang membawa nya, aku mau makan bersama Aisyah, siapa tahu aku bisa ketularan hamil," pinta Tiara pada Arie.
Arie pun menggangguk pertanda setuju, dan Tiara pun menambah porsi nya hingga piring tersebut hampir penuh.
Tiara pun membawa nya masuk ke kamar Aisyah.
"Aisyah kita makan ya, ini sendok untuk kamu." Tiara memberi sebuah sendok untuk Aisyah satu sendok untuk diri nya.
"Kita makan sepiring Mbak ?" tanya Aisyah ragu.
"Iya, kenapa?" tanya Tiara balik.
"Mbak Tiara ngak jijik ya, makan sepiring dengan Aisyah? Aisyah kan penyakitan."
Dengan tersenyum Tiara menjawab nya," Aisyah penyakit kamu itu ngak menular, malahan Mbak berharap bisa ketularan hamil seperti kamu Aisyah."
Aisyah pun merasa bahagia, iya seolah mendapat kepercayaan diri nya lagi. Aisyah dan Tiara pun makan dengan lahap, Aisyah tak pernah makan sebanyak ini sebelum nya, tapi karna melihat Tiara yang semangat, iya pun semangat.
Aisyah terlalu semangat, hingga keringat bercucuran di wajah nya, dan iya pun merasa segar kembali.
Setelah makan mereka masih asyik berbincang dan bercanda, Tiara pun kembali mengingat kan Aisyah untuk minum obat.
Tiara mengambil segelas air untuk Aisyah minum obat, Tiara melihat obat-obat yang Aisyah konsumsi banyak dan dengan ukuran yang cukup besar.
Aisyah menelan obat tersebut, dan sesekali iya meringis menelan obat yang banyak dan terasa pahit.
Tiara menelan ludah yang masih di keronggkongan nya, karna ngeri melihat obat-obat yang Aisyah minum.
Tak terbayang kan Aisyah harus menelan semua itu setiap hari, tak heran jika Aisyah sering putus asa dan menyerah.
Setelah menahan sakit karna penyakit nya, Aisyah juga harus selalu menelan pil pahit itu setiap hari, belum lagi di tambah dengan keadaan nya yang sedang ngidam, pasti nya itu menambah penderitaan nya.
__ADS_1
Tiara terharu, kemudian di peluk nya Aisyah kembali, sambil menetes kan air mata nya, meski tak merasa kan penderitaan Aisyah, dengan melihat nya saja Tiara sudah cukup tersiksa, apa lagi harus menjalani nya seperti Aisyah.