Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Arjuna sakit


__ADS_3

Riki turun dari tangga dan langsung di sambut hangat oleh mama.


"Riki gimana dengan anak nya tante indry? mama dan tante indry sudah mengatur pernikahan kalian." tutur mama dengan penuh semangat.


"Apa Ma? " tanya Riki kaget.


"Pernikahan?"


"Ma, jika mama memang mengingin kan cucu, Mama tinggal bawa empat atau lima orang wanita kehadapan Riki, biar Riki hamilin semua," ucap Riki santai.


"praaaak" tamparan mama.


"Bisa-bisa nya kamu ngomong seperti itu, pada Mama mu sendiri Riki," dengan suara tinggi Mama membentak.


"Mama hanya ingin melihat kamu bahagia, bukan keluyuran setiap malam, mama juga tersiksa melihat kamu seperti itu."


"Mama kalau mau cari jodoh buat Riki, jangan seperti anak tante indry Ma," ujar Riki.


"Kenapa, dia cantik, baik, dan dari keluarga terhormat, lalu kamu mau yang gimana lagi?" tanya Mama masih emosi.


"Terhormat, wanita terhormat ngak akan mau menyerahkan tubuh nya, pada lelaki yang baru di kenal nya Ma,"


"Prak" kembali Riki di tampar mama dengan keras.


"Dasar kamu nya saja Riki, buaya, bejat kamu," hardik mama.


"Mama selalu nyalahin Riki, kucing kalau di kasi ikan, ya ngak nolak," jawab nya santai.


Prak..prak.., kembali di tampar.


"Mama malu punya anak seperti kamu," masih dengan emosi.


Riki pun emosi karna merasa terus di sudut kan.


"Terserah Ma, atur saja, seperti apa pun keputusan yang Riki ambil, selalu salah di mata mama, dan di mata orang." Bentak Riki.


Riki langsung pergi meninggal kan Mama.


Riki sampai di kantor nya dan langsung bertemu Arie.


"Muka kamu kenapa Mas, kok kusut seperti itu?" tanya Arie sambil tertawa cekikikan.


"Habis di gampar mama ku Rie," jawab nya jujur.


Arie semakin mentertawakan Riki,


"Kamu sih Mas nakal, jadi di gampar deh," ledek Arie, iya tertawa kembali karna melihat wajah ganteng Riki yang sedikit memerah.

__ADS_1


"Masih mau tertawa kamu Rie?" tinggal pilih saja rumah sakit atau kuburan," ujar Riki kesal tapi sambil bercanda.


Sementara Arie letih menahan tertawa nya.


"Rie, sebentar lagi ada Bu Margaret yang akan datang kemari, jadi aku mau proyek ini kamu tangani langsung, dari mengukur dan merancang bangunan nya, sampai konstruksi dan bahan nya kamu yang tentuin sendiri, biar aku tahu kemampuan kamu sampai di mana, jika kamu butuh sesuatu kamu bisa tanya aku langsung."


"Baik Mas," ucap Arie.


Pukul sepuluh pagi, mereka bertemu dengan Bu Margaret, ternyata Bu Margaret seorang wanita cantik dan seksi.


"Halo Pak Riki," sapa Margaret sambil berjabat tangan.


"Halo juga Bu, apa kabar?", sapa Riki.


"Selalu Baik, Pak," ucap nya sambil menyungging kan senyum.


"Perkenal kan ini Arie, iya yang akan mengurusi semua proyek Bu Margaret,"


Riki.


Mereka pun berjabat tanggan.


"Silah kan duduk kita mulai saja,"Riki


Mereka pun mengobrol membicarakan bisnis mereka, sementara Arie hanya jadi pendengar setia.


Margaret seperti nya terrarik pada sosok Arie yang diam, wanita 35 tahun itu, memang senang dengan brondong segar seperti Arie, apalagi Arie terlihat lugu saat itu, dan Margaret semakin gregetan saat Arie tak sengaja melempar senyum ramah kearah nya.


Sebenar nya, sosok Riki lebih ganteng, lebih kekar, tapi Margaret, tak menyukai hal itu, iya lebih suka bermain dengan hal yang baru seperti Arie, Akan jadi sangat menantang jika bisa menaklukan pria pemalu seperti nya, batin Margaret.


