
Sehari sebelum pertunangan,
Raka sudah tiba di sebuah Mall, iya datang untuk menemui Evelyn di sebuah cafe. Karna sudah janjian, Raka langsung menuju tempat yang sudah mereka sepakati.
Ternyata Evelyn sudah menunggu nya di sana, sebenar nya Evelyn ingin berremu Arjuna, berhubung Arjuna sedang ada urusan, jadi ia mengutus Raka untuk menggantikan nya menemani Evelyn.
Raka langsung menuju tempat Evelyn duduk, iya pun langsung berhadapan dengan nya.
"Kau terlambat Raka," Evelyn sambil melihat jam tangan nya.
"Maaf " ucap Raka singkat.
"Sebenarnya apa yang kau ingin kan? kenapa kau meminta ku menemani mu," nada Raka sedikit kesal.
"Aku hanya ingin kau menemaniku, bersantai, dan ngobrol Raka, dan aku sebenar nya ingin tahu lebih banyak, tentang keluarga mu, terutama Arjuna."
"Apa yang sebenarnya ingin kau ketahui tentang keluarga ku, silahkam tanya kan saja," Raka sambil menyerup minuman nya.
"Apa kau sudah punya pacar Raka?" tanya Evelyn santai.
"Kau ini ingin tahu tentang ku, atau kakak ku, Raka balik bertanya.
Evelyn tersenyum,"Apa kau tak bisa menjawab nya, tanpa harus bertanya kembali pada ku," ujarnya.
"Belum, aku belum punya pacar, lalu kenapa?"
"Kenapa orang tua ku tidak menjodohkan ku, padamu saja, bukan kah kau juga salah satu cucu Radja Prawira?"tanya Evelyn santai.
"Alasan nya, karna aku bukan lah pewaris dari kakek ku, aku hanyalah anak seorang pelakor, dan kedua orang tua ku, mereka bukanlah pasangan resmi di mata hukum, bagi ku, nama Radja Prawira tak ada artinya, meski selamanya nama itu, melekat padaku, begitu lah anggapan mereka tentangku, bagi mereka, hanya Arjuna lah pewaris tunggal dari mendiang kakek ku, sehingga banyak orang tua yang ingin menikahkan anaknya pada kakak ku, sementara aku sendiri, jika bukan karna kakak ku, aku hanyalah anak terbuang dari ibu ku, dan dari keluarga Papa ku."
__ADS_1
"Apa kau tahu Evelyn, karna penyakit ku ini, aku harus terpisah dengan ibuku, karna menurut ayah tiri ku, aku hanya menyusahkan mereka, akhirnya aku memilih untuk ikut dengan Papa ku, tapi baru saja aku mengenal arti keluarga, mereka semua pergi meninggal kan ku, kini tinggal kakak dan Oma ku saja, selain mereka, tak pernah ada mengganggap keberadaanku, makanya aku tak pernah menggunakan harta mendiang kakek ku, apa yang ku punya, adalah hasil keringatku sendiri, dan dengan itu aku bangga, meski jauh dari kata mewah."
"Arjuna sebenarnya ingin membagi warisan tersebut pada ku, tapi aku menolaknya, apa lah arti harta dunia, bukan kah sebentar lagi, aku juga akan pergi meninggalkan nya," ujarnya sambil meneteskan air mata.
Evelyn tergugah dengan penuturan Raka, iya pun meneteskan air matanya.
"Memang nya kau sakit apa Raka?" tanya Evelyn.
"Thalasemia, meski tidak terlalu parah, tetap saja ini sangat mengganggu ku, dan lebih parah lagi, jika aku menikah, maka anaku juga akan mewarisi penyakit ku, jika sudah begitu, lalu apa ada wanita yang ingin menikahi ku," papanya.
Evelyn meraih tanggan Raka dan menggenggamnya, "Tetap semangat Raka, aku yakin suatu saat nanti, ada wanita, yang akan mencintai mu dengan tulus, karna aku yakin kau adalah pria yang baik meski aku baru mengenalmu," tutur Evelyn, dengan tetap menggenggam tanggan Raka.
"Terima kasih Evelyn, ternyata selain kakaku, ada juga orang yang bisa memotifasiku, aku tak menyangka jika penampilan mu yang glamor, ternyata menyimpan kepedulian pada orang lain, maaf jika pandangan ku berbeda terhadap mu selama ini," tutur Raka kagum.
