Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Melahirkan


__ADS_3

Setelah berbulan-bulan Riki berkutik dengan kasus Alena, iya pun berhasil menemukan bukti, bahwa Alena adalah otak dari pelaku penganiyayaan gadis bernama Dara.


Tenyata Alena mempunyai sifat OCD ( obsesisif complusif disolder) iya selalu merasa cemas dan selalu melakukan penyerangan, jika iya merasa ada yang akan mengganggu jalan nya, apapun itu termasuk tentang cinta, obsesi yang berlebihan terhadap Riki, mampu membuat Alena menghalal kan berbagai cara, agar tak ada wanita yang bisa memiliki cinta nya tersebut.


Kasus seperti banyak terjadi, namun karna terlalu agresif, serta keadaan yang memungkin kan, Alena semakin menjadi, maklum saja, iya memiliki segalanya untuk memuluskan rencana-rencana jahat nya.


Namun kini Alena bertekuk lutut, karna iya kini terjerat pasal berlapis, yaitu pembunuhan berencana, dan penganiyayaan berat, hukuman nya bisa menjadi seumur hidup, tapi beberapa pertimbangan Alena di hukum 15 tahun penjara.


Dan itu membuat Riki cukup puas.


Riki menemui Alena di penjara.


Dengan sedikit tertawa Riki menghampiri Alena di balik jeruji besi.


"Mau apa kau datang kemari?" tanya Alena geram.


"Tak ada apa-apa, aku hanya ingin melihat kehancuran mu, bagaimana kau menyakiti Tiara, kau kini harus mendekam dalam penjara, semoga saja kau mati dan membusuk dalam penjara." ucap Riki kesal.


"Kau, akan lihat pembalasan ku Riki, tak kan kubiarkan Tiara hidup tenang." Alena memicingkan matanya, terlihat dendam yang begitu dalam.


"Kau bisa apa Alena? kau dan keluarga mu kini hancur, Ayah mu juga terlibat kasus suap dan korupsi, sekarang keluarga mu juga jadi gembel, karna seluruh aset kekayaan kalian, adalah hasil korupsi," Riki meninggal kan Alena.


Alena menjerit sambil mengukir dendam lebih dalam kepada Tiara, iya juga tidak tahu kenapa iya begitu dendam pada Tiara, harus nya, iya membalaskan nya pada Riki, tapi karna Alena terlalu mencintai Riki, iya tak ingin menyakitinya, dan melampiaskan nya pada Tiara.


Beberapa bulan telah berlalu.


Tiara juga sudah pulih dengan trauma nya, namun iya tak pernah berani keluar rumah sendiri, iya selalu di temani Arie, kemana pun iya pergi, dan saat itu Tiara menjadi bertergantungan pada Arie.


Hubungan rumah tangga mereka semakin harmonis.


Tiara dan Arie baru saja pulang dari Dokter kandungan, karna tak lama lagi, Tiara akan melahirkan, dan karna masih trauma, Tiara tak pernah memeriksakan kandungan nya.


"Selamat ya, anak nya perempuan dan sehat, tak ada masalah apapun, hanya saja ibu harus tetap siaga, karna seperti nya ibu bisa melahir kan kapan saja, menurut prakiraan, paling lama seminggu lagi akan melahir kan," tutur Dokter tersebut.


Mereka sangat bahagia, sepanjang perjalanan Arie tak henti-henti nya membelai dan mencium kening istrinya.


"Yah Bunda senang sekali, akhirnya kebahagian kita lengkap, selain dua putra, kini kita akan memiliki satu putri, putri kita pasti cantik kan yah," Tiara.


"Ayah juga bahagia Bun, putri kita pasti secantik kamu," Arie.

__ADS_1


***


Riki masuk keruangan nya dan disana sudah ada Arie.


"Wah Semangat sekali Rie?", tanya Riki, yang melihat Arie sudah berada di kantor nya dengan wajah yang ceria.


Arie menghampiri Riki.


"Tentu saja, aku tak sabar berbagi berita bahagia pada mu," ucap Arie.


"Berita apa Rie? kau menang tender lagi?" tanya Riki semangat.


"Iya, aku menang tender, tapi bukam itu berita bahagia nya," tutur Arie.


