
Setelah membayar baju pengantin, mereka pun pulang, "Eh Rie, Syntia kita mampir di restoran favorite kita yuk," ajak Tiara.
Mereka bagai ekor yang membuntuti kemana pun Tiara inginkan.
Mereka singgah di restoran Up 2 U, di sana tempat nongkrong dan kencan faforite Tiara, Syntia, Arie, karna selera makan ketiga nya berbeda, di sana tersedia berbagai menu makanan.
Mereka duduk di bangku no 12 dan saling berhadap-hadapan.
Tiara memanggil waiters dan langsung memesan.
"Mas, pesen bebek goreng sama sambal mata untuk Syntia, sate padang untuk Arie, Aku bakso jumbo, dan Mas Riki, udang saus manis, dan kepiting soka saus padang, " ucap Tiara. karna iya hafal betul menu favorite mereka.
Tak berapa lama makanan pur tersaji dan masing-masing mereka tahu menu mereka.
Tiara melihat Syntia yang seperti nya tak bernafsu untuk makan.
"Syn, kamu kenapa kok ngak nafsu makan? biasa nya kan kamu paling suka dengan bebek goreng."
"Iya Tiara, tenggorokan aku pahit jadi ngak nafsu makan," jelas Syntia.
Tiara semakin curiga kepada Syntia, namun iya tak mau berprasangka buruk di depan teman nya.
Riki membersih kan kulit udang dan menyuap kanya kepada Tiara.
"Sayang, makanan seafood seperti ini, bagus untuk pertumbuhan janin kita, apalagi di trimester pertamanaya," ujar Riki sambil menyuapi Tiara.
Syntia memandang lekat ke arah Riki, "Kenapa hanya anak Tiara yang kamu pikirkan, bukan kah janin yang dalam rahim ku ini juga darah daging kamu," batin Syntia.
Riki tanpa sengaja terpandang kearah Syntia yang menatap nya dengan tajam, Iya pun tahu jika Syntia cemburu karna hanya anak Tiara yang di perhatikan oleh nya.
Riki pun mengupas kulit udang untuk Syntia," Syn, ini untuk mu."Riki menyodor kan udang.
Tiara heran dengan sikaf Riki, tapi iya tak mencurigai nya.
Sebenar nya Riki tak ingin membedakan darah daging nya, tapi iya juga tak ingin Tiara menjadi curiga.
Syntia memakan nya, namun tiba-tiba iya merasa mual dan ingin muntah, dengan berlari iya menuju toilet.
Keadaan menjadi tegang, kini Riki semakin khawatir jika Tiara mengetahui rahasia nya.
__ADS_1
Arie yang khawatir pun segera menemani Syntia.
Tiara semakin curiga,
"Mas, aku curiga Syntia hamil," tutur Tiara.
Riki gelisah dan Tiara menangkap ada yang tak beres dengan semua ini. pikir nya.
"Kamu jangan berpikir macam-macam Tiara, ngak baik menuduh orang," jawab Riki grogi.
"Mas, Arie sama Syntia itu ngak mungkin menikah secara mendadak kalau ngak ada apa-apa nya."
"Aku ini perempuan dan aku juga sedang 'mengandung, apa kamu ngak ingat saat pertama aku ngidam, ngak nafsu makan sering pusing, mual dan muntah."
"Pasti ada yang ngak beres dengan mereka, dan aku tahu pasti bukan Arie yang melakukan nya, Aku ngak terima jika Arie yang harus menanggung nya, orang yang makan nangka nya, Arie yang menuai getah nya, aku harus cari tahu siapa yang telah berbuat demikian kepada Syntia."
Riki mulai menunjukan kegelisahan nya.
"Tiara ngak usah campuri urusan mereka," ujar Riki.
"Mas, aku curiga, seperti kamu juga tahu hal ini, tapi kamu sembunyi kan semua dari aku."
"Aku ngak tahu Tiara, sungguh."
Setelah makan mereka pulang, dan dalam perjalanan mereka semua terdiam seribu bahasa.
