Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Cinta sampai mati


__ADS_3

Aisyah sudah bersemangat untuk pergi ke dokter kandungan, iya di temani kedua orang tua nya, dan suami nya.


Di dalam mobil.


"Rie, kok Bapak ngak pernah lihat mobil kamu ?" tanya Pak Herman.


Arie diam sejenak, sebenar nya iya tak ingin mengungkit nya, tapi karna yang bertanya adalah mertua nya, Arie pun tak mungkin berbohong.


"Sudah Arie jual Pak," jawab Arie.


"Sudah Bapak duga Rie, kamu pasti menjual mobil mu, untuk pengobatan Aisyah kan ?"


Arie diam tak menjawab, iya tak ingin Aisyah kecil hati.


"Rie, Bapak kan sudah bilang, semua biaya Aisyah bapak yang tanggung, tapi kenapa kamu sembunyi dari Bapak Rie, dan kemaren waktu bapak mau membayar nya di rumah sakit, kasir nya malah bilang sudah di lunasi sama kamu," tambah Pak Herman.


"Aisyah itu tanggung jawab Arie pak, dan Arie ngak mau ngerepotin Bapak," ujar nya.


"Rie, Aisyah itu memang istri kamu, tapi iya juga anak Bapak, dan kita sudah berjanji bahwa segala pengobatan Aisyah bapak yang tanggung."


Arie hanya diam tak menjawab.


"Rie, kamu sudah tidak bekerja lagi kan?" tanya Pak herman.


Aisyah ikut terkejut mendengar kata-kata Bapak nya, tapi iya tak ingin membuka suara nya, iya berlaga seolah sudah tahu tapi sebenar nya Arie tak pernah memberitahu nya.


"Iya Pak, Arie sekarang ngojek karna Arie sudah mengundur kan diri dari tempat kerja Arie sebelum nya," ucap Arie.


"Tapi kenapa Rie,?"


"Arie sebelum nya mendapat surat peringatan Pak, karna terlalu lama ijin kerja, dan Arie di suruh sama bos untuk mengawasi proyek di luar kota, dan Arie ngak bisa, Arie ngak bisa meninggal kan Aisyah terlalu lama," papar Arie.


"Rie, lain kali kalau ada masalah atau kamu butuh sesuatu kamu bilang Rie, Bapak ini orang tua kamu sekarang Rie, kamu ngak perlu sungkan," ujar Pak Herman.


"Iya Pak" jawab Arie singkat.


Pak herman sebenar nya kagum akan sikap Arie yang bertanggung jawab, namun iya tak ingin terlalu membebani Arie.

__ADS_1


Aisyah memeluk lengan Arie, iya merasa bahagia karna Arie rela berkorban untuk nya.


**


Tiara membantu mengemaskan baju Riki dan memasukan nya kedalam koper, karna hari iya akan berangkat keluar kota.


"Kamu berapa hari di luar kota?" tanya Tiara.


"Paling lama seminggu kalau ngak kangen sama kamu," ucap nya menggoda.


Mas, aku ajak Syntia ke sini ya nemani aku."


"Terserah kamu sayang, kenapa ngak tidur di rumah Mama aja sih?"


"Aku males kalau di sana slalu di tanyain hamil ngak, sudah hamil belum."


"Ya udah, kamu jaga diri aja, sebenar nya aku berat ninggalin kamu sendiri, tapi klau kamu ikut, paling kamu di sana juga be-te nunggu seharian di hotel."


"Iya Mas, kalau di sini kan aku masih bisa jalan-jalan, belanja dan main ke rumah teman."


"Iya Mas, hati-hati. I love you."


"I love you too."


***


Aisyah tersenyum melihat gambar janin nya, Arie pun menghampiri dengan membawa sepiring nasi untuk makan siang nya.


Namun tiba-tiba Arie melihat ada butiran air mata jatuh menetes di pipi nya.


"Kamu kenapa Aisyah ?"


Aisyah pun menghapus air mata nya, "Aku hanya terharu Mas, di usia yang masih muda aku sudah mendapat kan begitu banyak kebahagian, aku menikah dengan orang yang ku cintai dan saat ini aku sedang mengandung bayi laki-laki yang sehat, Meski aku tahu aku tak akan lama merasakan kebahagian itu."


"Aisyah, jangan bicara seperti itu, kita akan besar kan anak kita bersama."


"Tapi itu seperti nya ngak mungkin Mas, sebentar lagi, aku akan pergi dari dunia ini Mas," ucap Aisyah lirih.

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu Aisyah, Aku takut jika harus berpisah dengan mu Aisyah, jangan pergi tinggalkan aku Aisyah. Suara Arie semakin lirih, Iya kemudian memeluk Aisyah.


Aisyah seperti nya merasa bahwa waktu nya tak akan lama lagi, iya tetap memeluk Arie


"Mas, jika kau lebih dahulu masuk ke dalam surga, mau kah kau menunggu ku di sana?" tanya Aisyah dengan suara lirih.


Arie hanya diam sambil memeluk erat istri nya,dan Aisyah tak ingin melepaskan nya, seolah iya merasa waktu nya semakin dekat saja.


"Aku memang tak banyak waktu di dunia ini Mas, untuk bersama mu, dan aku hanya bisa menyusah kan mu saja Mas, Aku sangat ingin menjadi seorang istri yang melayani mu dalam segala hal."


"Terima kasih Mas, karna kau tak pernah mengeluh kan keadaan ku, Dan satu hal yang selalu ku pinta di setiap doa ku, agar tuhan mempertemu kan aku dengan mu di sana."


"Aku hanya ingin menjadi istri mu di dunia ini dan di akhirat, aku berharap bisa melayani dan membalas kebaikan mu yang tak bisa ku balas di dunia, aku ingin selama nya bersama mu di sana, tak peduli berapa pun banyak istri yang kau miliki di sana," tutur Aisyah dengan deraian air mata.


"Boleh kan Mas, ?" tanya Aisyah .


Arie tak lagi bisa memendung air mata nya, iya pun menangis di pelukan Aisyah tak terbayang betapa besar cinta Aisyah pada nya.


"Jangan memancing emosi Mas Arie, Aisyah, karna selama nya kita akan bersama, tunggu lah Mas Arie di sana Aisyah dan kita akan bersama selama nya di sana."


"Bagi Mas Arie kau lah bidadari Mas Arie, baik di dunia dan di akhirat."


Mereka pun saling memeluk dan saat itu Aisyah merasakan sakit yang luar biasa di kepala nya dan akhir nya iya pun pinggsan di pelukan Arie.


Arie berusaha membangun kan Aisyah, "Aisyah bangun Aisyah." Arie membangun kan Aisyah dengan panik.


Karna Aisyah belum sadar, iya pun membawa Aisyah ke rumah sakit.


Di rumah sakit Aisyah langsung mendapat kan perawatan karna keadaan nya sudah darurat dan iya pun harus menjalani operasi.


Dengan sangat terpaksa Arie pun menandatangani surat pernyataan operasi cesar pada Aisyah.


Jika tidak di lakukan dengan segera maka Ibu dan bayi nya tak akan selamat.


Arie jatuh dalam keterpurukan nya, iya kembali ingat akan kata-kata, Aisyah. Aisyah sudah masuk di ruang operasi dan Arie terus mondar-mandir dengan gelisah, sesekali iya memohon doa untuk Istri dan anak nya yang sedang bertaru nyawa.


Berkali-kali iya coba menghapus air mata nya, dan berusaha membendung nya.Arie semakin gelisah dan iya semakin tak harus bagaimana.

__ADS_1


__ADS_2