Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Kepergian Riki


__ADS_3

Setelah pulih pasca operasi, Tiara harus tetap bet rest, untuk pemulihan cedara tulang yang di alami nya.


Tiara tak bisa menggendong bayi nya, untuk sementara waktu, Sakina nama putri yang baru di lahirkan nya, nama itu adalah pemberian Riki.


Selama dalam perawatan Tiara, Riki membawa bayi Tiara ke rumahnya, dan diasuh oleh Mamanya.


Mama Riki begitu senang dengan bayi tersebut, meski bukan cucu kandung nya, tapi karna iya, dari dulu mengingin kan anak perempuan, iya pun meminta nya sendiri pada Arie, untuk merawatnya sendiri.


Arie memang repot jika harus menjaga bayi, sementara keadaan Tiara masih belum bisa bergerak bebas.


Selama sepuluh hari, Tiara di rumah sakit, dan iya pun bisa pulang ke rumah, Untung saja cedera di tulang belakang tidak lah parah, hingga iya hanya butuh istirat di atas kasur dalam waktu yang lama.


Tiara sudah berada di rumah, dengan demikian Riki juga harus membawa Sakina, untuk pulang kembali bersama kedua orang tua nya.


Riki membawa sakina, iya pun sekalian berpamitan kepada Arie dan Tiara, hari ini juga mereka harus terbang ke kalimantan.


Satu keluarga mereka pindah, begitu pun Mama dan Papa Riki. Mereka akan pergi, dan entah kapan akan kembali.


Riki membawa Sakina ke rumah mereka, dan di sambut bahagia oleh Arie dan Tiara.


Setelah menyerah kan sakina, di sisi Tiara, mereka bertiga ngobrol di dalam kamar.


"Rie, kedatangan ku kemari tak hanya sekedar mengantar Sakina, tapi juga untuk berpamitan pada kalian semua," ujar Riki yang sambil menggendong Arjuna .


"Arjuna, Papa akan pergi, dan suatu saat nanti Saat Papa kembali, Arjuna sudah harus jadi lelaki tangguh," ucap nya haru, iya memeluk dan mencium Arjuna sampai puas.


"Rie, aku titip anak ku, suatu saat aku akan kembali dan membawa nya, karna Arjuna, pewaris resmi dari keluarga ku, jagalah dia seperti kau menjaga anakmu." Riki sambil memeluk Arie.


"Insya Allah," Mas.


Iya pun menghampiri Tiara, seraya melempar senyum, kearah nya.

__ADS_1


"Aku pergi Tiara, tak ada lagi yang mengacau kan hidup mu kini, semoga dengan kepergian ku, tak ada lagi yang menyusahkan mu," tutur Riki dengan senyum penuh arti pada Tiara.


"Ngak begitu kok Mas," jawab Tiara.


Tiara pun memeluk Riki," Hati-hati Mas, semoga kau temukan bahagia mu sana," airmata Tiara menetes haru.


"Kau juga, semoga setelah kepergian ku, kau temukan bahagia mu disini," balas Riki.


Mereka pun melepas pelukan, kedua nya saling tersenyum, seraya menghapus air mata yang menetes di pipi mereka.


"Aku pamit," ujarnya kemudian berlalu dari mereka.


*****Tak perlu kata maaf dan air mata, aku rela dirimu pergi, aku bisa tahu apa yang kau mau dengan pilihan mu,


Hancur, hancur, cinta ku, sakit, sakit hati ku, tapi tak bisa aku menyalahkan mu, ini lah jalan mu, ini lah nasib ku, yang tak ku suka...


Asal kau tahu, seumur hidup aku tetap cinta...(lirik by..Repulik)*****


Ternyata waktu yang bergulir, tak mampu menutupi rasa cinta nya pada Riki, cinta memang tak bisa di paksa kan, meski terasa menyakitkan, mungkin ini lah jalan terbaik, semoga waktu, dapat menghapus rasa itu.


Tak layak rasanya, seorang wanita menyimpan dua cinta di hati nya, apalagi iya seorang istri, dan suami nya, adalah jodoh terbaik baginya.


