
*** Bila cinta tak lagi untukku, bila hati tak lagi pada ku, mengapa harus dia yang merebut dirimu.
Rangga kembali menemui Sakina, saat itu sedang berada di luar ruangan Arjuna, Rangga menarik pelan tanggan Sakina.
"Ada apa semua ini Sakina?" tanya Rangga.
"Apa sebenarnya hubungan mu dengan Arjuna?"
"Kenapa kau menciumnya seperti seorang kekasih?" tanya Rangga bertubi- tubi, seraya menatap lekat mata Sakina.
Sakina sedikit kaget, "Kak Juna dia...," kata-kata Sakina terhenti, terlihat keraguan pada nya untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
"Katakan sejujurnya Sakina?" Rangga semakin dalam menatap Sakina.
"Kak Juna punya perasaan cinta terhadapku Mas," jawab Sakina lirih.
"Apa maksud mu, perasaan seperti apa maksud mu?" tanya Rangga tak yakin.
"Perasaan dari seorang pria terhadap wanita, maksud ku...," Sakina sulit untuk memaparkanya.
"Arjuna mencintai mu, seperti aku mencintaimu," ungkap Rangga, matanya tak beranjak, ia tetap menatap Sakina tajam.
"I..i..ia Mas," jawab Sakina gugup.
"Tapi kenapa bisa Sakina, kalian itu bersaudarakan, dan kenapa kau tak pernah cerita pada ku." Rangga sedikit emosi.
"Aku tak punya kesempatan untuk bercerita pada mu, karna Kak Juna melarang ku bertemu dengan mu," jawab Sakina.
"Pantas saja sikap Arjuna berubah terhadapku." ujar Rangga.
"Sakina kau tak boleh terlalu dekat dengan nya, itu sama saja memupuk rasa cintanya terhadap mu."
"Aku tak bisa jauh dari nya, saat ini dia membutuhkan ku, dan maaf Mas Rangga, aku harus membatalkan pernikahan kita," ungkap Sakina.
"Apa? tapi kenapa Sakina?" Rangga emosi.
"Karna aku tak ingin mengecewakam Arjuna, aku takut Kak juna akan melakukan hal nekat lagi, seperti merokok berlebihan dan minum alkohol lagi, sedangkan Arjuna sekarang hidup dengan hanya dengan satu ginjalnya ," papar Sakina, ia pun menanggis.
"Tapi itu salah Sakina, Arjuna tak boleh punya perasaan itu terhadap mu, kita pikirkan cara untuk menyelesaikan masalah ini sayang, dengan bersama kita pasti bisa mengatasinya, kau percaya pada ku sakina?" tanya Rangga, kedua tangganya tetap memegang bahu Sakina.
"Bagaimana caranya Mas?" tanya Sakina.
"Nanti kita pikirkan bersama Raka dan Evelyn, kita semua harus bekerja sama, kita buat agar Arjuna bisa melupakan perasaanya terhadap mu, kita pinta Mas Aziz, untuk mencarikan Arjuna jodoh secepatnya."
"Tapi Mas, bagaimana dengan kontrak Kak Juna dengan keluarga Evelyn."
"Kita suruh Evelyn membujuk orang tuanya, agar membatalkan kontraknya," dengan Arjuna.
"Apa kau yakin Mas?" Sakina ragu.
__ADS_1
"Yakin sayang"
"Baik lah Mas, tapi untuk sementara aku minta pengertian mu, jaga sikaf mu di depan Kak Juna, agar ia tak cemburu, aku tak ingin sesuatu terjadi lagi pada nya, Kak Juna sudah banyak menderita, sudah banyak yang ia korbankan, aku hanya ingin mendukung nya saat ini."
" Ia Sayang, tapi kalau di belakang Arjuna, kita boleh kan bermesraan?" tanya Rangga sambil merangkul Sakina.
"Ngak boleh juga, belum halal," ujarnya sambil mencolet hidung Rangga.
