Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Ujian cinta Arie.


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan panjang, Arie pun tiba di lokasi proyek nya, tanpa rasa lelah iya langsung mengerjakan tugasnya yang sempat tertunda.


Arie menginap di penginapan sederhana yang ada di sana, karna tak hotel disana,


Margaret sebenar nya menawarkan Arie untuk tinggal di rumah nya untuk sementara waktu, namun Arie menolaknya.


Margaret tiba di lokasi tempat proyek nya, di sana iya bertemu langsung dengan Arie, "Bagai mana Pak Arie," tanya Margareta,


"Hari ini mungkin sudah selesai Bu, Pemetaan nya, jadi nanti sore saya sudah bisa pulang," jawab Arie.


"Oh begitu," ujar nya.


"Pak Arie, nanti sebelum pulang singgah di rumah saya ya, ada sesuatu barang yang akan saya titipkan untuk Pak Riki," ujar Margareta.


"Iya, tentu saja setelah selesai, saya langsung kerumah Ibu," jawab Arie.


Sudah dua hari Arie di lokasi proyek nya, setelah bekerja dengan giat, iya pun sudah selesai dengan pemetaan nya, Arie tak ingin menyia-nyiakan waktu nya, karna sebenarnya masih mengkhawatir kan Arjuna dan keluarga nya di sana.


Arie pun bermaksud untuk langsung pulang, tapi sebelum pulang, iya ingat akan kata-kata Margaret,


"Oh iya, Bu Margaret menyuruh ku ke rumah nya," ucap Arie pada diri sendiri.


Margaret yang tak sabar menunggu Arie iya pun menelpon nya.


"Hallo Pak Arie, sudah mau pulang ?" tanya Margaret.


"Iya Bu, ini dalam perjalanan menuju rumah Ibu," jawab Arie.


"Ok di tunggu ya," iya pun menutup telpon nya.


Margaret merenggang kan tubuh nya,


"Ah sebentar lagi kau akan masuk perangkap ku Arie, aku bisa membayangkan kini, bagaimana jika kau menari-nari di atas tubuh ku," ucap nya pada diri sendiri.


"membayangkan nya sudah sangat menyenangkan," ujarnya pada diri sendiri.


"Aku ingin melihat apa pria misterius sepertimu akan tetap diam saat melihat lekuk indah tubuh ku," ujar nya sambil tersenyum licik.


"Margaret pun menggigit bibir nya, rasa nya sudah tak sabar, "ujar nya lagi.

__ADS_1


Tak lama Arie pun sampai, dan di lihat nya pintu rumah Margaret terbuka.


"Permisi," ucap Arie.


Tapi kemudian Arie mendengar Margaret menjerit," Awww" suara Margaret.


"Pak Arie tolong," Seru Margaret.


Mendengar suara Margaret, Arie pun berusaha mencari arah suara, yang ternyata dari lantai atas.


"Bu, Ibu dimana?" tanya Arie.


"Di sini pak Arie, aduh kaki ku" ucap nya.


Arie pun tanpa curiga langsung menuju arah suara tersebut, dan ternyata berada di sebuah kamar, dan pintu nya pun terbuka, jadi Arie bisa melihat Margaret ada di sana.


Arie pun mendekati Margaret, "Kenapa Bu," tanya Arie khawatir.


"Pak Arie tolong lihat kakiku," Margaret menunjuk kakinya,


Arie pun mendekat berusaha melihat kearah kaki Margaret.


Arie tak bisa bergerak, iya terpaku, kejadian itu begitu cepat. Margaret membuka satu persatu pakaian nya dan kini iya berada dibatas tubuh Arie.


Arie sedikit terbungkam, tak percaya, Margaret semakin gersit hingga Arie tak sempat menghindari gerakan -gerakan nya


Tubuh Arie sudah merasakan panas dingin, gelora yang begitu membara, di antara tipis nya imannya kini, iya tak pernah mendapat kan lawan main seperti Margaret,


Margaret pun memulai membuka satu per satu kancing kemeja Arie, Arie seolah menikmati gerakan setiap gerakan Margaret.


