Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Sayang atau cinta


__ADS_3

Sesampai nya dirumah Riki langsung di tunggu Mama," Lama sekali kamu, kasihan kan si serly sudah nungguin kamu," ujar mama dengan kesal.


"Riki hanya diam, iya pun menghampiri tante Indry, "Maaf tante, tadi banyak kerjaan di kantor,"" ujar Riki bohong.


"Riki kamu jadi kan pergi sama Serly," tanya mama sambil mengedipkan mata nya, Riki pun mengerti,


"Jadi Ma, Riki mandi dulu ya."


Riki naik keatas dan langsung menemui Raka, Iya melihat Raka yang sedang di ganti kan popok, Raka mengepak-ngepakan tangan nya kearah Riki seolah minta di gendong,


Riki pun langsung menggendong Raka yang telah selesai di gantikan popok nya.


Iya mencium Raka dan menimang nya, Riki asik bermain dengan Raka, karna jarang sekali iya bisa bersama Raka, biasa nya saat iya pulang Raka sudah tidur, saking asik nya Riki, iya pun lupa pada Serly yang menunggu nya.


Iya merasakan indah nya menjadi seorang ayah, seorang ayah yang lupa waktu saat bersama dengan buah hati nya.


Riki begitu bahagia hari ini, selain iya bertemu dan melepaskan kerinduan nya pada Arjuna, iya pun di sambut dengan senyuman oleh Raka, andai mereka semua bisa bersatu kembali, iya juga ingin membawa Arjuna untuk tinggal di sini, tapi tentu Tiara, tak kan mengizinkan nya.


****


Tiara sudah sampai dirumah, dan saat itu iya melihat Arie yang sudah gelisah menunggu nya.


Arie langsung menghampiri Tiara, dan saat berhenti iya langsung meminta Tiara membuka pintu mobil nya.


Iya langsung mengambil Aziz dan nembawa nya masuk.


Tiara tahu Arie pasti sangat cemas, karna Tiara membawa kedua anak mereka.

__ADS_1


"Dari mana kamu Bun?" tanya Arie sedikit emosi.


"Maaf Yah, Bunda pergi belanja membeli susu Aziz, Bunda harus membawa kedua nya, karna tadi Ibu ngak ada di rumah," papar nya.


"Bun kalau kamu mau pergi belanja, kamu tunggu Ayah, dan kalau terdesak sekali pun kamu bisa menitip kan Aziz di rumah Pak Herman," ujar Arie dengan sedikit emosi.


Tiara hanya menggangguk, mengakui kesalahan nya,


"Maaf Yah," ucap Tiara lirih


"Jangan di ulangi lagi ya Bun, itu membahayakan kalian semua," ucap Arie.


Tiara hanya diam, ternyata membangun rumah tangga yang sakina, mawarda dan warohma, itu ngak mudah, baru seminggu menjalani rumah tangga nya bersama Arie, sudah banyak perselisihan antara mereka, meski bisa di netralisir, nyata nya itu cukup membuat renggang hubungan mereka beberapa waktu.


Tiara pun menyiapkan makan malam mereka, setelah selesai, mereka pun makan bertiga, Ibu , Tiara dan Arie makan tanpa ada bicara sedikit pun, dan Ibu juga merasa heran seperti nya mereka sedang ada masalah, fikir Ibu Arie.


Setelah selesai makan malam nya, Tiara pun membereskan dan mencuci piring sehabis mereka makan.


"Arie kesal sama Tiara bu, Tiara pergi ngak ijin sama Arie, dan lebih membuat Arie khawatir adalah iya membawa Arjuna dan Aziz bersama nya, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada mereka bu, seperti nya Tiara ngak menghargai Arie sebagai suami nya."


"Arie, dalam rumah tangga itu biasa terjadi cek-cok atau pertengkaran, bagaimana pun kalian itu mempunyai sifat dan watak yang berbeda, meski kamu dan Tiara sudah mengenal sejak kecil, tidak berati kalian saling nengerti, begitu lah rumah tangga, mungkin kalian merasa nyaman saat menjadi teman atau sahabat, tapi saat menjadi suami-istri akan sangat jauh berbeda, Kau harus sabar Rie, karna kau kepala rumah tangga mu, kau sendiri yang menentukan arah, kemana kau akan membawa keluarga mu, Ibu sering ingat kan, menikahi seorang yang kita cintai bukan bearti kita akan bahagia bersama nya," ucap Ibu nya dalam.