***
Sementara itu di ruang perawatan Raka.
"Sayang bagaimana keadaan Kak Juna ?" tanya Raka.
"Sudah siuman, kamu tenang saja, sayang, di sana ada Sakina dan Rangga yang menjaga Arjuna." Evelyn.
"Kenapa aku tidak di biarkan mati saja, seumur hidup aku tlah menyusah kan Kakak ku, harusnya aku sudah mati saat ini," ucap Raka lirih.
"Jangan bicara seperti itu, jika kau mati, maka kematian mu, akan menjadi alasan kematianku, " ujar Evelyn sedih.
"Kenapa kau tak meminum obat mu, sayang, apa kau sengaja ingin pergi dari ku? " tanya Evelyn yang kecewa.
"Bukan begitu sayang, ku pikir jika aku mati, kau bisa menikahi Arjuna, dan Kakak ku juga pasti akan melupakan perasaanya pada Sakina, aku sangat tahu Kak Juna, sangat menderita saat ini, ia tak bisa menjalin hubungan dengan wanita lain karna terikat kontrak dengan Ayah mu kan, Ayah mu seperti menjebak Kakaku, ia seperti memenjarakanya, sementara kita di sini duduk dengan santai, mengumbar kemesraan di sana-sini, semua karna pengorbanan Kak Juna, Aku ingin mati karna aku tak ingin menyusahkanya lagi," turur Raka sedih.
"Kau tenang saja sayang, masalah itu sudah ku pikir kan, aku sendiri yang akan meminta pada Deddy ku untuk membatalkan kontraknya, segala cara akan ku lakukan, demi membebaskan Arjuna, bagaimana pun aku berhutang nyawa pada Arjuna, ia bahkan rela mengorbakan kan ginjalnya untukmu, akan ku buat Arjuna terbebas dari semua tuntutan Dedy ku," ucap Evelyn yakin.
Evelyn tertawa kecil, "Kau tak perlu khawatir sayang, mereka itu orang tua ku, mereka tak mungkin menyakiti ku, percaya lah, kali ini kau bisa mengandalkan ku," ucap Evelyn yakin.
"Ia aku percaya sayang," ucap Raka, ia pun mencium bibir Evelyn.
"Terima kasih sayang," ucapnya
Sakina dan Rangga kembali kekamar Arjuna, Sakina langsung menghampiri Arjuna yang sepertinya mencari keberadaanya,
"Dari mana saja kamu?" tanya Arjuna yang menatap tajam kearah Sakina dan Rangga,
"Lagi cari anggin Kak, sekalian cari makanan ringan, Kak Juna mau?" tanya Sakina, sambil menunjukan bungkusan plastik yang memang di bawakan Rangga.
Sementara Rangga hanya diam di sofa, ia begitu risih di perhatikan oleh Arjuna, mata Arjuna, seolah selalu mengawasinya.
"Waktu nya minum obat, sekarang Kak Juna makan dulu," ujar Sakina, ia pun menyuapi Arjuna.
Kali ini giliran Rangga yang jealos,
Aku saja calon suaminya, ngak pernah di suapi, batin Rangga, ia pun menatap tajam kearah Arjuna.
Entahlah, sejak ia mengetahui perasaan Arjuna terhadap Sakina, Rangga merasa cemburu, padahal sebelumnya ia tak pernah merasakan hal seperti itu.
Setelah Arjuna tidur, barulah Sakina datang pada Rangga.
__ADS_1
"Sakina berbaring di pangkuan Rangga, Apa aku harus menyaksikan adegan seperti ini setiap harinya sayang?" tanya Rangga yang kala itu membelai rambut panjang Sakina.
"Sabar dong Sayang, jika sudah waktu nya nanti, aku juga akan jadi milik kamu," Sakina pun bangkit dan mencium pipi Rangga, tapi di balas dengan ******* lembut di bibir Sakina.
