Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Season 2 Episode 42


__ADS_3

Sudah lima bulan sejak peristiwa tertembaknya Evelyn saat melindungi Arjuna.


Kini perut Evelyn semakin besar, usia kandunganya memasuki minggu ke 32, kebahagian menghampiri keluarga itu, bahkan kini, Oma juga sudah dapat bicara meski masih tidak bisa berjalan, kebahagian keluarga mereka akan semakin lengkap, karna bulan depan, Arjuna akan menikahi Khairunissa.


Melihat perut Evelyn yang buncit, Sakina pun merasa iri, ia juga ingin hamil, ke inginan itu di sampaikannya saat ia di dapur membuat nasi goreng untuk sarapan Rangga.


"Mas, aku kok belum hamil ya?" tanya nya kepada Rangga.


"Ya mungkin belum yang, abis nya kamu kalau tidur suka jauh-jauh dari aku, makanya kamu belum hamil, "jawabnya dengan nada bercanda.


"Ah Mas, aku yang menjauh, kamu tetap mendekat kok," balasnya.


"Dasar kamu aja kali Mas, terlalu sibuk kerja jadi ngak, ngak efektif," sangah Sakina.


Obrolan ringan itu di dengar oleh ibu mertua Sakina, ia pun menimpali.


"Eh Sakina, kamu nya saja kali mandul, dulu waktu Rangga menikah dengan Airin, dalam waktu sebulan, Airin sudah hamil kok," tutur Ibunya sengaja memojokan Sakina.


Ibunya Rangga kini kembali tak menyukai Sakina, karna kini, Sakina tak bisa ia mamfaatkan lagi, apalagi setelah menikah dengan putranya, Rangga lebih banyak menghabiskan waktu dan uangnya untuk istrinya.


Ibu Rangga tidak setuju, jika gaji Rangga, di pegang oleh Sakina, sedangkan ia hanya mendapat tiga puluh persen dari gaji Rangga.


Alasan nya sederhana, menurut Lily, Rangga tak perlu memberi gajinya kepada Sakina, karna uang bulanan yang Sakina terima dari Arjuna, lebih banyak dari pada gaji Rangga.


Itulah sebabnya Lily ingin memisahkan Sakina dan Rangga.


"Bu, ngak usah ngungkit masa lalu, seperti apapun Sakina, ia istri Rangga, dan Rangga akan menerima apa pun keadaanya," tutur Rangga.


"Eh Rangga, percuma punya istri, kalau ngak bisa ngasi kamu keturunan," ucapnya ketus.


"Pokoknya ibu mau, Sakina di periksa, jika memang dia mandul, ia harus merelakan kamu, menikah lagi," paparnya ia pun pergi.


Mendengar semua itu, Sakina menjadi sedih.


"Sayang jangan dengarin ibu ya? apapun yang terjadi, aku ngak akan menikah lagi, aku sudah cukup dengan kamu, aku bahagia hidup dengan kamu, lagi pula kita sudah punya Aira, kamu ngak usah khawatir," bujuk Rangga, ia pun memeluk istrinya.


"Ngak Mas, besok kita kedokter saja, aku ingin periksa dan memastikannya, aku ngak sanggup di sindir dan di bandingakan dengan istrimu sebelumnya oleh Ibu kamu Mas," ucapnya sedih.


"Ia sayang," balas Rangga.


Pagi harinya,


Sakina bermaksud untuk konsultasi ke Dokter kandungan, selain Rangga, Ibunya pun ikut, ia ingin memastikan sendiri, hasil pemeriksaan Sakina.


Setelah lama menunggu hasil, dengan berdebar, mereka menunggu Dokter menjelaskan.

__ADS_1


Sakina semakin hancur, saat Dokter menyatakan, bahwa ia akan sulit mempunyai anak, karna masalah kesuburan.


Sakina memang sudah menduga, ia termasuk perempuan yang lama mendapatkan haid pertama.


Saat gadis lain mendapatkan haid pertama di usia 10 sampai 15 tahun, tidak dengan dirinya, Sakina mendapat haid pertama pada usia 17 tahun, itu juga saat ia jatuh dari tangga Asrama.


Sakina menangis meratapi nasibnya yang tak bisa mempunyai Anak.


Namun Rangga dengan sabar ia meyakinkan Sakina, bahwa apa pun keadaanya, ia akan tetap mencintainya.


Sang Nyonya tersenyum bahagia, kini ia punya alasan untuk memisahkan Rangga dan Sakina.


Ia akan mencarikan Rangga istri baru, dan memintanya untuk menikahi gadis lain dan dengan sendirinya, Sakina akan lari dari rumah itu, dan harta Sakina tentu saja akan menjadi harta gono gini, karna selama ini, Rangga yang bekerja meneruskan usaha Ayahnya.


Rencana sudah mantap, ia membawa gadis bernama Meidy, untuk ia perkenalkan kepada Rangga.


