Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Karma


__ADS_3

Riki sudah pulang mengantar Tiara, namun kata-kata nya masih terngiang-ngiang di telinga nya," Apa yang harus ku lakukan sekarang, Aku sudah terlanjur menerima lamaran Arie, sedangkan aku, masih ingin kan kebahagian dalam menjalani rumah tangga dengan Riki."


"Tidak Tiara, sudah cukup kau terlibat emosi dengan Riki, Arie juga mencintai mu, kau juga akan bahagia bersama nya."batin Tiara.


Tiara tersentak dari lamunan nya, ketika telpon nya berbunyi,


"Sayang, kamu di mana?" tanya Arie.


"Aku di rumah Rie," jawab Tiara lesu.


"Kamu kenapa kok kayak nya ngak semangat?" tanya Arie curiga.


"Ngak apa-apa baru bangun tidur," jawab Tiara spontan.


"Tiara sebentar lagi aku jemput, ada yang ingin ku perlihatkan pada mu," Arie pun menutup telpon nya.


Tiara pun bersiap, dan menyuruh Bi Inah agar menyiapkan keperluan Arjuna.


"Bi, tolong mandiin Arjuna ya Bi, Tiara mau siap-siap, sebentar lagi Arie datang menjemput."


"Iya Mbak,"


Tapi terdengar suara ketukan pintu,


"Biar saya saja Bi yang membuka nya, " Tiara pun keluar dan membuka pintu, dan ternyata Arie sudah datang.


"Cepat sekali datang nya Rie,"


"Aku bawa ini Tiara, "Arie menunjukan sebuah kota persegi empat di dalam kantong plastik.


Tiara pun membukanya dan ternyata baju kebaya yang akan di gunakan nya saat iya dan Arie merencana kan pernikahan mereka dulu.


"Rie, kau masih menyimpan nya?" tanya Tiara haru.


"Tentu saja Tiara, aku selalu berharap aku bisa kembali mengenakan nya pada mu, suatu saat nanti," ucap Arie haru.


Tiara meneteskan air mata nya, teringat akan perjuangan Arie yang sejak dulu ingin menikah dengan nya, dan saat ini keinginnan tersebut tinggal selangkah lagi di depan mata, bagaimana mungkin Tiara menyakiti Arie lagi.

__ADS_1


Tiara pun memeluk Arie," Terima kasih Rie, karna kau menyimpan semua kenangan kita, aku tak menyangka baju ini bisa kupakai lagi saat pernikahan kita nanti."


"Aku bahkan masih menyimpan hantaran yang kan ku berikan pada mu, entah mengapa aku merasa, akan kembali melamar mu, dan semoga kali ini tak kan ada yang menghalangi kita Tiara," Arie pun mencium kening Tiara lekat.


"Maaf kan aku Rie, aku sempat ragu dengan rencana pernikahan kita, aku tak kan mengecewakan mu lagi," batin Tiara.


"Aku coba kenakan ya Rie." Tiara pun masuk ke kamar dan mencoba kembali baju kebaya itu, beberapa saat kemudian iya pun keluar.


Arie terkesima, karna Tiara terlihat tampak cantik dan anggun, Arie melingkar kan lengan nya di perut Tiara iya pun memeluk Tiara dari belakang.


"Aku tak sabar menanti waktu, sayang," ucap Arie di telinga Tiara.


"Sudah lama sekali rasa nya, aku menunggu saat ini," Arie pun mencium leher Tiara.


Tiara pun membalikan tubuh nya dan mencium bibir Arie, mereka pun larut dalam asmara yang bergejolak.


Lima menit mereka saling beradu, sebelum akhir nya Tiara kembali menjatuh kam tubuhnya ke pelukan Arie.


"Kenapa saat dengan Arie, aku merasa cinta ku untuk nya, dan saat bersama Riki, aku juga mempunyai hasrat yang sama, astaga wanita seperti apa aku ini, aku mengingin kan kedua nya sekaligus, andai saja, aku bisa membagi tubuh ku seperti aku membagi hati ku, dua-dua nya begitu tulus mencintai ku, aku semakin binggung," batin Tiara


"Tentu saja sayang, kau sudah menjadi seorang ibu sekarang, tentu tak sama saat kita fiting baju ini,"


"Iya Rie, Aku bukan Tiara yang dulu, Maaf Rie, jika kau memiliki ku sekarang, raga ku sudah ngak utuh, bahkan diri dan cinta ku yang sekarang adalah sisa orang lain," ucap Tiara lirih.


