
Pertunangan Arjuna masih sebulan, tapi persiapan sudah di mulai, seluruh Direksi, staf dan karyawan sudah mendengar kabar tersebut,
" Rangga apa kau sudah mendengar kabar bahwa CEO kita akan bertunangan bulan depan?" tanya Leo.
"Belum, biasanya Arjuna akan memberitahu ku secara langsung," jawab Rangga.
"Kau tahu dari mana?" tanya Rangga pada Leo.
"Ya tahu lah, semua karyawan di sini membicaraakan tentang pesta pertunangan mereka yang akan di adakan secara besar-besaran."
"Dan satu lagi Rangga, aku sengaja memberi mu informasi lebih awal agar kau bersiap," Leo.
"Bersiap untuk apa?" tanya Rangga heran.
"Bersiap untuk mencari partner, untuk pergi ke acara tersebut, karna akan ada pesta dansa di acara pertunangan Arjuna ."
"Apa? setahu ku Arjuna, tak suka yang berlebihan," ujar Rangga.
"Iya tapi calon nya Arjuna itu, blasteran prancis jadi, aku rasa, wajar saja jika mereka mengadakan acara tersebut."tutur Leo.
"Rangga, dalam waktu sebulan ini, kau harus cepat mencari pasangan dansa mu, jika tidak, kau akan terlihat seperti pecundang di sana." Leo memanasi Rangga, kemudian iya tersenyum nyengir karna berhasil membuat Rangga sedikit panik.
"Biarkan saja, aku akan pergi sendiri, atau jika perlu aku ngak usah pergi di acara tersebut."
"Aduh Rangga, Arjuna itu Bos tertinggi di sini, selain itu, dia juga teman mu, dan kau inggat Rangga, Arjuna lah memberi posisi penting ini kepada kita, apa kau tidak inggin menghargainya sedikit pun," tutur Leo, iya semakin senang melihat kekhawatiran Rangga.
Sebenarnya Leo inggin menyadarkan Rangga, agar Rangga tak terlalu larut atas ke pergian istrinya, iya inggin Rangga bisa move on dan mencari pendaping hidupnya kembali.
Ada kekhawatiran tersendiri di hati Rangga, Leo benar, iya berada di sini karna Arjuna, karna Arjuna mempercayainya, di antara sekian banyak teman-teman dan kolega nya sendiri, karna Arjuna pula, iya bisa merubah nasib keluarga nya.
Mencari pacar dalam waktu sebulan bukan lah hal yang mudah bagi Rangga, apalagi setelah pulang bekerja iya harus menggurusi Aira, bergantian dengan Sakina.
"Sakina," tiba-tiba saja nama itu terlintas di benak Rangga.
"Sakina, apa aku pergi ke pesta bersama dia saja ya? karna cuma dia wanita muda yang ada di rumah ku, selain itu, aku tak punya waktu cukup untuk mencari partner ku." Rangga bicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tapi jika bawa Sakina, Ibu pasti akan tidak setuju, lagi pula aku takut Sakina akan besar kepala, dikiranya aku menyukainya lagi." Rangga khawatir.
"Nanti saja aku pikir-pikir dulu," batin nya.
Sementara diruangan CEO, seorang wanita muda dan cantik memasuki ruangan tersebut, iya adalah Evelyn.
Evelyn masuk tapi tak menemui Arjuna, hanya ada Raka di sana.
" Hai, Evelyn, kau kesini mencari Arjuna ya?"tanya Raka ramah.
"Arjuna, aku tak kenal Arjuna, aku hanya mencari pria yang akan di tunang kan dengan ku," jawab Evelyn jutek.
Raka tertawa," Pria yang akan bertunanggan dengan mu itu, Arjuna, bukan nya kalian sudah beberapa kali bertemu," ujar Raka sedikit tertawa kecil.
"Iya, aku hanya melihatnya, mengetahui namanya, keturunan nya, kekayaan nya, perusahaan-perusahaanya, itu saja, aku bahkan tak tahu apa dia menyukai ku atau tidak, dan masih banyak hal yang belum ku ketahui tentang nya," jawab Evelyn.
Kalian itu lucu ya," Sudah hampir menikah tapi kau tak mengenal nya, Seperti membeli kucing dalam karung," ujar Raka sedikit tertawa.
"Begitulah kenyataanya, aku bahkan belum tahu, makan kesukaanya, hobi nya, dan hal pribadinya lainya," ujar Evelyn.
"Oh ya, apa begini cara kalian memperlakukan tamu dengan tidak menyuruh ku duduk," sindirnya karna iya masih berdiri.
