
Suara Azan subuh sudah terdengar nyaring, Ibu Arie pun keluar dari kamar nya, bermaksud untuk membangun kan Arie untuk sholat subuh.
Ibu nya berteriak sambil mengucap karna kaget."Astafirullahal azim," ucap nya.
"Rie, bangun Rie," Ibu nya menggoyang kan tubuh Arie.
Arie pun bangun sambil mengucek mata nya,"Apa yang kalian lakukan berdua Rie, Astafirullah," ibu pun menggelengkan kepala nya.
"Kenapa Bu? tanya Arie tak mengerti.
"Kamu sama Syntia tidur satu ranjang Rie?" tanya Ibu.
Arie pun melihat kerah Syntia, "Syn kenapa kamu tidur di sini ?" Arie pun membangun kan Syntia.
Syntia tak peduli iya kembali menarik selimut nya, Arie pun segera beranjak karna tak enak dengan Ibu nya yang memandang nya curiga.
"Bu, Arie sama Syntia, ngak ngapa-ngapain Bu, Arie juga ngak tahu kenapa kenapa Syntia tidur di sini Bu," papar nya.
"Rie, kalau kamu memang ingin menikah, Ibu ngak pernah larang tapi, kalau seperti ini...," Ibu pun memutus kata-kata nya.
"Bu, Arie berani sumpah demi apapun Bu, Arie ngak tahu kalau Syntia itu tidur di sani."
"Ibu kan tahu sendiri Syntia seperti apa."
"Rie, orang-orang di sini itu membicarakan hubungan kalian." Ibu kan jadi ngak enak.
"Apalagi kamu tuh menantu Pak Herman, seorang Alim di kampung ini, Pak Herman yang bilang sama Ibu warga di sini ngak suka kehadiran Syntia, kalian bisa di bilang kumpul kebo, Rie."
"Bu, Arie ngak tahu harus bagaimana, Syntia teman Arie Bu, dan sekarang iya ada masalah dengan keluarga nya, Syntia mau kemana lagi Bu, kalau ngak di sini."
"Iya Rie, tapi memang seharus nya lelaki dan wanita yang sudah dewasa seperti kalian, tak sepatut nya tinggal bersama, nanti timbul fitnah Rie."
"Nak, Pak Herman sudah bilang sama Ibu, kalau Iya akan memperkenal kan kamu dengan putri dari teman nya, Ibu harap kamu bisa menyambut baik niat Pak Herman."
"Dengan menikah kamu akan terjaga dan terlindungi dari fitnah," tutur Ibu, kemudian Iya masuk ke kamar mandi dan berwudhu.
Setelah sholat subuh Arie pun mandi, dan memask untuk Ibu nya, karna iya tahu Ibu nya pasti kerepotan jika harus mengasuh Aziz dan harus memasak.
Arie mengerjakan pekerjaan rumah nya, dari mencuci piring hingga mencuci pakaian, dari menyapu hingga mengelap lantai.
Setelah pekerjaan rumah nya beres Iya pun bermain dengan Aziz membawa nya jalan- jalan di waktu pagi, jika iya sedang tidak bekerja maka Arie sendiri lah yang mengurus anak nya, iya tak ingin merepot kan ibu nya yang sudah repot mengurus nya sejak kecil.
__ADS_1
Sebenar nya sosok Arie sendiri merupakan duda keren, banyak gadis atau pun janda yang menaruh hati pada nya, selain paras nya yang ganteng, Arie sangat terkenal dengan kesabaran nya dan keramahan nya.
**
Pak Herman sudah menunggu Arie di rumah nya, Iya baru ingin menyusul Arie tapi Arie baru saja tiba.
"Datang juga kamu, Rie, Bapak pikir kamu ngak jadi pergi," kata Pak Herman kepada Arie.
"Insya Allah Pak, Arie tepat janji kok."
"Ayo Rie kita berangkat," ajak Pak Herman, iya langsung masuk ke mobil nya,
"Kita berdua saja Pak, Ibu ngak ikut?"
"Ibu mu hari ini mau kepasar, kata nya Iya mau belanja untuk Aziz, Iya mau membuat kan kamar khusus untuk Aziz."
"Untuk apa Pak,?" tanya Arie.
"Kalau kamu menikah lagi, iya ingin Aziz tinggal dengan kami,Rie, Iya tak ingin kamu membawa Aziz jauh dari nya," papar Pak Herman.
