Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Rencana jahat


__ADS_3

***Cinta sejati yang bisa, memberi tanpa harus menerima, iya membawa damai dan bahagiakan jiwa, tuk semua manusia.


Hanya cinta sejati yang bisa, bertahan tanpa mengenal waktu, tak kan pernah sirna bagai karang di samudra, kan abadi tuk selamanya....


Seperti itulah cinta ku, pada dirimu tulus dan apa adanya, datang dari sebuah rasa sucinya hati atas nama cinta sejati... (Element, cinta sejati***)


Tiara membolak-balikan tubuh nya di atas kasur, namun tak juga iya terlelap, iya masih merenungi kata-kata Riki yang selalu terngiang-ngiang, ada apa sebenarnya, apa yang terjadi pada Mas Riki, tanya nya dalam hati.


Selama ini, iya begitu bahagia hidup bersama Arie, tapi kenyataan nya, Riki malah menderita atas cinta nya, kenapa harus ada yang terluka atas pilihannya.


Riki terpaku di atas balkon rumahnya, iya sendiri tak menggerti tentang perasaan nya kini, seperti ada yang akan hilang dalam dirinya, iya pun memandang aneh di sekeliling nya," Cepat sekali waktu berlalu, tiba-tiba saja aku sudah berada di akhir hidupku," iya pun tersentak dengan kata-katanya sendiri, Riki juga tak mengerti kenapa kata-kata tersebut, keluar dengan begitu saja.


Sudah seminggu sejak pertemuan nya dengan Riki, tapi iya masih gelisah, iya selalu teringat kata-kata terakhirnya.


Arie mendekati Tiara yang sedang beebaring.


"Melamunkan apa sih Bun?" tanya Arie yang berbaring di samping nya.


"Ngak kok Yah," jawab Tiara.


"Bun, sepertinya Ayah akan mengembalikan kepemimpinan perusahan kepada Mas Riki, ayah ngak mau sibuk lagi Bun, Ayah ingin menghabis kan waktu bersama kalian, meski dengan hidup yang sederhana." ujarnya.


"Terserah Yah, bagaimana menurut Ayah saja, Bunda akan mengikuti kemana saja ayah pergi," tutur nya sambil memeluk tubuh Arie yang di samping nya.


"Ayah kemarin mimpi bertemu Aisyah Bun, ucap Arie datar.


"Trus Aisyah bilang apa Yah,?" tanya Tiara masih memeluk Arie.


"Aisyah bilang iya rindu Ayah Bun, dan ingin segera berjumpa dengan Ayah," tutur Arie lirih.


Tiara mendengar itu, lansung menangis, "Ngak Yah, Aisyah ngak boleh mengambil ayah secepat ini," iya pun menangis tersedu-sedu, sambil memeluk Arie semakin erat.


"Bun, kamu kenapa sih Bun? itu hanya mimpi Bun, mungkin saja Aisyah bahagia karna Aziz."tutur Arie menenangkan Tiara.


"Ngak Yah, mulai sekarang Bunda akan ikut kemana pun ayah pergi, bunda ngak mau terjadi sesuatu pada ayah," tangis Tiara.


Tiara juga tak mengerti, kenapa iya sekarang takut kehilangan Arie, padahal itu hanya mimpi, mimpi hanyalah bunga tidur.


Arie tetap memeluk Tiara, sampai iya tenang dan berhenti menangis, iya terus membelai rambut Tiara, hingga iya terlelap sendiri.

__ADS_1


"Bun, ayah juga takut berpisah dengan kamu Bun, tapi jika memang sudah waktu nya, tak ada yang bisa menolaknya, setidaknya Ayah bisa memberikan yang terbaik, sebisa dan semampu ayah," bisiknya lirih di telinga Tiara yang tertidur lelap.


Arie membelai rambut Tiara, iya pun mencium kening nya, kemudian iya pun terlelap tidur.


Keesokan hari,


Riki bermaksud untuk menjemput Arjuna dan Sakina bertemu Oma.


Iya pun menjemput mereka dan membawanya kerumah nya.


Untuk pertama kalinya Oma bertemu dengan Arjuna dan Sakina.


"Asalammualaikum," ucap Arjuna dan Sakina saat berada di depan pintu rumah yang terbuka, karna memang menunggu kedatangan mereka.


"Wa'alaikum Salam," ucap Oma.


"Arjuna kamu sudah besar,wajah kamu mirip sekali sama Papa kamu, semoga saja kamu ngak mengikuti sifat nya," sindir Oma kepada Riki.


