
Tiara terbangun di pagi hari, iya melihat Riki yang tertidur di samping nya, melihat Riki yang tertidur pulas, Tiara enggan membangun kan nya, apalagi wajah nya terlihat polos saat tidur, jika bangun, pasti akan menyebal kan kembali pikir nya.
Tiara menjadi teringat akan hangat nya pelukan Riki tadi malam, iya tak mengerti kenapa sikaf Riki berubah sejak kepergian nya keluar kota.
Mungkin kah ini akan menjadi yang pertama dan terakhir, mengingat ini adalah bulan kelima pernikahanya, dan bulan depan awal dari perceraian nya.
Apalagi Riki sudah mendaftarkan perceraian mereka, dan harus nya besok mediasi pertama mereka.
Sudah lama Tiara ingin melayani nya, namun sikaf Riki yang selalu dingin terhadap nya. Membuat nya urung untuk mendekati nya.
Setidak nya iya merasa sedikit berguna sebagai istri.
Tiara pergi ke kamar mandi dan bersiap untuk bekerja, iya sengaja tak membangunkan Riki, iya mungkin lelah setelah pulang dari luar kota.
Tiara pergi ke dapur dan membuat kan nya secangkir kopi dan beberapa potong roti berisi selai kacang.
Seperti biasa, Tiara pergi bekerja dengan memesan ojek online.
Riki pun terbangun tak kala Tiara sudah pergi, iya pun keluar dari kamar Tiara dan hendak masuk kembali ke kamar nya untuk mengambil handuk.
Riki menghabisikan sarapan nya, iya sudah biasa di tinggal sendiri oleh Tiara, sebagai mana iya terbiasa meninggal kan Tiara sendiri.
Tiara sibuk dengan kesibukan nya, jam sudah menunjukan waktu makan siang namun iya juga belum beranjak dari tempat nya.
Seorang satpam datang menghampiri Tiara, dengan membawa bungkusan kotak makan siang untuk nya.
"Mbak Tiara, ada yang mengantar makan siang untuk Mbak Tiara,"ujar Satpam tersebut kemudian menyerah kan bungkusan nya.
"Terima kasih ya Pak."ujar Tiara seraya meraih bungkusan tersebut.
Di bungkusan tersebut terdapat selembar kartu yang bertulis kan. Jangan lupa makan siang nya.
Tiara hanya tersenyum melihat kartu tersebut, sebab iya pun tak tahu siapa pengirim kartu tersebut.
Sementara itu Aisyah sedang di dapur, iya sedang memasak dan tengah mengoreng sesuatu, namun tiba-tiba iya merasa sakit kepala yang luar biasa hinga iya berlutut kemudian pingsan.
Api kompor menyambar kuali yang berisi minyak panas, dan api menjalar begitu cepat, namun ibu Arie segera keluar karna melihat ada cahaya terang di dapur, dengan sigap ibu mengambil air seember penuh dan menyiram kan nya di atas kuali yang terbakar.
iya melihat tubuh Aisyah yang terkapar di dekat kompor, hampir saja api tersebut menyambar nya.
__ADS_1
Ibu Arie berteriak dan meminta pertolongan agar Aisyah bisa segera di larikan kerumah sakit.
Untung lah, rumah orang tua Aisyah tak jauh dari rumah Arie, para tetangga pun memberitahu kepada orang tua Aisyah.
****
Arie mengemudikan mobil nya melaju menuju rumah sakit, iya sangat khawatir dengan keadaan Aisyah.
Apalagi mendengar kabar bahwa rumah nya hampir saja terbakar. Arie menuju lobi dan melewati ruang UGD ternyata Aisyah sudah berada di kamar perawatan.
Aisyah sudah sadar saat Arie tiba di sana, iya langsung menghampiri Aisyah. Arie duduk di samping nya dan mencium kening nya.
"Kau mengkhawatir kan ku Aisyah,"ujar Arie.
"Maaf Mas, aku hampir saja membakar rumah kita Mas," ujar Aisyah.