Arie tertawa ringan," Arie ngak akan kemana-mana jika Arie menikah, Arie akan bawa istri Arie tinggal di rumah Arie, jadi ngak akan jauh dengan Bapak sama Ibu." jelas Arie.
Setelah melakukan perjalanan sekitar hampir satu jam, tibalah mereka disebuah rumah yang sederhana, tapi asri, halaman nya cukup luas dan rumah nya juga luas meski hanya terdiri satu lantai.
Baru saja keluar dari mobil mereka langsung di sambut ramah dengan si empunya rumah.
Mereka pun berjalan menuju pintu dan ketika berada di teras, Pak Herman langsung mengucap kan salam.
"Asslamua'laikum," ucap Pak Herman dan di langsung di ikuti oleh Arie.
"Wa'alaikum salam," sambut mereka ramah.
Pak Nanang langsung mempersilah kan mereka masuk dan duduk.
"Wah, Sudah lama saya ngak kemari," ucap Pak Herman.
"Iya Pak, Hampir setahun," sahut Pak Nanang.
"Oya, Pak, perkenal kan ini menantu saya Arie," Pak Herman memperkenal Arie.
Mereka pun berjabat tangan, Arie langsung melempar senyum ramah nya.
__ADS_1
"Silah kan duduk," kata Pak Nanang lagi.
Setelah megobrol panjang lebar baru lah Pak Herman menyatakan maksud nya.
"Jadi bagai mana Pak, apa Bapak masih mencari suami untuk Hana," tanya Pak Herman.
"Sebenar nya sudah ada yang melamar Hana, dan seperti nya Hana juga sudah setuju, hanya saja iya belum memberi jawaban."
"Wah, kalau gitu kita belum terlambat Rie," ucap Pak Herman seraya menepuk bahu Arie.
"Iya Pak, saya mencari jodoh untuk anak saya, tapi keputusan di tangan mereka."
"Saya panggil kan Hana dulu ya," Pak Nanan pun masuk dan tak lama iya keluar membawa putri nya.
Tetnyata putri pak Nanang menggunakan cadar, Arie pun teringat dengan sosok Aisyah istrinya.
Hana duduk di samping Bapak nya, dan Arie masih saja tertunduk, iya hanya sekali memandang kearah Hana kemudian tertunduk sangat tampak sekali Arie menundukan pandangan nya.
"Hana, ini menantu Pak Herman yang bapak ceritakan," nama nya Arie.
Arie hanya tersenyum, iya duduk dengan posisi badan miring ke depan.
Hana pun melihat kearah Arie, dan iya pun merasa biasa saja, sebenar nya iya tak ingin di jodoh kan dengan Arie.
Mereka pun mengobrol, "Hana karna Arie salah satu calon mu, kau boleh membuka cadar mu, agar iya bisa melihat wajah mu," ucap Pak Nanag kepada Hana.
Hana pun melepas cadar nya,"Arie, kau bisa lihat wajah Hana sekarang, "ucap Pak Herman.
Arie pun memandang kearah Hana dan melempar sedikit senyum kepada nya, kemudian Arie kembali menundukan pandangan nya.
Kali ini Hana yang merasa berdebar ketika Arie melihat nya dan melempar senyum pada nya.
Hana pun menutup cadar nya kembali tapi, tatapan mata nya tak beranjak dari Arie.
Senyum manis Arie cukup membuat sukma nya bergetar, apa lagi iya melihat sikap Arie yang sangat sopan, setelah sekali itu Arie memandang nya, tak pernah terlihat lagi, Arie memandang atau sekedar melirik kearah nya.
Arie tidak ikut ngobrol tapi iya hanya memperhatikan mereka bicara, pandangan Arie hanya tertuju pada kedua orang tua tersebut, dan sesekali iya tersenyum dan tertawa kecil mendengar perbincangan mereka.
Arie sungguh mempesona ketika Hana melihat nya dari arah samping, lirikan mata nya, senyuman manis di bibir nya, ditambah dengan gigi gingsul yang membuat nya semakin manis ketika tersenyum.
Tak sedetik pun pandangan mata Hana lari dari Arie, dan di balik cadar nya iya menggigit lembut bibir nya karna menahan rasa nya pada Arie.
__ADS_1