
Aisyah merasakan mual dan ingin muntah, sudah beberapa hari ini iya menjadi tak nafsu makan, itu yang membuat perut nya mual dan tubuh nya pun menjadi lemas.
Sejak hamil, Aisyah tak pernah lagi mengkomsumsi obat-obatan nya, karna iya takut obat tersebut akan berpengaruh pada janin nya.
Aisyah membuka mukena dan melipat sajadah nya, saat itu iya mendengar Arie sudah sibuk di dapur.
Tak seperti biasa nya, Aisyah agak terlambat sholat subuh, dan Arie tak tega untuk membangun kan nya.
Aisyah bermaksud untuk membantu Arie, iya merasa kasihan pada suami nya,
setelah lelah bekerja seharian di kantor, pulang kerumah, Arie juga yang mengerja kan pekerjaan rumah, yang harus nya di kerjakaan seorang istri.
Sejak menikah, Arie memang tak pernah mengijin kan Aisyah untuk melakukan pekerjaan berat, seperti mencuci baju dan sebagai nya.
Apalagi setelah Aisyah hamil, Arie bahkan tak pernah membiar kan Aisyah mengerjakan pekerjaan rumah, semua Arie yang melakukan nya.
Aisyah merasakan kasih sayang yang besar dari Arie tergadap diri nya, Arie selalu mengerti akan keadaan nya, tak pernah sekali pun Aisyah mendengar Arie mengeluh.
Aisyah pun bangkit dari duduk nya, dan bermaksud membatu Arie namun baru saja iya berdiri iya sudah merasa kan sakit kepala yang hebat.
Aisyah mengerang kesakitan, iya coba menahan mulut nya agar iya tidak berteriak, karna apa yang di rasa kan nya saat ini, begitu sangat menyiksa nya, dan iya tak mau Arie mengetahui nya, karna iya tak ingin Arie terus mengkhawatir kan nya.
Aisyah mengerang menahan sakit, iya menggenggam erat tangan nya sendiri, hinga tubuh nya tumbang dengan sendiri nya, Aisyah yang tak kuat menahan, akhir nya menyerah dan jatuh pingsan.
Arie mendengar suara yang mencurigakan dari dalam kamar nya, iya pun langsung menghampiri Aisyah dan ternyata benar, Arie menemukan tubuh Aisyah tergeletak di lantai.
"Aisyah, sadar Aisyah,kamu kenapa Aisyah ?"tanya Arie khawatir.
Mendengar Aisyah yang tak menjawab pertanyaan nya, Arie pun semakin panik, iya pun memanggil ibu nya.
"Bu, tolong. Bu Aisyah, bu!" teriak Arie. Ibu yang mendengar teriakan Arie pun segera mengahampiri Arie yang berada kamar nya,
Ibu pun melihat Aisyah yang tak sadar iya pun mengucap.
"Astafirullah hal azim, Aisyah kenapa Rie?" tanya ibu Arie yang juga kahawatir.
"Arie ngak tahu Bu, tadi pas Arie masuk kamar, Aisyah sudah seperti ini Bu," ungkap Arie panik.
"Bagai mana Bu, apa kita bawa Aisyah kerumah sakit saja Bu? " tanya Arie yang terlihat binggung.
"Iya bawa saja Ri, ibu khawatir nanti terjadi sesuatu pada Aisyah, dan janin nya,"jawab ibu Arie.
Arie pun membawa Aisyah ke mobil dan membawa nya kerumah sakit.
**
__ADS_1
Tiara duduk termenung di depan meja makan, saat itu hanya secankir kopi yang tersaji di hadapan nya.
Riki pun keluar dari kamar dan menemui Tiara di meja makan.
"Sayang, kok cuma secangkir kopi? karbo nya mana? " tanya nya lagi sambil duduk menghadap Tiara.
"Cuma ada ini Mas, kulkas udah aku bersihkan semua, jadi ngak ada apa pun di sana," jawab Tiara pada Riki namun iya tak memandang wajah nya.
Tiara merasa sulit untuk menerima Riki kembali di hidup nya, setelah semua yang terjadi, Tiara sebenar nya ingin lari dari situasi ini, namun Riki terus memaksa nya, agar menerima nya kembali.
Hati Tiara yang hancur apakah mungkin bisa kembali seperti sedia kala, saat itu iya begitu mengingin kan Riki bisa menerima kehadiran nya, namun Riki selalu menolak nya, dan tak sekalipun memberi Tiara kesempatan.
Kini setelah hati nya terkunci, Riki malah hadir dan menawar kan cinta untuk nya, bahkan dengan sedikit memaksa, Tiara pun tak sanggup untuk menolak nya.
Hati nya masih getir, bahkan cinta yang Riki curah kan semalam tak cukup mampu untuk mencair kan kebekuan hati nya.
Riki pun mengerti jika Tiara tak kan semudah itu untuk menerima nya, mengingat apa yang di lakukan nya terhadap Tiara.
