Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Season 2 Episode 39


__ADS_3

Setelah kepergian Evelyn mereka semua juga ikut pulang, mereka juga menyayangkan sikaf Raka yang menuduh Evelyn tanpa bukti.


Sakina dan Rangga berusaha menyusul Evelyn, tapi mereka kehilangan jejaknya.


"Mas, aku kesal deh dengan sikaf Kak Raka, tapi kenapa Kak Raka bisa seperti itu ya, padahal Kak Raka itu orang nya lembut, penyayang, meski pun jahil, aku jadi kasihan dengan Kak Evelyn,"tutur nya.


Sakina masih saja cuap-cuap tapi sepertinya Rangga hanya diam saja, ia seperti sedang melamun.


"Mas, kamu dengar ngak sih omongan aku?" tanya Sakina kesal.


"Dengar sayang, tapi aku juga khawatir sama kamu, jika Alena itu mengincar keluarga mu, bukan tak mungkin kamu juga bisa jadi sasaranya, lihat betapa licinnya dia, setelah bertahun-tahun menjadi buronan, sampai sekarang jejaknya juga ngak bisa di lacak, benar-benar ular," tutur Rangga.


"Maksud kamu apa Mas?" tanya Sakina.


"Raka ada benarnya juga sayang, jika Evelyn itu anaknya Alena, maka Alena pasti akan mengawasi anaknya, otomatis itu akan memudahkan Alena untuk menyakiti kalian, terutama kamu sayang, aku ngak rela ada yang menyakiti kamu," papar Rangga, ia menggenggam erat tangan Sakina dan mencium nya.


"Tapi Mas, kak Evelyn itu baik, dia tulus banget, jadi ngak akan mungkin dia menyakiti kita semua," sanggah Sakina.


"Aku tahu sayang, tapi tetap saja aku mengkhawatirkan kamu dan keluarga kita, kalian adalah yang terpenting di hidup ku, Aku juga siap pasang badan jika ada yang menyakiti mu, dan keluarga mu sayang," ucap Rangga, sambil merangkul tubuh Sakina.


Hingga sampai di rumah, mereka juga tak menemukan jejak Evelyn.


Evelyn berhenti di jalan yang sepi, ia sendiri juga tak tahu harus kemana, ia tak ingin pulang kerumah orang tuanya.


"Jika memang benar aku, anak seorang penjahat, maka akan ku buktikan pada mu Raka, jika aku bukan penjahat, akan ku cari siapa sebenarnya Alena, jika perlu akan ku bawa dia pada kalian," ucapnya pada diri sendiri.


Tak ada lagi tempat yang akan di tujunya, ia sendiri binggung, kemudian ia merasa kan perutnya terasa mual, ia keluar dari mobil dan memuntahkanya, seketika tubuhnya merasa lemas.


Leo dan Riska, juga menuju jalan pulang, mereka pun melihat mobil Evelyn terparkir di pinggir jalan.


Leo menghentikan mobilnya, kemudian ia menghampiri Evelyn.


"Evelyn kau di sini?" tanya Leo.


Evelyn hanya diam, karna ia juga tak terlalu mengenal Leo.


"Evelyn kau mau kemana? biar ku antar," tanyanya.


"Aku juga tak tahu harus kemana," jawab Evelyn, lirih namun masih terdengar di telinga Leo.


"Kalau begitu kau ikut dengan ku saja, sebentar ya." Leo menghampiri Riska, ia pun menyuruh Riska untuk membawa mobilnya, dan ia akan pulang bersama Evelyn.


"Evelyn, kau ikut aku saja, kerumah ku, di sana aku tinggal bersama adik perempuan ku," tutur Leo.


Evelyn terlihat ragu, tapi ia juga tak punya pilihan lain, melihat Evelyn yang tak kunjung memberi jawaban, Leo pun semakin meyakinkannya.

__ADS_1


"Ayo lah Evelyn, aku tak kan berani berbuat macam-macam, Arjuna dan Raka itu sahabat ku," tutur Leo.


Evelyn pun akhirnya mengikuti Leo,


Leo pun mengambil alih kemudi mobil Evelyn, ia melihat Evelyn terlihat lemah.


"Kamu ngak apa-apa kan?" tanya Leo.


Evelyn hanya mengangguk tanpa melihat kearah Leo.


Kasihan Evelyn, gadis sebaik dan secantik dia, malah di sia-siain Raka, andai saja aku di kasi kesempatan untuk memiliki kamu Evelyn, pasti tak akan ku sia-sia kan kamu, batin Leo, ia pun tersenyum.


Sudah sejak pertama melihat Evelyn, Leo memang menyukainya, hanya saja Evelyn seperti bintang yang tinggi di atas langit, yang tak mungkin ia raih, tapi jika hanya menjadi pengagum rahasianya saja, aku rasa tidak ada dosanya, batin Leo kembali.


Leo menyiapkan kamar untuk Evelyn, setelah selesai, Ia pun menyuruh Evelyn istirahat.


"Rena," pangil Leo, adiknya,


"Ada apa Bang?" tanya Rena menghampiri.


