
Arie terus mondar-mandir di depan ruang operasi, Iya menunggu dengan gelisah tak lama kemudian datang Pak Herman dan istri nya.
"Rie, Aisyah gimana ?" tanya Pak Herman.
"Arie terpaksa Pak menandatangani surat persetujuan operasi Pak, kalau tidak kedua nya mungkin tak selamat," ucap Arie lirih.
Pak Herman melihat mata Arie berkaca-kaca dan Arie terlihat begitu gelisah.
"Rie, kamu tenang Rie, kita serah kan semua pada ALLAH Rie," ujar Pak Herman sambil menepuk pelan pundak Arie.
"Gimana Arie bisa tenang Pak, Aisyah sendirian di sana iya sedang mempertaruh kan nyawa nya," jawab Arie terisak karna iya sudah tak mampu membendung air mata nya.
Hampir satu jam mereka menunggu dengan gelisah dan Arie lah yang paling gelisah iya sebentar-sebentar duduk, sebentar- bentar berdiri.
Arie terus saja mondar-mandir sambil berdoa dalam hati nya agar kedua orang yang di cintai nya bisa selamat.
Tak lama kemudian terdengar suara jeritan tangis bayi, serempak mereka mengucap syukur.
"Alhamdulilah " ucap mereka bertiga.
"Rie, anak kamu sudah lahir," ujar Pak Herman.
"Seperti nya iya sehat karna suara nya nyaring terdengar Rie," ucap Pak Herman mencoba menenang kan Arie.
"Iya Pak, semoga saja, " jawab Arie.
" Arie menghawatir kan Aisyah pak, selama ini Aisyah tak pernah mengeluh kan sakit nya, dan tiba-tiba saja Aisyah pingsang di pelukan Arie Pak, bagaimana jika sesuatu terjadi pada Aisyah, Pak," ucap Arie dengan deraian air mata nya.
Arie semakin sedih ketika iya mengingat kata terakhir Aisyah, yang menyatakan bahwa diri nya tak akan lama lagi pergi.
Arie semakin tak sanggup menahan tangis nya, saat iya menyatakan bahwa iya akan menunggu Arie di surga dan akan kembali mendampingi di sana.
Sunguh besar cinta Aisyah pada nya hingga Aisyah sanggup terpikir akan hal itu.
**
Seorang suster membawa bayi Arie keluar dan langsung di sambut ibu mertua nya.
__ADS_1
Arie mendekati suster tersebut bermaksud untuk menanyakan kabar Aisyah.
Tapi belum sempat Arie bertanya, suster tersebut sudah menjelas kan pada nya.
"Selamat Pak, anak nya laki-laki dan sehat, tapi istri Bapak tak selamat," papar suster tersebut.
Mereka begitu kaget dan istri Pak herman langsung terkulai lemas dan jatuh pingsan.
Pak Herman langsung meraih bayi tersebut di tanggan nya, dan Pak herman memerintah kan seseorang agar membawa istri nya langsung pulang.
Arie terkulai lemas, sesuatu yang iya takuti terjadi, Aisyah kini pergi untuk selama nya.
Arie sudah tak mampu menahan emosi dan kesedihan nya, iya pun menangis terisak isak sambil memanggil nama Aisyah.
Pak Herman menghubungi pihak keluarga nya, termasuk ibu nya Arie, iya juga tak tahu harus bagai mana, iya harus mengendong cucu nya dan harus mengurus jenasah Aisyah.
Sedang kan Arie kondisi nya masih labil, iya pun menitipkan nya pada suster di ruang perawatan bayi baru lahir.
Arie masih saja termangu menunggu di sana, keadaan nya sangat kacau saat itu, iya tak henti-henti nya menangis.
Iya seolah selalu ingat akan pesan terakhir Aisyah agar menunggu nya di surga, Aisyah meminta Arie agar iya mau menerima nya sebagai istri di kehidupan nya yang abadi.