"Jangan bicara seperti itu Tiara, aku bahkan bersyukur pada Tuhan, karna iya masih memberi ku kesempatsn untuk bersama mu." Arie kembali mencium kening Tiara.


"Arie masih saja yang dulu, cinta nya pada ku tak tergerus oleh waktu, lalu apa lagi yang kau pikir kan Tiara, yang terbaik kini ada di hadapan mu."batin Tiara.


"Rie, katanya kamu mau menunjukan sesuatu pada ku Rie."


Arie pun menggangguk dan mereka pun pergi bertiga.


***


Riki pulang dalam keadaan lelah, iya langsung memasuki kamar dan mencari keberadaan Raka, tapi tak mendapati nya,begitu pun dengan Syntia.


Riki berlari menuju kebawah, dan iya pun menanyakan keberadaan Raka dan Syntia, kepada salah seorang pembantu nya.

__ADS_1


"Den Raka, masuk rumah sakit lagi, Pak, karna tiba-tiba saja tubuh nya kembali panas." Pembantu tersebut menerangkan kepada Riki.


Riki pun langsung menelpon Syntia, dan mencari tahu keberadaan mereka, kemudian menyusul nya di rumah sakit.


Riki tiba di rumah sakit dan Raka sudah di infus, sekali lagi hati nya hancur, karna harus menyaksikan darah daging nya menderita.


Meski tanpa suara, Raka seperti merintih dalam diam nya, tak terasa oleh Riki bulir air mata menetes di pipinya.


Seperti nya Raka hadir sebagai karma bagi Syntia dan Riki, bagaimana setiap menyaksikan penderitaan Raka, nyawa Syntia seperti tercabut, dan itu harus iya jalani selama seumur hidup nya, kebahagiaan nya terampas sudah, apalagi iya kini tak bisa hamil lagi, hati Syntia, lebih hancur dari pada hati Tiara, saat iya dengan sengaja merampas kebahagian sahabat nya, apa pantas Syntia mendapat kan nya.


Sementara Tiara, dia akan bahagia, siapa pun pasangan hidup nya, baik Riki atau pun Arie, kedua nya mencintai Tiara dengan tulus.


***


Tiara dan Arie sudah sampai di rumah Arie, di sana juga terlihat pak herman yang menunggu kedatangan mereka.


Mereka pun duduk berhadapan dengan pak herman,


"Tanggal pernikahan kalian sudah di tetap kan, baru saja bapak mengurus nya ke KUA dan semua sudah beres."


"Terima kasih banyak Pak," ucap Arie.


"Sama-sama Nak, dan untuk resepsi nya, kalian sendiri yang mengatur nya harus bagaimana."


"Maaf Pak, saya dan Tiara sudah memutus kan untuk tidak menggelar resepsi, hanya undangan untuk keluarga dan kerabat terdekat saja, dan itu pun hanya bersifat sederhana." papar Arie.


"Kalau gitu acara nya di rumah Bapak ya Rie, Bapak juga ingin ambil andil dari kebahagian kalian berdua, selain itu rumah bapak terasa sepi, karna tak ada lagi menantu yang akan datang di sana, dan Bapak sendiri mengganggab Tiara sebagai menantu Bapak, dan Arie, kamu adalah anak Bapak, kalian jangan sungkan bila perlu sesuatu," ujar Pak Herman.


"Terima kasih Pak," serempak mereka menjawab.


Setelah Pak Herman pamit, Arie pun menunjukan sesuatu Pada Tiara, Yaitu kamar Arie yang kini sudah di renovasi dan di besar kan, untuk menyambut pengantin baru.


Setelah itu Arie memperlihatkan barang-barang hantaran, yang sudah terbungkus rapi, meski sebenar nya itu bukan barang yang baru, karna barang hantaran tersebut sudah di persiap kan Arie, untuk pernikahan mereka sebelum nya.


Tiara pun terharu, Arie sudah mempersiap kan semua nya sendiri, dan tanpa harus merepot kan Tiara.


"Rasa nya tak ada alasan bagi mu untuk menolak Arie, Tiara, persiapan hampir matang, dan kebahagian menanti mu, bersama cinta pertama mu," batin Tiara.

__ADS_1


__ADS_2