"Di kamar itu ada cewek yang bernama Evelyn, nanti kamu ajak dia ngobrol ya," Leo menunjuk di kamar tempat Evelyn istirahat.


"Cewek itu siapa Bang, calon kakak ipar Rena ya?" tanya Rena iseng.


Leo tersenyum tipis, "Maunya sih," bisiknya di telinga Rena.


Rena penasaran dengan cewek yang di maksud Leo, ia pun pura-pura menghampiri Evelyn dan menanyakan keperluan Evelyn.


Rena mengetuk pintu kamar Evelyn.


Tok..Tok..


Evelyn langsung membukakan pintu, dan di lihat nya ada gadis cantik belasan tahun di hadapanya.


"Hai, Kak, aku Rena, adiknya Bang Leo," Rena memperkenalkan dirinya.


Rena kaget melihat Evelyn, gadis cantik berwajah indo dengan kulit kuning langsat, berhidung mancung dan berambut sedikit kecoklatan.


"Cantik sekali, pacar Bang Leo," gumanya.


"Hai, aku Evelyn, mari masuk," ajak Evelyn.


"Nanti saja Kak, Kak Evelyn istirahat dulu, Rena cuma mau bilang, kalau kakak butuh sesuatu, kakak panggil Rena saja," katanya dengan sopan.


"Ia Terima kasih ya," balas Evelyn.

__ADS_1


***


Alena tersenyum di depan cermin, kali ini ia akan merencanakan sesuatu, setelah melepas kan Arjuna, dan berpura-pura menjadi penolong Arjuna, Alena bermaksud mendekati Arjuna dan merebut hatinya.


"Ah apa yang terjadi pada ku, bisa-bisa nya aku jatuh cinta pada anaknya Riki dan Tiara," katanya sambil tersenyum.


"Lihat lah Riki, jika aku tak bisa mendapatkan mu, aku pasti bisa mendapatkan putra mu," tambahnya lagi.


"Tapi jika ketahuan Martin, ia pasti akan menghabisi Arjuna tanpa ampun, ah bagaimana caranya membunuh si tua Martin itu, kalau saja aku ngak meminta bantuanya saat itu, mungkin aku tak kan pernah jadi istrinya, dasar lelaki tua menyebalkan," gerutunya.


Keesokan harinya, Arjuna sudah sampai di kantor, saat menuju ke ruanganya, ia telah di tunggu seseorang di pintu masuk ruanganya.


"Monika," sapa Arjuna.


"Ia Pak, saya datang kemari seperti yang bapak janjikan, akan memberi saya pekerjaan," ujar wanita yang mengaku bernama Monika itu, yang ternyata adalah Alena.


"Baiklah letakan saja lamaran mu di atas meja di ruang HRD, nanti biar aku yang akan langsung merekomendasikan mu, dan biar mereka lihat pekerjaan apa yang cocok untuk mu," ujar Arjuna.


"Oh terima kasih Pak, atas bantuanya," ucapnya lagi.


"Harusnya saya yang berterima kasih, karna kamu sudah menolong saya, malam itu," ujarnya tanpa curiga sedikit pun terhadap wanita yang berada di depanya itu.


Alena pun tersenyum berusaha menggoda Arjuna, ia rasanya tak ingin beranjak dari tempatnya kini, ia ingin terus menatap mata Arjuna.


Tapi Arjuna kemudian berlalu darinya.


"Ah, aku seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta saja," ia pun pergi dari tempat itu.


"Jika aku bisa bekerja di sini, maka setiap hari aku akan bisa melihat Arjuna ku." tambahnya


Alena beranjak dari tempatnya, ia pun berpapasan dengan Haris, detektif swasta yang Arjuna tugaskan untuk mencari jejak Alena.


Saat berpapasan dengan Alena, Haris merasa curiga dengan sosok wanita yang baru saja berpapasan denganya.


"Tunggu Nona!" seru Haris.


Alena pun berhenti, dan Haris langsung mendekati nya," Maaf Nona, apa kau tahu di mana ruangan Pak Arjuna?" tanya Haris mencoba mengajak wanita itu bicara, ia pun menatap lekat pada wajah Alena, menyadari hal itu, Alena menundukan kepalanya.


"Ngak tahu," jawabnya, ia pun berlalu.


"Ada yang aneh padanya, terutama pada wajahnya, sepertinya ia telah beberapa kali melakukan operasi plastik, atau operasi face off pada wajahnya, entalah tapi kecantikan yang ia miliki seperti rekayasa," gumanya.


Sebagai profesional, Haris tentu berpengalaman di bidang samar menyamar, ia bisa menebak seseorang yang melakukan perubahan secara sengaja pada wajahnya.


Meski curiga, Haris enggan memberi tahu kepada siapa pun, ia harus punya bukti, dan ia mencurigai wanita itu adalah Alena.

__ADS_1


Wajah bisa saja menipu, tapi rambut, bentuk tubuh dan tinggi badan, itu bisa menjadi petunjuk.


Aku harus mendapatkan DNA nya, agar aku bisa yakin siapa wanita itu, batin Haris


__ADS_2