
Setelah acara tahlilan malam pertama selesai, seluruh tamu yang mengadakan tahlilan di kediaman Kesuma sudah pulang satu persatu.
Dan sekarang di ruang bawah tanah, tepatnya di tempat Bagas dan Raka tinggal sekarang telah duduk di hadapan mereka seorang pelayan yang sudah mati ketakutan karena di kira sang pelayan dihadapannya saat ini adalah hantu bosnya.
Namun saat Bagas Raka berjalan mendekatinya, Ia paham kalau bosnya belum meninggal melainkan masih hidup dan sekarang sedang marah kepadanya, bukan marah tapi tepatnya ingin membunuhnya karena sudah menjadi mata mata di dalam rumahnya.
" Sudah berapa lama kau jadi penghianat dirumah ku?" tanya Bagas dengan wajah mirip raja iblis menurut Raka dan juga Boby.
" Ak,,,ak,,akuu,,akuu" pelayan tersebut tidak mampu menjawab karena begitu ketakutanya melihat Raka yang memegang pistol sedang kan boby memegang martil di tangannya.
" Apa sekarang mulut mu tidak berfungsi lagi semenjak kau menjadi penghianat dan sekarang kau sudah ketahuan?" tanya Bagas lagi yang masih santai menatap sang pelayan yang kini sudah mati ketakutan.
Lagi lagi sang pelayang masih tetap diam dengan keringat yang sudah mengucur deras di keningnya dan wajahnya yang sudah pucat pasi.
" Jawab" bentak Raka yang sudah habis kesabaran karena sang pelayan tak kunjung berbicara.
" Maafkan saya Tuan, saya melakukan ini karena taerpaksa, kedua orang tua saya di kampung di sekap oleh Nyonya Diana dan Nona Miranda, itu sebabnya saya melakukan ini agar kedua orang tua saya tidak di apa apain mereka" ucap Sang pelayan membela diri.
Bagas diam saja, dia menatap mata sang pelayan begitu dalam, tapi yang di lihatnya hanyalah sebuah kebohongan, karena sang pelayan tidak berani menatap balik mata Bagas.
" Benar kah begitu?" tanya Bagas dengan santai.
" ii..iyaa tuan" jawab sang pelayan dengan gugup.
__ADS_1
" Boby cepat kau hubungi kedua orang tuanya dan suruh mereka ke sini sekarang juga, aku akan memberikan rumah baru untuk mereka di sini karena anaknya sudah berbohong pada saya, atau kau bunuh saja kedua orang tuanya yang tidak bersalah itu, karena anaknya sudah menjadikan mereka alasan untuk bisa keluar dari hukumannya" ucap Bagas yang langsung membuat sang pelayan bertambah ketakutan.
" Jangan tuan, saya minta maaf, jangan sakiti kedua orang tua saya, mereka tidak salah, mereka juga tidak di sekap, mereka masih aman aman saja di kamung tuan" ucap sang pelayan memohon agar kedua orang tuanya tidak di apapain oleh Bagas.
" Sudah berani berhianat dan sekarang kau malah berbohong padaku?" ucap Bagas yang sudah memasang wajah sangarnya bak malaikat pencabut nyawa.
Sang pelayan semakin ketakutan, bahkan ia sudah tidak sanggup bernafas, rasanya jantungnya sudah berhenti berdetak saat itu juga saat Bagas menatapnya begitu tajam.
" Sekarang kau pilih, mau langsung di jemput malaikat maut atau mau main main dulu bersama malaikat maut" Tanya Bagsa dengan wajah tajamnya.
Sang pelayan begitu ketakutan dan tak lama ia jatuh pingsan karena begitu seramnya wajah tuannya saat di lihatnya.
Bagas langsung mengeluarkan nafasnya dengan kasar saat melihat pelayan yang berhianat di hadapannya saat ini pingsan begitu saja.
Bagas langsung kembali ke dalam ruang kerjanya di susul oleh Raka dan juga Boby, saat Bagas membuka pintu ruang kerjanya, Reina sudah duduk di sana menunggu kedatangan suaminya.
" Sayang" panggil Bagas dengan lembut.
Reina yang berdiri menghadap ke tembok melihat aneka senapan langsung berbalik melihat suaminya sudah berada di belakangnya.
" Mas" sahut Reina sambil tersenyum dan langsung memeluk Bagas.
Raka dan Boby yang melihat adegan di hadapan mereka langsung melangkah mundur dari pada terkana semburan lahar panas oleh bosnya.
__ADS_1
" kenapa kesini? biar mas saja yang kesana saat seluruh pelayan sudah pada tidur" tanya Bagas menatap wajah Reina dengan tatapan cinta.
Reina menggelengkan kepalanya dan kembali memeluk Bagas dengan manja, " Lama kalau menunggu mereka istirahat mas, soalnya mereka harus beberes setelah tahlilan tadi, Reina uda gak sabar pengen di peluk sama kamu mas" ucap Reina yang membuat Bagas tersenyum senang.
Reina memainkan tangannya di dada Bagas yang membuat Bagas merasa geli dan memejamkan matanya menahan hasrat akibat elusan tangan Reina di dadanya.
" Sayang jangan seperti ini, mas gak kuat nahannya" ucap Bagas dengan suara beratnya.
Reina langsung tersenyum dan langsung mengangkat kepalanya menatap wajah Bagas yang sudah merah padam.
" Memang ini yang Reina mau Mas, Reina kanget banget sama mas Bagas" ucap Reina malu malu yang membuat Bagas tersenyum senang.
Dengan cepat Bagas langsung membawa Reina masuk ke kamar rahasinya yang ada di ruang kerjanya, Reina sendiri tidak tahu kenapa bisa sebegitu inginnya malam itu bersama suaminya.
Sehingga malam itu Bagas dan Reina sama sama melepaskan hasrat mereka, sementara Raka dan Boby sampai menguap nguap menunggu di ruang televisi.
" Sebaiknya kita tidur saja, karena bos pasti sudah menuju surga dunia bersama nona bos" ucap Raka melihat jam yang sudah menujukkan jam 1 pagi.
Boby tertawa kecil kemudian langsung masuk ke dalam kamar mereka masing masing, sementara Rangga yang mendengar ucapan Raka terkejut mendengar kalau Reina ada di ruang bawah tanah bersama Bagas dan sedang bercumbu.
" Ck, ternyata Reina ada di sini, kenapa mereka melakukannya di sini sih, di sini kan gak ada kamar yang kedap suara, bisa gatal kan kuping ini kalau sampai dengar mereka begituan" ucap Rangga dengan wajah kesalnya.
Tbc.
__ADS_1