***
Tiara tiba di rumah sakit bersama Riki, iya langsung menghubungi suami nya ketika mendapat kabar dari Ibu nya Arie.
Tiara melihat sosok Arie yang berdiri membelakangi mereka, saat itu pun Tiara sudah menangis dan matanya pun memerah.
Mereka mendekati Arie dan Tiara mengusap pundak Arie, " Sabar ya Rie, suara Tiara lirih.
Arie pun menoleh kearah Tiara," Aisyah sudah pergi Tiara," ucap Arie begitu sedih.
Tiara pun tanpa sadar langsung memeluk Arie, iya terbawa emosi ketika melihat Arie begitu sedih.
"Aku tahu Rie, Aisyah sudah pergi, mungkin ini yang terbaik utuk nya, karna di sana dia tak kan merasa kan sakit lagi," tutur Tiara menyemangati Arie.
"Iya Tiara kau benar, Aisyah akan bahagia di sana," ucap Arie semakin sedih.
__ADS_1
Mereka pun melepas kan pelukan nya, Riki tak tahu harus berkata apa, melihat kejadian tersebut, iya juga terharu melihat Arie yang terlihat sangat sedih karna kehilangan istri nya.
Tiara menuntun Arie untuk duduk di kursi, "Lalu bagaimana dengan anak kalian Rie ? " tanya Tiara.
"Aisyah melahirkan bayi laki-laki, dan karna keadaan nya sangat menghawatir kan, jadi operasi adalah jalan satu-satu nya untuk menyelamat kan kedua nya."
"Tapi kenyataanya bayi nya selamat, tapi Aisyah tak selamat," ucap Arie terbata-bata kemudian iya kembali menangisi.
Tiara yang melihat kejadian itu seolah tak bisa membendung perasaan nya, iya pun menangis bersama Arie.
Pak Herman telah selesai mengurus ambulan dan administrasi serta biaya rumah sakit.
Iya pun membawa cucu nya, dan kemudian menghampiri Arie.
"Rie, sebentar lagi jenasah Aisyah bisa kita bawa pulang, Bapak sudah mengurus ambulan nya."
"Kamu gimana Rie?, ikut mengantar Aisyah atau kamu bawa anak kamu pulang duluan, kasihan dia Rie," ucap Pak Herman lagi.
" Arie ingin bersama Aisyah Pak, untuk yang terakhir kali nya," ucap Arie lirih.
"Tapi Rie, kamu harus jaga sikap kamu, Bapak takut ketika kamu melihat Aisyah, kamu ngak bisa menahan emosi mu Rie." Pak Herman menasehati Arie.
"Maaf Pak, bila berkenan, biar Tiara saja yang mengantar bayi nya pulang kerumah, jadi Arie dan Bapak bisa mengantar Aisyah dengan ambulans," usul Tiara.
"Terima kasih Tiara, " ucap Pak herman seraya menyerah kan bayi nya pada Tiara.
Tiara menyambut bayi tersebut dengan senang, iya langsung memeluk dan menciumi bayi tersebut.
"Lihat lah Rie, Aisyah tidak pergi, tapi iya hidup di dalam diri anak mu, Aisyah menitip kan nya agar kau tak merasa sedih saat kehilangan nya, dan Aisyah yang bilang begitu pada ku Rie," ujar Tiara lirih.
"Dia lah yang akan menjadi penyemangat bagi mu Rie, dia juga yang akan membuat mu bangkit kembali," tutur Tiara melanjut kan.
Arie langsung melihat kearah putra nya, meraih nya dari Tiara kemudian mencium nya.
Semua terharu melihat kejadian yang memilu kan itu, tak terkecuali Riki, Riki juga ikut berurai air mata menyaksikan nya.
Arie mengembalikan bayi nya ke pelukan Tiara.
__ADS_1
"Aku titip anak ku pada kalian Tiara, aku harus menemani Aisyah di saat terakhir nya," ucap Arie lirih dan iya pun kembali menangis.