
Tiara bersandar pada lengan Arie, iya merasa begitu lelah, perasaan nya sedikit lega, namun mata nya terlihat sembab.
"Kamu dari mana Sayang?" aku jadi khawatir," tanya Arie.
"Aku kerumah sakit Rie, Raka masuk ruang ICCU karna panik aku lupa menelpon kamu," ujar Tiara bohong, iya tak ingin Arie semakin khawatir.
"Maaf kan aku Tiara, aku pikir kau kembali membatal kan pernikahan kita lagi."
"Kamu pikir aku sejahat itu Rie,,,,"
"Aku hanya merasa trauma Tiara, aku tak akan jauh dari mu lagi, hingga saat detik-detik pernikahan kita, aku akan menjaga mu,selalu," ucap Arie.
"Terserah, aku juga sebenar nya seneng jika bersama dengan kamu selalu."
"Oya Rie, besok keluarga besar ku akan datang, ngak terlalu ramai sih, karna rumah ku terlalu kecil, jadi nya aku ingin pesan hotel untuk mereka."
"Ayah kamu kapan datang nya Tiara? dialah yang akan menikah kan kita."
"Besok Rie, bersama ibu tiri ku dan adik ku Nanda, aku kangen sama mereka, setelah beberapa tahun akhir nya aku kembali bertemu mereka, terakhir kali nya bertemu saat aku menikah dengan Mas Riki, dan kini mereka datang juga karna pernikahan ku, jika saja aku tidak nenikah, mungkin entah kapan kami berkumpul kembali sebagai satu keluarga yang utuh."
"Sebenar nya aku tak ingin keadaan Arjuna seperti ku Rie, aku tak pernah dapat kasih sayang yang sempurna dari kedua orang tua ku, Rie."
"Dan melihat perjuangan Ibu ku yang harus membesarkan ku seorang diri, itu membuat ku trauma, tapi aku yakin Rie, kamu akan menerima Arjuna seperti anak mu sendiri," ungkap Tiara.
"Iya Tiara, Aku akan menjaga kalian, aku juga yakin, kamu bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk ku dan Aziz."
"Aku ngak nyangka Rie, jika kita di pertemukan lagi, dan masing-masing kita mendapat anak sambung, rasa nya kebahagian kita makin lengkap, dan jika kita menikah, aku ngak mau menunda untuk punya anak, semoga saja nanti kita punya anak perempuan Rie, wah bahagia sekali rasa nya, rumah kita ramai Rie, aku juga pasti akan repot, tapi rasanya bahagia, ngak kayak waktu aku kecil, rumah terasa sepi," ujara Tiara.
"Kalau aku sih nanti dulu punya anak nya, aku masih trauma lihat wanita melahir kan, pertama Aisyah, yang kedua kamu, nanti dulu deh," ungkap Arie
***
Hari sudah malam, waktu menunjukan pukul sembilan, Arie masih duduk di kursi ruang tamu dan Tiara berbaring, kepala nya iya letakan di pangkuan Arie.
"Kamu ngak pulang Rie? hari sudah malam loh." tanya Tiara.
__ADS_1
"Kamu ngusir ya?" Aku ngak mau pulang, aku mau jagain kamu di sini, nanti kamu di culik rahwana lagi," canda Arie.
"Terserah sih Rie, asal kamu malam-malam ngak menyilinap ke kamar aku aja Rie," canda Tiara.
"Aku justru takut kamu yang ngak kuat, dan memaksa aku lagi," canda Arie.
"Bener kata kamu Rie, nanti aku yang ngak kuat, kalau gitu kita tidur aja, biar aku siapin kamar untuk kamu. "Tiara bangkit dan hendak menyiapkan kamar untuk Arie.
"Ngak usah, aku tidur di sini saja, jadi jika ada yang macam-macam biar berhadapan dengan ku dulu," ujar nya.
"Terserah deh, aku ambil bantal untuk kamu."Tiara menuju kamar dan kembali membawa bantal dan selimut untuk Arie.