Meski sedih, Sakina tak mau cerita pada kakak-kakaknya.


Ia menyimpam kesedihanya sendiri, Sakina merasa tak bergairah, sesuatu yang ia dambakan, kini tak mungkin ia wujudkan, mengandung dan punya anak dari buah cinta dengan sang suami, adalah impian setiap wanita, Sakina merasa ada cela dari dirinya.


Rangga selalu pulang tepat waktu.


Karna ada tamu, ia pun mengucap salam.


"Assalammu'alaikum Wr.Wb," ucap Rangga.


"Waalaikum salam," ucap kedua wanita yang duduk di kursi.


Rangga kamu duduk di sini, ini ibu perkenalkan Meidy, Meidy pun menjabat tanggan Rangga.


"Rangga," ia memperkenalkan namanya.


"Panggil saja Mei," balasnya.


Tak lama Sakina pun keluar untuk menemui suami nya.


Rangga berdiri dan mendekati Sakina.


"Bu, Rangga masuk dulu ya," pamit Rangga.


Namun ia di cegah oleh ibunya.


"Tunggu Rangga, Mei ini, wanita yang ingin ibu jodohkan dengan kamu," ucap santai.


Tak hanya Sakina yang kaget, Rangga pun ikut kaget mendengar penuturan Ibu nya.

__ADS_1


"Di jodohkan Bu, tapi Rangga sudah punya istri Bu," tolak Rangga.


"Istri kamu itu ngak ada gunanya, dia kan ngak bisa memberi kamu anak, jadi dia harusnya merelakan kamu untuk menikah lagi," paparnya santai. seolah tak punya perasaan.


"Ngak akan Bu, Rangga ngak akan menikah lagi," tolak Rangga, kali ini dengan cara yang sedikit kasar.


"Rangga, kamu harus nurut omongan Ibu, jika tidak, kamu sama saja mendurhakai ibu," tegasnya.


"Tapi Bu, bagaimana perasaan istri Rangga bu, lagi pula Rangga hanya cinta dengan Sakina," ungkapnya lagi.


" Terserah kamu Rangga, kamu tinggal pilih, pilih ibu atau istri kamu yang mandul itu, besok ibu kasi waktu buat kamu memutuskan."


Sakina semakin terluka, mendengar ancaman Ibunya, tak sanggup dengan semua itu, ia pun berlari di kamarnya.


Rangga pun langsung menghampiri Sakina yang menangis.


"Sudalah sayang, kamu ngak perlu khawatir, aku pasti tetap ngak mau di jodohin, cuma kamu istri aku selamanya."


Setelah di bujuk oleh Rangga, Sakina pun sedikit tenang.


Saat makan malam, semua terlihat tegang, apa lagi Sakina, ia berusaha menghindari tatapan mata dari mertuanya, tatapan mata yang seolah mengintimidasinya.


Keesokan harinya, saat Rangga akan pergi bekerja, Lyli menanyakan kembali keputusan Rangga, saat itu Sakina menggandeng tangan suaminya.


"Rangga bagaimana keputusan kamu? kamu pilih ibu, atau istri kamu?" tanya Lyli tanpa perasaan.


"Ngak bisa gitu bu, Ibu itu ibunya Rangga, sedangkan Sakina istri Rangga, Rangga perlu dan sayang sama kalian berdua, jadi ibu ngak usah neko-neko, Sakina akan tetap dirumah ini, ibu juga," tegasnya.


Tapi Lily tak mau mengalah," Baiklah Rangga, Ibu akan pergi dari sini, anggap saja Ibumu sudah mati Rangga," bentaknya, ia pun masuk kedalam kamar dan memnereskan barang barangnya.


Sementara Sakina menangis.


Rangga mengejar Ibunya, ia pun berupaya menghentikan Ibunya agar tak pergi.


"Bu, jangan pergi Bu," cegahnya.


"Ibu ngak akan tetap pergi, jika Sakina masih berada di rumah ini," paparnya secara gamblang.


"Tapi Bu, Rangga tak bisa hidup tanpa Sakina bu," keluh Rangga.


"Nonsense Rangga, wanita banyak di dunia ini, untuk apa kamu mempertahankan wanita yang tak bisa memberi kamu keturunan itu," bentaknya lagi.


"Ia Bu, tapi Rangga cuma cinta sama Sakina," jawabnya.


"Ah bullsit, dulu kamu bilang cuma cinta sama Airin, sekarang kamu bilang cuma cinta sama Sakina, cinta itu bisa datang setelah kamu menikah Rangga, apa yang kamu harapan dari perempuan mandul seperti dia," seru Ibunya dengan kencang.

__ADS_1


Mendengar semua penghinaan Ibunya Rangga, Sakina pun menangis, ia pun pergi dari rumah itu, dengan hati yang hancur.


__ADS_2