
Setelah hampir satu jam Sakina berlatih, akhir nya iya bisa berjalan dengan sepatu tersebut, dan latihan akan di lanjut kan besok, Karna menggunakan heel dengan waktu yang agak lama, Sakina merasa seperti berada di jalan yang bergelombang, akhir nya iya pun sempoyongan, dan itu yang membuat Rangga tertawa melihat tingkah Sakina.
Sakina keluar dari kamar Rangga, namun tiba-tiba, ada yang menarik rambutnya,
"Aduh sakit, tolong lepaskan nyonya" pinta Sakina, sambil memegang rambutnya yang di tarik seseorang.
"Apa yang kamu lakukan di kamar Rangga?" tanya nyonya Lili dengan geram, iya semakin erat menarik rambut yang ada di sekitar kulit kepalanya.
"Ampun nyonya," pinta Sakina mengiba.
"Saya ngak berbuat apa-apa nyonya," jawab nya hampir menanggis, karna sang nyonya semakin erat menjambak rambutnya.
Mendengar keributan di luar kamarnya, Rangga pun keluar, dan dilihatnya Sakina yang mencoba melepaskan cengraman ibunya.
"Lepaskan Sakina Bu," ucap Rangga tegas
Tapi iya tak memperdulikan Rangga, malah semakin kuat menggenggam nya, namun Rangga kembali mengulangi perintah nya, Iya pun melepaskan Sakina yang menangis.
"Apa yang kalian lakukan Rangga, apa semudah itu kau mudah tergoda pada wanita kampungan dan rendahan seperti dia," iya sambil menunjuk Sakina.
"Bu, saya dan Sakina tidak berbuat apa pun, kami hanya..., "kata-kata Rangga terhenti
"Hanya apa?" tanya ibu nya sakin emosi.
__ADS_1
"Bu, Rangga mengajarkan Sakina menggunakan sepatu heel, karna Rangga akan mengajak Sakina dalam pesta pertunangan bos Rangga Bu," tutur Rangga menjelaskan.
"Semakin jelas sekarang Rangga, kamu itu sudah terjebak dalam bujuk rayu, perempuan ini, kelihatanya saja ia polos, bermuka dua," tatapan nya tajam mengarah ke Sakina.
Sementara Sakina meneteskan air mata nya, apa yang di ucapkan ibunya Rangga, ternyata lebih menyakitkan dari pada jambakan rambutnya, tapi Sakina hanya pasrah, jika iya melawan, iya akan di laporkan kepada pihak agency nya, dan Sakina harus menanggung ganti rugi dari biaya training dan kontrak yang di batal kan, sedang kan iya sekarang tak punya uang sama sekali.
"Bu, Rangga membawa Sakina, karna tak ada pilihan lain Bu, Rangga ngak punya pacar, Rangga dan Sakina tidak ada hubungan apa-apa, sampai kapan pun," tutur Rangga menegaskan.
"Jangan banyak alasan Rangga, kamu jangan tertipu sama dia, dia itu mau mencari perhatian kamu, dan memanfaat kan kebaikan kamu, dengan berpura-pura polos" dengan suara yang makin tinggi.
"Awas kamu Sakina, saya ngak akan biarin kamu, hidup tenang, dan ngak akan biarkan kamu memanfaatkan Rangga," batin nya.
Si nyonya yang angkuh itu pun berlalu dari mereka, sementara Sakina merasa ketakutan dan terus meneteskan air matanya, sorot mata nya terus tertuju pada wanita yang menghardiknya barusan.
"Tunggu Sakina, Rangga menarik tanggan Sakina, ia pun berhenti, Rangga mengangkat dagu Sakina agar ia tenggadah, kemudian Rangga menghapus air mata nya, ia merasa iba, dan bersalah terhadapnya, karna dirinya, Sakina di hina dan direndahkan oleh ibunya sendiri.
"Maafkan ibu ku Sakina, iya memang selalu begitu, makanya ngak ada yang betah mengasuh Aira," tutur Rangga, sambil menghapus air mata Sakina.
Sakina hanya menggangguk, iya pun berlalu dari Rangga.
