Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Pertemuan pertama


__ADS_3

Tiara menuju lokasi yang maksud Arjuna, iya tak mengerti, kenapa Arjuna memintanya untuk menjemput di taman.


Dengan gesit Tiara melajukan mobil nya menuju taman, iya takut terjadi sesuatu pada Arjuna dan Sakina, karna telpon mereka terputus, mungkin karna lowbatt.


20 menit perjalanan, Tiara pun sampai, iya segera mencari anak-anaknya, cuaca sangat panas siang itu, namun tak menghentikan Tiara untuk menyusuri taman tersebut, mencari keberadaan kedua buah hatinya.


Saat itu, iya melihat tiga orang anak yang berseragam sekolah, duduk di cafe atau sejenis dangau yang ada di taman, Tiara dapat memastikan kedua anak itu adalah sakina dan Arjuna .


Tiara menghampiri mereka.


"Bunda!" seru Sakina yang melihat kedatangan Bunda nya, iya pun berlari menghampiri Tiara dan memeluk nya.


"Bunda kok lama sekali," ujar Sakina.


"Kalian ngapain di sini sih," Bunda jadi khawatir.


"Bunda ada seseorang yang ingin bertemu Bunda, jadi iya membawa kami di sini, agar Bunda bisa menjemput kami disini," tutur nya sambil berjalan kearah cafe.


Mereka pun sampai di Cafe tersebut, dan melihat Arjuna dengan seorang teman nya, dan seorang pria dewasa yang membelakangi mereka.


Tiara menghampiri mereka.


"Arjuna ayo kita pulang," ajak Tiara.


Mendengar suara Tiara, Riki langsung menoleh kearah nya, dan Tiara juga kaget ternyata pria tersebut adalah Riki.


Jantung Tiara serasa ingin copot, ketika iya melihat seseorang dari masa lalu nya, kini ada di hadapan nya, setelah lima belas tahun tidak bertemu.


Riki tersenyum bahagia bercampur haru, kini iya kembali bertemu dengan Tiara, seseorang yang selalu iya rindukan setiap detik nya.


Mereka sama-sama terpaku, terbungkam tanpa suara, Tiara tak menyangka akan bertemu Riki lagi, setelah lima belas tahun perpisahan nya.


Kekuatan rindu yang teramat dalam, mampu menggerakan kaki Riki yang sempat kaku, iya perlahan melangkah, setapak demi setapak, akhir nya iya kini berhadapan langsung dengan Tiara.


Tinggal selalangkah lagi Riki semakin dekat, langkah terakhir sangat berat, tapi tak seberat dengan rasa rindu yang menggoda nya saat ini, iya pun melangkahkan kaki nya, secara reflek iya memeluk Tiara.


Tiara hanya diam, iya masih shock dengan pertemuan dengan tiba-tiba, tubuh Riki masih menempel di tubuh nya, iya tetap saja diam, tanpa mampu merespon, hanya bulir air mata yang perlahan menetes saat terdengar bisikan di telinga Tiara.


"Aku sangat merindukanmu Tiara," tutur Riki di telinga Tiara.


Setelah beberapa saat, Riki melepas kan pelukan nya, karna iya merasa tak ada respon sedikit pun pada Tiara, padahal iya ingin mendengar suara Tiara.


"Kenapa kau diam Tiara, apa kau tak senang bertemu dengan ku,?" tanya Riki yang masih heran melihat Tiara terpaku.


"Tiara! "Seru Riki sedikit mengagetkan Tiara, karna Tiara masih saja diam, tatapan mata nya kosong.


"Mas, apa kedatangan mu kemari untuk merebut Arjuna dariku?" tanya Tiara dengan gemetar.


"Tiara Arjuna itu putra kita, iya milik mu, dan juga milik ku, kita tak perlu rebutan untuk memiliki nya, dan Aku kembali lagi kemari, karna sudah saat nya aku kembali," ujar Riki.

__ADS_1


"Syukur lah kalau begitu Mas, aku tak ingin berpisah dengan anak-anak ku," ucap nya ketus.


"Dan sekarang aku harus pulang," ujar Tiara.


"Arjuna ayo kita pulang Nak," ajak Tiara.


"Iya, Bunda," jawab Arjuna, iya pun melangkah.


"Tunggu Arjuna!" seru Riki.


Iya pun kembali memeluk Arjuna.


"Arjuna kapan-kapan kamu ikut Papa yah bertemu Oma."


"Iya Pa," jawab Arjuna singkat.


Tiara pun berlalu dari Riki, tanpa ada sepatah kata pun.


Di dalam mobil,


Tiara hanya diam sambil teringat peristiwa yang baru saja terjadi, iya tak menyangka akan bertemu Riki di sini.


"Bunda," panggil Sakina yang membuyarkan lamunan Tiara.


"Bunda Papa Riki itu siapa, mantan pacar Bunda ya?" tanya Sakina.


"Kamu masih kecil, jadi kamu ngak perlu tahu, lagi pula kenapa kamu juga panggil dia papa, dia bukan papa kamu, "tutur Tiara kesal.