Hingga Margaret sampai di celana Arie, iya merasakan ada yang tegang di balik kain hitam yang di pakai Arie.


Margaret pun mulai membuka nya, tapi kemudian Arie tersadar dan menolak tubuh nya.


Arie langsung berdiri dan mencoba untuk lari dengan keluar menuju pintu, tapi saat iya ingin membuka pintu, ternyata pintu nya terkunci dari luar, Arie semakin panik, kini Margaret kembali membuka penutup terakhir tubuh nya, Arie semakin gemetar saat nafsunya semakin membara, seperti nya Margaret tak akan melepas kan nya, sebelum Arie bisa memuas kan nya.


Arie mencoba mengatur nafas nya yang semakin sesak, hasrat yang begitu besar seolah menahan kaki nya, untuk beranjak dan melampiaskan nya.


Margaret seoerti kucing buas yang siap menerkam Arie, Arie teringat akan Tiara, bagaimana jika iya sampai melakukan nya, rumah tangganya pasti akan hancur dan iya akan kehilangan Tiara.

__ADS_1


Arie mencoba menguat kan langkah nya, iya harus pergi dari sana, sementara Margaret semakin mendekat dan menggeram melihat nya ketakutan.


Arie mencoba menemukan jalan keluar lain, selain pintu yang sudah di kunci dari luar, tampak nya Margaret sudah merencanakan nya dengan matang,


Arie kemudian melihat kearah jendela yang terbuka, hanya itu jalan satu-satu nya, Arie tak punya pilihan lain, selain lompat dari jendela meski akan sangat berbahaya, bahkan iya bisa saja mati saat jatuh dari lantai dua, tapi lebih baik mati sebagai ksatria, dari pada hidup dalam keadaan hina karna berhianat pada istri nya, pikir nya.


Margaret semakin mendekat, dan Arie pun menghidar, ketika Margaret mencoba memeluk nya, tanpa pikir panjang lagi iya pun lari dan lompat dari jendela.


Untung saja ada genteng kanopi, yang menahan tubuh nya, hingga iya tak langsung jatuh ketanah, dengan hati-hati iya pun berjalan di atas genteng dan terjun dari sana.


"Aw" Arie mengeluhkan kaki nya yang sakit, karna melompat dengan tumpuan satu kaki.


Tapi Arie tetap melanjutkan perjalanan nya, meski dengan terjingkrak-jingkrak, iya kembali berkmlari menuju mobil nya, dan langsung keluar dari sana.


Arie meringis sambil melaju kan mobil nya, keluar dari tempat jahanam tersebut, iya sangat bersyukur dapat selamat dari godaan Margaret.


Tiara pasti akan merasa sedih dan kecewa, bahkan bukan tak mungkin rumah tangga mereka bisa porak-poranda.


Arie langsung pulang menuju rumah nya, butuh waktu kebih kurang lima jam perjalanan untuk sampai.


Setelah perjalanan panjang dan melelah kan, iya pun sampai , Arie mengetuk pintu rumah nya dan langsung di buka oleh ibunya.


"Tiara mana Bu?" tanya Arie.


"Di kamar nya sudah tidur," jawab Ibu


Arie pun langsung menghampiri Tiara, iya langsung mencium istri nya, hingga membangun kan Tiara.


"Ayah, kapan Ayah sampai? kok ngak kasi kabar ke bunda," tanya Tiara yang kaget.


Arie hanya tersenyum kearah Tiara, iya pun kembali mencium bibir Tiara.


"Ayah kangen sama Bunda," tutur nya.


"Kangen sih kangen Yah, mandi dulu sana," ujar Tiara.


"Ngak Bun, Ayah mau nya sekarang, boleh kan Bun," tanya nya lirih.


"Tentu Yah, bunda kan milik Ayah, ngak perlu ijin kok," ujar Tiara.

__ADS_1


Arie pun melampias kan hasrat nya pada tempat yang semesti nya, iya sangat bersyukur dapat terbebas dari fitnah yang bisa mengahancur kan rumah tangga nya.


__ADS_2