Tiara tak mampu membendung perasaan nya, air mata kembali tumpah tanpa sengaja, meski sudah cukup kuat untuk di tahan.


Melihat Tiara yang menangis, Arie langsung memeluk nya, Arie tahu apa yang ada di hati Tiara, namun iya coba untuk mengerti, cinta memang sulit untuk di paksakan.


"Maafin Bunda Yah," ucap Tiara lirih.


"Ngak perlu Bun, simpan saja semuanya dalam hati, jangan pernah jujur akan hal itu, Ayah takut tak bisa menerima nya, simpan saja semua dalam hati, Ayah tahu perasaan Bunda, Ayah juga tahu Bunda mencintai Ayah hanya separuh hati, Ayah coba untuk menahan perasaan Ayah, karna Ayah rasa nya tak bisa hidup tanpamu Bun, meski hati Ayah begitu hancur, kita mulai kembali dari awal, hanya ada Ayah, Bunda dan ketiga anak kita," tutur Arie lirih.


"Terima kasih Yah," ucapnya sambil memeluk erat suami nya.

__ADS_1


*********


Dan Begitulah waktu demi waktu berlalu, kini Sakina sudah berusia 14 tahun, Arjuna 16 tahun, dan Aziz 17 tahun.


Sudah lima belas tahun, Tiara menjalani rumah tangga nya bersama Arie. kehidupan kami pun berubah, Arie menjadi pengusaha yang sukses sekarang ini, tapi itu tak merubah sifat dan sikaf nya, Arie tetap lah bersahaja, iya begitu menyayangi keluarganya, iya mendidik anak-anak agar saling menjaga dan melindungi.


Tak ada satu pun yang kami bedakan dalam asuhan kami, bahkan Arjuna tak pernah tahu, jika iya bukan lah darah daging Arie.


Hanya Aziz yang tahu, bahwa Tiara bukan lah ibu kandung nya, karna Aziz kini, berada di pesantren mbah nya, Pak Herman.


Banyak yang terjadi dalam masa 15 tahun ini, salah satu peristiwa duka adalah meninggal nya Ibu Arie.


Arie begitu terpukul dengan meninggal nya, Ibu, tapi iya sudah mewujudkan cita-cita sang Ibu, untuk pergi naik haji.


Hari ini ada lah ulang tahun Arie yang ke 42, kami sudah merencana kan kejutan untuk nya, kue ulang, makan malam bersama, sampai hadir nya Pak Herman dan Bu Laila, alhamdulilah meski sudah berusia lanjut mereka tetap sehat.


Mereka lah yang menjadi orang tua kami sekarang, iya selalu datang menjemput dan membawa Aziz.


waktu sudah menunjukan pukul 5 dan Arie biasa nya sudah pulang, kami pun sudah siap dengan kejutan sederhana untuk seseorang yang sangat istimewa, bagi ku dan anak-anak ku.


Bagi ku, Arie tak hanya menjadi suami, tapi juga menjadi teman bagi ku, pada nya lah ku curah kan keluh kesah ku,


Begitu juga anak-anak, Arie tak hanya jadi seorang Ayah yang melindungi, mengayomi tapi juga teman bermain bagi mereka, saat Arie pulang dari bekerja anak-anak selalu menunggu nya, dan Sakina lah yang mendapat pelukan pertama dari sang Ayah.


Sakina menjadi kesayangan kami semua, kesangan ku, kesayangan Arie, kesayangan Arjuna dan juga Aziz, tak heran jika Sakina menjadi anak yang manja.


Waktu tlah tiba, Arie sudah di depan pintu, saat iya membuka pintu, kami pun memberi nya kejutan.


"Surprisee...., Selamat ulang tahun Ayah," ucap kami semua.


"Terima kasih," ucap nya, iya pun memeluk kami dan mencium kami secara bergantian. itulah salah satu kebahagian yang kami rasakan bersama menjadi sebagai keluarga.

__ADS_1


Di sisi lain, di sudut sempit penjara, Alena menanti waktu kebebasan nya, yang hanya tinggal menghitung hari.


__ADS_2