
Sakina memulai harinya sebagai pengasuh baby Aira, karna sudah terlatih di panti, iya juga sudah melalui proses training, jadi iya tak canggung.
Sakina keluar membawa baby Aira jalan-jalan di taman, yang ada di rumah tersebut, sambil meniknati, sinar matahari yang banyak menggandung vitamin D.
Pak Rangga sudah siap pergi kekantor, iya pun menghampiri Sakina, Rangga meraih baby Aira dalam gendongan Sakina, dalam hati Sakina bertanya," Kemana istri dari Pak Rangga ?"
Setelah itu, Sakina pun masuk ke dalam rumah dan berpapasan dengan nyonya Lily, ya wanita paruh baya itu menyuruh Sakina, untuk memanggilnya nyonya, agar terlihat perbedaan yang tegas antara mereka.
"Hey, Sakina jika Aira tidur kamu, pijitin saya ya, badan saya pegal sekali, "tutur nya dengan bibir judes.
"Iya nyonya," jawab Sakina.
Sakina pun masuk kekamar dan menidurkan Aira, sangat mudah menidurkan Aira, karna iya jarang sekali menangis.
Sakina pun pergi menghadap nyonya, ibu dari Pak Rangga.
"Nyonya, Aira sudah tidur, apa sudah bisa di mulai," ujar nya, dengan niat memijit sang nyonya.
Meski Sakina tahu ini bukan tugas nya, tapi apa boleh buat, iya harus menuruti majikan nya agar tak komplen pada pihak agency.
Baru Sakina memijit, perempuan tersebut, sudah berteriak.
"Aduh Sakit, kamu mau membunuh ku," bentak sang nyonya,
"Maaf nyonya, tapi saya merasa telah melakukan nya dengan hati-hati tanpa bermaksud menyakiti nyonya," tutur Sakina.
"Ah sudalah, kamu ngak becus, nanti saya adukan ke Rangga biar kamu di pecat," ancam nya.
"Sekali lagi maaf nyonya, jangan adukan saya, saya ngak mau di pecat Pak Rangga," mohon Sakina.
Tapi perempuan tersebut tak memperdulikan Sakina, karna iya sendiri memang bermaksud ingin mengeluarkan Sakina dari rumah itu, alasanya sangat sederhana, iya takut jika Sakina berada lama di rumah itu, Rangga akan jatuh cinta padanya, karna Sakina terlihat lebih pantas di jadikan istri dari pada pembantu, dan iya tak mau sampai Rangga menikahi pembantu nya sendiri.
__ADS_1
Saat pulang dari bekerja, Rangga langsung mendapat aduan dari sang ibunda.
"Rangga, Sakina itu ngak becus ngurus anak kamu, dan lagian tadi siang iya sengaja melukai ibu dengan kuku nya waktu ibu meminta pijit padanya," gerutu sang ibunda.
"Bu, tugas Sakina, di sini tuh, cuma mengasuh Aira jadi, jangan menyuruhnya macam-macam," ujar Rangga.
"Sudah berapa orang yang mengasuh Aira, mereka semua ngak tahan karna ibu, Rangga ngak mau Sakina sampai ngak betah di sini, Rangga akan kesulitan untuk mencari pengasuh lagi Bu," tambahnya.
"Makanya Rangga kamu cari istri biar ada mengasuh anak kamu," tutur sang bunda.
"Rangga ngak akan nikah lagi Bu, cinta Rangga hanya untuk Airin, biar saja Rangga membujang selama nya," ucap Rangga dalam, iya pun berlalu dari sang Bunda.
Rangga masuk ke kamar nya, iya mengambil foto istrinya dan bicara pada foto tersebut, "Aku rindu sama kamu sayang, dan untuk membuktikan kesetian ku padamu, aku tak kan menikah lagi, karna tak kan ada wanita yang bisa menggatikan kamu di hati ku," tutur Rangga, iya pun meneteskan air mata sambil memeluk foto tersebut.
Sakina yang bermaksud mengantar Aira ke kamar Rangga, tanpa sengaja melihat Rangga menitikan air matanya saat memeluk foto tersebut.
"Permisi Pak, " ucap Sakina.
"Aira sudah tidur Pak," ujar Sakina sambil menyerah kan Aira.
