
Tiara sudah meletakan secangkir kopi untuk Riki di atas meja, Setelah berpakaian rapi Riki langsung menghampiri Tiara yang berada di dapur dan sedang memotong buah.
Riki melingkar kan lengan nya di perut ramping Tiara.
"Kopi mu, sudah ada di atas meja Mas," ucap Tiara tanpa menoleh kearah Riki.
"Bagaimana aku menikmati kopi pahit itu tanpa gula Tiara," ucap Riki lembut di telinga Tiara.
"Mas, saat aku bikin kopi sudah ku tambah kan gula, jadi ngak mungkin pahit," jawab Tiara yang tak mengerti maksud Riki.
Riki membalikan tubuh Tiara, dan kali wajah nya sudah berhadapan dengan wajah Tiara.
"Riki langsung ******* bibir Tiara, Bagaimana hidup ku terasa manis tanpa kecupan hangat dari mu di pagi hati Sayang," ucap Riki mesra.
"Apapun akan terasa indah jika aku memulai hari ku dengan mencium bibir mu," tambah nya lagi.
"Kau pandai sekali merayu Mas, hingga sulit bagi ku untuk melepaskan jeratan cinta mu, aku lah wanita yang paling beruntung karna memiliki suami romantis seperti mu," ucap Tiara.
"Aku lah pria paling beruntung Tiara, karna bisa menghabiskan sisa umur ku bersama mu, andai saja aku bisa melipat mu dan menaruh mu di saku kemeja ku, akan ku bawa kau kemana pun kau pergi," bisik Riki dengan mesra.
Riki pun hendak mencium bibir Tiara kembali, tapi terhenti karna mendengar suara Mama yang berdehem, saking asik nya mereka, mereka bahkan tak menyadari kehadiran Mama di dapur, bahkan Mama tersenyum mendengar rayu gombal Riki pada Tiara.
"Kalian ini apa tidak bisa melakukan nya di kamar saja,di sini banyak orang," cetus Mama.
Dan mereka pun tersipu malu.
"Maaf Ma, ini runitas kami setiap pagi di dapur, Riki jadi lupa sekarang kami di rumah Mama," ujar nya dengan sedikit menagan malu.
Mama mengelengkan kepala nya, "Heran sudah semalaman bersama, Pagi hari nya di lanjut kan lagi, apa ngak bosan?"Mama pun berlalu dari mereka.
Dan mereka pun tersenyum melihat kearah Mama.
"Oya ,Sayang nanti sore kita belanja untuk hantaran Arie," ujar Riki.
"Iya Mas, "
"Aku pergi dulu, hati-hati di rumah," Riki pun mengecup kening Tiara dan mencium perut nya.
Sore hari nya, mereka janjian untuk bertemu di rumah Arie, Tiara yang memaksa mereka untuk bertemu, karna Tiara ingin menyumbang baju pengantin untuk mereka.
Riki dan Tiara sudah sampai di rumah Arie, dan di sana sudah ada Syntia dan Arie, tapi tak biasa nya Tiara melihat Arie dan Syntia terlihat kaku, biasa nya Syntia suka menempel di samping Arie dan bercanda-canda, kini mereka seolah menjaga jarak.
__ADS_1
Dengan tak menaruh curiga sedikit pun Tiara langsung menghampiri Syntia memeluk dan mencium nya.
"Hay Syn ,"sapa Tiara ramah,
Sementara Riki berdebar takut jika Syntia keceplosan, maka nya Arie sudah memperingatkan Syntia agar tak banyak bicara.
"Hay Tiara," balas Syntia, dengan senyum sedikit garing.
"Kita mau kemana ?" tanya Arie.
"Kita mau fitting baju, Rie buat kalian, dan biar aku yang bayar sebagai hadiah untuk pernikahan kalian," ucap Tiara dengan begitu bahagia.
"Sebenar nya aku dan Syntia ngak ngadain pesta besar-besaran," ujar Arie.