"Oiya, aku lupa, silah duduk nona," canda Raka.
"Kalau aku boleh tahu, kemana Arjuna ?" tanya Evelyn sambil melihat ke arah Raka yang sedang sibuk dengan laptop nya.
"Dia sedang meeting, sebentar lagi mungkin sudah selesai," jawab Raka.
"Kau saudaranya Arjuna kan? adik atau kakak nya? dan kenapa kalian berbeda sekali, kau ramah, sedangkan Arjuna iya terlihat kaku dan dingin, bahkan saat aku melempar senyum padanya iya tak membalas, sepertinya iya pria yang membosan kan, mana bisa aku menikah dengannya." tutur Evelyn.
"Banyak sekali pertanyaan mu, biar aku jelas kan satu persatu, aku dan Arjuna lahir di hari yang sama, dan Arjuna sebenarnya iya sosok penyayang, hangat dan perhatian, tapi sejak peristiwa meninggal nya orang tua kami, iya menjadi terlihat dinggin, aku sendiri bahkan jarang sekali melihat iya tersenyum, apalagi tertawa, semua nya berubah setelah iya juga harus berpisah dengan kedua saudaranya, di tambah dengan beban-beban berat sebagai pewaris tunggal Radja Prawira, semakin membuat Arjuna tertekan, iya bahkan menjadi dewasa sebelum waktu nya, tapi bagi ku, iya saudara yang terbaik, meski aku dan dia seumuran tapi bagiku iya adalah kakak yang selalu ku jadikan panutan, aku menghormatinya seperti aku menghormati Papa ku, sebaik nya jangan menilai buku dari covernya, jika kau mengenal Arjuna, maka dengan sendirinya kau akan jatuh cinta padanya," jawab Raka.
Evelyn hanya diam setelah mendengar penuturan Raka.
Raka melihat jam di tanggan nya, "Baik lah nona, sekarang waktu nya makan siang, aku pamit dulu ya" Raka pun berdiri.
__ADS_1
"Tunggu, siapa namamu? "tanya Evelyn.
"Panggil saja Raka,"
"Boleh aku ikut kau makan siang?" tanya Evelyn.
"Dengan tersenyum tipis," Boleh saja sekira nya kau sudi, " jawab Raka.
Evelyn berdiri dan menghampiri Raka, tanpa sungkan iya langsung menggandeng tangan Raka.
Raka melihat kearah tanggan Evelyn.
"Kenapa? bukan nya sebentar lagi kita akan menjadi saudara," tutur Evelyn santai.
Dan mereka pun berjalan sambil menggandeng mesra tangan Raka, ketika akan keluar, mereka berpasan dengan Arjuna dan juga rekan meeting nya, Raka dan Evelyn terlihat santai di lewat depan Arjuna, iya hanya menaikan alis nya, sebagai isyarat permisi, kepada Arjuna.
Arjuna juga akan pergi makan siang dengan klayen nya, melihat Raka dan Evelyn, Arjuna hanya tersenyum tipis.
Mereka pun keluar dari kantor dan menuju halaman parkir, Evelyn kaget ketika Raka menuju parkiran motor dan mendekati sebuah motor matik berwarna merah.
"Raka kita pakai ini?" tanya Evelyn.
"Iya, itu pun kalau kau mau," jawab Raka, sebenar nya iya berharap Evelyn tak mau mengikutinya, tapi di luar dugaan ternyata Evelyn setuju dan malah terlihat senang.
"Iya Raka aku mau ikut," sahut nya, kini giliran Raka yang kaget, gadis sekelas Evelyn mau pergi bersamanya, dengan menggunakan motor.
"Apa kau tidak takut kepanasan atau debu, dengan ikut dengan ku," ujar Raka sambil memberi helm pada Evelyn.
"Ngak sama sekali, aku malahan senang," sudah lama aku ingin bebas dari semua ini, ujarnya sambil memakai helm dan menaiki motor Raka.
"Kalau kau sendiri kenapa kau pakai motor ini, bukan kah sederet mobil mewah bertengger di rumah mu," ujar Evelyn.
"Motor ini hasil jeripayah ku sendiri, sedang mobil-mobil itu hasil jeripayah kakekku, Papaku, dan Kakaku, dan aku tak bangga sedikit pun menggunakan nya," jawab Raka.
Evelyn semakin mengagumi Raka, "Andai saja aku bisa memilih, aku pasti lebih memilih Raka, dari pada Arjuna," batin Evelyn
__ADS_1