Namun iya mencoba untuk memperbaiki kesalahan nya. Dan mencoba membuka lembaran baru bersama Tiara.
Setelah meminum kopi yang di sedia kan Tiara, Riki pun bersiap berangkat, iya menghampiri Tiara kemudian mencium kening dan bibir nya.
Riki merasakan kulit Tiara terasa hangat, kemudian iya menyuntuh pipi Tiara dengan tanggan nya dan memang benar, tubuh Tiara terasa hangat.
"Kamu kenapa, sayang? sakit ya ?" tanya nya lagi.
"Kamu yakin ngak mau aku temani ?" tanya Riki lagi yang terlihat khawatir.
"Ngak usah Mas, paling kalau di bawa istirahat nanti juga sembuh,"
"Ya udah, kalau ada apa-apa telpon aku ya, sayang, nanti siang aku udah pulang" Riki pun mencium pipi Tiara, namun Tiara hanya diam.
Setelah selesai meeting, Riki pun bergegas pulang iya sangat khawatir pada Tiara yang sedang sakit.
Iya mengetuk pintu rumah beberapa kali, namun Tiara tak membukakan pintu untuk nya, Riki juga mengetuk jendela kamar nya, Tiara pun tak menjawab.
Riki pun mendobrak pintu rumah nya, dan ternyata pintu nya tak terkunci, iya membuka pintu kamar dan menemukan Tiara yang tertidur pulas.
Riki bermaksud membangun kan Tiara, namun saat iya menyentuh tangan Tiara, iya pun merasa tubuh Tiara terasa panas, tak lagi hangat seperti tadi pagi.
Riki mencoba untuk membangun Tiara dari tidur nya, tapi Tiara engan terbangun juga.Mungkin karna demam yang terlalu tinggi, Tiara mengalami penurunan tingkat kesadaran nya, Riki pun mengangkat tubuh Tiara, dan membawa nya kerumah sakit.
Dalam perjalanan ke rumah sakit sesekali Tiara meringis kesakitan pada bagian perut nya.
Maklum saja, sudah tiga hari iya tak makan, apalagi kemaren iya kehujanan dan membuat baju nya basah.
__ADS_1
Tiara sudah berada di ruang perawatan, dan Riki bermaksud untuk menebus obat di apotik.
Karna terburu-buru Riki pun menabrak seorang Pria yang juga hendak menebus obat dan membuat resep obat nya jatuh dan tertukar.
Pria yang di tabrak Riki tersebut adalah Arie. Awal nya mereka tak menyadari bahwa resep tersebut tlah tertukar.
Saat hendak menyerah kan kepada apoteker, Arie tak sengaja melihat resep tersebut yang ternyata bukan milik Aisyah namun nama si pasien adalah Ny. Mutiara dengan umur 24 tahun.
Arie merasakan detak jantung nya semakin cepat, apakah Ny.Mutiara adalah Tiara yang di kenal nya mengingat usia nya pun sama.
Arie berjalan cepat menuju kamar tersebut, bukan hanya iya ingin menukar kembali resep nya, tapi juga memastikan resep tersebut memang milik Tiara.
Arie pun menuju kamar Tiara iya pun mengetuk pintu sebelum masuk, Arie dengan ragu mendekati Tiara yang terbaring.
"Tiara " sapa Arie ketika iya berada tepat di samping Tiara, Tiara yang terlelap kemudian terbangun dan kaget melihat Arie di samping nya.
"Arie" sapa Tiara dengan suara lirih.
Mereka pun menjadi salah tingkah karna ini lah pertama kali nya mereka bertemu setelah Arie menikah.
"Kamu kenapa ada di sini, Rie ?" tanya Tiara.
"Aisyah juga di rawat di sini, Tiara," jawab Arie. Mereka pun berhenti bicara ketika mereka melihat Riki yang menghampiri mereka.
Arie mendekati Riki dan menyerah kan resep obat kepada nya.
"Mas,resep nya tertukar,"ucap Arie.
Riki pun mengambil resep tersebut di tangan Arie, dan menyerah kan resep milik Arie.
"Saya permisi Mas,Tiara,"ucap Arie sambil melihat mereka secara bergantian.
Riki merasa heran kenapa pria asing tersebut mengenal Tiara. Riki pun mendekati Tiara dan bertanya pada nya.
"Sayang, kamu kenal sama dia?" tanya Riki curiga.
"Iya Mas,dia teman aku," jawab Tiara singkat.
"Teman atau mantan pacar? " tanya Riki curiga.
"Emang kenapa sih?" tanya Tiara risih karna melihat tatapan mata Riki yang tajam.
"Tatapan mata kalian tuh beda, seperti nya hubungan kalian lebih dari sekedar teman." ujar Riki.
"Iya Mas, dia mantan pacar ku, puas !" jawab Tiara dengan tegas.
__ADS_1
Dan tampak sekali kecemburuan di wajah Riki.