Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Season 2 Episode 35


__ADS_3

Sakina mengantar Rangga di depan pintu, dengan menggendong Aira.


"Sayang aku pergi dulu, ya, kamu di rumah, ngak boleh kemana-mana ya, aku titip Aira," tutur Rangga pada Sakina, ia pun mengecup bibir Sakina.


"Ia Mas, kalau aku mau pergi, aku pasti nunggu kamu pulang," jawab nya.


"Aku pergi ya." Rangga kembali mencium kening Sakina.


Sakina hanya melebar kan senyumnya, melihat Rangga yang berlalu.


Rangga sudah tak terlihat lagi, ia pun menutup pintu, dan Sakina kaget karna di belakang sudah ada Ibu mertuanya.


"Eh Ibu," Sakina kaget, ia pun mengusap dadanya.


"Sakina kamu temani Ibu Arisan ya," ajaknya


"Arisan Bu, tapi Mas Rangga, melarang Sakina keluar Bu," tolak Sakina halus.


"Aduh Sakina, kamu tuh perginya sama ibu, Rangga ngak akan marah lah," sanggah Ibunya.


"Atau kamu memang ngak mau menemani Ibu?" tanyanya, ia pun mencibir.


"Ngak Bu, bukan begitu, Sakina takut Mas Rangga marah, Sakina ijin dulu ya bu," ucap Sakina dengan lembut.


"Ya sudah, kalau kamu ngak mau, jangan banyak alasan," ucapnya, pura-pura ngambek.


Melihat ibu mertuanya terlihat kesal, Sakina pun panik.


"Ia Bu', Sakina ikut Ibu," Sakina pun setuju, karna tak enak hati.


"Ya sudah kamu siap-siap sebentar lagi kita akan pergi, ia pun berlalu dari Sakina.


Sakina pun menurut saja, ia pun masuk kekamarnya, dan bersiap, kemudia ia membereskan keperluan Aira.


Sakina keluar dari kamar dan nembawa perkengkapan Aira.


"Sakina kamu ngapain bawa perkengkapan bayi!" seru nyonya lili.


"Sakina mau membawa Aira Bu," jawabnya santai.


"Aduh Sakina ngapain sih, bawa Aira segala, nanti repot loh, sudah tinggalin saja dia, biar saja dia sama si Tuti," tuturnya.


"Tapi Bu, Mas Rangga menitipkan Aira pada Sakina," bantahnya lagi.


"Ngak usah, sebelum kamu jadi istri Rangga, Aira sudah terbiasa di tinggal sama Tuti, sudah biarin saja," titah Ibunya.

__ADS_1


Dengan berat hati Sakina menuruti, tapi Aira malah menangis melihat Sakina yang akan pergi bersama Ibunya Rangga.


"Unda..., Unda...," Teriak Aira memanggil Sakina, meski tak jelas, Sakina tahu Aira sedang menangisi dirinya.


"Bu Aira di bawa saja ya, Sakina ngak tega," tutur nya melihat Aira yang menagis meminta gendong padanya.


Tapi Ibu mertuanya tak perduli, ia pun menarik tanggan Sakina, dan menarik nya keluar, sementara suara Aira masih saja terdengar, isak tangis nya pun masih terdengar, Sakina merasa tak tega namun apa daya, Ibu mertuanya terus memaksanya.


Ternyata sebelum pergi Arisan, Nyonya Lily sengaja mengajak Sakina ke salon, ia ingin perawatan lengkap dari spa, medikure dan pedikur sampai pijat refleksi, tentu saja semua Sakina yang bayar, sementara Sakina, hati nya gelisah memikirkan Aira.


"Sakina kamu ngak ikut Spa?" tanya Lily karna di sana ia melihat Sakina begitu gelisah.


"Ngak Bu," jawabnya singkat.


"Kamu ngak senang ya menemani Ibu?" tanyanya lagi.


"Bukan begitu Bu, Sakina hanya mengkhawatirkan Aira." jawabnya.


"Sudalah Sakina, mending kamu senang-senang, perawatan biar kamu tambah cantik, Rangga juga tambah senang kan? ingat Sakina, Rangga itu masih muda, ganteng lagi, kalau kamu ngak bisa ngurus diri, bisa jadi kamu di tinggalkannya," tutur Lily memanasi Sakina.


Waktu sudah pukul satu, mereka pun baru selesai dari salon, Sakina yang khawatir, terus memantau keadaan Aira melalui pesan singkatnya kepada Tuti.


Tak sampai di situ, Lily mengajak menantunya belanja tas branded, untuk di bawanya pergi ke arisan, dengan seenaknya, Lily membeli barang-barang yang ia inginkan dan menyuruh Sakina yang membayarnya.


Sakina menghampiri kasir, dan bertanya pada kasir berapa semua belanjaan mertuanya.


Itulah mengapa Lily sengaja membawa Sakina untuk menemaninya, dengan demikian ia bisa memmanfaatkan menantunya.


Setelah memiliki barang-barang, mewah tersebut, Lily tak lupa memamerkanya dengan teman-teman arisanya.


Dengan bangganya, Lily memamerkan harga tas belasan juta itu.