"Ngak masalah sayang, yang terpenting tak terjadi apa-apa pada mu,"ucap Arie sambil membelai rambut Aisyah."
"Tapi sudah terjadi sesuatu pada ku Mas."ujar Aisyah sambil tersenyum.
Arie heran melihat Aisyah yang terlihat bahagia setelah kejadian tersebut.
"Apa yang terjadi pada mu, sayang?" tanya Arie lirih.
"Aku sedang hamil, Mas, " ujar Aisyah di telinga Arie.
Arie menarik kepala nya dan duduk dengan tegak seraya menghela nafas panjang.
"Kenapa Mas? seperti nya kau tidak senang mendengar nya." tanya Aisyah.
"Tapi sayang, aku takut kehamilan mu akan memperparah keadaan mu,"ujar Arie.
Aisyah tertawa kecil.
"Mas, jika waktu ku sudah tiba, hamil atau ngak, aku tetap akan pergi Mas," ujar Aisyah.
"Setidak nya, akan ku titipkan seorang anak yang akan menjaga mu di hari tua mu nanti, Mas." ungkap Aisyah.
"Aisyah di saat kau seperti ini pun, kau masih memikir kan ku, sepertinya aku tak kan menua tanpa mu Aisyah."
__ADS_1
"Jika kau pergi, aku pun akan pergi Aisyah," ujar Arie sedih.
"Kalau kau juga pergi siapa yang menjaga anak kita Mas?" tanya Aisyah.
"Sudah lah Aisyah, tak akan ada di antara kita yang akan pergi, kita akan bersama menjaga dan mendidik anak kita," ucap Arie penuh haru, dan langsung mendekap Aisyah.
Dalam hati Aisyah, ada keraguan apa dia sanggup bertahan hingga anak ini lahir kedunia, mengingat semakin hari-hari penyakit nya semakin parah.
Tiara mendapat sebuah pesan singkat dari Ryan, ternyata Ryan sudah menunggu nya di depan untuk menjemput nya.
Tiara merasa ragu untuk masuk ke dalam mobil Ryan,
"Ayo Tiara, aku antar pulang," ajak nya seraya meraih tangan Tiara dan menuntun nya menuju mobil.
Dan dengan sedikit terpaksa Tiara pun masuk. Tiara masih bimbang untuk melanjut kan hubungan nya dengan Ryan atau pun memutus kan nya.
Jujur saja sosok Ryan lah selama ini yang selalu berada di dekat nya saat iya patah hati terhadap Arie.
Iya juga binggung apa yang harus di katakanya pada Ryan, apa Ryan akan menerima segala kebohongan nya selama ini.
Sikaf diam Tiara membuat Ryan penasaran dan bertanya pada nya.
"Kamu kenapa Tiara?" tanya nya.
"Kamu masih marah ya,soal yang kemarin?" tanya nya lagi.
"Ngak kok aku cuma ngak enak badan aja, masuk anggin kali."jawab Tiara berbohong
"Tiara kapan-kapan kamu ikut aku kerumah ku ya, aku sudah cerita tentang kamu pada orang tua ku, dan mereka menyuruh ku untuk membawa mu,"ungkap Ryan.
Tiara kaget mendengar penuturan Ryan, iya bahkan tak pernah menyangka Ryan seserius itu.
Hati Tiara menjadi berkecambuk, apa yang harus di kata kan nya pada Ryan, apa dia harus jujur bahwa diri nya kini masih berstatus istri orang.
Hubungan ini sudah salah dari awal, tapi Tiara nekat melanjutkan nya, karna keegoisan nya.
Iya sadar bahwa Ryan hanya batu lonjakan bagi nya untuk melupakan Arie dan Riki.
Tiara merasa telah berbuat jahat pada Ryan, iya hanya memberi kan harapan palsu dan angan-angan belaka.
__ADS_1
Ryan pasti akan merasa kan sakit, sama seperti yang iya rasa kan saat di tinggal Arie.
Ryan hanya akan menjadi korban perasaan dari sikaf egois nya. Melihat wajah Ryan yang polos iya pun menetes kan air mata.