Sakina masuk kekamarnya, dan kembali menangis, iya kembali teringat dengan kenangan masa lalu nya, di mana semua orang yang berada di dekatnya selalu memanjakan nya dan menyayanginya, iya tak pernah mendengar kata-kata kasar apalagi penghinaan seperti yang baru saja terjadi padanya.
"Ayah, Bunda, Mas Aziz dan Kak Juna, dimana kalian, Sakina kangen," tuturnya sedih.
__ADS_1
Sakina inggin kembali seperti dulu, ada Ayah, ada Bunda, Kak Juna dan Mas Azis, Sakina ingin berkumpul seperti dulu lagi, tangis nya semakin pilu, mengingat semua tak kan pernah kembali.
Apalah daya, iya kini hanya seorang yatim piatu, tak ada tempat baginya untuk mengadu, tak ada kehangatan dan kasih di kala hati nya lara, dan tak ada lagi pelukan yang dapat meneguhkan kerapuhannya, iya kini sendiri, terasing di tempat yang sepi, semua itu jauh dari angan-angan nya, iya hanya berharap bisa bertemu dengan kakak-kakak nya suatu saat nanti.
Sakina pun terlelap dalam batin masih berkecambuk, kenapa takdirnya seperti ini, tapi apalah daya, iya harus terima semua nya, dari perintah sampai cercaan, dari hinaan sampai cacian, iya harus berlapang dada, dan menguat kan hatinya, agar selalu tegar menatantang dunia.
Di sudut kamar yang remang dan sunyi, Arjuna berdoa dalam sujud nya, iya berharap agar bisa bertemu dengan si bunggsu kesayangan nya, bahkan iya tak kan pernah merasa bahagia, jika Sakina belum berada disisinya.
" Di mana kau berada Sakina?dan bagaimana pula keadaan mu sekarang Dek?" tanya nya sambil menitikan air mata melihat foto Sakina.
Arjuna sudah menyuruh orang untuk mencari Sakina secara diam-diam, iya tak mau mencarinya melalui media sosial, karna akan sangat berbahaya bagi Sakina sendiri.
Raka masuk kekamar Arjuna, iya pun duduk di sebelah Arjuna.
"Kak, tadi Evelyn kembali menemui ku, ia mengeluh kan sikap mu, katanya kau itu sok cuek, sok ganteng, dan banyak lagi yang iya keluh kan pada ku," ujar Raka.
"Aku harus bagaimana Raka, aku tak bisa merasa bahagia, sebelum bertemu adikku, aku tak tahu bagaimana nasib nya sekarang ini, aku makan dan tidur dengan enak, sementara Sakina, aku tak tahu, apa dia sudah makan hari ini, apa dia tidur dengan nyaman, dan apa orang-orang di sekeliling nya, berlaku baik terhadapnya, aku tak bisa bahagia sedikit pun Raka, sebelum aku yakin Sakina baik-baik saja, iya adalah amanah dari Ayah dan Ibu ku, bagaimana mungkin aku bisa menyia-nyia kan nya."
"Aku punya segala nya, tapi aku bahkan tak bisa mencari keberadaan nya, aku seorang kakak yang tak berguna, bagaimana jika sesuatu terjadi pada adik perempuanku, aku tak kan bisa memaafkan diriku sendiri," tutur Arjuna sedih, iya pun menangis tanpa suara, Raka menghampiri Arjuna, iya pun memeluk nya.
"Aku sudah menemukan jejak Mas Aziz, Kak, ternyata iya mengajar di sebuah pesanteren, dan Sakina tak bersama dengan nya, iya juga berusaha mencari jejak Sakina, terakhir Sakina tinggal di panti asuhan, karna Oma mu telah meninggal dunia, Kak," papar Raka sedih.
Arjuna semakin sedih, iya kembali menangis," Bahkan Oma ku meninggal saja, aku tak tahu," ujar nya sedih.
__ADS_1
"Besok kita sendiri ke panti asuhan Raka, sebelum pertunangan ku, aku harus menemukan Sakina," ujarnya dengan tegas.