"Tapi kenapa? Ayah Sakina juga bukan Ayah dari kak Juna, tapi kak juna juga memanggil nya Ayah," balas Sakina.


Tiara sulit untuk menjelaskan nya, jadi iya hanya diam saja, Tiara tak sengaja melihat Arjuna yang tampak murung di kursi belakang.


"Arjuna kamu baik-baik saja kan Nak?" tanya Tiara dengan lembut.


"Kenapa Ayah sama Bunda ngak cerita dari awal?" tanya Arjuna .


"Arjuna setiap orang tua pasti punya alasan untuk tidak memberitahu suatu kebenaran kepada anak nya, jika saja, dari dulu Arjuna tahu, bahwa ayah bukan lah orang tua kandung Arjuna, apa Arjuna akan menyayangi Ayah seperti saat ini?" tidak kan Nak, Arjuna pasti merasa minder, karna hanya Arjuna sendiri di rumah itu bukan darah daging ayah, Ayah dan Bunda memang akan memberitahu Arjuna suatu saat nanti, saat Arjuna sudah dewasa."


"Satu lagi pinta bunda Arjuna, jangan sedikit pun kamu merubah sikap kamu terhadap Ayah, biar bagaimana pun, selama ini ayah menyanyangi kamu, tanpa pernah membeda-bedakan kalian, tak pernah sekalipun ayah berkata bahwa kamu bukan putra nya, Ayah mencintai kamu dan merawat kamu dari bayi, jadi kamu jangan pernah mengganggab nya orang lain, iya adalah Ayah kamu," papar Tiara.


"Iya Bun, Arjuna juga sayang sama Ayah, makanya Arjuna sedih kenapa ayah bukan lah orang tua kandung Arjuna."


"Kalau begitu bagus, jika sudah tahu, biar saja kamu tahu, jangan pernah melukai hati ayah mu, bersikap biasa saja, sama saat kamu belum mengetahui keadaan sebenarnya."


"Dan satu lagi, kalian ngak boleh cerita, tetang om Riki yang tadi memeluk bunda ke Ayah," pinta Tiara.


"Tapi kenapa Bun?" tanya Sakina.


"Ayah sama Bunda bisa bertengkar hebat, jika sampai ayah tahu, kalian harus tutup mulut, terutama kamu Sakina, mulut kamu ngak bisa di jaga."

__ADS_1


"Tapi kenapa bunda?" tanya Sakina kepo.


"Sakina Bunda ini istri Ayah, cuma ayah yang boleh peluk-peluk bunda." Tiara menjelaskan.


"Tapi kenapa Papa Riki peluk bunda? kalau memang ngak boleh?" tanya nya lagi.


"Itu karna ngak sengaja, sudah lah Sakina kamu turuti saja perkataan bunda tanpa banyak bertanya," ujar Tiara sedikit kesal.


"Bunda, Papa Riki dulu ganteng ya bunda?" tanya Sakina.


"Ngak, gantengan juga ayah kamu, emang kenapa sih?"Tiara penasaran.


"Kalau aja Papa itu masih muda, Sakina mau kok jadi pacarnya, habis iya orang nya baik banget, ganteng lagi seperti kak juna."


Tiara kaget dengan penuturan Sakina,


"Kamu ini makin aneh saja sakina, kemaren kamu bilang cuma mau nikah sama kakak kamu, sekarang kamu mau jadi pacar Om Riki, ngak habis pikir bunda."


Jangan-jangan benar lagi apa yang di bilang Arie, ada yang aneh pada Sakina, batin Tiara.


Di dalam mobil Riki.


"Pa, siapa sih wanita tadi, apa dia yang membuat papa, sama mama berpisah?" tanya Raka.


"Kamu salah Raka, bukan dia yang membuat papa berpisah dari mama kamu, tapi karna mama kamu, papa berpisah sama dia," jawab Riki.


"Kenapa sih Pa, dari dulu papa ngak pernah suka sama mama, emang mama salah apa sih Pa? "Raka.


"Kamu masih kecil, suatu saat kamu akan tahu, alasan mama sama papa berpisah," Riki.


"Begitu ya Pa, Pa Sakina itu cantik ya Pa?" tanya Raka sambil malu-malu.


Riki tersenyum, seraya mengelus kepala Raka.


"Kamu suka ya sama Sakina?" tanya Riki memancing, sementara Raka hanya menggangguk sambil tersipu malu.


"Udah besar anak papa sekarang, sudah pandai jatuh cinta lagi," ujar nya sambil merangkul Raka.


"Boleh kan Pa?" tanya Raka malu-malu.


"Tentu sayang, Papa selalu mendukung kamu, tapi harus yang positif ya, jangan kayak Papa, waktu mudanya play boy, udah tua malah jomlo," mereka pun tertawa.


***


Sementara Alena sudah bersiap, karna hari ini, hari kebebasan nya, iya pun bersemangat untuk keluar, dan bersemangat pula untuk membalaskan dendam nya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2