
Raka menghampiri Arjuna yang kala itu duduk di lantai dengan menarik lututnya, Arjuna terlihat kacau, Raka melihat puluhan puntung rokok di asbak yang ada di samping Arjuna, bagaimana Kakaknya menjadi seorang pecandu rokok berat sekarang, lirih Raka dalam hati.
Raka mengambil sebatang rokok dan menghisapnya, tapi kemudian rokok tersebut di rebut Arjuna kembali.
"Apa-apaan kamu Raka, kamu tahu kan kamu ngak boleh merokok!" bentak Arjuna.
"Tak apa Kak, aku ingin menemani mu, bukankah kau slalu menderita karna aku kak," ucap Raka menatap mata Arjuna.
"Apa kau tahu Kak, aku merasa sakit saat kau terpuruk seperti ini, mengapa kau korbankan kebahagian mu Kak? Raka pun menangis,
" Kenapa kau mau menyetujui kontrak pernikahan ku dengan Evelyn, harus nya itu tak perlu kak, kau sudah mengalah dengan ku, selama bertahun-tahun, kini kau juga mengorbankan kebahagian mu, aku sudah tahu semua Kak,"
"Kau tahu dari mana Raka?" tanya Arjuna
"Aku mendengarnya sendiri, saat kau bicara pada Sakina".
"Jika kau tak berhenti dari semua ini, aku juga akan mengikuti mu." Raka
Arjuna pun bangkit, "Sudahlah, Ayo kita tidur, sudah malam," Arjuna merangkul Raka, ia memang menyayangi Raka.
Keesokan harinya, Evelyn bangun, dan langsung membuatkan sarapan untuk Raka, ia membawa secangkir susu hangat, dan beberapa potong roti yang di bawa langsung kekamarnya.
Seperti biasa, cara membangunkan Raka adalah dengan memberi nya morning kiss,
Raka tersadar, saat ia membuka mata, tampak senyum indah terlukis di wajah cantik istrinya.
"Selamat pagi, Sayang" ucap Evelyn.
"Selamat pagi juga Sayang," balas Raka dengan tersenyum.
"Aku bawakan sarapan untuk mu, setelah itu kau minum obat ya, Evelyn kemudian menuju laci di meja riasanya dan mengambil beberapa obat Raka, Raka harus rutin meminum obatnya, untuk menghindari komplikasi, jika tidak penyakit nya akan bertambah parah dan akan muncul efek samping lain.
"Sayang aku mandi dulu ya, kita harus bersiap, karna sebentar lagi kita akan pergi" Evelyn.
"Pergi kemana?" tanya Raka heran.
"Katanya pergi menemui Mas Aziz, karna Rangga ingin meminta restu dan melamar Sakina melalui Mas Aziz," papar Evelyn, ia pun langsung menuju kamar mandi.
Jika Sakina menikah, Kak Juna pasti merasa sedih, hanya ada satu cara untuk mempercepat kebahagiaan Kak Juna, yaitu mempercepat kematian ku, batin Raka.
__ADS_1
Raka pun mengambil obat yang sudah di berikan Evelyn, ia kemudian membuangnya, Raka kembali sedih, mengapa harus ada di antara mereka yang terluka, harus nya mereka bisa berbahagia bersama-sama.
Evelyn keluar dari kamar mandi, dan di lihatnya Raka yang terlihat sedih.
"Sayang kamu sudah minum obatmu kan?" tanya Evelyn tak yakin, karna segelas air yang di bawanya hampir utuh, seolah tak di sentuh, biasanya Raka akan habis meminum air yang di sediakan untuknya minum obat, karna obat yang ia konsumsi terlalu pahit dan banyak.
"Sudah sayang, menyadari kecurigaan Evelyn," Raka langsung meminum air dari gelas tersebut.
Semua sudah hampir siap, kali ini ada yang berbeda, Sakina dan Evelyn, menggunakan baju syar'i, karna mereka akan datang ke pondok pesantren milik Mas Azis, pondok pesantren tersebut adalah warisan Kakek Aziz, Pak Herman.