Hari sudah sore, waktu menunjukan pukul Enam belas, tetapi Lily masih sibuk dengan teman-teman Arisanya, Sakina semakin khawatir, jika Rangga marah padanya, hingga sore mereka belum juga pulang.


Pukul lima sore mereka sampai di rumah, dan terlihat mobil Rangga terparkir di teras rumah mereka, bearti Rangga lebih dulu sampai dari mereka.


Sakina merasa gelisah, ia jadi tidak enak hati, tak seperti Lily yang santai, tanpa rasa bersalah.


Sakina langsung masuk kamar, dan menemui Rangga yang kala itu sedang menggendong Aira.


"Maaf Mas, tadi aku di paksa Ibu untuk menemani ia berbelanja dan pergi arisan," Sakina meminta maaf.


"Ngak apa, aku tahu, pasti Ibu yang memaksa kamu kan?"Rangga.


"Sakina Ibu ngak usah terlalu di turuti, aku tahu seperti apa ibu ku," ujar Rangga.

__ADS_1


"Syukurlah, kau tak marah padaku Mas, aku hanya mengkhawatir kan itu," balas Sakina.


"Tentu tidak sayang," ucap Rangga sambil meneluk Sakina.


Sementara itu, Alena sudag menyuruh anak buah nya untuk menghadabnya.


Dua lelaki bertubuh besar, dan berwajah seram bak algojo, pun menghampirinya.


"Ada apa Bos? sepertinya ada tugas penting untuk kami?" tanya salah satu nya.


"Kalian culik Arjuna Radja Prawira, dia adalah CEO dari perusahaan Radja Prawira group, ini fotonya," Alena memberi selembar gambar pada mereka.


"Aduh Bos, jika ia orang penting, maka akan sulit Bos, Ia pasti selalu di kawal," tutur salah satu dari mereka lagi.


"Aku tidak mau tahu, jika berhasil, akan ada bonus yang besar untuk kalian," paparnya.


"Baik Bos, " serempak.


"Satu lagi, jangan pernah, memberitahu siapa pun tentang rencana ini, termasuk Martin, suami ku," ucapnya tegas.


"Siap Ibu Bos," jawab keduanya.


***


Evelyn sudah berada di rumahnya, karna Dedy dan Mami nya keluar kota, ia akan bebas mencari surat kontarak antara Arjuna dan Dedynya.


Evelyn menyusuri setiap sudut, dan mencari berkas yang ia maksud, dengan teliti, ia pun membuka satu persatu, arsip atau pun dokumen milik Dedynya.


Beberapa jam sudah berlalu, tapi ia tak menemukan dokumen yang di maksud, tetapi ia menemukan sebuah surat dalam bahasa Prancis, yang berbunyi.


Aku titip Eiffelyn anakku, Suatu saat aku akan kembali dan membawanya, tertanda Alena.


Evelyn menutup surat itu, ada pertanyaan dalam dirinya, Siapa Eiffelyn, dan siapa Alena, apakah dirinya yang di maksud dengan Eiffelyn.


Jika memang dirinya adalah Eiffelyn, bearti Dedy dan Mami, bukan lah orang tuanya, tapi kenapa dalam akta kelahiranya, ia adalah pasangan dari Edward Santoso dan ibu Rismani.


Lalu siapa Alena sebenarnya? banyak pertanyaan dalam benak Evelyn, ia pun berusaha mencari tahu, ia kembali membongkar berkas-berkas yang ada di ruangan Dedynya, namun tak menemuinya.


***


Sejak Oma jatuh sakit, Arjuna seperti burung yang terbang bebas, ia pun bebas berkeliaran tanpa kawalan, jika pada saat oma nya masih menjadi kepala keluarga, Arjuna tak bebas bergerak, ia selalu mendapat pengawalan yang ketat, maklum saja, Selain Opanya memeliki banyak teman dalam bisnis, mereka juga mempunyai banyak musuh, dan itu sama sekali tak di sadari Arjuna, hingga ia lengah, Arjuna begitu menikmati kebebasanya sekarang, tak ada lagi Raka dan Sakina yang harus ia jaga, tak ada lagi mulut cerewet sang Oma yang selalu mengkhawatirkanya, apabila ia pergi sendiri.


Arjuna sudah siap, ia ada janji bertemu dengan Leo, kedua jomlo itu, akan menghabiskan waktu bersama, mereka janjian bertemu di sebuah tempat karouke.


Arjuna sudah tiba di tempat janjian, saat ia turun dari mobil, saat itu pun ada seseorang yang langsung menghampiri dan membekabnya dengan obat bius, Arjuna pun pingsan, dan mereka langsung membawa Arjuna pergi.

__ADS_1


Leo sudah menunggu di dalam ruangan, ia juga membawa sepupu perempuannya, dengan maksud ingin memperkenalkan dengan Arjuna, setelah lama menunggu, Leo pun gelisah, ia mencoba menghubungi Arjuna, namun tak di angkat, Leo pun bermaksud menunggunya di luar, saat keluar, Leo justru di kagetkan dengan mobil milik Arjuna yang sudah terparkir rapi, namun setelah di cari kemana-mana ia tak menemukan keberadaan Arjuna.


__ADS_2