Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Season 2 Episode 24


__ADS_3

Malam minggu kembali tiba, Arjuna berdiri sendiri di balkon rumahnya, baginya balkon adalah tempat yang paling nyaman.


Ia sendiri menatap langit, sambil menghisap rokok dan menghempaskan nya dengan berat, kesunyian dan kesepian kini mulai terasa mengusik nya, Raka yang biasanya menghabis kan malam minggu bersamanya, kini ia sibuk bersama Evelyn, sedangkan Sakina, ia tak mau terlalu dekat, karna dalam hati nya masih ada rasa yang tersisa, entah kapan rasa itu bisa terkubur dalam, satu sisi ia tak bisa menjalin hubungan dengan wanita lain, di sisi lainya ia sendiri terjebak cinta terlarang, yang sangat sulit untuk di hindari.


Arjuna kembali menghisap rokok dengan tarikan yang cukup lama, dan menghempaskanya kembali, nafasnya terasa semakin berat, seiring tetes air yang mengalir di sudut matanya.


Derita apa yang sedang dirasa Arjuna saat ini, di saat kedua adiknya merasakan bahagia, ia justru tersiksa.


Sakina mencari Arjuna di kamarnya, tapi ia tak menemukanya, Sakina pun tahu di mana keberadaan Arjuna, ia menuju balkon rumah tempat favorite mereka.


"Sedang apa disini Kak?" tanya Sakina,


Arjuna yang kaget langsung menghapus air matanya.


"Sedang merenungi nasib," jawabnya tanpa melihat kearah Sakina.


"Ngak usah terlalu di pikirkan kak, Sakina yakin, perjuangan dan pengorbanan Kakak pasti akan membuahkan hasil, kelak suatu saat kita akan merasa bahagia bersama, dan keluarga kita akan semakin ramai dengan kehadiran anak-anak kita kelak, Sakina yakin lelaki baik seperti Kak Juna, akan mendapat jodoh yang terbaik."


Ketika asyik ngobrol, Mang ujang datang menghampiri mereka,


"Mas Juna, ada Mas Rangga dan Ibunya, katanya ingin bertemu Mas Juna," ujar Mang ujang.


Mendengar penuturan Mang ujang, Sakina dan Arjuna mereka langsung saling memandang, pertanyaan mereka sama, apa maksud kedatangan Rangga dan Ibunya.


Nyonya Lily terkesima melihat rumah mewah dan megah itu, tak henti-hentinya ia berdecak kagum, selain rumah yang besar dan mewah, ia juga kagum dengan furniture impor yang menghiasi setiap sudut rumah tersebut.


"Wah rumahnya besar, mewah dan megah, jika di banding dengan rumah ku yang sekarang, mungkin bisa sepuluh kali lipatnya, aku tak menyangka akan mendapat menantu orang kaya lagi," batinya sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


Arjuna dan Sakina turun dari tangga dan langsung menuju ruang tamu dan menemui mereka.


Setelah saling berjabat tanggan, mereka pun duduk.


Rangga dan Sakina terlihat nervous, mereka pun saling melempar senyum, kemudian tertunduk malu, dan begitu lah beberapa kali terjadi pada mereka, mungkin karna rasa rindu, yang menggebu Rangga pun hanya memandangi Sakina, ia bahkan lupa untuk menyatakan maksudnya, sorot mata tanjam melihat kearah Rangga, mata itu milik Arjuna, meski sedikit cemburu namun Arjuna, coba menguasai perasaanya.


Lain Rangga, lain pula Ibu Rangga, ia terus memandang seisi rumah tersebut," Wah, ingin sekali punya rumah mewah seperti ini," batinya.


Selama peristiwa tersebut berlamgsung, hanya keheningan yang terjadi, hingga deheman Arjuna membuyarkan lamunan mereka.


"Hm, Ada perlu apa kamu kemari Rangga?" tanya Arjuna, sebetulnya ia tahu maksud Rangga, hanya saja ia tak mengira akan secepat ini.


"Kedatangan Aku dan Ibuku kemari, untuk melamar Sakina." ucap Rangga sedikit gugup.


Suasana kembali hening, karna menunggu jawaban Arjuna, Arjuna tak pernah mengalami situasi seperti ini, jadi ia juga tak tahu harus berkata apa, tetapi ketika diihatnya Sakina tersenyum bahagia, Arjuna pun tahu.


"Itu terserah Sakina, jika ia mau, aku juga akan terima," jawab Arjuna .


"Sakina kamu mau kan menikah dengan ku?", tanya Rangga, tanpa basa-basi.


Sakina yang terlihat malu, ia pun memandang kearah Arjuna, yang lebih dulu menatapnya, Sakina memberi jawabanya dengan mengganguk, dan seketika Rangga langsung berdiri.


"Yes," ucap nya senang,


"Kamu jangan senang dulu Rangga, Masih ada Mas Aziz, kamu harus meminta restu pada nya," ujar Arjuna ketus, tapi Rangga sepertinya tak perduli.


