Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Cinta pertama


__ADS_3

Tiara berbaring di atas kasur nya, iya menunggu Arie yang sedang mandi, Tiara bermaksud mencerita kan pertemuannya dengan Riki.


Setelah selesai mandi, Arie langsung duduk di samping Tiara, dengan masih menggunakan handuk, Tiara sangat paham, jika Arie seperti itu Arie pasti meminta jatah nya.


Arie berbaring dan membelai mesra rambut Tiara, Tiara pun langsung membalikan tubuh nya langsung menghadap Arie.


Dengan mesra Tiara mengusap dada bidang Arie," Yah tadi siang, Bunda bertemu Mas Riki yah,"tutur Tiara jujur.


"Trus kalian ngapain Bun, CLBK atau kangen-kangenan," canda Arie sambil tetap membelai rambut panjang Tiara.


"Ayah kok gitu sih, Yah, masih ngak percaya ya sama bunda?"


"Bukan ngak percaya Bun, ngak yakin," ujar Arie menggoda Tiara.


"Trus gima caranya meyakin kan Ayah?"


Arie pun berbisik di telinga Tiara," Layanin Ayah dulu, baru Ayah yakin," tutur nya semakin menggoda Tiara.


Tiara mencubit perut Arie dengan mestra, "Sudah hampir setiap hari, masih belum yakin juga, makin tua makin jadi aja, Ayah," tutur Tiara, sambil mencolet hidung Arie.


"Biarin Bun, mumpung masih hidup, nanti kalau ayah mati, kan ngak bisa menikmati nya lagi," tutur nya, seraya mencium kening Tiara.


"Jangan ngomong seperti itu Yah, kalau Ayah mati, Bunda juga ikut mati," balas nya.


"Ah yang bener..., bukan nya kalau Ayah mati, bunda balikan sama mantan," ujarnya meledek Tiara.


"Ihh Ayah, suka gitu deh." Tiara memukul pelan dada Arie.


Tiara mendekat kan wajah nya ke wajah Arie, hingga kening mereka menempel satu sama lain.


Dengan perlahan, iya mencium bibir suami nya, dan meraka pun beradu, Tiara mengarahkan tubuh Arie, ke atas tubuhnya, iya membelai tubuh Arie dengan lembut dan mesra, Tiara sungguh merasa bahagia, bisa melayani suaminya, karna selama 15 tahun pernikahan nya, tak pernah sekalipun Arie bersikaf kasar, baik dari tutur kata nya, atau dari gerak-gerik nya, bahkan di usia yang tak lagi muda, mereka tetap bisa mempertahan kan kemestraan itu, hingga sekarang, tak pernah sekali pun Arie berkata jemu pada nya, dan itu yang membuat Tiara meneteskan air matanya, saat usai percintaan mereka.


Sentuhan terakhir pada pipi dan keningnya adalah ungkapan penghargaan dari Arie untuk Tiara,karna telah melayani nya dengan baik, mereka sama-sama merasakan kebahagian dalam keharmonisan dalam berumah tangga.


Tiara mendekap Arie yang tlah tertidur pulas," Terima kasih Yah, karna sudah menjadi imam yang baik, Ayah selalu percaya sama bunda, meski di hati Ayah masih meragukan nya, tapi ayah tak pernah membesar-besarkan, malahan ayah yang selalu menjadi peredam emosi bunda, bunda tak kan pernah dapat lelaki sebaik ayah," batin Tiara, iya kembali terharu dan memeluk suami nya hingga iya tertidur pulas.


****


Keesokan harinya, Raka sudah siap pergi sekolah, iya tak lagi, menggunakan kaca mata nya, melainkan menggunakan softlens berwarna coklat.


iya pun menyisir rambut nya dan menata nya dengan gaya spiky, terlihat keren dan ganteng sekali, Raka memang ganten, hanya iya saja, ngak pernah PD.


Raka keluar dan menemui Papa nya di meja makan.


"Eishh, ini baru anak Papa," ujar nya yang melihat kearah Raka.

__ADS_1


Raka hanya tersenyum kearah Papa nya.


"Kayak nya Oma, akan ada dua play boy di rumah ini," tutur nya ke oma.


Hm cibir Oma, "Kalau Raka sih Oma percaya, kalau kamu, udah kadar luasa," ujar Oma meledek Riki.


"Jangan gitu oma, Papa kan malu, sama Raka, iya kan Raka?"


"Ngakunya play boy, istri aja ngak punya sampai sekarang," Oma mencibir kembali.


Riki tersenyum," Bukan ngak mau punya istri lagi Oma, tapi pernikahan tanpa cinta itu, bagai roti tanpa selai, tawar, "ujar nya dengan senyum penuh arti ke Mama nya.


"Makan tuh cinta, udah tua masih ngomongin cinta, ngak malu ya sama Raka," sindir Oma.


