Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Season 2 episode 34


__ADS_3

SEPERTI AIR YANG MEMADAMKAN API, BEGITULAH CINTA, YANG MAMPU MENGUBAH DENDAM MENJADI SAYANG.


Arjuna bangkit dari tidurnya, hari panjang dan melelahkan, tapi cukup untuk membuatnya berfikir, dunia ini terlalu indah untuk di ratapi, tak perlu terus bersedih, tak perlu harus tertekan, semua masalah pasti ada jalan keluarnya.


Setelah sempat terpuruk dan terperangkap pada cinta terlarang, Arjuna kini bangkit menjadi sosok baru, penuh semangat dan gairah, apalagi kini ia bisa berbagi tugas dengan Raka dan Rangga.


Arjuna juga tak perlu mengurusi Raka dan Sakina lagi, masing-masing mereka sudah bersama dengan pasanganya.


Its me time, ia pun masuk ke kamar mandi, Arjuna melantunkan lagu cinta, dengan judul Arjuna mencari cinta, karya Dewa, sesaat ia tertawa geli, lagu itu sama persis dengan yang dialaminya saat ini.


Arjuna keluar dari kamar mandi, kini ia berada di depan cermin dan hanya menggunakan handuk, ia menatap bayangan dirinya pada cermin.


"Ternyata aku ganteng juga," ucap nya pada diri sendiri, ia pun tersenyum.


Arjuna memang sosok yang sempurna, ketampanan ayahnya dan kecantikan ibunya semua menyatu dan di warisi langsung olehnya.


Mata yang sedikit sipit dengan iris yang berwarna coklat, dengan hidung yang sejajar, tak terlalu mancung tapi pas untuk ukuran orang indonesia, dengan bibir yang tak terlalu tebal, juga tak terlalu tipis, namun membentuk lukisan sempurna di wajahnya.


Arjuna adalah gabungan rasa cinta yang sempurna dari kedua orang tuanya, punya ayah yang ganteng, dimana ia banyak membuat hati wanita terpikat dan tergila-gila, begitu juga ibunya, seorang wanita dengan kecantikan di atas rata-rata, tak heran Arjuna seperti malaikat yang berjalan, hanya saja beberapa waktu yang lalu, ia begitu tertekan dengan keadaanya, hingga mampu menutupi kesempurnaan yang ia miliki.


Arjuna sudah siap dengan kemeja putih dan stellan jasnya, ia tampak keren dengan model rambut terbaru, untuk menstaylis rambutnya saja, ia hampir menggunakan separuh gel rambut Raka, yang tertinggal di kamarnya.


Setelah yakin akan penampilanya, ia pun keluar.


Arjuna menuju meja makan, di sana sudah ada Evelyn, yang membuatkan susu untuknya dan Raka.


Melihat perubahan Arjuna, timbul rasa usil di hati Evelyn.


"Suitt, suitt," Evelyn bersiul, sambil melirik ke arah Arjuna, Arjuna hanya tersenyum, karna Evelyn pasti lagi menyentilnya.


"Amazing, kau keren sekali Arjuna, aku hampir menyesal tak memilih mu," canda Evelyn.


"Apa kalian belum puas membully ku semalam?" tanya Arjuna.


"Oh, perubahan mu ini karna, karna pembully yang mereka lakukan semalam, bagus jika kau sadar," Evelyn tersenyum sambil meletakan segelas susu di hadapan Arjuna.


"Kemana Raka?"tanya Arjuna.


" Entalah, dari tadi ia mencari krim rambutnya." jawab Evelyn.

__ADS_1


Arjuna hanya tersenyum, karna cream rambut Raka, ada di kamarnya.


Tak lama kemudian, Raka turun dan menghampiri mereka, Raka pangling melihat perubahan pada Arjuna.


"Wah pantas saja, krim rambut ku habis, ternyata kau yang mengguakanya," ujar Raka.


"Kak, kau punya banyak duit, kalau mau bergaya, modal sedikit lah," canda Raka.


"Bukanya ngak mau beli, aku tak tahu, produk mana yang bagus, dan biasa kau pakai," jawab Arjuna asal.


"Ah Kak, krim rambut saja kau tak tahu, kebanyakan bergaul dengan nyonya-nyonya sih, jadi kau hanya tahu minyak angin untuk kerokkan," canda Raka, mereka pun tertawa.


Pagi ini kantor pusat Radja Prawira, tak seperti biasa, hari ini, perusahaan yang bergerak di bidang industri makanan dan alat rumah tangga ini, sedang membuka lowongan pekerjaan.


Biasanya kantor ini tak bisa di masuki sembarang orang, kali ini justru banyak orang yang hilir mudik, untuk melakukan tes wawancara atau sekedar mengantar CV mereka.


