
Tiara sampai di rumah sakit, dan ternyata Arjuna harus di infus, iya binggung harus bagaimana, rasa nya akan kerepotan jika harus menunggu Arjuna sendirian.
Tiara semakin panik, saat Arjuna tak juga mau lepas dari gendongan nya, iya terus menangis.
Sekali lagi, Tiara mencoba menelpon Arie, tapi kembali tak terhubung mungkin karna sinyal.
Dengan terpaksa Tiara pun menelpon Riki.
Riki melihat panggilan telpon dari Tiara iya merasa senang.
"Tumben Tiara nelpon, jangan-jangan iya kangen lagi," ucap Riki pada dirinya sendiri.
"Halo Tiara," sapa Riki.
"Mas, Arjuna sakit dan sekarang di rawat di rumah sakit biasa tempat Raka di rawat, kamu kesini ya Mas, aku repot sekali, "tutur Tiara yang terdengar sangat panik.
"Aku langsung kesana, sekarang." Riki nemutus telpon nya
Riki langsung keluar dari ruangan tersebut, sebelum itu, iya berpesan kepada sekretaris nya agar membatal semua meeting pada hari itu.
Iya pun bergegas menuju rumah sakit, dan disana Tiara dan Arjuna masih berada di ruang IGD.
Tiara merasa lega ketika melihat kedatangan Riki.
Riki langsung menghampiri Arjuna yang kala itu menangis.
"Aduh cup-cup anak papa sayang, kenapa nangis?" Riki.
"Arjuna kenapa Tiara?" tanya Riki.
"Demam, sudah tiga hari ngak turun-turun, malah tambah panas," tutur Tiara panik.
"Mas kamu urus dulu administrasi rumah sakit nya, dan pesan kamar sekarang, aku ngak bisa gerak sama sekali, karna Arjuna ngak mau lepas dari gendongan ku."
Riki pun mengerti, iya langsung menuju bagian kasir, dan memesan kamar VIP, untuk Arjuna.
__ADS_1
Mereka langsung menuju ruangan perawatan untuk Arjuna .
Tiara tetap mengendong Arjuna, sementara Riki membawa tas milik Tiara, bersama satu perawat yang memegang botol infus Arjuna, mereka pun sampai di ruangan tersebut.
Mungkin karna lelah, Arjuna pun akhir nya tertidur, tapi setiap Tiara mencoba meletakan nya di atas kasur, Arjuna terbangun dan kembali menangis, al hasil Tiara harus membujuk dan menidurkan nya kembali.
Setelah beberapa lama Arjuna kembali tidur, dan hari sudah mulai sore, rasa lelah sudah nenghampiri Tiara, selain karna kurang tidur, berjaga dengan Arjuna, Tiara juga belum makan sedari pagi.
Tiara duduk di atas kasur, sambil menyandar kan tubuh nya pada dinding, terlihat sekali kelelahan di wajah cantik nya.
Riki pun datang menghampiri mereka,
"Tiara kamu makan dulu, sudah sejak pagi, aku lihat kamu belum makan." ujar Riki.
"Nanti saja Mas, Arjuna belum bisa lepas dari gendongan ku, aku takut jika aku bergerak sedikit saja, iya akan bangun, dan menangis kembali, iya pasti minta di gendong, sedang kan kaki ku rasa nya sudah penat, karna harus menggendong nya seharian.
Setelah bicara demi kian, Tiara kembali menyandarkan tubuh nya, iya begitu lelah.
Riki mengambil kotak makan siang yang baru di beli nya di restoran, iya pun menyendok nya dan mendekatkan pada mulut Tiara, bermaksud untuk menyuapi nya, tapi Tiara menolak, dan mengalih kan wajah nya kearah lain.
"Makan lah Tiara,"Nanti kau sakit, siapa yang akan mengurus Arjuna , sedangkan Arjuna, tak mau di gendong orang lain, lagi pula kau butuh tenaga," bujuk Riki.
Riki pun kembali menyodor kan suap demi suap nasi kepada Tiara, iya pun memakan nya, hingga habis, setelah selesai makan Tiara merasa sedikit bertenaga.
