
Sakina terbangun ketika mendengar suara Azan di Aplikasi handpone Rangga, saat sadar, ternyata iya berada di pangkuan Rangga.
Rangga terjaga semalaman sambil memangku kepala Sakina, meski beberapa kali terlelap, namun tetap saja posisinya sekarang, tak nyaman untuk tidur nyenyak, namun Rangga tetap saja rela, memangku kepala Sakina, hal yang paling indah adalah, saat kau bisa menjadi manfaat untuk orang yang kau cintai.
Semakin lama bersama Sakina, Rangga semakin sadar, bahwa iya memang membutuh kan pendamping hidup.
Sakina pun bangun dan duduk di samping Rangga, di lihatnya wajah Rangga lesu, mungkin karna begadang semalaman.
"Kenapa aku ada di sini Pak, tidur dan berpangku pada mu?" tanya Sakina heran.
"Semalaman aku memangku mu, dan aku senang bisa melakukanya," ucap Rangga sambil tersenyum penuh arti.
Sakina tertunduk malu, ia sendiri heran, kenapa ia bisa sedekat ini dengan Rangga, apalagi ia ingat saat Rangga menarik tubuh nya dan merebahkanya di dada Rangga, ia sama sekali tak menolaknya, padahal ia dan Rangga tak punya hubungan apa pun.
Sakina pun membuyarkan lamunannya, entah kenapa ia jadi malu saat berhadapan dengan Rangga, padahal sebelum nya, perasaan nya biasa saja.
"Pak, kau pasti lelah, tidur lah," Sakina mengambil bantal yang ada di tempat tidur Arjuna.
Rangga hanya tersenyum, Rangga kemudian menuju kamar mandi untuk berwudhu, setelah itu ia menunaikan sholat subuh, menjadi imam dan Sakina menjadi makmum nya, mereka sholat di ruangan Arjuna..
Ya, Rab ku jika memang ia adalah jodoh yang terbaik bagi ku, satukan lah kami, dalam sebuah ikatan pernikahan yang suci, dan berikanlah kemudahan bagi ku, untuk memilikinya, Amin .(Doa Rangga di sujud terakhirnya)
Hari sudah pagi, dan terlihat Leo sedang menghampiri mereka, sedangkan Sakina sedang menyuapi Arjuna bubur.
"Kau tampak lesu sekali Leo," Rangga melihat wajah Leo yang tampak sayu, mungkin ia semalaman tak bisa tidur, karna harus menjaga Raka dan menemani Evelyn.
"Ngak bisa tidur, untung saja setiap aku memandang kearah depan, ada bidadari yang membuat aku dan adek ku terjaga terus." Leo sambil tersenyum kearah Rangga.
"Siapa?" tanya Rangga tak mengerti.
"Siapa lagi kalau bukan si bule cantik," jawabnya,
"Evelyn?" Rangga
__ADS_1
"Siapa lagi" Leo.
"Tapi kenapa dia menjaga Raka, bukan nya dia tunanggan Arjuna?" tanya Rangga penasaran.
"Aku juga ingin menanyakan hal yang sama." Leo.
"Ya sudalah itu urusan mereka, " Rangga.
"Tapi aku suka sekali melihat gadis bule itu dan berharap bisa jadi pacarnya," ucap Leo sambil tersenyum.
"Jangan menghayal ketinggian Leo, nanti jatuh sakit Loh," ucap Rangga dengan tersenyum.
Waktu menunjukan pukul 07.00 pagi. Rangga dan Leo pun memutuskan untuk pamit, karna mereka harus ke kantor.
Sakina telah selesai menyuapi Arjuna bubur.
"Dek bagaimana keadaan Kakak mu, coba kau lihat, Kakak khawatir sekali." Arjuna
"Iya Kak, Sakina kasihan juga sama Kak Evelyn, dia pasti ngak tidur semalaman karna harus berjaga, kak juna gimana? masih sakit?" tanya Sakina.
"Kakak harus banyak istirahat, Kak"
"Kakak merasa seperti ini saja sakit, bagaimana dengan Raka, Iya pasti lebih sakit dan menderita dengan penyakit nya, semoga saja pengobatan Raka berhasil, jadi Kakak tak mengkhawatirkan nya setiap hari, Kakak ingin melihat Raka bahagia menjalani hari-hari nya."
"Selama menderita penyakit itu, Raka seolah terkekang, sejak kecil banyak hal yang tak boleh ia lakukan, ia tak boleh olah raga yang berat, ia harus duduk di kamar sepanjang waktu, jika ia tak ingin transpusi darah terus-terusan, Kakak merasa sedih dengan keadaanya, tapi melihat Raka yang terlihat santai, Kakak mencoba untuk bersikaf santai, meski setiap detik Kakak selalu menghawatirkan nya," tutur Arjuna dengan sedih.