"Enak aja lo Rie, kamu kan udah penah nikah, Syntia kan belom, dan aku ingin pesta pernikahan kalian itu meriah sekali, kalau perlu kita bulan madu nya bareng, biar aku bisa lihat kebahagian kslian juga," ucap Tiara dengan semangat.
"Iya kan Mas," tanya Tiara pada Riki.
"Biar mereka bulan madu nya berdua aja Yang, kita kan sudah setiap hari bulan madu, di rumah," jawab Riki asal.
Dan kata-kata Riki kembali memancing rasa cemburu di hati Syntia.
"Ya sudah kita pergi yuk," ajak Tiara.
"Kita bareng aja, kan jarang kita pergi bersama lagi, apalagi jika nanti aku melahir kan," saran Tiara.
Dan mereka semua menuruti kata-kata Tiara.
Di dalam mobil.
Arie dan Syntia merasa canggung, Syntia yang biasa nya ribut kini senyap seperti di bungkam.
"Kalian kenapa sih, kok kayak orang berantem, duduk nya jauhan lagi kayak sosial distanting aja," ledek Tiara.
"Syn, kok kamu diam aja, kamu nyesal ya milih Arie jadi suami kamu?" tanya Tiara bercanda.
"Ngak, aku deg-deg kan aja," jawab Syntia.
"Kamu, Rie,nervous juga?" kan ini bukan yang pertama Rie, tutur Tiara.
"Ngak, aku ngak nyangka aja jika Syntia bakalan jadi jodoh ku," ucap Arie datar.
__ADS_1
"Itulah Rie, kita tak pernah tahu ketika takdir menyatukan kita dengan siapa? hidup ini misteri, sama misteri nya dengan jodoh."ucap Tiara.
Mereka pun sampai di butik Mami Linda, Dengan ramah Mami menyapa Riki dan Tiara, karna Mami adalah adik kandung dari Mama.
"Hey, kalin kesini kok ngak nelpon Mami dulu,"sambut Mami ramah.
"Iya Mi, mendadak, jawab Riki.
"Mi, kita kesini mau dibikinin baju pengantin, "ucap Tiara.
"Baju pengantin? untuk siapa?" tanya nya lagi.
"Untuk kamu Riki? mau kawin lagi ya?" canda Mami.
"Mami bisa aja, buat teman kami Mi," Riki menunjuk kearah Arie dan Syntia.
"Oh, kalau gitu langsung fitting," ajak Mami.
"Nah silah kan pilih yang mana?" ucap Mami.
Syntia dan Arie grogi, mereka tak tahu harus berbuat apa, jadi mereka diam ngak milih apa-apa.
Sementara Riki dan Tiara yang juga sibuk memilih baju pengantin.
"Yang, bagus-bagus ya baju pengantin nya, kalau lihat gini, aku jadi pingin kawin lagi," ucap Riki.
"Apa Mas kamu pingin kawin lagi?" tanya Tiara melotot.
"Iya, kawin sama kamu lah, aku ingin menikahi kamu berkali-kali, biar kita juga berkali kali merasakan indah nya malam pertama," ucap Riki.
"Sayang nya malam pertama aku ngak indah, karna harus tidur sendiri," ucap Tiara meledek Riki.
"Maka nya, aku ingin kita menikah lagi, dan kan kuberikan kau malam pertama yang paling indah." Riki menggoda Tiara.
Tiara menunjuk satu gaun dan mencoba nya, iya pun menyanggul rambut nya untuk mencocokan gaun tersebut.
Setelah selesai, Tiara pun keluar dengan memakai gaun tersebut dan mendekati ketiga nya.
Mereka bertiga terbungkam saat melihat Tiara yang begitu cantik, Riki yang melihat Tiara langsung menghampiri nya dan mencium bibir Tiara, di depan kedua nya.
Arie dan Syntia seolah hanya menjadi penonton dalam romansa cinta mereka.
__ADS_1
Lagi-lagi timbul kecemburuan di hati kedua nya, tapi Syntia lah yang tak bisa menahan rasa cemburu nya ketika melihat kemestraan mereka, mulai timbul niat jahat lagi di hati nya.