"Besok aku minta ijin sama kamu Arjuna, untuk membawa Sakina menemui Mas Aziz, sekalian mau membicarakan dan menetapkan hari pernikahan kami, jika kamu sudi, ikutlah bersama kami Arjuna," pinta Rangga.

__ADS_1


Arjuna terdiam, kemudian ia pun menggangguk," Ia aku juga sudah kangen sama Kakaku, sekalian kita ajak Raka dan Evelyn," ujarnya.


"Kalau sudah satu keluarga kumpul, langsung nikah saja Arjuna, nanti resepsi nya menyusul, itu pun kalau bisa." Rangga menyatakan maksudnya dengan tersenyum malu.


"Enak saja kamu, di kasi hati malah minta jantung, ngak bisa!" Arjuna sedikit tersulut emosinya.


"Maaf Arjuna, aku kan cuma usaha, siapa tahu boleh," ucap Rangga, sambil melihat kearah Sakina yang tersenyum malu.


Sementara mereka cuap-cuap, sang nyonya hanya tersenyum, tapi bukan karna mendengar obrolan mereka, Nyonya Lily tersenyum karna mencoba mengatur sebuah rencana, bagaimana caranya ia bisa memanfaatkan kekayaan Arjuna untuk anak dan dirinya sendiri, kehadiranya seperti tak ada gunanya disana, hingga pembicaraan itu selesai, Si Lily tetap saja sibuk di dunia khayalanya.


Setelah mengatur rencana untuk besok, Rangga dan Ibunya pun pulang, dengan perasaan bahagia, apalagi Rangga, sejak tadi siang, ia terus saja tersenyum-senyum, ia bahkan seperti orang gila yang tersenyum sendiri.


"Terima kasih Kak juna, karna telah merestui Sakina dan Rangga," ucap Sakina terharu, ia pun memeluk Arjuna.


Sakina tak menyangka, Arjuna bisa berubah secepat itu, ia pikir ia dan Rangga tak kan pernah bisa bersama, karna terhalang restu dari Arjuna, ternyata setelah kejadian itu, Arjuna malah melunak hatinya.


Setiap kejadian pasti ada hikmah di balik semuanya.


"Tentu saja Dek, Kak Juna akan bahagia, jika kau bahagia," tutur Arjuna, dengan nada berat, karna berusaha menahan sedihnya.


Setelah ia kehilangan banyak waktu dengan Raka, setelah pernikahan Raka, kini tak lama lagi ia pun harus merelakan kesayanganya yaitu Sakina untuk pergi darinya.


Tapi memang seharusmya begitu, kini kedua adiknya sudah dewasa, mereka berhak bahagia, dengan jodoh pilihanan masing-masing.


Semua orang berhak memilih, terkecuali dirinya, Arjuna merasa dirinya selalu terjebak dalam situasi sulit, hingga ia hanya bisa melihat kebahagian orang lain, tanpa pernah merasakan kebahagiaan itu sendiri.


Arjuna membawa Sakina kekamarnya, setelah mengusap kepala Sakina dengan lembut, Sakina akan tertidur dengan sendirinya.

__ADS_1


Di usianya yang sekarang, Sakina tetap bersikaf manja pada dirinya dan Raka, apalagi setelah kehilangan lima tahun waktu kebersamaan mereka, Sakina yang masih kecil, harus kehilangan kedua orang tuanya, selain itu, ia juga terpisah dengan kedua saudaranya, Arjuna kembali meneteskan airmatanya, mengenang kejadian pahit 6 tahun yang lalu, dimana secara langsung, tiga orang yang ia cintai meninggalkanya secara bersama, tak hanya itu, kepergian ketiganya, juga nenyisakan beban berat yang harus ia pikul sendiri, Arjuna yang masih muda harus merelakan masa mudanya, untuk bekerja dan mengurusi Raka yang sakit-sakitan, beban yang begitu berat mampu membuat Arjuna dewasa sebelum waktunya.


Setelah memastikan Sakina terlelap, ia pun keluar dari kamar Sakina, dan kembali ke balkon, Arjuna masih saja gelisah, ia tak tahu perasaan apa yang menggelutinya saat ini, Kebahagiaan Sakina, seolah derita baginya, dan jika ia ingin merasakan kebahagian berumah tangga, itu bearti ia mengharapkan kematian Raka, posisi yang begitu sulit, padahal Arjuna juga ingin bahagia, hidup bersama dengan orang yang di cintai dan mencintainya dalam sebuah bahterah rumah tangga, tapi lagi-lagi itu tak munggkin, tak kuat dengan semua itu, Arjuna kembali menyulut api ke rokok yang ada di bibirnya, dengan tarikan dan hempasan nafas yang berat, Arjuna coba melewati malam yang sunyi itu, hanya berteman dengan beberapa puntung rokok dan bintang -bintang yang menghiasi langit malam.


__ADS_2