Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Teror


__ADS_3

Mereka masih duduk santai dan ngobrol, Riki merasa kagum akan persahaatan mereka, Iya bahkan tak mempunyai sahabat yang benar-benar tulus pada nya, semua mitra yang terjalin karna hubungan bisnis atau sesuatu hal yang saling menguntung kan.


Meski mereka terlihat akrab namun seperti nya Arie selalu menghindari pandangan nya terhadap Tiara, sebagai sesama lelaki, Riki melihat Arie masih mencintai Tiara, meski di tutupi nya namun tetap saja terlihat sangat jelas.


Melihat mereka yang masih asyik, Tiara berinisiatif membuat kopi untuk mereka, Tiara bangkit dari duduk nya, namun kepala nya terasa pusing, Tiara pun hampir tumbang.


"Sayang, kamu kenapa?" Riki terlihat khawatir.


"Aku merasa pusing, Mas," Tiara duduk lagi.


"Kamu mungkin kecapean, kita pulang saja ya", ucap Riki sambil merangkul Tiara.


"Tiara kenapa Mas,? "tanya Syntia.


"Dari kemaren iya ngak enak badan, suka meriang," jawab Riki.


"Jangan-jangan kamu hamil," cetus Syntia.


"Ngak lah, setiap minggu aku tes dan hasil nya negatif, paling cuma masuk angin biasa," jawab nya.


"Kita pulang aja ya, ajak Riki," sembari mengelus kepala Tiara.


Arie hanya diam, melihat perhatian Riki terhadap Tiara, entah mengapa rasa cemburu itu mulai tumbuh lagi di hati nya.


Mereka pun bangkit," Rie, aku pulang dulu ya," ucap Tiara pada Arie,dan Arie hanya mengangguk.


Riki membawa tas milik Tiara, iya pun merangkul mesra istri nya.


"Syn, nanti malam kamu pulang kerumah ya, Aku minta tolong, temani Tiara, saat aku kerja." pinta Riki pada Syntia.


"Iya Mas, tapi ngak gratis ya," canda Syntia.


"Beres" balas Riki, sambil mengacu kan jempol nya.


Mereka pun berlalu dan tampak Arie menatap tajam kearah mereka.


Syntia yang memperhatikan gelagat Arie pun merasa curiga, iya kembali mendekati Arie dan duduk di samping nya kembali.


"Rie, kamu masih cinta ya sama Tiara?" tanya Syntia.


Arie tak menjawab, iya hanya diam dan tertunduk.


"Dari sikaf kamu itu terlihat sekali Rie, meski kamu menyangkal nya dan berusaha menutupi nya." Syntia menatap mata Arie.

__ADS_1


"Trus aku harus bagaimana." Arie pun beranjak dan pergi meninggal kan Syntia, iya pun masuk ke kamar nya.


Syntia membuntuti Arie, iya ikut masuk ke kamar Arie.


"Rie, kamu bisa cerita apa saja pada ku Rie," ujar Syntia dan menggenggam erat tangan Arie.


"Percuma di ungkapkan atau ngak sama saja kan, Syn? tetap saja itu tak kan merubah apa pun," ujar Arie.


"Tapi setidak nya, kamu akan merasa ringan jika kamu berbagi kepada ku."


"Aku merasa sudah kehilangan segala nya Syn, mungkin bahagia tak berpihak pada ku, tapi melihat Tiara bahagia dengan suami nya, harus nya aku juga ikut bahagia."


"Tapi aku bahkan semakin tak bisa menutupi perasaan ku terhadap nya, Syn."


"Aku cemburu Syn," ucap Arie lirih.


"Karna aku manusia biasa Syn, aku ngak bisa menghilang kan perasaan itu secepat dan semudah itu."


"Mungkin semua itu butuh proses, dan memakan waktu yang lama, biar saja Tiara berbahagia, aku tak ingin mengganggu nya," tutur Arie lirih.


"Tapi aku juga ingin melihat kau bahagia, Rie, selama ini kau sudah banyak berkorban, tapi sedikit pun kau tak mendapatkan kebahagian mu, berhenti lah memikir kan orang lain Rie, sekarang waktu nya untuk kau memikir kan kebahagian untuk mu Rie, dan akan ku lakukan apapun, agar kau mendapat kan kebahagian mu kembali." ucap Syntia. Iya pun memeluk Arie.


Arie begitu haru atas perhatian Syntia, iya pun memeluk Syntia dengan haru.


Riki membawa Tiara masuk ke kamar nya.


"Sayang, apa kau ingin makan sesuatu ?" tanya Riki.