"Ya sudah, bawa iya langsung di kasur," perintah Rangga.
Sakina langsung masuk ke kamar Rangga dan meletakan Aira di atas kasur.
"Saya akan siap kan keperluan menyusui bagi Aira," ujar Sakina, iya pun pergi keluar dan tak lama kemudian kembali.
Sakina kembali dengan membawa thermos dan botol susu yang sudah di masukan dalam wadar steril.
"Ini, Pak botol susu dan termos nya," ujar Sakina.
"Ya, sudah tugas kamu hari ini selesai.," ucap Rangga.
__ADS_1
Sakina pun keluar dari kamar Rangga, ketika itu iya berpapasan dengan Nyonya Lily,
"Sedang apa kamu dari kamar Rangga, Sakina?" tanyanya.
"Saya mengantar Aira, nyonya," jawab Sakina jujur.
"Jangan cari alasan untuk mendekati anak saya, Ya," tutur nya tajam menatap mata Sakina.
"Maksud nyonya," tanya Sakina tak mengerti.
"Alah, jangan pura-pura polos kamu," ujarnya lagi, kemudian berlalu dari Sakina.
Sakina memang tak mengerti dengan kata-kata nyonya barusan, iya sama sekali tak berniat apapun, apalagi untuk menggoda Rangga, Sakina sendiri tak tertarik pada Rangga, iya tak pernah tahu arti cinta atau rasa tertarik pada lawan jenis.
Sakina langsung merebahkan tubuhnya, hari yang melelah kan baginya, iya meletakan kepala nya di atas bantal, dan dengan semudah itu tertidur, iya seperti bayi, tak ada beban di hati Sakina, iya pun terlelap dalam tidurnya.
***
Di sisi lain Arjuna dan Raka makan malam bersama Oma.
"Arjuna, Oma sudah mengatur rencana pertunangan kamu bersama Evelyn, dan acaranya bulan depan, pihak keluarga Evelyn akan mengadakan pesta besar-besaran di acara pertunangan kamu yang akan di hadiri orang-orang penting, dan mereka juga akan mengadakan pesta dansa di acara pertunangan kamu nantinya, "tutur Oma.
"Pesta dansa? terlalu kebarat-baratan," ketus Arjuna.
Ada rasa protes dalam diri Arjuna, iya seperti boneka yang di kendalikan oleh Oma nya, bahkan Arjuna tak punya pilihan, kehidupan nya sudah di tentukan oleh sang Oma.
Arjuna tak sempat merasakan indahnya jatuh cinta di masa mudanya, iya juga tak sempat memilih untuk pendamping hidupnya sendiri, semua sudah di tentukan dan Arjuna hanya tinggal menjalani.
Menjadi kaya, punya perusahaan dan aset yang banyak, di mana semua orang berlomba-lomba untuk mengejarnya dan memimpikan nya, Arjuna malah ingin lari, kekuasaan dan harta yang melimpah tak membuatnya bahagia.
Iya ingin seperti Raka, yang tak terlalu terbebani dengan urusan perusahaan, Raka bebas melakukan aktifitasnya, selain kekantor, iya juga di bebaskan memilih sendiri pasangan hidupnya, Raka bebas kemana saja, tanpa ada yang mengaturnya, sementara iya sendiri, dari bangun tidur sampai tidur lagi semua sudah terjadwal.
__ADS_1
Hidup tak lagi indah bagi Arjuna, kebebasan nya seperti terenggut, iya ingin lari semua ini, tapi apadaya, iya lah pewaris tunggal dari semua perusahan milik kakek dan Ayahnya, iya ingin lari walau hanya satu hari, iya ingin menikmati masa mudanya, iya ingin mencari keberadaan adik nya, kesibukan Arjuna bahkan membuatnya, tak pernah mengenal arti cinta, berbeda dengan Raka, Raka bahkan sudah mengenal cinta, Raka sudah merasakan apa yang tak pernah iya rasakan, Iya bagai burung yang berada dalam sangkar emas, apalah arti kemewahan ini, jika iya sendiri tak bisa menikmati, untung saja Arjuna sudah terlatih untuk sabar dan mengendalikan emosinya sejak dari kecil, jika tidak iya pasti sudah lari dari semua ini.