"Bukan kah kau yang bilang pada ku, jangan menilai buku dari sampul nya," ujar Evelyn, dan mereka pun tersenyum.
"Raka, sebenarnya aku masih ragu terhadap Arjuna, aku merasa tidak cocok padanya" Evelyn
***
Rangga masih mondar-mandir di dalam kamarnya, Aku masih belum yakin, apa aku akan membawa Sakina dalam pesta tersebut, pikir nya.
Tapi tidak ada pilihan lain, karna acara nya besok malam, aku harus membawa Sakina untuk berbelanja, membeli baju pesta untuk nya, ah repot sekali. Rangga bicara pada dirinya sendiri, iya pun menemui Sakina.
"Sakina, hari ini kau ikut dengan ku, kita harus mencari baju pesta untuk mu, dan kau segera bersiap," ujar Rangga.
"Sekarang Pak," tanya nya ragu.
"Ya, sekarang Sakina, acaranya besok malam, sudah ngak sempat lagi, buruan," sergah nya.
__ADS_1
"Lalu siapa yang akan menjaga Aira Pak?"
"Kita bawa saja dia,"
Sang nyonya menatap tajam ke arah Sakina, iya pun mengikuti langkah Sakina menuju kamar nya, sementara Rangga mempersiapkan keperluan Aira di kamarnya.
"Eh Sakina, aku beri peringatan kepada mu, kau jangan mengira Rangga membawa mu ke pesta itu, bukan berati iya menyukaimu, ingat siapa dirimu, kau tak lebih dari seorang pelayan bagi nya, dan kau tahu pelayan itu, berada di bawah kaki majikan nya," sang nyonya pun menunjukan telapak kakinya, yang semakin merendah kan Sakina.
"Saya mengerti nyonya, saya juga tahu siapa diri saya, dan siapa Pak Rangga, kami tidak ada hubungan apa pun, lagi pula Pak Rangga sangat mencintai mendiang istrinya, dan saya merasa tak sebanding dengan istrinya Pak Rangga, jadi nyonya ngak perlu khawatir, di sini saya hanya mencari makan, tanpa berharab lebih, setelah enam bulan, saya juga akan pergi dari sini," papar Sakina.
"Bagus jika kamu sudah tahu," tuturnya iya pun berlalu.
Sakina dan Rangga pun pergi bersama ke sebuah butik, Rangga memilih kan baju yang cocok untuk Sakina, sedang kan Sakina ia menggendong Aira, ia hanya menuruti semua perintah Rangga.
"Yang ini, kamu coba, " ujar Rangga kepada Sakina, iya pun menunjukan mini dress berwarna magenta dengan bagian dada sedikit terbuka.
Sakina pun mencoba nya, dan saat keluar dari kamar ganti, iya terlihat cantik, dan gaun tersebut sangat Pas di tubuh munggilnya.
Sakina kaget saat Rangga membayar gaun itu kasir, harga yang sangat fantastis menurutnya, mungkin dengan harga gaun itu, iya bisa membeli 10 sampai 20, baju yang biasa iya kenakan.
"Pak Rangga, tak main-main, aku jadi semakin takut mengecewakan nya,tak terbayang seperti apa pesta yang akan ia hadiri, jika Rangga berani mengeluarkan uang yang banyak untuk keperluanya, mungkin jika di total sekitar 3 bulan gajinya," batin Sakina.
Hari yang mendebarkan sudah tiba, bukan hanya Arjuna, tapi Rangga dan Sakina juga ikut nervous.
Sejak sore hari, Sakina sudah di persiapkan, Rangga sampai menyewa hair staylis dan make up khusus untuk nya.
Persiapan sudah matang, Rangga masih masih menunggu Sakina yang di make over, sebenar nya Sakina tak perlu di make over, wajah nya sudah sangat cantik, tapi berhubung Rangga ingin wajah Sakina terlihat terlihat dewasa, agar sebanding denganya, maklum saja di usia yang ke dua puluh tahun, wajah Sakina masih terlihat seperti remaja, mungkin karna prilaku nya sendiri.
Sakina pun keluar dari kamar, ada rasa puas dari hati Rangga,karna melihat Sakina sekarang, sesuai dengan keinginan nya.
__ADS_1
"Ayo Sakina kita berangkat sebelum terlambat, " Rangga meminta Sakina untuk berjalan dan bergandeng dengan nya.
"So sweet, pasangan serasi," ucap mereka yang melihat pemandangan tersebut, sang nyonya yang melihat pun tersenyum sinis sambil memicing kan matanya.