"Ngak Mas, aku ingin berbaring saja,"


"Baik lah" Akan ku temani kau.


Riki pun mengusap dan membelai rambut Tiara, iya kembali teringat akan ancaman Alena terhadap nya.


Riki takut jika Alena nekat dan menyakiti Tiara, iya tak ingin Tiara berada dalam bahaya.


"Harus nya, aku tak menjalin hubungan dengan wanita seperti Alena," sesal Riki di batin nya.


"Dan semua itu tak kan terjadi jika saja aku menerima Tiara sebagai istri ku, sejak pertama kami menikah."


"Dan kini Tiara sedang dalam bahaya,dan entah apa yang akan di lakukan Alena terhadap nya," pikir Riki di batin nya.


Riki memandang kearah Tiara yang kini terlelap tidur, iya mencium pipi Tiara, tak terbayang di pikiran nya jika Tiara tersakiti oleh seseorang karna diri nya.

__ADS_1


Lagi-lagi iya mencium istri nya, kini Riki semakin takut kehilangan Tiara, Riki tak pernah menyangka bahwa iya kini begitu mencintai seseorang yang begitu iya benci sebelum nya.


Lamunan buyar ketika terdengar suara ketukan pintu, iya pun bangkit dan keluar untuk membuka pintu.


Ternyata Syntia di antar oleh Arie, Arie ingin pulang tapi di cegah oleh Riki.


"Masuk dulu Rie, main pulang aja," seru Riki.


Arie pun masuk bersamaan dengan Syntia.


Mereka pun duduk bertiga di ruang tamu.


"Mas, memang Tiara sakit apa sih, kok ngak biasa nya dia di temanin," tanya Syntia.


"Aku bukan menghawatir kan sakit nya Syn, tapi aku mendapat ancaman, ada seseorang yang ingin menyakiti dan mengganggu nya, dan aku jadi khawatir karna Tiara selalu sendiri di rumah.


Arie sedikit kaget mendengar nya, karna iya juga mengkhawatir kan Tiara, iya pun membuka suara nya.


"Mas, beberapa waktu yang lalu, Tiara hampir diculik dengan dua orang pria yang menggunakan mobil," papar Arie.


Riki kaget, "Serius kamu Rie?, kamu tahu dari mana? dan kenapa Tiara ngak pernah cerita ?" tanya Riki bertubi-tubi.


Dengan berat hati, namun Arie mencoba untuk jujur karna ini semua demi keselamatan Tiara.


"Mas, kamu dengarin aku dulu dan jangan salah sangka terhadap aku dan Tiara."


Riki pun diam dan hanya mengganguk.


"Kemaren Tiara meminta aku untuk mengantar nya, karna iya merasa aman jika di antar orang yang sudah di kenal nya."


"Sebenar nya aku juga khawatir, jika iya diantar oleh seseorang yang tak di kenal nya, apalagi Tiara selalu menggunakan perhiasaan mahal."


"Saat aku mengantar nya, ada sebuah mobil yang membuntuti kami, dan ketika kami berada di jalanan sepi, mobil itu pun menghadang kami, dan kedua pria tersebut keluar untuk menculik Tiara, awal nya ku pikir mereka hanya ingin merampok, ternyata tidak, iya ingin menculik Tiara dan membawa kepada orang yang telah menyuruh mereka, aku kewalahan menghadapi mereka dan aku menyuruh Tiara lari, tapi dengan berani Tiara mengambil batu dan memukul salah satu diantara mereka, dan kami pun bisa lolos dan melarikan diri."


Riki kaget nendengar penuturan Arie, iya tak berpikir apapun tentang Arie dan Tiara, yang menjadi pikiranya adalah keadaan Tiara yang sedang dalam bahaya.


"Tapi tak hanya sekali Mas, yang kedua kali nya saat aku mengantar Tiara membeli buah, dan di sana aku mencurigai sebuah mobil yang ikut berhenti, saat kami berhenti, dan ikut jalan saat kami ikut jalan, dan ketika aku mencoba melaju menghindari nya, mereka malah menabrak kami, dan kami pun jatuh."


"Saat itu aku semakin yakin, ada yang ingin mencelakai Tiara."


"Tapi sejak itu Tiara tak pernah lagi meminta ku untuk mengantar nya, karna iya takut jika aku ikut celaka karna melindungi nya," papar Arie.


Riki menarik nafas panjang dan menyandar kan tubuh nya di kursi.

__ADS_1


"Suami macam aku ini, saat istri ku dalam bahaya, aku bahkan tak berada di sisi nya untuk melindungi dirinya." ucap Riki yang menyalakan diri nya sendiri.


__ADS_2