
Riki membawa barang-barang Tiara dan mememasukan pakaian nya kedalam lemari.
"Aku senang sayang kamu mau tinggal di sini, kamu jadi ngak sendirian," ucap Riki sambil tetap menyusun pakaian Tiara.
"Aku juga senang Mas, tinggal di mana aja, asal bersama dengan kamu," balas Tiara.
"Tiara jangan beri tahu siapa pun, kalau kita tinggal di sini," larang Riki.
"Kenapa Mas, aku baru aja mau suruh Syntia ke sini, temanin aku."
Riki kaget ketika Tiara menyebut nama Syntia.
"Tiara, aku bawa kamu kemari biar kamu aman dari orang-orang yang ingin merusak hubungan kita, jadi jangan pernah memberi tahu siapa pun," ucap Riki dengan tegas.
"Iya tapi Syntia kan...," kata-kata Tiara terputus, karna langsung di sambar Riki.
"Apalagi Syntia," ucap nya.
Tiara kaget, biasa nya Riki malah menyuruh Tiara kemana- mana dengan Syntia, sekarang malah menghubungi Syntia juga ngak boleh.
Tiara tak mau banyak protes, Mungkin Riki hanya ingin melindungi diri nya dan bayi nya saja, setelah beberapa kejadian yang meresah kan, Tiara juga ingin hidup tenang.
**
Arie baru saja pulang membawa aziz jalan jalan pagi, tanpa sengaja iya bertemu Pak Herman.
"Rie, Bapak sudah beberapa hari mencari mu, kamu kemana aja?"
"Iya Pak, Arie ada kesibukan sendiri, Pak."
"Ada apa Pak ?" tanya Arie.
"Begini Rie, bapak mau kasih kabar baik untuk mu"
"Alhamdulilah, kabar apa Pak?"
"Anak Pak Nanang mau menerima lamaran kita Rie," ucap Pak Herman bahagia.
Arie langsung terbengong,
"Rie, kok kayak nya kamu tidak senang mendengar nya?"
"Bukannya tidak senang Pak, tapi Arie benar-benar belum siap, Pak."
__ADS_1
"Belum siap apa nya Rie, semua Bapak yang urus, kamu tinggal bawa diri aja, datang, nikah trus malam pertama, masak ngak mau Rie," bujuk Pak Herman.
"Ngak sesederhana itu lah Pak, bukan nya menikah harus siap lahir batin, nah jujur aja Arie belum siap secara lahir, apalagi secara batin." papar mencoba mengelak.
"Rie, Bapak akan lamar Tiara untuk kamu, jika Tiara janda, tapi Tiara itu istri orang Rie, makanya Bapak ingin kamu cepat nikah, karna Bapak tahu, kamu masih cinta sama Tiara kan Rie?" tembak Pak Herman.
Arie makin kaget, Pak Herman seperti tahu isi hatinya, dan Arie tak bisa mengelak lagi.
"Bapak tahu dari mana, Pak?"
"Ya taulah Rie, Bapak ini laki-laki, kamu ngak bisa bohong Rie, sama Bapak, bukan nya Bapak kenal kalian sejak masih kecil, tapi semua nya tergantung kamu Rie, Bapak hanya ingin membantu, dan jika kamu ada calon lain, kamu tinggal bilang sama Bapak."
Arie hanya diam iya tak tahu harus berbuat apa-apa.
"Ya udah Rie, Bapak pulang, Bapak kasi waktu kamu seminggu untuk memikirkan nya, jangan lama-lama, kasihan anak gadis orang."
"Iya, Pak"
Arie menghela nafas panjang, kini satu beban lagi yang harus di pikir kan oleh nya, jujur saja Arie tak ingin membuka hati nya untuk wanita mana pun saat ini, terkecuali Tiara.
***
Riki berbaring di samping Tiara membelai rambut Tiara dan sesekali iya mengecup bibir istri nya, Riki masih saja gelisah, iya takut jika Syntia datang dan menceritakan semua pada Tiara.
"Mas, kamu kenapa sih, kayak nya ada sesuatu yang kamu sembunyi kan dari aku." Tiara mulai curiga.
"Ngak sayang aku cuma takut kehilangan kamu lagi, " jawab Riki.
"Kehilangan aku, bukan nya kamu yang selalu pergi dan menghindar di saat kita ada masalah Mas."