Mereka menunggu Arjuna turun dari kamarnya, dan di sana sudah ada Rangga, ia begitu bersemangat, apalagi hari ini Sakina terlihat cantik dengan pakaian syar'i nya.
"Sayang kamu makin cantik aja, pakai hijab gini, kalau sudah jadi istri aku, kamu pakai hijab ya?" Rangga berbisik tapi masih terdengar oleh Raka dan Evelyn.
Sakina pun tersipu malu,
"Aku makin sayang dan cinta deh sama kamu," tambahnya lagi sambil mencolet pipi Sakina mesra.
"Sudah kak Rangga, gombalanya." Raka angkat bicara, ia pun tersenyum melihat tingkah Rangga yang menggombali Sakina, karna ia tahu, Rangga tak bisa menggombal, ia orang yang kaku, hingga gombalan tersebut terdengar garing di telinga Raka, mereka pun tertawa bersama.
Arjuna sudah turun dari kamar, Arjuna hanya menggunakan celana pendek coklat, baju kaos berwarna silver, terlihat sangat santai, tapi itu membuatnya lebih ganteng.
"Ayo, langsung berangkat," ajak Arjuna.
Dengan semangat Rangga hendak menggandeng tanggan Sakina, tapi keduluan Arjuna, Arjuna sudah lebih dulu merangkul Sakina dan mereka berjalan beriringan.
Raka dan Evelyn duduk di depan, Raka yang menyetir dan Evelyn di sampingnya, Sakina masuk kedalam mobil dan Rangga bermaksud untuk duduk di samping nya, lagi-lagi Arjuna masuk mobil duluan, dan kini ia berada di samping Sakina, dan dengan pasrah Rangga duduk di samping Arjuna.
Sepertinya Arjuna sengaja, agar Rangga tak berdekatan dengan Sakina, entah mungkin karna cemburu, atau ia sengaja mengerjai Rangga.
"Berapa jam menuju ke sana Raka?" tanya Arjuna.
"Sekitar empat jam Kak," jawab Raka.
Evelyn menyandarkan tubuh nya ke lengan Raka yang sedang menyetir, mereka memang selalu terlihat mesra, bahkan hampir sebulan menikah, tak pernah sekalipun terdengar cek-cok, atau perselisihan antara keduanya, Arjuna dan Sakina sudah sering melihat kemesraan mereka, tapi Rangga, ia menjadi baper, karna harus nya, ia bisa melakukan hal yang sama, karna Sakina adalah kekasihnya, tapi kini ada Arjuna yang berada antara mereka, dan dengan santainya Arjuna memeluk dan mencium pipi calon istrinya itu, sedangkan Rangga, ia hanya bisa diam menahan sesuatu yang menyesak di dadanya, Arjuna memang kakaknya Sakina, tapi apa yang ia lakukan terlihat berlebihan, namun Rangga tak menaruh curiga, jika Arjuna memang menaruh hati pada Sakina.
Sepanjang perjalanan, Rangga hanya bisa diam, saat ia mencoba bicara pada Sakina, Arjuna mengalihkan pembicaraanya dengan mengajak Sakina bicara, mereka berdua seperti perang dingin, Rangga yang terlihat bete, akhirnya menggambil handphone yang ada di saku celananya, dan bermain game ofline untuk menghilangkan rasa frustasinya,
Setelah melakukan perjalanan,kurang lebih empat jam perjalanan, mereka pun sampai di kawasan pondok pesantren.
__ADS_1
Sebelum masuk menuju gerbang, mereka harus melapor ke pos security .
Raka turun menyatakan maksudnya untuk menumui Aziz, sang Satpam pun membukakan pagar besi yang mengelilingi kawasan pesantren, mereka pun masuk dan berhenti di depan sebuah gedung, saat itu Aziz sudah menunggu kehadiran nereka, karna sebelumnya Pak Satpam langsung menghubungi ustadz muda Aziz.