"Bahkan ngak ada wanita yang akan mau menerima Raka sebagai suami mereka, jika Raka menikah, dan punya anak, maka anaknya juga akan menderita Thalassemia, sepertinya."
"Kakak ingin melihat Raka menikah dengan gadis yang mencintainya dan di cintainya, sebelum Raka pergi untuk selamanya," tangis Arjuna.
"Kenapa Kak juna bicara seperti itu, Kak Raka akan sehat kak, dia akan sembuh," Sakina menangis.
"Kemungkinanya sangat tipis Dek, bahkan vonis Dokter,Paling lama Raka hanya bisa bertahan dua tahun, itu pun jika ia rutin mengkomsumsi obatnya, Raka sebenarnya menderita, karna sudah ada komplikasi pada penyakit nya, penumpukan zat besi pada prangkreas nya, itu akan menyebabkan prangkreasnya tak bisa memproduksi insulin, dengan demikian kemungkinan iya juga akan menderita diabetes dan beberapa fungsi organ dalam nya akan terganggu." Arjuna semakin lirih.
__ADS_1
"Lalu apa yang bisa kita lakukan Kak, untuk menyelamat kan Kak Raka?" tanya Sakina yang masih menangis.
"Hanya berdoa, semoga ada keajaiban datang menghampirinya, Yang terpenting sekarang adalah, sebisa mungkin kita membuat Raka bahagia, bagaimana pun caranya, hanya itu yang bisa kita lakukan," Arjuna menangis semakin sedih.
Setelah menerima kurang lebih satu liter sumsum tulang, dalam beberapa hari perawatan, Raka menunjukan hasil yang positif, perlahan wajahnya kembali segar, mereka sangat senang dengan keadaan Raka yang kembali seperti semula, apalagi hari ini, iya di perboleh kan untuk pulang dan menjalani perawatan dirumah.
Pagi hari, Sakina sudah di dapur membuatkan segelas susu untuk Arjuna, iya juga membuat bubur sendiri untuk Raka.
"Pagi sayang " sapa Arjuna pada Sakina.
"Pagi juga Kakak ku sayang," balas Sakina sambil menunjukkan segelas susu kepada Arjuna, sementara Oma sudah duduk di meja makan sambil melihat kearah kedua saudara itu.
"Eh kurang manis susunya," ucap Arjuna.
"Masak sih Kak," jawab Sakina.
"Iya aku tahu yang bisa membuatnya manis," iya pun mengecup bibir Sakina.
"Hah," Oma tersentak kaget melihat pemandangan barusan, iya pun menjatuh kan cangkir nya ke lantai, hingga membuat kegaduhan, sesak langsung terasa di dada Oma, iya pun menggenggem erat dada nya, seolah ingin menghentikan detak jantung nya yang semakin kencang.
Sakina dan Arjuna langsung berlari menghampiri Oma.
"Oma, Oma kenapa?" tanya mereka, seketika Oma tumbang tak sadarkan diri, mereka pun langsung membawa Oma kerumah sakit.
Untung saja, serangan jantung Oma tak berbahaya, biasanya Oma seperti itu, jika ia mendapat kabar atau melihat sesuatu yang begitu mengagetkan.
"Hampir saja Oma," ujar Arjuna sambil menarik nafas panjang, karna melihat Oma yang sudah siuman.
Disamping Oma sudah ada tiga cucu nya, Arjuna, Raka dan Sakina.
"Oma, Oma kenapa sih?" tanya Sakina yang terlihat khawatir.
Apa aku salah lihat, Aku melihat Arjuna yang mencium bibir Sakina, Keadaan yang sama, yang pernah ku lihat pada Riki dan Tiara, Apa kekuatan cinta yang begitu besar itu, berpindah kepada anak mereka, tapi mereka itu saudara, mereka tak boleh melakukanya, mereka tak boleh saling jatuh cinta, tidak! mungkin mereka kini belum menyadari perasaan tersebut, tapi mungkin saja itu akan terjadi, jika aku tak menghentikan nya dengan segera, batin Oma.
__ADS_1
Oma terus saja mencoba untuk menjawab pertanyaan mereka, tapi lidah nya terasa kelu, meski mencoba berkali-kali namun tetap saja tak bisa, ternyata kini Oma menderita struk ringan, iya pun menangis.
Jika aku tak bisa bicara, lalu siapa lagi yang akan memperingatkan mereka, batinya menangis.