Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Season 2 episode 15


__ADS_3

***Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidur mu,


Aku ingin menjadi sesuatu yang bisa slalu kau rindu,


Karena langkah merapuh tanpa dirimu, oh karena hati tlah letih...


Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu, aku ingin kau tahu bahwa ku, selalau memuja mu,


Tanpa mu, sepinya waktu merantai hati, oh bayang mu, seakan-akan


Kau seperti nyanyian dalam tidur ku, seperti udara yang ku hela, kau selalu ada.***


Gelisah menanti waktu, tak sabar rasa nya ingin bertemu, tapi aku tak punya alasan untuk meminta padamu, mau kah kau menjadi istriku?


Malam semakin larut, Rangga terus saja gelisah, rasa rindu itu kini semakin menggebu-gebu, Sakina kini seperti berada di tembok yang terjal lagi tinggi, sulit rasa nya untuk menggapainya, bahkan untuk mengunggkapkan perasaan nya, ia masih belum mampu.


Jika Arjuna begitu menyayangi Raka, hingga ia rela berkorban apa saja untuk Raka, apalagi terhadap Sakina,


"Ah aku punya apa untuk Sakina? mungkin Arjuna tak kan mau menerimaku," Rangga mulai ragu.


Tapi di sore hari nya, iya tak dapat lagi membendung kerinduan nya untuk bertemu Sakina, Rangga memantap kan langkah nya, iya seakan tak peduli, meski harus berduel dengan Arjuna .


Tiba di depam rumah, ia memencel bel, Sakina dan Raka kini sedang bersenda gurau di ruang tengah, rumah mereka, Sakina berjalan menuju pintu, mereka mengira Arjuna yang datang, Sakina langsung membukakan pintu.


Sret...


Pintu terbuka, Pucuk di cinta ulam pun tiba, begitulah pepatah.


Rangga langsung tersenyum ketika wajah Sakina kini di hadapan nya.


"Hai Sayang," ucap Rangga tanpa sengaja, karna terlalu senang, sementara Sakina hanya melempar senyum malu dan manja terhadap nya.


"Pak, kamu mencari Kak Juna ya?" tanya Sakina dengan yakin.


"Enggak kok aku memang ingin menemui mu," jawab Rangga.


Sakina masih tersenyum, ia begitu malu, hingga lupa menyuruh Rangga untuk masuk, karna Sakina berada lama di luar, Raka pun penasaran siapa yang datang, ia pun menghampiri Sakina.


"Kak Rangga, kau rupa nya, mari masuk," kata-kata Raka mengagetkan mereka berdua, yang sama-sama sedang tertunduk malu.


Rangga pun masuk dan di ikuti Sakina, sementara Raka sudah ada duduk di kursi yang ada di ruang tamu.

__ADS_1


Rangga duduk di hadapan Raka, sementara Sakina berada di sisi Raka.


"Ada perlu apa Kak Rangga?" tanya Raka.


Rangga sedikit gugup, iya pun mencoba mengatur nafas nya, dan meyakinkan diri nya kembali, mereka berdua heran melihat Rangga yang seperti nya gugup.


"Aku mau ngajak Sakina jalan, " ucap nya dengan cepat, agar iya tak merasa ragu lagi untuk menyatakan nya.


Sakina tersenyum senang, sementara Raka, iya tak bisa mengambil keputusan.


"Boleh kan Raka?" tanya Rangga kembali.


"Kak Raka, Sakina boleh kan pergi bersama Kak Rangga." bujuk Sakina.


Raka sejenak berfikir," Iya deh," jawab Raka.


"Terima kasih Kak Raka," ciuman mendarat di pipi Raka.


Rangga pun membawa Sakina jalan di taman, mereka duduk di depan danau buatan yang ada di taman itu.


Rangga menggenggam erat tangan Sakina, kemudian menciumnya, sejenak kemudian mereka saling tertunduk malu.


Rangga menikmati hangatnya tubuh Sakina yang kini ada di dekapan nya, rasanya iya tak ingin melepaskan Sakina, ia semakin ingin memilikinya.


Rangga melepaskan pelukannya, iya pun meraba wajah Sakina, tatapan matanya pun kini tertuju pada bibir Sakina yang munggil, Perlahan Rangga mendekat kan wajahnya, hidung nya kini menyentuh hidung Sakina yang juga mancung, dengan sedikit memiringkan kepalanya, Rangga pun mendaratkan ciuman nya di bibir Sakina, begitu lembut, Rangga memejamkan matanya seraya menikmati gerakan yang ia lakukan, tanggan Rangka kini coba menahan kepala Sakina, agar ia tak menghindar.


Jantung Sakina berdetak hebat, nafasnya memburu turun naik tak beraturan, iya begitu menikmati sentuhan Rangga, perasaan yang terasa berbeda ketika Rangga mencium nya, ia sering kali di cium sang Kakak Arjuna, tapi rasanya biasa saja, tak seindah dengan yang dirasakan nya kini.