Sakina dan Arjuna terlihat haru, mereka baru kali ini bertemu setelah bertahun-tahun.
Ketiga nya langsung berpelukan haru, Sakina dan Arjuna langsung memeluk Aziz, mereka sejenak larut dalam haru, bahkan Sakina sampai menangis, Aziz langsung memeluk dan mencium adik perempuanya satu-satunya itu, air mata Sakina semakin tumpah, karna melihat wajah Aziz yang telah dewasa, sangat mirip sekali dengan ayah mereka, Sakina seperti kembali mendapatkan pelukan sang Ayah yang hangat dan menenangkanya, Sakina menumpahkan segala kerinduanya pada ayahnya dengan terus nemeluk Aziz, ia seperti bernostalgia, dimana setiap saat ia selalu mendapat pelukan hangat sang ayah, Sakina bahkan lebih dekat dengan Ayahya dari pada bundanya.
Kini giliran Arjuna, ia memeluk Aziz dengan haru, kini ia merasakan kembali menjadi seorang adik, setelah bertahun-tahun ia harus menjadi seorang kakak yang menjadi tempat bersandar bagi kedua adiknya, kali ini ia punya kesempatan untuk menyandarkan diri nya, meluapkan keluh kesah nya kepada sang Kakak.
Aziz pun terharu ia juga rindu pada Arjuna adik sekaligus sahabatnya sedari kecil, mereka selalu bernain dan menghabiskan waktu bersama saat kecil, kini masing masing mereka punya kesibukan hingga tak pernah bertemu sekali pun.
Setelah puas dengan kedua adiknya, Raka mendekati Aziz dan memeluknya.
"Apa kabar Raka?" tanya Aziz, ia pun kembali menetes kan air matanya, Raka memang bukan saudaranya, tapi tetap saja, Aziz merasa Raka adalah bagian dari keluarganya.
"Mana istrimu Raka, Maaf ya saat kamu menikah, Mas Aziz sedang menjalankan Ibadah umroh," papar Aziz.
"Tak apa Mas," Iya pun menarik Evelyn maju," Ini istri Raka mas," ia menunjuk Evelyn.
Rangga pun maju, tanpa menunggu lagi ia langsung bersalaman dengan Aziz, seraya memperkenalkan diri.
"Saya Rangga Mas, " calon suami Sakina, ucapnya.
"Calon suami, di terima juga belum," sahut Arjuna dengan ketus.
"Oh ya, Mari masuk," ajak Aziz, mereka pun menuju di sebuah ruangan dan duduk di kursi tamu.
"Ada apa, sepertinya ada yang penting, sampai semua adikku datang menemui ku?" tanya Aziz, gaya bicaranya sangat sopan dan santun.
"Kedatangan saya kemari bersama kakak-kakak Sakina, saya ingin melamar Sakina, Mas, sekalian menentukan tanggal pernikahan kami," ucap Rangga polos tanpa basa-basi.
"Eh Rangga lamaran saja belum, sudah mau menentukan hari, kayak ngak pernah nikah saja kamu," ujar Arjuna ketus, Raka hanya tersenyum melihat Arjuna, tak biasanya Arjuna berkata ketus, tampak sekali kecemburuan padanya, untungnya Rangga tak mengetahui hal sebenarnya.
"Jadi kamu sudah pernah menikah?" tanya Aziz,
"Ia Mas, istri pertama saya meninggal, saat melahirkan putri saya, dan saya sangat serius, untuk melamar Sakina," jawab Rangga tegas.
"Tapi Rangga, ada beberapa tes, pertanyaan, dan beberapa syarat yang akan saya ajukan untuk dapat melamar adik saya," ujar Aziz.
__ADS_1
Jantung Rangga berdetak kencang, bagaimana jika ia tak bisa melalui tes yang di berikan oleh Aziz, apa Aziz akan menolak lamaranya, dan apa pula tes dan syaratnya, batin Rangga, ia pun sedikit resah.