"Ayo Raka habisin sarapan kamu, kelamaan di sini kuping papa bisa panas, dengar ceramah Oma,"ujar nya lagi.


Mereka pun berangkat sekolah.


Di dalam mobil.


"Raka kamu sudah bawa sesuatu untuk Sakina?" tanya Riki.


"Udah Pa coklatkan?" tanya Raka.


"Oh jadi Papa mamfaatin Raka untuk merebut hati bundanya Sakina," protes Raka.


"Ngak gitu juga, sekali mendayung dua tiga pulau terlampau," ujarnya tertawa geli.


"Tapi Pa, Bunda Sakina itu sudah punya suami, masa' Papa mau merebut nya, itukan ngak baik Pa," nasehat Raka.


"Siapa bilang Papa mau merebutnya, cinta itu ngak harus memiliki, tapi melihatnya saja, sudah membuat kita bahagia," ujarnya.


Raka yang ngak ngerti, hanya menggelengkan kan kepala.


Mereka pun sampai.


Raka menyalami dan mencium pipi Papanya, tapi ketika hendak keluar mobil, Riki menghentikan Raka," Tunggu dulu Raka, sebagai pejuang cinta kita toss dulu dong, "ujarnya dan Raka pun mengikuti ajakan Papa nya, kemudian berlalu dari nya.


Riki menghempaskan nafas nya.


Cinta memang mampu mengubah seseorang, lihat lah Raka, yang pemalu dan selalu mider dengan penyakit yang di deritanya, Riki hanya melihat Raka bahagia, karna vonis dokter orang yang mengidap penyakit seperti Raka, akan sulit berumur panjang, "Semoga kau bisa bahagia di usia remaja mu Raka, apalagi kau sudah mengenal cinta," batin Riki, iya pun pergi.


Raka masuk dari gerbang sekolah menuju kelas nya, saat itu banyak orang yang pangling melihat perubahan Raka, dari culun dan pemalu, kini Raka sudah berubah menjadi sosok ganteng dan keren.


Raka langsung duduk di kursi bersebelahan dengan Arjuna.

__ADS_1


"Kamu berbeda sekali Raka?" tanya Arjuna.


"Iya kak, biar kamu ngak malu punya saudara kayak aku, kalau gini kan kita sama-sama ganteng," ujar Raka.


"Aku ngak akan malu kok, seperti apa pun kamu, tapi memang lebih baik kamu seperti ini, aku senang dengan perubahan mu Raka."Arjuna menepuk bahu Raka.


Raka tak sabar menunggu waktu istirahat,


Flash back,


Riki membeli sekotak coklat untuk Raka berikan pada Sakina,


"Ini Raka, kamu berikan ini pada Sakina, tapi saat kamu memberikan nya, kamu harus pilih tempat yang tepat, hanya ada kalian berdua di situ, kamu buka bungkusan coklat nya, kamu suapin ke Sakina." Riki mengajari anaknya.


"Tapi Pa? nanti sakina ngak mau gimana?" tanya Raka.


"Papa ini udah pengalaman, jangan kan merebut hati sakina, hati bunda Sakina aja bisa Papa rebut kembali," candanya.


"Raka bicarakan tentang Sakina Pa, bukan bundanya," protes Raka.


"Iya mereka kan ibu dan anak, pasti sama lah, percaya deh sama Papa," ujar nya dan Raka pun menuruti.


Waktu istirahat tiba,


Raka langsung menuju kelas Sakina yang berada di lantai bawah.


Iya pun menghampiri Sakina yang sedang ngobrol dengan teman-teman nya.


"Sakina" panggil Raka,


"Kak Raka" Sakina kaget.


"Sakina ikut kakak sebentar yuk, ajak nya dan Sakina pun menuruti, mereka berjalan bergandeng tanggan, tanpa perduli beberapa orang yang menyoraki nya.


Tiba lah iya di sudut tangga, dan jarang sekali orang lewat di sana.


"Sakina kak Raka punya sesuatu untuk kamu, ujarnya kemudian iya memberi Sakina sekotak coklat yang di beli Papa nya, iya pun membuka kotak tersebut dan membuka bungkus nya, kemudian langsung di suapkan pada Sakina.


Sakina menerima suapan dari Raka, kemudian iya pun tersenyum, Raka sangat bahagia ketika melihat senyum Sakina, jiwa nya bergetar dan jantungnya berdetak penuh irama, rasa bahagia itu datang dengan tiba-tiba, tanpa pasti apa sebab nya.


"Apa ini yang namanya cinta, sungguh tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, begitu indah rasa ini," batin Raka.


"Wajar saja jika Papa, mencintai ibunda Sakina sampai sekarang, meski Papa menikahi banyak wanita, aku rasa aku juga akan seperti itu, sepertinya aku akan mencintaimu selamanya Sakina," batin Raka.


Secara reflek iya pun membelai rambut Sakina, dan itulah pertama kalinya Raka merasakan jatuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2