Cukup lama mereka bermain, hingga Sakina melepas kan dekapan Rangga.


Rangga kembali merebahkan tubuh Sakina kembali dalam pelukan nya, ita pun meraih tangan Sakina.


"Sakina kau mau kan jadi pacar ku," bisik Rangga merdu di telinga Sakina.


"Pacar, sudah lama sekali aku ingin punya pacar," tutur nya masih dalam dekapan Rangga.


"Kau mau kan Sakina?" tanya Rangga ingin penjelasan.


Sakina hanya mengangguk, Rangga pun kembali mendaratkan kecupan nya ke bibir Sakina, ia senang, karna kini ia tahu perasaan Sakina terhadapnya, Sakina sepertinya malu, hingga ia tak membalas cium Rangga, tapi Rangga coba mengerti, setelah berhenti sejenak mengambil nafas Rangga kembali ******* bibir mungil Sakina, dan sepanjang waktu mereka habis kan untuk bercumbu.


Sebenarnya tak ada kata puas bagi insan yang sedang di mabuk cinta, sebanyak apa pun waktu yang mereka habiskan berdua, tapi Sakina harus pulang, Rangga berusaha menjaga amanah, iya hanya ijin sebelum magrib, ia harus mengantar Sakina pulang.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, pulang Rangga terus menggenggam erat tangan Sakina, meski merasa sedikit malu, tapi Sakina merasa senang berada dekat dengan Rangga, jika saja ia bisa menghentikan waktu yang berputar, atau bisa menahan rotasi bumi, agar waktu sedikit lebih lama bergulir, kemestraan ini jangan lah cepat berlalu.


Sakina kecil kini sudah dewasa, ia pun kini merasa kan getaran cinta, meski ia tak tahu makna dari cinta sesungguhnya.


Sesampai nya di rumah, Sakina mencoba turun dari mobil, tapi di cegah oleh Rangga, Rangga langsung membukakan pintu mobil nya, untuk Sakina.


mereka pun berjalan bergandengan, saat tiba di depan pintu, mereka kini kembali berhadapan dan sebagai salam perpisahan Rangga ingin mencium Sakina, iya pun mendekatkan wajah nya ke arah wajah Sakina, Rangga memejamkan mata nya sambil menyentuh bibir Sakina, belum sempat mendarat,


"Sakina " Arjuna keluar dari mobil dan memergoki mereka.


Arjuna menghampiri mereka," Apa yang kau lakukan terhadap Adikku Rangga," dengan sedikit membentak, padahal sebelum nya, ia tak pernah mendengar Arjuna marah, begitu pun Sakina, baru kali ini ia ditarik oleh kakak nya dengan sedikit kasar, karna jarak yang jauh, genggaman tanggan kedua nya pun terlepas, dan Arjuna membawa Sakina masuk dan meninggal kan nya.


Arjuna terus saja menarik tanggan Sakina hingga menuju kamar, Raka yang melihat pemandangan tak biasa itu, mencoba mengikuti mereka.


Tak biasa nya, Kak juna menarik Sakina seperti itu, biasa nya mereka selalu terlihat mesra.


Arjuna membawa Sakina masuk kedalam kamar nya.


"Sakina mulai sekarang kau jangan menemui Rangga,"


"Tapi kenapa Kak?" Sakina sedikit gemetar, selama ini ia tak pernah melihat Arjuna marah.


"Kau turuti saja Kakak mu ini, semua yang kakak lakukan demi kebaikan mu," jawabnya sedikit kesal, ia pun berlalu meninggal kan Sakina yang menangis.


Setelah kepergian Arjuna, Raka menyelinap masuk ke kamar Sakina, dan di lihat nya Sakina dalam keadaan yang tertelungkup di atas kasur, sepertinya ia sedang menangis.


Raka mendekati Sakina, iya menarik tubuh Sakina dan memeluk nya,


"Kamu kenapa nangis Dek?" tanya Raka.


Dengan terbata-bata Sakina menjelaskan.


"Sakina di larang bertemu sama Rangga," jawab nya terisak.


"Sabar ya Dek, mungkin kak Juna sedang banyak masalah, nanti biar Kak Raka yang memberi pengertian terhadapnya." Raka meyakinkan Sakina, Sakina pun menghapus air matanya, dan kembali memeluk Raka dengan erat.


Arjuna masuk kekamarnya, iya juga tak mengerti kenapa ia bisa berkata kasar terhadap Rangga, ia tak ingin Sakina menjalin hubungan dengan siapa pun saat ini, ia ingin Sakina tetap bersamanya.


Sementara Rangga pulang dengan hati kecewa, Baru saja ia sepakat menjalin kasih, kini sepertinya akan ada tembok besar yang akan menghalangi cinta nya, dan tembok tersebut adalah Arjuna.


*** Dealova

__ADS_1


__ADS_2