"Kita harus istrahat yang cukup karna besok akan banyak kerjaan menanti belum lagi menjemput ibu ku, dan ayah ku,"ujar Tiara.
"Siap nyonya."
****
Keesokan harinya, Tiara terbangun di subuh hari, dan iya melihat Arie yang menunaikan sholat subuh.
"Semoga saja Arie menjadi imam yang baik untuk ku dan anak ku," batin Tiara.
Tanpa segan Arie turut membantu Tiara, membereskan rumah dan membantu nya mencuci piring, sisa makan malam mereka.
Tiara hanya menggelengkan kan kepala, melihat Arie yang tangkas dalam pekerjaan rumah.
Ibu Tiara sebentar lagi sampai, dan mereka pun sudah siap menyambut nya.
Tepat pukul sepuluh Ibunya pun sampai, Mereka berdua menyambut kedatangan nya.
Arie dan Tiara langsung sungkem kepada ibu nya, sambil meminta restu, karna baru ini mereka bertatap muka langsung.
"Akhir nya jadi juga kamu menikahi Tiara, Rie," ucap Ibu nya.
"Sudah jodoh Bu, mau di dipisah bagaimana pun tetap saja bertemu," ucap Arie sambil bercanda.
__ADS_1
"Ibu harap kamu bisa menjaga Tiara, Rie, sedikit saja kamu menyakiti Tiara, ibu akan bawa Tiara ke batam dan selama nya kamu ngak akan bertemu dia lagi," ancam ibu Tiara.
"Insya Allah bu," ucap Arie.
"Semoga ini pernikahan terakhir untuk kamu Tiara, Ibu sangat sedih mendengar perceraian kamu sama Riki, Ibu sudah menduga kalau akan seperti ini jadi nya," ucap ibu nya.
"Ngak usah menyalah kan Mas Riki bu, Semua nya ngak sepenuh nya kesalahan Mas Riki, Tiara juga salah Bu," ucap Tiara membela Riki.
"Ah kamu memang selalu begitu, ngak mau dengar omongan ibu, mana cucu ibu, Tiara? " tanya nya.
"Masih tidur di kamar Bu," jawab Tiara.
Dan iya mendekati Arjuna, karna iya belum pernah melihat cucu semata wayang nya.
"Duh ganteng nya cucu ku," ucap nya sambil mencium Arjuna .
"Bu, Tiara sama Arie mau menjeput bapak di bandara, Ibu tunggu di sini ya," pinta Tiara.
"Jadi ayah dan ibu tiri mu juga menginap di sini, ogah ah Ibu ngak mau," tolak ibunya.
"Enggak kok bu, Tiara sudah siapin hotel untuk ayah, dan Nanda akan nginap di sini bersama kita, Tiara ngak sabar bu bertemu ayah dan Nanda," ucap Tiara lirih.
"Iya Tiara, ibu juga kangen sama Nanda, sudah lama sekali Ibu ngak melihat nya, pasti Nanda sekarang jadi gadis yang cantik seperti kamu," tutur ibu nya sedih.
Karna perceraian kedua orang tua, mereka harus saling terpisah.
Tiara dan Arie langsung menuju bandara, untuk menemui ayah nya, teryata mereka sudah menunggu Tiara.
Dan Tiara langsung terharu, ketika iya melihat saudaranya kini tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.
Tiara langsung memeluk Nanda, karna rasa rindu, dan Nanda hampir tak mengenalinya, karna terakhir iya bertemu Tiara lima belas tahun yang lalu.
Mereka pun langsung larut dalam haru.
"Mbak Tiara, Nanda kangen sama Mbak Tiara dan ibu," ucap Nanda terbata-bata, karna menahan sedih nya.
__ADS_1
"Mbak juga kangen sama kamu dek, ucap Tiara tak kalah haru, "iya pun memeluk dan mencium adek nya.
Tak terbayang kebahagian mereka, lima belas tahun terpisah, semua karna ke egoisan orang tua mereka, hingga kedua saudara tersebut tak pernah saling jumpa.