"Dan ini Sakina?" tanya Oma, iya pun memeluk Sakina.


Mereka pun menikmati waktu bersama.


***


Rencana sudah matang, meski Alena tak berkuasa seperti dahulu, namun iya akan melakukan segala cara, demi memuaskan dendam nya, kali ini tak hanya Tiara, Riki juga menjadi incarannya.


Rasa cintanya yang dahulu pada Riki, kini berubah menjadi rasa dendam dan benci yang menjadi-jadi, apalagi karna Riki, keluarga nya hancur, kekuasaan ayahnya luntur, iya dan keluarga nya menderita, karna itu, rencananya kali ini tak main-main.


Alena bicara pada Algojo nya," Bagaimana eksekusinya?" tanya Alena yakin.


"Sudah siap kapan saja, tinggal menunggu waktu yang tepat," sang algojo.


"Bagus, kali ini harus rapi, buat senatural mungkin, agar polisi tak curiga," ujarnya iya pun tersenyum puas.


Tiara masih teringat kata-kata Arie semalam yang mengusik nya.


"Yah, hari ini Bunda ikut Ayah ya? Setelah mengantar anak-anak, Bunda ikut ayah kekantor,"


"Iya Bun terserah Bunda saja, Ayah kekantor hanya ingin menyerah kan kepemimpinan perusahaan sama Mas Riki kok."

__ADS_1


"Bun, sebenarnya Ayah punya rencana membawa kamu liburan berdua saja bun, sejak menikah kita ngak pernah menghabiskan waktu berdua, kamu mau kan Bun?" tanya Arie.


"Boleh Yah, anak-anak kita titip di rumah Omanya, Bunda juga ingin habiskan waktu berdua saja sama Ayah, meski hanya sehari yah," tutur Tiara.


"Kita ke luar kota saja Bun, cari suasana yang berbeda, kita nginap di hotel dan berwisata di dekat-dekat sini saja bun" Arie


Setelah mengantar anak-anak mereka, Arie dan Tiara bermaksud menemui Riki, untuk mengembalikan berkas-berkas penting perusahaan nya.


Mereka pun sampai dan menuju lantai 4 di kompleks perkantoran tersebut.


Arie langsung menuju ruangan Riki, dengan menggunakan lift.


Tak berapa lama, mereka pun tiba, dan langsung menemui Riki yang sudah berada di sana.


"Hai, ada apa nih datang berdua," tanya Riki heran.


"Aku kesini mau menyerahkan berkas-berkas penting perusahan ini Mas, dan aku sendiri bermaksud untuk mengundur kan diri," papar Arie.


"Loh, emang kenapa Rie?" tanya Riki heran.


"Ngak ada apa-apa Mas, cuma aku ngak ingin terlalu sibuk, selama ini aku selalu sibuk, pulang malam, pergi keluar kota, jadi ngak punya waktu untuk keluarga ku, lagi pula kamu sekarang sudah di sini, tanggung jawab ini ku kembalikan padamu lagi," ujarnya pula.


"Ya Rie, makin berat dong tugas ku, ok aku ambil alih kembali perusahaan ini, tapi aku mau kau tetap bekerja di sini," pinta Riki sedikit memaksa.


"Kamu memang selalu begitu Mas, ngak bisa biarin aku santai sedikit," sahut Arie bercanda.


"Iya, aku akan tetap bekerja sama kamu, tapi hari ini aku cuti, mau ngajak istri ku jalan-jalan dulu ya," ujar Arie.


Sementara Tiara hanya tersenyum mendengar percakapan mereka.


"Iya," jawab Riki berat.


"Dan satu lagi Mas, tolong jemput anak-anak ya," pinta Arie, sambil menepuk pudak Riki, iya pun berlalu bersama Tiara.


Riki hanya tersenyum simpul, melihat mereka berlalu.


Riki kemudiam memandang keluar jendela, dan iya sontak terkejut, ketika iya melihat seseorang seperti habis mensabotase mobil Arie.


Riki terperangah sebentar, kemudian iya coba mengejar mereka, berharap belum terlambat.

__ADS_1


Riki memasuki lift, kemudian iya turun, untuk mengejar Tiara dan Arie, ke halaman parkir, tapi setiba nya di sana, sudah terlambat, mereka sudah masuk kedalam mobil dan hendak keluar dari kantor tersebut.


Riki mencoba berteriak, tapi tak di dengar oleh mereka, Riki langsung menuju mobilnya, untuk mengejar mereka berdua.


__ADS_2