Kesempatan ini di manfaat kan langsung oleh Alena, ia memasuki kantor dengan santai, ia juga membawa amplok coklat, selayaknya orang yang sedang melamar kerja.


Dengan penampilanya sekarang, tak akan ada yang mengenali Alena, wanita yang hampir berusia lima puluh tahun ini, memang tampak seperti wanita berusia separuh dari umurnya saat ini.


Dengam perawatan dan operasi plastik, semua akan terlihat sempurna lagi, Alena melakukan operasi plastik tak hanya untuk mengelabui identitasnya, selain karna ia dan suami nya buronan internasional, penampilanya juga untuk menarik lawan jenis, ia senang kencan dengan pria-pria muda, sebagai pemuas hasratnya, mungkin karna terlalu sering mengkomsumsi barang haram, Alena yang berusia paruhbaya itu pun, masih mempunyai hasrat yang kuat terhadap lawan jenisnya.


Ia berjalan santai melewati anak tangga, meski di kantor itu ada lift nya, karna ia sendiri tak tahu di mana ruangan CEO, Alena mencari keberadaan Arjuna, rasa sakit hatinya pada Riki dan Tiara, akan ia tumpaskan pada Arjuna.


Alena masih celingat-celungut, sambil melihat-lihat setiap sudut ruangan yang ada di hadapanya, berharap dapat petunjuk, di mana ruangan CEO berada.


Tanpa sadar, ia menabrak seseorang dan membuat berkas dan amplok nya jatuh, saat itu Alena bertabrakan dengan Arjuna, seseorang yang di carinya.


Wajah Alena kini tepat berada di hadapan Arjuna, Arjuna tersenyum kearahnya,


"Maaf nona, aku tak melihat mu," tangan Arjuna masih memegang tubuh Alena, agar tak jatuh.


Seketika jantung Alena berdetak kencang, ia seperti melihat sosok Riki kini berhadapan denganya.


Arjuna melepaskan peganggan tanganya, karna kini Alena telah berdiri tegak.


"Eh, kau tak apa-apa kan?" tanya Arjuna heran yang melihat Alena yang terlihat syok.


Alena hanya tersenyum tipis, dan menggangguk, Arjuna pun berlalu.

__ADS_1


Alena tak percaya dengan apa yang di lihatnya, pria itu mirip sekali dengan Riki, senyumannya, tatapan matanya, dan lirikan matanya, sama persis seperti Riki, begitu pun cara bicara dan berjalanya.


Alena tersentak dari lamunanya, ketika ada suara berdehem di belakangnya.


Ehm, suara di belakang Alena, ia pun menoleh.


Seorang pria sedikit kaget, ketika Alena memutar tubuhnya, dan kini berhadapan langsung denganya.


"Wah Cantik," ujar pria tersebut, yang ternyata adalah Leo.


Alena melempar senyum kearah Leo, ia tak senang dengan kehadiran Leo, namun coba di tutupi.


"Ada perlu apa kemari, seperti nya aku baru melihatmu, kau bukan karyawan di sinikan?" tanya Leo menyelidik.


"Ia aku mau keruangan CEO," jawab Alena tegas, karna ia terbiasa menghadapi situasi seperti ini.


"Ada perlu apa mencari Pak Arjuna ?" tanya Leo kembali.


Ternyata benar, Arjuna adalah CEO di sini, batin Alena.


Aku hanya ingin mengantar surat lamaran ini, jawabnya tenang.


Leo tertawa kecil, kalau mau melamar kerja, bukan di sini, tapi di bagian HRD, tambah Leo.


"Oh begitu, aku tak tahu," jawab Alena seolah tak tahu.


"Kalau gitu, ku antar kau kesana," Leo pun membawa Alena menuju kantor HRD.


"Maaf apa aku boleh bertanya?" Alena.


"Siapa pria ganteng yang tak sengaja ku tabrak tadi?" Alena.


"Oh, itu Pak Arjuna, CEO di sini," jawab Leo santai.


Benar dugaan ku, ternyata ia adalah Arjuna, batin Alena.


"Kenapa kau tertarik ya? tapi lebih baik tak usah, lebih baik kau tertarik pada ku, aku masih jomblo loh." Leo menawarkan dirinya, ia tak tahu perempuan yang di sampingnya kini, adalah perempuan berbisa.


Setelah tiba di lantai satu, Leo pun mengantar Alena di depan ruang HRD, setelah itu ia, kembali menemui Arjuna.

__ADS_1


Setelah pertemuan dengan Arjuna, ada rasa tak biasa di hatinya, Alena merasa gelisah, entah kenapa ia ingin kembali menemui Arjuna, tapi kali ini bukan karna dendam yang ada di hatinya.


Alena tersenyum sendiri di depan cermin, sambil mengingat wajah pria yang di tabraknya tadi pagi.


__ADS_2