"Tuh kan mulai nakal lagi," Sakina pun mencubit mesra perut Rangga.
"Sayang dari pada nganggur, mending di manfaatin saja," tukas Rangga, yang langsung menyambar bibir Sakina lagi.
Setelah saling ******* mesra, Sakina pun menarik dirinya dari cengraman Rangga.
Ia kemudian menyandarkan kepala nya ke bahu Rangga.
Rasanya beda sekali, saat melakukanya dengan perasaan cinta dengan perasaan terpaksa,
Rasanya menjijikan jika harus bercumbu pada saudara sendiri, tapi apa boleh buat, jika seperti itu, yang bisa membuat Arjuna kembali bersemangat, ia harus melakukanya meski dengan sangat terpaksa, mengingat semua itu, Sakina pun meneteskan air matanya.
Satu sisi ia merasa iba dengan Arjuna, di sisi lainya, ia merasa jijik untuk menjalani sandiwara ini, yang entah kapan harus berakhir, Rangga benar, semua ini harus segera di akhiri, apapun yang terjadi, ia tak boleh lagi melakukannya pada Arjuna, ini sama saja menyimpan bom waktu, yang akan menghancurka ia dan Arjuna.
Setelah seminggu perawatan, baik Raka dan Arjuna sudah di perbolehkan untuk pulang.
Raka harus tetap meminum obat, seumur hidupnya, sedangkan Arjuna, ia harus menjaga pola makan, istirahat dan olah raga yang teratur, tentu saja ia tak lagi di perboleh kan merokok dan mengkomsumsi Alkohol.
Sakina berdiri di balkon rumahnya, pernikahan tinggal dua minggu lagi, tapi dirinya belum memberi tahu Arjuna, Arjuna hanya tahu, jika pernikahan mereka di batalkan.
Sakina semakin takut untuk berkata jujur, kepada Arjuna, ia takut jika Arjuna mengetahuinya, ia akan kecewa dan kembali merokok dan mengkomsumsi alkohol.
Arjuna yang melihat Sakina berada di balkon, ia pun mendekatinya.
"Apa kau sedang memikirkan pernikahanmu dengan Rangga, Sakina?" tanya Arjuna.
"Ngak kok Kak," Sakina gugup menjawab pertanyaan Arjuna.
Arjuna mendekati Sakina," Tak usah berbohong Dek, Kak Juna paham, kau dan Rangga tetap akan menikah, tak ada yang akan menghalangi cinta kalian, Kakak juga yakin Rangga adalah orang yang tepat untuk mu," ujar Arjuna.
"Jadi Kakak tetap merestui pernikahan kami?" tanya Sakina yakin.
"Tentu saja, kau sudah dewasa, memang seharusnya kau menikah, dan itu adalah tanggung jawab ku sebagai Kakak mu," ucap Arjuna.
Sakina pun memeluk Arjuna," Terima kasih Kak," ucap Sakina terharu, sekarang ia dan Rangga tak perlu main kucing-kucingan lagi.
Dan Arjuna pun sadar, ia harus bisa menghilangkan perasaanya, karna memang sudah seharusnya.
Arjuna kembali kekamarnya, Arjuna kekamar mandi dan melakukan wudhu, setelah itu ia pun sholat sunat.
Arjuna merasa jika semua permasalahan sudah tak mampu ia tangani, maka jalan satu-satunya, adalah menyerahkan nya kembali kepada tuhan.
Arjuna melakukam sholat sunah taubat, ia pun menangis, dan menyesali perbuatannya. selama ini, ia terlalu menuruti hawa nafsunya, hingga lupa ada jalan kembali, dan satu-satunya jalan kembali adalah mendekatkan diri nya kepada Tuhan, dengan begitu hatinya akan menjadi tentram.
Setelah melakukan sholat, Arjuna pun mengakui dosa-dosanya kepada sang pencipta, air mata deras mengalir, pertanda ia bersungguh-sungguh dalam tobatnya.
__ADS_1