Sampai di rumahn Syntia kembali muntah, iya pun langsung berbaring di kamar.
Begitu banyak pertanyaan di benak Tiara, iya pun langsung menghampiri Syntia.
"Syn, siapa yang telah melakukan ini sama kamu Syn ?" tanya Tiara tegas.
"Maksud kamu apa Tiara?
"Aku tahu kamu hamil kan?"
Syntia diam.
"Tapi bukan Arie yang melakukan nya, iya kan Syntia?"tanya nya yakin.
__ADS_1
"Syn, apa kamu ngak kasihan sama Arie, Syn. Dia itu sahabat kita, tapi kita selalu saja menyusah kan nya, Arie ngak pantas menanggung perbuatan yang ngak di lakuan nya," ucap Tiara sedih.
Syntia menitikan air mata nya," Karna yang menghamili ku adalah seorang pria beristri Tiara, dan dia ngak mau bertanggung jawab karna iya mencintai istri nya," jawab Syntia.
"Tapi iya harus bertanggung jawab sama kamu Syn," bukan Arie.
"Aku ngak rela jika Arie menanggung nya Syn, aku juga pernah mengalami apa yang kau alami, dan saat itu aku juga sangat mencintai Arie, tapi aku ngak mau jika Arie yang menanggung akibat nya."
"Aku rela mengemis dan memohon kepada Mas Riki untuk menikahi ku, karna apa Syn, karna aku ngak mau Arie yang menanggung nya, aku menyayangi Arie dan aku ngak ingin ketidak adilan menimpa nya."
"Beri tahu aku siapa orang nya, aku janji akan ku paksa dia bertanggung jawab pada mu, kalau perlu aku akan meminta Mas Riki untuk menyewa pengacara untuk mu," ujar Tiara.
"Apa kau yakin kau bisa membantu ku Tiara,?" tanya Syntia senang.
"Insya Allah Syn, Sebisa mungkin aku akan membantu mu, tapi ku mohon jangan Arie, Syn, dia tak pantas di perlakukan seperti ini, kita tak boleh memamfaat kan kebaikan Arie," tutur Tiara sambil menangis.
"Bagus Tiara, kau sendiri yang akan meminta Riki untuk menikahi ku, Aku juga sebenar nya tak ingin jika Arie yang betanggung jawab karna aku tak mencintai nya," batin Syntia
"Beritahu aku sekarang Syn siapa yang telah menghamili mu,?" tanya Tiara lagi.
"Aku takut Tiara, Aku tak ingin menyatakan nya," Syntia kembali melakoni sandiwara nya.
"Kau takut pada siapa Syn,? di sini cuma ada kita berdua."
"Aku ingin kita bicara berdua saja Tiara, besok datang lah kemari, akan ku ceritakan semua."
"Baik lah Syn, besok aku dan Mas Riki akan kemari."
"Jangan Tiara, ini hanya kita berdua saja, tanpa Arie dan tanpa Mas Riki. Aku ingin kita bicara dari hati-ke hati," ujar Syntia.
"Ok lah Syn, jaga diri mu, aku tak menyangka kini sama-sama mengandung," ucap Tiara bahagia.
"Iya Tiara, tapi aku tak bahagia seperti mu, kami mendapat kan limpahan kasih sayang dari orang yang kau cintai, sementara aku, aku bak bunga yang layu dan terbuang." Syntia mencoba memancing emosi Tiara.
Tiara menggenggam erat tangan Syntia, "kita bukti kan pada dunia kalau kita ini wanita tangguh, kita akan perjuang kan keadilan untuk mu," tutur Tiara sambil memeluk sahabat nya.
"Terima kasih Tiara," Syntia pun tersrnyum puas.
"Aku rasa kau tak kan keberatan jika harus berbagi kasih dengan ku, keadilan yang kau cari untuk ku, malah kini kau yang akan memberikan nya untuk ku," batin Syntia.
__ADS_1
Riki pun tak ten