Riki menatap lekat mata Tiara.
"Itulah sekarang yang aku sesali, harus nya aku ngak lari dari kamu, harus nya aku memberi mu kesempatan untuk menjelas kan semua nya."
"Dan karna itu lah hidup ku jadi ngak tenang sekarang, aku selalu merasa di kejar-kejar dosa." ucap Riki keceplosan.
"Mas, memang nya apa yang kamu lakukan selama kita bertengkar ?" Tiara bangkit seolah terpancing omongan Riki.
Melihat Tiara yang mulai curiga, Riki pun bangkit dan menenang kan istri nya.
"Ngak sayang, waktu kita bertengkar aku cuma minum-minuman keras, itu kan juga dosa, dan aku merasa bersalah," jawab Riki gugup.
Tiara menatap tajam mata Riki, "Kamu ngak selingkuh kan Mas, di bekakang aku? " tanya Tiara selidik.
__ADS_1
"Ngak sayang, Kamu boleh belah dada aku, dan di situ cuma ada nama kamu," jawab nya gugup.
"Mas, aku tuh paling tahu sama kamu, kamu tuh ngak di kasih jatah sehari aja, udah uring-uringan, gimana kamu berhari-hari saat jauh dari aku." papar Tiara.
"Ya, itu kan kalau sama kamu, kalau sama yang lain, aku ngak mau, emang nya aku laki-laki murahan." jawab nya mengelak.
Riki semakin salah tingkah karna di tatap oleh Tiara.
"Mas, aku ngak akan maafin kamu kali ini, kalau aku tahu kamu selingkuh atau kamu membeli pelacur." ucap Tiara mengancam.
Tiara langsung tidur dan membelakangi Riki, Tiara sudah mulai curiga karna Riki selalu melamun dan sepertinya Riki takut akan sesuatu, "aku harus cari tahu," batin Tiara.
Pagi hari, Tiara sudah di dapur untuk membuat kan kopi suami nya, karna Riki sudah berada di meja makan menunggu , sambil mememain kan handpone nya.
Riki mendapat telpon dari sang pengacara, karna di situ ada Tiara Iya pun pergi menjauh, Tiara yang merasa curiga kemudian mencoba menguping pembicaraan Riki di telpon.
"Hallo, Pak leo, ada apa ?"
"Pak, besok sidang perdana perceraian nya Pak, jadi besok bapak harus hadir pukul delapan pagi."
"Apa kok cepat sekali ? tanya Riki, karna iya sudah lupa telah menyuruh Leo untuk mengurus sidang perceraian nya,
"Lo, bukan nya bapak, yang ingin mempercepat proses nya," jawab Leon dengan sedikit marah.
"Pak Leo, bisa tidak di batal kan nya, dan di tarik kembali gugatan cerai nya, karna saya masih mencintai istri saya Pak."
"Aduh bapak gimana sih, sudah dua kali menggugat tapi di batal kan, kalau masih cinta ngak usah cerai Pak, kan jadi buang waktu dan tenaga saya aja," ucap Leo ketus dan langsung mematikan handpone nya.
Riki mengambil nafas panjang iya, tak lagi peduli apa kata orang, yang 'terpenting iya dan Tiara bisa kembali bersama.
Tiara mendekati Riki, dan saat Riki membalikan badan, Riki kaget karna sudah ada Tiara di sana.
"Sayang sejak kapan kamu di sini?" tanya Riki gugup.
"Jadi ini Mas, yang membuat kamu gelisah?" tanya Tiara salah paham.
"Kamu mau berpisah dan menceraikan aku Mas?" tanya Tiara dalam.
"Ngak sayang aku cuma emosi waktu itu, jadi aku coba telpon Pak leo untuk mendafatar ke pengadilan, malah di seriusin sama dia," ujar Riki belaga bego'
"Ya, iyalah Mas, cuma kamu yang mengganggap perceraian itu main-main, aku ngak nyangka Mas, kamu secepat itu bertindak, kamu selalu pakai emosi dalam menggambil keputusan," ucap Tiara.
Iya pun pergi sambil menangis kecewa.
__ADS_1
"Ah bodoh nya aku, harus nya aku tak terburu-buru mengambil keputusan." Riki pun mengejar Tiara.