Setelah menyuapi Tiara, Riki juga makan di atas kasur dan berhadapan langsung dengan Tiara yang sedang bersandar karna kelelahan, setelah makan Tiara, pun berkeringat, pertanda metabolisme tubuhnya bekerja, Riki pun mengambil tissu dan mengelap nya dengan lembut, seolah dengan kasih sayang nya.
Mereka sempat grogi ketika adegan tersebut berlangsung, rasa cinta masih tersisa atau belum berkurang sama sekali diantara mereka, membuat mereka menjadi canggung.
Tiara tak tahu, kenapa setiap kali iya ingin menghindari Riki, iya malah terjebak bersama nya kini.
Tiara membujur kan kaki nya keatas kasur, karna merasa kan penat di sekujur tubuh nya.
Riki masih berada di samping nya kini, duduk di atas kursi plastik.
Tak ada kata-kata terucap di antara mereka, mungkin tak tahu apa yang harus mereka bicarakan.
__ADS_1
Saat melihat Tiara yang sedang membujur kan kaki nya, Riki pun bertanya.
"Apa kaki mu masih sakit Tiara?"tanya Riki.
"Masih," jawab Tiara singkat.
Riki menghampiri dan mendekati kaki Tiara dan memijit tapak kaki nya dengan lembut,
Tiara kaget melihat Riki yang melakukan itu tergadap nya.
"Jangan Mas," cegah Tiara sambil menarik kaki kanan nya.
Tapi Riki tetap melakukan nya, tanpa mengindah kan larangan Tiara.
Terlihat Riki menatap nya takkala Tiara tanpa sengaja memandang kearah nya, Mulut bisa saja berbohong, tapi hati dan tatapan masih menyiratkan rasa cinta di antara keduanya, meski berkali-kali di pungkiri oleh Tiara.
"Apa kau sudah memberi tahu Arie?" tanya Riki sambil tetap memijat lembut di tapak kaki dan betis Tiara, sungguh Riki tak pernah merendah sebelum nya, iya tak pernah menyentuh dan memijit langsung pada kaki wanita lain, tapi tidak dengan Tiara, Riki pernah berkali-kali berlutut sambil mencium lutut Tiara.
Tampak nya Riki sang petualang cinta, hanya mampu melabuhkan hati nya pada seorang wanita, iya belajar mencintai dengan tulus, iya juga belajar arti dari kesetian dan kecemburuan dari seorang wanita bernama Tiara.
Riki tak pernah menangis di tinggal seorang wanita, terkecuali itu Tiara.
Tiara adalah cintanya, ketulusan nya, dan kesetiaan nya, tapi kini semua tak mungkin iya miliki lagi.
Meski hanya melihat atau menatap nya dari kejauhan itu sudah membuat Riki bahagia, tanpa pernah berharab lebih dari itu, cinta nya kini hanya tinggal ketulusan.
Iya tahu Arie tak kan pernah melepaskan Tiara, karna Tiara juga cinta sejati bagi Arie.
Apa istimewanya dari sosok seorang Tiara, hingga iya bisa menjerat dua hati laki-laki dalam cinta nya, segitiga berdarah sebagai umpama kisah cinta segitiga mereka, karna tak ada yang terlalu berbahagia diantara mereka.
"Aku sudah menelpon Arie berkali-kali, tapi nihil, mungkin di sana susah sinyal," terka Tiara.
"Iya, sebaik nya besok pagi saja, jika Arie tahu, iya pasti khawatir dan langsung pulang saat ini juga, sementara hari sudah malam dan jalana yang berliku dan terjal akan sangat membahayakan jika mengendarai pada malam hari. "Riki
"Iya Mas, jika Arie tahu iya pasti langsung pulang," aku juga khawatir pada nya.
__ADS_1
Tiara pun kembali bersandar dan merebahkan tubuhnya, iya pun tertidur karna terlalu lelah.
Melihat Tiara yang tertidur, Riki pun membelai rambut Tiara, setelah itu iya pun berbaring di sofa yang ada diruangan itu.