
***Seakan mata ku tertutup, ku ingin cinta ini dapat kau sambut, harap kan agar perasaan ini kau tahu, sungguh ku ingin kau menjadi milikku.
Raka dan Arjuna, sudah siap menjalani operasi cangkok ginjal, mereka terlelap ketika obat bius mulai bekerja.
Doa-doa dan sekelumit harapan menanti di luar ruang operasi, Evelyn tak henti-hentinya mengucap do'a pada yang kuasa, berharap keajaiban datang menghampiri suaminya tercinta.
Begitu pun Sakina, yang semakin la semakin gelisah, karna kini dua orang yang ia sayangi, harus berada dalam keadaan yang sangat menghawatirkan, apalagi operasi tersebut, membutuh kan waktu yang lumayan lama.
Meski di temani Rangga, Sakina dan Evelyn tetap gelisah, Evelyn bahkan tak betah untuk duduk di atas kursi, meski hanya lima menit, sebentar-bentar ia duduku tapi kemudian berdiri lagi, sambil melihat ke arah ruang operasi.
Sementara Sakina masih menyandar kan kepala nya di dada Rangga.
Meski telah ada Rangga yang coba untuk menenangkan Sakina, nyatanya kekhawatiran itu tetap saja ada, Sakina hanya diam, ia terus berdoa dalam hatinya berharap keduanya baik-baik saja.
Lebih dari Empat jam, operasi pun selesai, keduanya dirawat di ruangan berbeda.
Evelyn tetap setia mendampingi suaminya, begitu pun Sakina, ia tetap setia menjaga Arjuna.
Kabar gembira datang dari meja operasi, karna operasi kali ini berhasil, tanpa ada halangan atau pun rintangan yang bearti, dan dalam beberapa jam selanjutnya, pasien akan kembali sadar.
Sudah Enam jam pasca operasi, keadaan Raka mulai menampakan hasil positive, ia pun mulai sadar, meski hanya beberapa menit, ia pun tidur kembali, mungkin karna efek dari obat bius, akan menunjukan keadaan yang berbeda-beda pada setiap orang, setelah mengetahui keadaan suami nya membaik, tak henti-hentinya Evelyn mengucap syukur.
Berbeda dengan Arjuna, hingga sepuluh jam pasca operasi, ia belum menunjukakan tanda-tanda kesadaran nya, Meski setelah di periksa, kondisi Arjuna, sangat stabil.
Cukup lama Sakina berada di sisi Arjuna, ia berharap agar kakaknya cepat siuman, sama seperti Raka.
Setelah hampir tengah malam, dan ini sudah dua belas jam pasca operasi, namun Arjuna belum juga siuman.
Melihat kegelisahan Sakina, Rangga pun memeluknya.
"Sayang, kamu kenapa, kok gelisah sekali?" tanya Rangga, yang mendekap Sakina dari belakang.
"Aku khawatir, sampai sekarang Kak juna masih belum menunjukan tanda-tanda kesadaranya," papar Sakina.
__ADS_1
Rangga melepaskan pelukannya, dan kini duduk di samping Sakina, ia merebahkan kepala Sakina di dadanya.
"Arjuna pasti baik-baik saja, kamu dengar sendirikan Dokter bilang apa tadi, keadaan Arjuna sudah stabil, mungkin karna masih dalam pengaruh obat bius, jadi ia belum sadar."Rangga berusaha menenangkan Sakina.
"Sudah kamu tidur saja, biar kita bergantian menjaga Arjuna, kamu pasti sudah lelah karna berjaga seharian," tutur Rangga.
Sakina pun menggangguk, "Mas Rangga, aku boleh kan tidur di samping Kakaku," usul Sakina.
"Tentu boleh sayang, tidur lah," jawab Rangga, ia menuntun Sakina untuk tidur di samping Arjuna, Rangga membelai rambut Sakina, dan tak berapa lama kemudian Sakina pun terlelap, Rangga menciumi pipi kanan Sakina, ia harus tetap terjaga menjaga Arjuna.
Rangga tetap membelai rambut panjang Sakina, meski Sakina tlah terlelap, Rangga menunjukan betapa sayang dan cintanya ia pada Sakina.
Rasa kantuk yang sangat hebat, kini tengah melanda Rangga, sulit baginya untuk membuka matanya, meski ia sudah minum kopi dan mencuci wajahnya beberapa kali, mungkin karna merasa lelah, Rangga berkali-kali menguap dan tanpa sadar ia pun tertidur dengan posisi duduk di samping Sakina.
Mereka tersadar saat mendengar Azan subuh, meski merasa masih mengantuk, Rangga menguatkan dirinya, untuk sholat, bagaimana pun ia tak akan lupa, karunia yang di beri tuhan untuknya, meski apapun keadaanya, Rangga tetap tak ingin terlambat dalam menunailan kewajibanya.