Setelah selesai meeting , Margaret mengajak mereka makan siang bersama, lagi-lagi Margaret, terus mencuri pandang kearah Arie.


Dan Riki yang menyadari hal itu, hanya tersenyum," Aduh si Arie seperti nya bakalan jadi santapan Margaret, nih," batin Riki.


"Jadi Pak Arie, besok kita langsung menuju lokasi nya, dan karna saya sudah mengantongi ijin, saya ingin proyek itu cepat terlaksana, saya ingin lihat potensi Pak Arie, jika memuas kan, bukan tak mungkin saya dan infestor akan memilih Pak Arie sebagai konsultan di proyek saya yang ada di Batam," ujar nya.


"Wah aku jadi ada saingan nih...," canda Riki.


"Insyaallah Bu," jawab Arie singkat.


***


Keesokan hari nya.


Arie sudah siap untuk berangkat, Tiara membereskan baju dan barang yang akan dibawanya.


"Berapa lama Yah, pergi nya?" tanya Tiara.

__ADS_1


"Ngak tahu Bun, jika sudah selesai Ayah langsung pulang Bun, Ayah kan ngak kuat harus lama-lama jauh dari kalian."


"Bisa aja Yah, "ucap Tiara sambil mengancingkan kemeja Arie.


"Barang Ayah sudah siap semua Bun?"Arie


"Sudah semua Yah" Tiara


"Ayah berangkat ya Bun, jangan nakal ya Bun, jaga anak-anak kita, jika pergi keluar rumah, pakai baju yang sopan, baju tidur jangan dipakai keluar rumah." Pesan Arie


"Banyak banget Yah pesanan nya, ngak dicatat aja yah, biar bunda ngak lupa," sindir Tiara.


"Perasaan dulu ngak bawel kayak gini deh,"Tiara


"Dulu kan lain Bun, dulu Ayah ngak berhak melarang Bunda, sekarang kan Ayah punya hak penuh sama bunda."Arie.


"Siap Yah."Tiara.


Arie pun mencium kedua anak nya lekat,


"Aziz jaga bunda dan dedek ya Nak," pesan nya pada anaknya.


Iya pun mencium Arjuna dan Arjuna langsung nangis minta di gendong Arie, maklum saja, karna setiap pagi Arie selalu menyempat kan diri untuk membawa kedua putranya jalan-jalan pagi, tapi seperti nya Arjuna ngambek, karna hari ini Arie absen membawanya jalan.


Arie pun sudah di depan rumah iya kembali mencium Tiara, "Jangan tinggalin Sholat Bun," pesan nya lagi.


"Iya yah, hati-hati ya, jangan sampai kecantol janda di sana ya Yah," canda Tiara.


"Ngak lah Bun, Ayah cuma cinta sama kamu kok," jawab nya, kemudian Arie berlalu.


Sore hari nya,


Tiara bermaksud untuk memandi kan Arjuna setelah iya bangun Tiara, tapi saat bangun, Arjuna malah menangis dan saat di rasa badan Arjuna terasa panas.


"Aduh Arjuna kok demam sih Nak," ujar nya sedikit panik.


"Mana Ayah ngak ada lagi," ujar nya pada diri sendiri.


Tiara kemudian memberi obat penurun panas.


Tiara ingin memberitahu Arie tentang keadaan Arjuna, tapi iya takut Arie jadi khawatir dan menunda pekerjaan nya.


"Ah mungkin besok juga sudah reda," batin Tiara.


Setelah dua hari Arjuna belum sembuh juga, bahkan tubuh nya semakin panas, iya mengukur suhu tubuh Arjuna, ternyata suhu tubuh nya mencapai 39 derajat celcius.


Tiara semakin panik, iya mencoba untuk menghubungi Arie, tapi tak tersambung, mungkin di sana susah sinyal, pikir nya.

__ADS_1


Tiara semakin gelisah, tak kala Arjuna juga tak mau menyusu, apalagi makan, iya bahkan tak mau lepas dari gendongan Tiara.


Tiara pun memutus kan untuk membawa Arjuna kerumah sakit, mengingat sudah tiga hari Arjuna demam.


__ADS_2