Tiara berbaring di atas kasur nya, iya selalu terfikir pada sifat nya semakin egois pada Arie,


Kata-kata Arie memang benar, dan sangat wajar jika iya marah, Selain pergi rumah tanpa ijin, iya juga membawa anak-anak mereka pergi, padahal Arjuna dan Aziz sama-sama masih kecil, dan bisa saja terjadi sesuatu pada mereka karna kecerobohan nya.


"Aku kenapa ya?" tanya Tiara pada dirinya.

__ADS_1


"Apa karna aku tak mencintai Arie sama seperti mencintai Riki, aku jadi setengah hati dalam menjalani kewajiban ku sebagai seorang istri."batin nya


"Aku harus minta maaf sama Arie," batin nya, dan baru saja iya ingin beranjak, Arie sudah masuk ke kamar dan berbaring di samping nya.


Tiara langsung membalikan tubuh nya kearah Arie.


"Yah Bunda minta maaf ya, Yah, Bunda janji ngak akan keluar tanpa seijin Ayah lagi, dan Bunda ngak akan bawa anak-anak kita lagi," ucap Tiara sambil mencium tangan Arie.


"Iya Bun, Ayah juga minta maaf karna berkata kasar padamu, Ayah khawatir pada kalian, Ayah sayang sama kalian semua,"


ucap Arie sambil mengecup kening Tiara.


Dan tak hanya sampai di situ Arie pun melanjut kan mencium bibir Tiara, dengan perlahan iya pun membuka kain yang menutupi tubuh istri nya dan mencium setiap lekuk tubuh nya.


Arie pun memulai gerakan nya dengan sangat lembut dan hati-hati, iya tak ingin Tiara merasakan sakit sedikit pun, Tiara hanya terdiam sesekali membalas kecupan Arie, namun hati nya masih saja hampa, apa yang iya lakukan hanya semata menjalani kewajiban nya sebagai seorang istri.


Tiara harus pura-puara bahagia, harus pura-pura tersenyum saat Arie melempar senyum pertanda kepuasaan nya.


Tubuh Arie jatuh di atas tubuh nya, iya pun memeluk Arie dan merangkul nya,Tiara menetes kan air matanya, iya sendiri menjadi miris, bahkan sudah berkali-kali iya melakukan nya pada Arie, namun rasa nya tetap saja sama, dan tak sama saat iya menjalani nya bersama Riki.


Satu pertanyaan dalam diri nya, apa rasa sayang tidak lah sama dengan rasa cinta, bagaimana mengubur rasa cinta itu, hingga iya bisa bahagia hidup bersama Arie.


Hal yang sama terjadi pada Riki dan Serly, bagaimana bisa mereka berada di kamar hotel dan sedang melakoni adegan demi adegan mestra.


Serly seperti nya tahu apa yang Riki butuh kan dan Riki juga tahu, perempuan seperti apa Serly, bahkan mereka baru saja mengenal tapi sudah bisa terlibat adegan satu ranjang.


Bagi Riki iya hanya melampias kan kebutuhan biologis nya, tak perduli iya akan menikahi Serly atau tidak nanti nya, toh rasa cinta nya juga sudah mati, yang ada hanya bagaimana menjalani hidup agar tak terasa terlalu hampa.

__ADS_1


Keduanya terkulai lemas merasakan puas, hanya kepuasan sesaat, tanpa pernah terpikir akibat nya nanti.


Riki tetap lah Riki, selalu mengulangi kesalahan nya, bagi nya akibat seperti apa pun sudah tak ada arti, sama saja, saat iya mencintai seorang wanita dalam hidup nya dan berusaha setia, iya pun akhir nya kehilangan juga orang yang paling iya cintai, lalu apa arti nya kesetian, pengorbanan, jika akhir nya iya juga terluka karna cinta.


__ADS_2