Setelah sholat subuh berjamaah dengan Sakina, mereka pun duduk di sofa, dan kali ini Rangga merebahkan kepalanya, di pangkuan Sakina, giliran Sakina, yang membelai lembut rambut Rangga.
"Tidur lah Mas, kamu pasti lelah karna sebentar lagi harus bekerja, jika bukan kamu, siapa lagi yang bisa menggantikan kan Juna, sementara ia sakit."
"Tapi aku ngak mau menikah, jika kakak ku, masih dalam keadaan Sakit, kita tunda saja, sampai keduanya benar-benar sembuh."
"Ngak bisa dong sayang, undangan sudah di pesan, aku juga sudah mengatur urusan di KUA, lagi pula, aku yakin dalam tiga minggu lagi, mereka juga akan pulih," ucap Rangga.
"Entahlah aku semakin khawatir dengan Kak juna, sampai saat ini, ia belum juga siuman, sedangkan Kak Raka saja sudah siuman." Sakina terlihat sedih.
"Percayalah, tak kan terjadi apa-apa pada Arjuna, dia lelaki yang kuat," ujar Rangga.
"Semoga saja Mas," sahut Sakina.
Siang harinya, Dokter nemeriksa keadaan Arjuna, Dokter sendiri heran dengan keadaan Arjuna, dalam kondisi stabil, seharusnya Arjuna sudah sadar.
"Bagaimana keadaan Kakak saya, Dokter?" tanya Sakina.
__ADS_1
"Secara keseluruhan kondisinya stabil, mulai dari tekanan darah, detak jantung, semua normal, tapi apa yang membuat pasien enggan terbangun, bisa jadi keadaan sikis pasien, mungkin pasien berada dalam tekanan, atau masalah berat, hingga ia terlena dalam tidurnya, tapi semuanya belum dapat di pastikan," papar sang Dokter.
Sakina tersentak mendengar penuturan Dokter, masalah apa yang terlalu berat, hingga membuat Kak juna tak ingin sadar dari tidurnya.
Sakina pun merebahkan tubuhnya di samping Arjuna, ia pun memeluk Arjuna,
"Bangun lah Kak, Sakina ada disini menanti mu," ujarnya sambil meneteskan air mata.
"Bangun lah Kak, apa Kak juna marah, karna sebentar lagi Sakina, akan menikah, mengertilah Kak, semua ini Sakina lakukan demi kebaikan kita bersama, sebenarnya Sakina belum ingin menikah, semua demi menghindari cinta yang terjadi antara kita Kak, seperti apa pun cinta kita Kak, kita tak mungkin bersama selamanya," ucap Sakina sambil meneteskan air matanya.
Hari sudah menunjukan pukul lima sore, sudah hampir tiga puluh jam, Arjuna belum juga sadar, berbagai upaya pun di lakukan Sakina, untuk menyadarkan Arjuna dari tidurnya.
Hingga Sakina terpikir suatu cara, ia menutup pintu kamar perawatan Arjuna, dengan jantung yang berdetak hebat, Sakina perlahan mendekati tubuh Arjuna.
Kali ini, dengan sedikit menunduk, wajah Sakina kini berhadapan dengan Arjuna, Sakina menutup matanya dan perlahan ia mendaratkan bibirnya di bibir Arjuna.
Dan ia pun memainkan nya, berharap ada balasan dari Arjuna, Sakina berharap, bisa bereaksi terhadap apa yang di lakukanya saat ini, dan sungguh mengejutkan, Arjuna mulai menggerakan jari jemarinya, dan perlahan ia pun membuka matanya.
Sakina berhenti ketika mengetahui ada reaksi dari Arjuna, ia menarik tubuhnya, dan tersenyum kearah Arjuna yang tampak binggung.
"Sakina," sapa Arjuna.
"Akhirnya kau bangun Kak," ucap Sakina, ia pun terharu.
Sakina pun berbaring di samping Arjuna, ia memeluk Arjuna dan Arjuna pun mengarahkan kepalanya menatap wajah Sakina.
"Sakina tak akan pergi Kak, jika memang Kakak tak menginginkanya, Sakina akan tetap bersama Kakak," ucapnya.
Arjuna hanya tersenyum, Sakina pun mengarahkan wajahnya agar semakin dekat dengan Arjuna, dan dengan perlahan ia pun kembali mencium bibir Arjuna.
Mereka saling membalas, dan saat itu, di saksikan Rangga dengan mata kepalanya sendiri, seolah tak percaya dengan penglihatanya, Rangga pun pergi dari sana dengan perasaan kecewa.
"Apapun akan Sakina lalukan, asal Kak Juna tak pergi meninggalkan Sakina," tutur Sakina, ia pun menitikan air matanya.
__ADS_1
Sementara Rangga, ia pergi dari tempat itu, dan mencari tempat tersembunyi, untuk menumpahkan air matanya.
Sepertinya ada hubungan lain antara Sakina dan Arjuna, batinya. ia pun melihat cincin tunanganya dan kembali menitikan air mata.