"Trus apa?" tanya Riki penasaran.


"Sebentar lagi, aku akan memiliki seorang putri Mas," jawab Arie bahagia.


Riki pun memeluk Arie," Selamat ya Rie, tapi sebaiknya kau jangan memberitahu ibu ku, jika tidak iya akan mendesak ku, untuk punya anak lagi," ujar Riki.


"Oh ya Rie, minggu depan aku sudah akan pindah, jadi semua tanggung jawab ku serah kan pada mu, aku titip perusahaan ini untuk Arjuna , sementara, aku sudah harus mengurusi perusahaan tambang batu bara, Papa ku yang ada di kalimantan."


"Rie, kegagalan itu biasa dalam bisnis dan kehidupan nyata, tapi bagaimana caranya, kita bisa bangkit dari kegagalan tersebut," tutur Riki.


"Aku tak tahu harus ku titipkan pada siapa Rie, aku tak punya saudara, apalagi teman, yang bisa ku percaya, mau ngak mau kau harus mau," canda nya.


"Aku pasrah saja" balas Arie.


Ketika asik ngobrol, Arie mendapat telpon dari ibunya.


"Assalam mualaikum Bu," sapa Arie ramah.


"wa'alaikum salam, Rie," balas ibu.


"Rie, kamu harus kerumah sakit sekarang, karna Tiara tadi terpeleset dan perutnya mengalami kontraksi, sepertinya Tiara akan melahirkan, air ketuban nya juga sudah pecah," ucap ibu dengan panik.


Mendadak wajah Arie berubah, dan iya langsung berlari.


"Rie mau kemana?" tanya Riki.

__ADS_1


"Kerumah sakit, Tiara akan melahirkan Mas," ucap Arie iya pun berlari.


"Rie, tunggu." Riki mengejarnya.


Arie pun membuka pintu mobil nya, tapi Riki menghalangi.


"Biar aku yang bawa," ujar Riki.


Arie yang terlihat panik itu pun menuruti.


Arie tampak gelisah sekali dan Riki melihatnya.


"Rie, kau harus tenang, wanita melahirkan itu biasa," nasehat Riki.


"Iya Mas, tapi kata ibu, Tiara tadi terpeleset di kamar mandi, dan air ketuban nya langsung pecah, aku khawatir Mas, aku pernah kehilangan Aisyah saat iya melahirkan putra ku," tutur Arie gelisah.


"Aku ngak tahu kenapa cobaan ini menimpa ku berkali-kali, aku takut terjadi sesuatu pada Tiara, Mas." Arie semakin gusar.


"Sabar Rie, kau tenangu kita doa kan saja semua berjalan dengan lancar." papar Riki.


"Aku ngak bisa tenang Mas, sebelum aku yakin istri ku baik-baik saja," Arie pun semakin menampakan kegelisahan nya.


Tiba dirumah sakit, Arie lansung menemui Ibu nya.


"Rie, kamu harus menemui suster dan menandatangani surat persetujuan operasi," ucap ibu nya yang juga panik.


"Apa bu?" Operasi, apa tak ada jalan lain," Arie seperti putus asa.


"Harus, jika ingin kedua nya selamat, karna istri mu mengalami pendarahan." ibu.


Arie langsung lemas, lagi-lagi iya harus, menyetujui operasi cesar, seperti Aisyah. Arie harus menandatangani nya, agar dapat cepat diambil tindakan pada Tiara.


Dengan berat hati, Arie pun menandatangani persetujuan operasi, kemudian iya terkulai lemas.


Arie menangis di depan kamar tempat Tiara operasi, ruangan yang sama saat iya kehilangan Aisyah, beberapa tahun yang lalu, dan keadaan Tiara pun kini sama dengan Aisyah, mereka mempertaruh kan nyawa nya, di ruang operasi untuk melahir kan anak nya.


Berkali-kali Arie menarik nafas panjang nya, iya begitu takut kehilangan Tiara, mata nya sudah memerah karna sudah menahan kegelisahan dan kegundahan hati nya.


Sementara Riki juga khawatir dengan keadaan Tiara, walaupun Tiara bukan istrinya, tapi iya juga takut kehilangan Tiara, yang masih iya cintai.

__ADS_1


__ADS_2